Puing-Puing Militansi

Jarkom menyebalkan. Kenapa harus pagi2  di tempat yang jauh dari kosan..?? kalo jalan, harus mendaki menyusuri jalan belakang rektorat. Mau naik bikun tentu belum ada. Naik ojek males. Entah kenapa saat kuliah di ui tuh paling males naik ojek. Naik ojek tuh kalo dari rumah (di Bekasi) lewat gang senggol pas hari minggu ga ada bikun, jadilah naik ojek. Jarak kampus yang masih bisa ditempuh dengan jalan kaki dari kosan dan cerita teh Kiki yang juga kuliah di tempat yang sama (bener2 penerusnya banget sih gw..) yang katanya dia suka jalan kaki kalo ke kampus saat belum ada bikun membuat saya ga gitu suka naik ojek ke kampus. Dan naik bikun itu punya nilai tersendiri. Berasa mahasiswa UI-nya..,

Jarkom itu ga cuma sekali dua kali, tapi berkali-kali. Huffhhh… kenapa sih ga jam-jam bikun udah keluar aja…?? (kesel)

Dan akhirnya saya tanyakan pada teman saya yg sudah 6 bulan lebih dulu ‘ditatar’. “Kenapa sih Tik, harus pagi2 banget? Minimal pas jam bikun keluar gitu lhoo? lagian kan kuliah jam 8, itu selesenya jam 7, trus 1 jamnya nungguin di kampus, mending di kosan dulu bisa belajar.”

“Itulah militansi Far.. orang-orang jaman dulu bahkan bisa keluar rumah sebelum subuh atau dini hari. Kita ini belum ada apa-apanya. Perjuangan orang-orang dulu lebih keras Far..”

Sejurus kemudian saya terdiam. Teringat sebuah novel pertama yang saya baca saat SMP. Tentang bagaimana perjuangan para aktivis jaman dulu agar jilbab diperbolehkan di sekolah-sekolah umum. Sampe-sampe saya ga percaya kalo dulu ampe segitunya karena begitu mudahnya berjilbab saat ini. Bahkan, membuat saya yang (tadinya) belum ikhlas menggunakan jilbab (karena faktor disuruhnya lebih banyak), akhirnya tergugah dan merasa bersyukur mau pake jilbab ga perlu susah-susah dulu.

MILITANSI. Kata yang akhirnya saya selami cukup dalam. Saya kurang bisa membahasakannya jika ditanya apa artinya. Tapi, maknanya begitu dalam di hati ini sejak mengenal jalan ini. Pertanyaan pun muncul. Bukankah semua yang saya lakukan saat SMA adalah bentuk dari militansi? Hampir setiap pekan ada agenda, entah itu dari OSIS, ROHIS, dan lain sebagainya. Saat itu penguatnya adalah bahwa ini adalah Dakwah yang akan berbuah surga. Dan selalu hadir dalam setiap agenda sampe pulang magrib dari sekolah dan harus bermacet-macetan di angkot itu adalah bentuk militansi. Lalu, kenapa saat saat sudah kuliah masih harus mempertanyakannya.? Itu pertanyaan bodoh Fay..

Teringat juga buletin yang pernah dibuat oleh Fadhil angkatan T’Kiki. “Bahwa dakwah membutuhkan orang-orang kuat. Minggirlah orang-orang lemah. “ begitu kira-kira bunyinya. Sebenarnya panjang sih, tapi saya lupa..

Apalagi jika ingin dibandingkan dengan zaman Rasulullah., beeuuuuhhh… jauh bang….!!

Yang harus selalu diingat adalah bahwa semangat berdakwah tidak dimiliki oleh semua muslim walaupun dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Jadi, sesungguhnya jalan dakwah ini adalah nikmat dan hidayah yang luar biasa. Yang di dalamnya hanya ada orang-orang yang kuat yang mau berlelah-lelah dunia untuk nantinya mencicipi surga. Bukan hanya mencicipi ternyata, tapi menjadi penghuninya yang abadi.

Itu artinya, saya, kamu, dan dia yang ada di jalan ini adalah orang-orang terpilih yang saat ini Allah minta militansinya dan akan diganti dengan surga dan kesempatan bertemu dengannya kelak. Sabarlah sedikit kawan. Mungkin memang lelah, tapi yakinlah suatu saat nanti kita akan memetik ‘buah’nya. Tak apa sesekali mengeluh atau bahkan berkali-kali, tapi mengeluhlah pada Tuhanmu. Ya, Tuhan yang akan menggantikan keringat kita dengan permadani bersutra tebal, bidadari-bidadari cantik nan jelita, mata air yang memancar. Ya, Dialah Tuhan kita, Allah Azza wa Jalla yang senantiasa mendengar setiap rintihan dan harapan kita.

Jadi, biarlah surga menjadi tempat istirahat kita kelak… 🙂

Advertisements

#14

Beberapa tahun lalu, tanpa ada peresmian khusus, saya menetapkan F14 sebagai kode spesial nama saya walaupun asal muasal kode ini ga bagus. Tapi, ga pentinglah. Dulu, (buat saya) itu keren dan representatif nama saya banget, makanya nama itu sering saya gunakan di akun atau alamat2 di internet.

F14 sendiri merupakan pesawat tempur jenis ini dan itu. Dan saya pun baru tau, saat seorang teman komen di status FB manggil saya tomcat (udah kayak nama serangga di bale aja) dan dia menuturkan bahwa itu adalah nama pesawat. Dari situlah saya mengetahui bahwa F14 itu adalah nama pesawat.

Menariknya, di bulan November saya ditunjuk oleh ketua Senat terpilih sebagai ketua Kastil (Kajian Strategis Ilmiah) atau lazimnya (di tempat lain) Kastrat. Sesungguhnya, nama Kastrat itu lebih keren. Dapet aja gitu feelnya. Lebih garang dan berwibawa. Sebenranya, sudah dijelaskan berkali-kali kenapa juga namanya Kastil, walaupun menurut saya kurang menjawab. Tapi ya sudahlah. Apalah arti sebuah nama (Eh, tapi kalo ngasi nama anak penting banget tuhh dicari baik-baik, jangan berprinsip begitu ya..). dan sang ketua Senat (yang tidak perlu disebutkan namanya, karena dia hobi gentayangan) memberikan nomer kode untuk tim inti Senat. Berkat kebijakannya memindahkan Kastil dari bidang 1 ke bidang 3, dapatlah saya nomer #14. Awalnya biasa aja. Setelah berjalan beberapa bulan, saya baru tersadar. Itu angka yang ada di kode nama saya. Semakin terikatlah saya dengan angka itu.

Menjalani kehidupan sebagai seorang kasie (baca : ketua seksi) dengan 13 orang anak merupakan perjuangan. Terlebih, empat di antaranya merupakan angkatan 2010 yang memiliki banyak amanah. Di situlah letak perjuangannya. Dengan berbagai karakter, latar belakang, dan pemikiran tentunya.
Inilah kami ber-14 di bawah naungan seksi bernomer #14 (nomer saya sih sebenernya, bukan nomer seksi).

Farhatul Inayah Adiputri :  koleris dominan plus sedikit sanguinis. Kata orang saya galak, jutek, kayak preman (koq jelek semua sih?). Cuek dan ga pekaan. Kelebihannya baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan suka menyiram tanaman serta berbakti pada orang tua. Yang pasti, sebagai seorang koleris saya itu terbilang cukup tegas.

Nur Mala Il A’la : mala ini dari cara bicaranya lembut. Kritis dan melankolis. Cinta banget ama basket. apa juga dibela-belain untuk basket. Semoga basketnya menang ya…Dia juga suka buat buletin. Selain itu, Mala itu girly banget. Semuanya serba pink. kamarnya pink banget. Udah gitu doi jago masak dan merajut. Aaahhh… saya jauh kalah sebagai perempuan.

Gembong Soeyono : anak ini lucu bangett. Cara ngomongnya apalagi. Lagi serius aja dia lucu. Apalagi kalo ketawa sambil ngomong, cara bicaranya jadi kayak bocil. Terus dia paling aktif di grup BB Kastil, hobi ngejayus. Tapi, luar biasa banget pengetahuannya. Wawasannya luas, bahkan saya sering banyak tanya waktu dia bicara terkait masa presiden Soeharto. Malah lebih tau dia daripada gue, secara gue lahir duluan. Ya begitulah Gembong. Empat kata buat dia : Lucu dan Berwawasan luas.

Sutra Khalishaputri : perempuan struggle dengan bejibun prestasi. Kritis dan tegas. Saat diwawancara, dia mengatakan kelemahannya adalah cuek dan ga pekaan. Emang deh, cukup banyak sifat kami yang mirip. Lisha juga termasuk mahasiswa super sibuk luar biasa.

Citra Restia : dari cara bicara saat jadi ketua kajian dia itu terlihat tegas. Tipe pembelajar dan tsiqoh. Salah satu muslimah yang baik dengan selalu datang paling on-time. Dan memiliki loyalitas tinggi. Paling sigap dengan segala ini-itu dari saya.

Ridha Ramdani : dijuluki ‘Miss Matching’ karena dia suka sekali memakai baju dari atas ampe bawah warnanya sama. Mempunyai pemikiran kritis dan sudah memiliki pengalaman sebagai koor Humas HGN. Ridha yang lahir taun 95 terlihat lebih dewasa dari anak-anak seumurannya. Wajar sih, karena karakterakan terbentuk dari lingkungan. Pernah kuliah di UI juga seperti saya…

M. Salman Zenga : temen seperjuangan di Kastil dulu. Sang Sekum Asy-syifaa. Dia sibuk. Tapi baik hati dan suka menolong saya. Saat di Kastil dulu, dia berpengalamn menjadi Koor Acara FMB sehingga saya yakin kemampuan organisasinya berkembang cukup pesat. Sesibuk apapun, kalo ada waktu luang, dia akan menyempatkan diri untuk datang ke kajian.

Herza Fadlinda : cantik dan kritis. Menyukai dunia politik. sempet galau mau masuk Kastrat BEM Unpad atau enggak.  Herza juga suka banget ama film action. Waktu nonton ‘The Raid’, saya yang udah ga kuat ngeliat adegan ‘pembantaian’, dia malah semangat sambil ngepalin tangannya ngikutin gerakan bang Iko Uwais. :p

Abdullah Ichsan : walaupun baru tingkat 1, tapi Ichsan ini luar biasa amanahnya. Didaulat sebagai Ketua MMLC, tentu harus pinter-pinter bagi waktu ya San. Kritis. Dan sebagai PHW Kastrat ISMKI, tentu pergaulannya luas. Tapi, dia hobi telat kalo kajian…hehe…

Fajar Faisal : teman satu fasil dulu yang sibuknya ga ngerti lagi. Sering dia datang abis itu izin karena ada agenda lain. Ya, begitu lahh, namanya juga KaDept Syiar Asysyifa. Fajar ini pinter, kritis banget dan suka menulis.

Oryza Sativa : nama yang unik memang. Ory, begitu panggilannya. Ory ini lembut dan paling pendiem di antara kami. Bendahara Kastil yang juga menjabat sebagai mentee-nya Icha. apalagi denger ceritanya ory saat bertemu seorang ibu di angkot.

Brianto Adhy : bri ini termasuk anak yang cukup gaul di kalangannya (kalangan mana?? :p). Aktivis AMP (bersama Lisha), jadi belum bisa sering ikut kajian. Bri itu lucu. saat wawancara Senat, jawabannya santaii…

Sarah Qurrotun Aini : dari wajahnya, sarah terlihat cerdas dan dewasa. Menurut hasil wawancara, Sarah suka mencari isu-isu kesehatan di waktu luang (padahal gue aja ga segitunya). Sarah juga mempunyai segudang prestasi lhoo…

Juan Achmad Yudhistira : laki-laki yang akra disapa  Juju ini sering ketiduran kalo lagi jadwal kajian. Tapi, juju masih menyempatkan diri untuk datang kajian  walaupun telat. Mungkin prinsipnya, “lebih baik telat daripada tidak sama sekali. “ hehe…  juju itu pinter, cnta dengan kekeluargaan di Kastil dan yang cirri khasnya adalah murah senyum, senyum terus. Sampe-sampe ada pertanyaan, “ju, kamu pernah marah ga?” dan dijawab dengan senyuman.

dan itulah kami…. KASTIL 2012... 🙂

Dakwah di Ujung Gelas

Sedikit (atau bahkan banyak) menyebalkan memang, saat kita mau berdakwah tetapi jalan kita berbeda. Saat kita mau beramal, tetapi diperdebatkan karena hal yang terlalu ‘saklek’. Saat hati ingin dipersatukan, tetapi banyak hal prinsipil dalam mengamalkan sesuatu jadi penghalang terberat, terlebih untuk seorang perempuan yang notabene akan menuruti perkataan ‘lelaki’nya (suami-red). Kadang sempat terpikir, mengapa agama ini tidak terlahir sebagai satu akidah dan satu fikih? Walau akidah kita sama, tetapi memiliki hal-hal furu’ berbeda, tak dimungkiri itu menjadi satu kesulitan tersendiri. Jelas persepsi berbeda. Pendapat apalagi. Sehingga saat ingin melakukan sesuatu yang disebut dakwah, kita masih harus berdebat. Mending kalo nemu satu titiknya. Kalo nggak, yang terjadi adalah ‘perpecahan’ yang tidak terlalu terlihat secara kasat mata.

Selalu bertanya, kenapa sih di sekolah kita harus terbagi menjadi ini dan itu?? Padahal kalo kita mau bersatu, kita bisa menjadi alumni yang konkret kerjanya, bukan hanya untuk eksis dan terlihat keren di mata adik-adik SMA, melainkan sebagai sarana dakwah yang mengantarkan kita kelak ke surga. Seperti tema Pelangi tahun 2007, “Jangan Mau Masuk Surga Sendirian”.

Ya, setelah semakin dewasa, kita akan semakin banyak berpikir. Terlebih saat diri-diri kita ‘haus’ akan ilmu-Nya. Sarana menuntut ilmu pun dicari dan dikejar hingga kalian menemukan hal yang berbeda dengan kami. Dan inilah yang membuat kita menjadi berbeda. Memang, perbedaan itu indah. Tapi bukan berbeda seperti ini maksudnya. Walaupun, para pendahulu juga berbeda, tetapi perbedaan yang kita alami membuat kita jadi terpecah, memuat kita tak bisa mewujudkan mimpi, atau sekadar membuat adik-adik kita merasakan apa yang kita rasakan dahulu. Dahulu kita merasakan atmosfer SMA yang begitu kental dengan suasana ke-Islam-an. Peraturan MOS dan KPHO yang sangat Islami (yang bahkan di kampus aja ga ada), kakak-kakak kelas dan alumni yang bisa jadi teladan. Menjadi anak SMA yang kenal dengan kakak-kakaknya yang sudah kuliah menjadi ‘kebanggaan’ tersendiri. Dahulu kita merasakan itu. Tapi, bagaimana dengan adik-adik kita saat ini? Adakah mereka merasakan hal yang sama? Sekadar meluangkan waktu barang 2 jam seminggu, sesulit itukah? Padahal, mungkin ‘ilmu-ilmu’ yang sudah kita dapatkan, akan menjadi sia-sia tanpa amalan mengajarkan kepada yang lain? Terutama adik-adik kita di SMA.

Tak melihatkah kita, kian hari wajah SMA kita kian berubah. Dari bangunannya, dari biaya yang dibebani, dari tingkah laku anak-anaknya, dari cara mereka berpakaian. Tak sadarkah kita, bahwa kita punya peran, hmmm tepatnya punya kewajiban kepada mereka, untuk sekadar mengenalkan mereka lebih dekat perihal agama. Hanya sekadar 2 jam dalam seminggu.

Atau kalaupun pendapat kita berbeda tentang mentoring, sok-lah kalian cari cara yang tepat selain mentoring, tapi berkesan dan tidak membosankan. Mengapa harus berkutat berlama-lama dengan apa hukumnya atau hukum kegiatan di dalamnya, sedangkan di dalamnya isinya ga ada yang aneh-aneh? Memang, tak banyak ilmu yang akan mereka dapat seperti yang kalian cari dan dapatkan di luar sana. Tapi lihatlah, bagaimana pada akhirnya hati-hati itu terikat dengan sarana mentoring. Sayangnya, kitanya juga banyak yang ga konsisten dengan jadwal yang semrawut, sehingga hati-hati yang harusnya terikat pun sulit untuk diikat.

Hal yang prinsipil memang harus dijaga. Tapi, mengertilah sedikit. Kebutuhan kami akan kalian sungguh sangat besar. Pedulilah sedikit pada sekolah ini. Mencari ilmu sebelum membagikannya memang penting. Tapi mau sampai kapan ilmu itu ditumpuk tanpa dibagi pada yang seharusnya kita bagi (adik-adik SMA-red)?

                      

# Saat hati ini rindu dan miris pada Dakwah Sekolah