Jas Putih

Kemarin hari, saya dapat jadwal ke CICU (Cardiac Intensive Care Unit). CICU adalah ruang intensif untuk pasien-pasien penyakit jantung, termasuk ruang intensif pascaoperasi CABG (Coronary Artery Bypass Grafting). Di sana, sang dokter jaga-residen kardiologi- bilang, “kalo kalian kerja di Rumah Sakit, akan ada jaga ICU. Itu yang jaga kalian, dokter umum, nyambi jaga ruangan.”

Sehari sebelumnya, untuk pertama kalinya, saya jaga 24 jam. Hanya tidur sekitar 2,5-3 jam. Jaga dengan kehadiran pasien emergency yang harus diberikan bantuan nafas, kami menyebutnya ambu. Sambil ngambu, sambil ngantuk-ngantuk. Alhamdulillah, setelah 3 jam diambu manual, pasien kembali stabil. Saturasi oksigen yang tadinya berkisar 37-40% naik menjadi 88-90%.

Kadang jadi ngebayangin dan bertanya-tanya sama diri sendiri, “saya udah siap belom ya jadi dokter? Siap ga ya kalo ‘dikasih’ pasien? Mau diapain itu pasien?”

Jas putih adalah sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab atas nyawa manusia. Bukan hanya pakaian formalitas di rumah sakit atau klinik. Jas putih adalah amanah atas setiap harapan manusia akan hidupnya. Bukan hanya euforia karena bergelar dokter. Jauh, jauh lebih berat dari itu.

Jas putih artinya kau harus rela belajar seumur hidup tentang tubuh dan penyakit manusia. Harus rela berbagi kehidupan untuk orang lain, -yang kau sebut pasien-.

Bandung, 6 Januari 2014

Advertisements

Apa yang Membuat Jatuh Cinta?

Apa yang membuat seseorang jatuh cinta pada seseorang lain atau pada apapun selain makhluk hidup?

Sore tadi, di sebuah stasiun Teve, ada dialog menarik antara seorang wartawan dengan aktivis wanita berdarah Amerika-Filipina yang memilih mengabdi di Indonesia untuk kesehatan Ibu dan Anak.

Wartawan : “Apa yang membuat Anda memilih Indonesia?”
Narasumber : “Saat saya masih kecil, ayah saya bekerja di Indoneaia. Kemudian beliau mengirimkan paket untuk saya. Saat saya buka paketnya, tenyata isinya adalah wayang kulit. Sejak saat itu saya jatuh cinta pada Indonesia.”

Kemudian, sang wartawan bertanya lagi, seberapa besar cintanya pada Indonesia, dia mengatakan cinta yang full untuk Indonesia.

Ya, wanita tersebut jatuh cinta hanya karena wayang kulit. Padahal, Indonesia ini begitu luas, indah, budayanya banyak, dan lain-lain. Saya, rasa mungkin banyak bule-bule atau turis mancanegara lainnya mencintai Indonesia karena berbagai hal, seperti indahnya pantai sanur, tarian bali, atau akumulasi keindahan Indonesia lainnya. Sedangkan dia, jatuh cinta berawal hanya dari wayang kulit. Bukan dari akumulasi keindahan Indonesia.

Kau tahu. Ada makna diksi di dalamnya.

Pernahkah kita sadari, sesungguhnya hanya pada satu titik kita jatuh cinta pada seseorang atau sesuatu. Ya, persis seperti cerita sang wanita tadi yang jatuh cinta pada Indonesia hanya karena wayang kulit. Suatu titik yang membuat kita terkesan. Entah karena itu indah atau karena memang titik itu menjadi sebuah pengingat untuk kita. Seringkali kita jatuh cinta pada seseorang karena satu hal yang dimilikinya berkesan.

Misal, kita bertemu pada sesosok makhluk sederhana, sementara selang beberapa lama kita tahu dia adalah orang berpunya, tetapi penampilannya tetap sederhana. Tak hanya kaya, dia juga pintar, rupawan, pandai mengaji. Tapi kemungkinan besarnya, jatuh cinta pada sesosok itu dimulai karena kesederhanaannya. Dari sederhananyalah kita mendapatkan sebuah kesan, bahwa tak selalu berpunya harus bersikap mewah. Karena kesederhanaannyalah kita jatuh cinta.

Atau saat kita dipertemukan dengan seseorang yang dengan kesantunan akhlaknya seperti ‘menampar’ kita. Melihatnya, membuat kita tersadar kita belum bisa seperti itu. Lantas kita berusaha berubah akibat belajar dari pertemuan dengannya. Setelah cukup lama, ternyata orang itu memiliki kelebihan lain, pandai memasak, rupawan, soleh/ah. Jika itu jatuh cinta, apa yang membuat jatuh cinta? Hanya ada satu titik, yaitu akhlaknya yang baik. Bahkan mungkin bisa lebih spesifik lagi, karena melihat peristiwa secara langsung yang memperlihatkan kesantunan akhlaknya.

Atau cerita lain. Saat kita berdiskusi dengan seseorang, kita mendapati cara berpikirnya yang bagus yang membuat kita mengangguk-angguk sepakat. Kita sudah tahu kelebihannya yang lain, tak ada rasa apa-apa sebelumnya. Setelah berdiskusilah muncul rasa lain. Kira-kira, jika itu disebut jatuh cinta, apa yang membuat kita jatuh cinta padanya? Satu titik itu jelas, cara berpikirnyalah yang ternyata membuat kita jatuh cinta padanya.

Pada akhirnya, kita akan jatuh cinta karena satu alasan dari sekian banyak kemungkinan yang ada. Dari sekian banyak kelebihan seseorang, hanya akan ada satu kelebihannya yang akan membuat kita mengawali rasa padanya. Rasa yang menimbulkan kesan. Kesan yang kemudian sangat mampu mengubah hidup kita meski hanya lima derajat. Jikapun kesan itu tak mampu membuat kita berubah, minimal kesan itu membuat kita berpikir ulang tentang kebaikan. Sejatinya, jika jatuh cinta itu dirasakan kepada manusia, sesungguhnya satu titik alasannya adalah karena hal yang membawa kita pada kebaikan.

Bekasi, 1 November 2014

Sendiri

Aku menahannya. Sendiri. Lebih tepatnya aku berusaha bertahan. Berusaha. Ya, berusaha, karena memang diperlukan usaha berlebih untuk bertahan menahan beban itu sendiri tanpa siapapun tau.

Aku berusaha menutupnya. Sendiri. Meski kawan dekatku banyak. Aku berusaha antara berdiri di atas kaki sendiri dengan tidak menyusahkan kawan-kawanku. Meski aku yakin mereka tidak akan segitunya merasa disusahkan dengan cerita-cerita ‘sampah’ku.

Aku menyimpannya. Sendiri. Luka dan beban itu. Meski kadang aku lelah dan sakit. Tapi aku yakin aku bisa. Sendiri. Bukankah selama ini aku melakukan apapun sendiri?

Dilema Ekstrovert

Aku ingin bertepuk tangan untuk orang-orang introvert. Mereka begitu bangga dengan keintrovertan mereka. Sebangga orang-orang ekstrovert bangga terhadap keekstrovertan mereka. Seolah ekstrovert selalu bisa ceria dengan masalah-masalah yang sudah mereka bagi dengan orang lain dan introvert merasa bahagia di tengah gemuruh hati untuk menyimpan segala cerita mereka sendiri.

Aku adalah seorang ekstrovert yang tak bisa menyimpan sendiri. Aku pernah mencobanya. Mencoba bertahan untuk berdiri tegak di atas kakiku sendiri. Mencoba menyimpan rasa berbeda dari dua puluhan tahun lalu. Namun, ternyata aku tak mampu. Aku kembali datang pada ‘peraduan’ku. Mencoba sedikit mengeluarkan sesak. Ya, sesak. Sesesak itu aku merasa. Dan tak bisa kumungkiri, menceritakannya seperti mengeluarkan biji salak di kerongkangan. Ternyata aku memang seorang ekstrovert sejati.

Lalu, kini aku ingin sekali memberikan jutaan pujian bagi introvert. Karena aku ingin sekali menjadi seperti mereka. Yang bisa menelan bulat-bulat ‘biji salak di kerongkongan’. Yang dengan itu, mereka masih bisa tersenyum meski ada segurat luka di dalam. Luka menganga yang masih bisa membuat mereka terlihat ceria di hadapan orang lain.

Aku ingin sekali menjadi seorang introvert karena aku ingin berhenti menjadi beban bagi siapapun peraduanku saat ini. Aku ingin menyimpannya sendiri. Menyimpan rasa luar biasa itu di dalam hati terdalam hingga hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku ingin sekali. Namun, tak mampu. Aku iri padamu, introvert. Tak bisakah aku menjadimu barang satu dua dalam perkara hidupku?

Bandung, 13 Oktober 2014

Together

image

You are Not alone

Itu adalah kalimat terakhir dari gambar tersebut.
You are not alone. Yeahh… akhir-akhir ini saya sering merasa sepi. Saya tinggal di sebuah kamar besar (untuk ukuran kos-kosan) yang terpisah dari penghuni lain di kosan ini. Kala malam menjelang, ia seperti menjadi sosok mencekam. Tak ada yang bisa saya ajak bicara, keluar kamar malas sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk ngisengin sobi saya dengan ceng-cengan ga jelas di grup persahabatan kami. Mbak Danis kepancing dan bilang,
“Ni orang keliatan banget jomblonya dan ga punya temennya..” hahahaa..

Pernah suatu malam juga, saya whatsapp mbak Danis dan bilang, saya mau pulang ke Bekasi aja, pengen main sama mereka (Danis dan Mayang). Jiwa kekanakkan saya muncul di tengah lelahnya kehidupan koas ini. Kemudian Mbak Danis bilang, “kalo lo mau pulang ke bekasi ga cuma weekend, cepetan selesein koas..”

“By talking with others, you will get the help and assurance that you need to fight through it. TOGETHER”
Ya, saya merasakan itu. Sering saat pada titik saturasi, saya tak mampu bergumul hanya pada diri saya sendiri. Kemudian, saya tumpahkan itu di grup persobian saya bersama Danis dan Mayang. Dan mereka bisa jadi mood booster buat saya. Apalagi dengan kata ‘TOGETHER’, saya semakin merasakan bahwa saya tak sendiri. Tidak pernah sendiri. Ada keluarga, sahabat, dan yang selalu bersama saya adalah Allah Yang Maha Penyayang..

Begitu pula dengan mereka. Mereka juga punya ceritanya sendiri saat menumpahkan sisi melankolis mereka di grup.

Gambar di atas, 3 makhluk bulet itu layaknya saya, danis, dan mayang. Kami ada untuk bersama hingga kami dipanggil ‘nenek’ mungkin oleh cucu-cucu kami.

Bandung, 30 September 2014
17:18

Fruits Party

image

Yuhuuuu… lucu ya?? Foto ini saya ambil dari facebooknya temen saya…
Suka banget… :*

Apalagi saya ini pecinta buah. Setiap hari mesti banget makan buah. Asa makan buah itu hukumnya wajib buat saya, minimal satu kali sehari.. hehe..

Kalo nanti saya jadi ibu, pengen deh bisa kreasi kayak gini buat anak-anak saya.. kalo sekarang belum mampu bikin-bikin kreasi kayak gitu karena beli buahnya masih harus satu jenis supaya ga busuk kelamaan, soalnya kan yang makan saya sendiri.

Kalo dulu saya punya cita-cita punya rak buku yang isinya banyak buku, sekarang jadi ngebayangin isi kulkas yang isinya penuh sama buah-buahan dan sayuran.. dikreasiin jadi menarik, supaya makanan sehat itu juga menarik buat dimakan. Mengubah kebiasaan ngemil yang ga sehat jadi ngemil buah.. keren kan?? Hihihiii.. 😀

Yuk ah healthy lifestyle..

Dinasti Kedokteran

Hari terakhir di departemen Mata, saya berkesempatan berbincang-bincang banyak dengan residen LO.
“Dokter suaminya dokter juga ya?”
“Iya..”
“Dokter apa dok?”
“Dokter ortho (orthopedi-red)”
“Oohh,. Sama kayak dr.P dong. dr.P suaminya konsulen ortho kan dok.. siapa dok namanya?”
“Iya.. dr.N.”
“dr.P anaknya Prof.I (dokter juga) kan dok.,?”
“Iyaa..”
Dan adiknya dr.P itu juga dokter.

“Saya waktu nikah awal-awal residen. Suami saya lagi sibuk jadi CR (Chief Residen a.k.a residen senior) dan lagi stase luar.”
“Jadi inget cerita dr.W di RS UB, katanya ortho susah keluarnya..”
“dr.W itu seniornya suami saya. Dia suaminya dr.M, residen kulit. Udah lewat kulit?”
“Belum dok.”
“Iya, dr.M itu anaknya dr.A, direktur RS C.”
“Ya ampun..”

“Dok, kalo dr.R istrinya residen anak ya dok? Namanya siapa dok?”
“Iya, dr.Ri.”
“Oh.. dr.Ri yang anaknya dr.A (orang penting di Jawa Barat)?”
“Iya..”
“Ya ampuunn… udah kayak kerajaan ya dok..”
“Iya, kalo dokter hidupnya muter-muter di situ-situ aja.”


Kesimpulan : Kalo ada seorang dokter nikah ama dokter, dari sanalah muncul bibit-bibit dinasti kedokteran.

Gw : “perlu pindah haluan jadi nyari dokter ga ya supaya bisa bangun dinasti?” Hahahahhaa.. 😀

Bersakit-sakit dahulu…

Apa yang terjadi pada hidup kita sebenernya banyak sekali pelajarannya. Tapi, kadang kita suka merintih, apa belajar kehidupan harus selalu sakit begini?

Kemudian seperti mendapat jawaban lewat dialog antardiri saya sendiri,
“Belajar buat ujian SOCA enak ga?”
“Nggak.. rasanya pengen teriak…”
“Nah, sama. Ujian kehidupan juga gitu..”

Di sisi lain.. saya mendapat pelajaran.
Saya pernah dimarahin oleh seorang residen di depan pasien. Bete pasti. Udah gitu sering ketemu residen rese. Dan itu membuat kita jadi punya ‘impian’ seperti ‘kalo saya jadi residen nanti, saya mau jadi residen yang baik, ramah dan mau ngajarin koas-koas, meminimalisasi marah-marah ke mereka, apalagi di depan pasien.’ Karena saya tau rasanya dimarahin depan pasien gimana.

Dari sana saya jadi tau mengapa kita harus sakit hati. Supaya kita tau rasanya disakitin, jadi kita berusaha untuk tidak menyakiti orang lain. Atau mengapa kita harus ngerasain rasanya dibuang setelah kita berusaha memberikan yang terbaik dari diri kita untuk orang lain, memikirkan masa depannya, untuk kebaikannya dan itu tidak dihargai sama sekali. Supaya kita belajar untuk lebih menghargai kebaikan orang untuk kita dan tidak membuangnya dengan alasan ‘sampah’.

Ya, terkadang kita perlu belajar dari hal-hal menyakitkan agar kita tidak melakukannya pada orang lain. Cukup kita. Cukup kita yang disakiti dan tak perlu orang lain merasa sakit karena kita. Jadi, tak pernah ada istilah balas dendam. Disakiti kemudian nyakitin balik. Ga ada istilah itu. Kita perlu sakit supaya tau rasanya sakit untuk kemudian tidak menyakiti.

Mengejar Dunia

Paska kehilangan beberapa barang-barang berharga minggu lalu, saya diajak banyak merenung. Tentang apa yang sebenarnya kita cari di dunia ini. Saya banyak bertanya pada diri saya sendiri, “sebenernya lo maunya apa sih di dunia ini?”

Ternyata saya tak punya jawaban pasti, mau apa saya di dunia ini…

Saya, saya tidak tahu apa yang ingin saya capai, apa yang ingin saya dapat. Rasanya ingin menjadi spesialis neurologi itu terlalu… entahlah terlalu apa.. Tapi, bukan itu jawabannya. Saya merasa, itu tak pernah menjamin saya bahagia di dunia.

Duniaa.. semakin saya mengejarnya, semakin saya tak pernah meraihnya. Secuil pun tidak. Semakin saya mengejarnya, semakin ia menjauh.

Akhirnya saya paham sedikit demi sedikit, segala sesuatu yang membuat kita jauh dari Allah, kenikmatannya hanya sementara. Tak ada kebahagiaan hakiki. Dunia, hanya kebahagiaan sementara. Kebahagiaan di sini, saat ini. Bukan kebahagiaan kini, nanti, dan di sana..

Itulah mengapa, sejatinya cinta adalah ia yang mendekatkan kita pada Allah dan akhirat kelak..

Selamat menanti cinta sejati, Nay.. yang senantiasa mendekatkanmu pada Allah dan Surga-Nya..

Bandung, 27 September 2014
07:43