Napak Tilas


Image

Sebuah gambar yang mengingatkan saya pada masa lalu. Fase kehidupan yang pernah saya jalani sebagai seorang hamba di bumiNya. Dakwah Sekolah adalah singgahan yang pernah saya cicip hingga akhirnya menjadikan saya seorang yang seperti sekarang ini. Dakwah Sekolah yang menjadi perantara hidayah Allah untuk hambaNya.

#Kangen IRMAN dan AnNaba

Advertisements

Kastrat di Bumi Khatulistiwa

Saat itu, Jumat malam. Berbagai sambutan diberikan kepada delegasi. Mulai dari sambutan Ketua Acara, Ketua IMKU, Koordinator Kastrat ISMKI Wilayah II, PD III FK Untan, tim paduan suara FK Untan dan tarian tradisional suku Dayak untuk menyambut kami, para delegasi, di Bumi Khatulistiwa yang beberapa hari akan kami singgahi. Ya, School of Kastrat 2012 di Pontianak.

Ada sejuta kisah dari para delegasi tentang tanah ini karena mungkin ini bisa jadi kali pertama kami menginjakkan kaki di Kalimantan Barat. Panas, tak perlu ditanya. Bahkan, kemarin sempat ada yang mengatakan bahwa saat kami di sana cuaca Pontianak bisa dikatakan tidak terlalu panas. Bagaimana saat panasnya?? Entahlah. Tetapi, ternyata panasnya udara Pontianak tidak menyurutkan semangat kami untuk belajar banyak di sana. Dan tidak hanya belajar, kami pun merajut persahabatan di sana.

Esok harinya (Sabtu) kami diberikan berbagai materi beserta simulasinya. Sebanyak 33 peserta siap menelan dan menikmati materi yang telah disiapkan untuk nantinya diturunkan kepada teman-teman lain dalam satu institusi. Materi yang banyak karena beberapa memangtak memakan banyak waktu. Materi pertama adalah Quo Vadis yang disampaikan oleh Trahmono sebagai Koord Kastrat Wilayah II. Ketua Acara pun (Deril Rengga Permana) mengisi materi tentang Kastratisasi. Ada juga, materi tentang Kastrat dan bagaimana membuat Kajian yang baik yang dibawakan oleh Guntur Bayu Bima (FK Unjani 08).

Di sela-sela materi, kami memilih ketua SOK Second Generation hingga akhirnya Zul Achmad (FK UMJ) terpilih sebagai ketua. Siangnya, ada seminar tentang Sistem Kesehatan Nasional dengan pemateri Ketua Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, drg. Multi J. Bhatarendro, MPPM. Dilanjutkan materi Public Speaking oleh Bang Finza dengan simulasi orasi oleh Andika, Afifan dan Icha yang mengundang gelak tawa.

Selepas Ashar, materi sore dibawakan oleh Diaz Novera (FK UI 08) atau akrab disapa Bang Diaz. Tentang Advokasi dan Negosiasi dengan awalan yang cukup unik. Materi pun tidak membosankan karena pembawaan materinya menggunakan analogi mengadvokasi wanita. Untuk simulasinya, dibagi menjadi empat kelompok yang terdiri dari Suku Timur (pemilik domba), Barat, Utara, Selatan sebagai pihak yang akan memperebutkan domba dengan advokasi dan negosiasi yang baik. Hasilnya, Suku Barat yang diketuai oleh Indra Fahlevi menjadi pemenang dengan mendapatkan domba dengan harga yang terbilang rendah.

Materi terakhir, dibawakan oleh Mega Febrianora (FK Unpad 08) tentang Rancangan Pengemangan Organisasi (RPO). Walaupun energi dan pikiran sudah terkuras habis di pagi sampai sore, ternyata semangat belajar belum usai. Hal ini terbukti saat simulasi pembuatan RPO berjalan dengan lancar dan kelompok 2 yang diketuai oleh Gisna (UKRIDA) selesai lebih dulu dan kebagian untuk presentasi.

Begitulah lelahnya hari pertama School of Kastrat yang ditutup dengan jalan-jalan ke Sungai Kapuas. Suasana malam semakin terasa dengan lampu-lampu rumah di pinggiran sungai. Kami dibagi menjadi dua kloter untuk menaiki perahu mengitari luas dan panjangnya sungai pembelah kota itu. Tidak hanya itu, kami pun disuguhi makanan khas Kalimantan, seperti kue bingke, cai kue, dan pisang srikaya di kafe yang letaknya persis di tepi Sungai Kapuas dengan suasana malam plus lilin di setiap meja dan hamparan bintang di atas langit. Keren bangetlah.

Hari kedua, tak kalah seru pastinya. Walaupun hanya satu materi tentang Manajemen Aksi, simulasinya menguras tenaga dan mengundang kegembiraan. Simulasi aksi dilakukan di pelataran lobi FK Untan yang sudah dijaga oleh pasukan polisi (panitia SOK) berhelm motor. Agak konyol memang, lucu lebih tepatnya. Tapi, dalam pelaksanaanya, aksi ini begitu luar biasa layaknya aksi sungguhan di Gedung Hijau. Bertemakan Penolakan RUU Legalisasi Ganja, aksi ini bisa dibilang sedikit heboh antara massa dan petugas dengan adanya adegan gigitan dan robeknya almamater salah satu massa aksi (peserta SOK).  Dan dua negosiator pun, akhirnya berhasil membuat ‘pejabat teras’ di sana menunda sidang pengesahan RUU tersebut. Dua jempol untuk kalian semua.

Sebelum berakhir, kami berembug untuk membicarakan Plan of Action yang diberikan oleh panitia untuk dapat menyokong kastrat-kastrat baru di ISMKI wilayah II. Begitulah hingga akhirnya penutupan School of Kastrat dan kembalinya para delegasi ke tempat masing-masing untuk esoknya kembali menuntut ilmu di bangku kuliah. Sebelum ke bandara, kami diajak ke tempat pembelian oleh-oleh bernama PSP untuk membeli sedikit buah tangan untuk kerabat tersayang.

Image

Saya Jatuh Cintaa…

Ini bukan kali pertama saya jatuh cinta. Sudah kesekian kali. Mungkin ini kali keempat perasaan itu bertumbuh. Dan semoga yang ini benar-benar istiqomah dengan segala rutinitasnya.

Pertama kali saya jatuh cinta saat kami pertama kali bertemu. Saat itu tepat tanggal 12 Februari. Bisa dibilang Love at the first sight. Ya, love at the first sight. Dan perasaan membuncah melahirkan ide-ide kreatif untuk memajukan semua ini.

Belum sampai pudar rasanya, cinta itu kembali merekah. Tepatnya tanggal 25 Februari di Perkemahan Kiara Payung. Tak ada momen tertentu yang mempersatukan kami di sini karena semua membaur. Pada satu sesi harusnya kami bertemu dalam sebuah pertemuan, tetapi tidak pada tahun ini.  Dan barulah saat acara berakhir, kami bisa melabuhkan hati kami. Berfoto-foto ria. Dengan gaya macam-macam yang menunjukkan’ identitas kedua’ kami.

Dan setelah itu, langsung setumpuk pekerjaan mulai kami raup. Hingga kami (tepatnya saya) lupa memberi pupuk untuk cinta kami. Dan beterbanganlahh cinta itu. Termakan UAS, termakan kesibukan lain.

Kemudian, untuk ketiga kalinya cinta itu bersemi kembali. Di suatu tempat indah. Khusus jalan-jalan. Tapi di sana saya melakukan kebodohan. Bodoh karena tak seharusnya saya melakukan itu, momen yang amat sangat jarang dan berkesan malah saya tinggalkan hanya demi membaca buku. Tugas. Hmmhh…. Begitulah hidup penuh dinamika.

Hingga akhirnya, hampir sebulan kemudian, harus kayak orang stress ngurusin proposal dan krintil-krintilnya. Termasuk masalah siapa yang akan berangkat. Hingga akhirnya masalahnya selesai. dan setelah pulang dari itu, ada kerinduan membuncah. Asa sudah lama kami tak bersua. Walaupun, belum ada momen, tapi sepertinya saya jatuh cinta lagi. Yang keempat kalinya. Dan mulailah saya belajar untuk memupuk kembali cinta itu. Bukan hanya dipupuk, tapi saya berazzam menyiraminya, merawatnya, hingga cinta itu tumbuh semakin subur dan berbunga.

Izinkan saya pernah menjadi spesial dalam kehidupan kalian… Love U…

Selamat Datang dan Menikmati Cinta di dunia Sosial Politik Kemasyarakatan,.. Herza, Citra, Ichsan, Lisa, Gembong, Juan, Salman, Mala, Brianto, Ridha, Sarah, Oryza, dan Fajar…

Kastil #14

Fertilisasi dan Kehidupan

Ternyata apa yang terjadi dalam tubuh kita banyak yang terimplementasikan pada kehidupan kita. Hukum yang Allah turunkan pun kadang merupakan implementasi dari apa-apa saja kegiatan dalam tubuh kita. Contohnya, fertilisasi (penyatuan gamet pria dan wanita) yang terjadi dalam genital tract seorang wanita yang bisa diambil ibrohnya atau lebih tepatnya sejalan dengan hukum Allah.

Fertilisasi terjadi di ampula yang merupakan bagian dari tuba fallopii. Fertilisasi tidak terjadi begitu saja, melainkan ada tahapan-tahapannya. Sebelum sperma bertemu dengan ovum juga, sperma telah melakukan “aksi” untuk bisa menuju ovum yang dinamakan reaksi kapasitasi. Kapasitasi adalah pengondisian pada saluran reproduksi wanita yang berlangsung selama 7 jam. Kapasitasi ini meliputi proses persiapan membrane plasma, kehilangan kolesterol berlebih agar lebih mudah membuahi ovum, membrane sperma menjadi jauh lebih permeable dan gerakan flagel lebiih kuat. Kapasitasi ini terjadi karena sperma merupakan benda asing dalam saluran reproduksi wanita, terlebih lagi, pH didalamnya berbeda dengan pH kebutuhan sperma sehingga diperlukan adanya pengondisian.

Fase-fase pada fertilisasi terbagi menjadi 3 :
1. Penetrasi korona radiata
Korona radiata merupakan bagian terluar dari ovum, untuk mempenetrasinya, tentu sperma berlomba-lomba dengan ratusan juta sperma lainnya (sekitar 200-300 juta sperma) karena hanya satu sperma yang dapat menembus korona radiate. Diperkirakan, sperma lainnya membantu spermatozoa yang membuahi untuk menembus sawar pelindung gamet wanita lainnya. Hanya sperma yang telah terkapasitasi lah yang dapat menembus korona radiate.

2. Penetrasi Zona Pelucida.
Zona pelucida adalah selubung glikoprotein yang memudahkan spermatozoa mengadakan pengikatan dan reaksi akrosom. Dapat dikatakan, zona pelucida meruapakan lapisan kedua setelah korona radiata. Reaksi akrosom ini diperantarai oleh ligan ZP3, yaitu suatu protein zona pelucida yang berfungsi sebagai reseptor sperma.

Pelepasan enzim akrosom (akrosin) akan memudahkan sperma menembus zona pelusida. Permeabilitas sperma ini akan berubah ketika spermatozoa berkontak dengan permukaan oosit. Kontak ini akan memacu oosit mensekresikan enzim lisosim yang akan mengubah sifat zona pelucida untuk mencegah penetrasi sperma dan menginaktifkan tempat-tempat reseptro spesifik untuk sperma lain di permukaan ini. Dapat dikatakan, saat satu sperma telah menembus zona pelucida, ovum akan mengondisikan agar tak ada sperma lain yang masuk.

Peristiwa ini dapat dianalogikan pada kehidupan nyata, yaitu ketika telah ada laki-laki yang mengkhitbah seorang wanita, maka saudaranya (laki-laki lain) dilarang mengkhitbah wanita itu. Pun, saat wanita telah dikhitbah, maka dia haurs menjaga diri dari laki-laki lain, walaupun belum tentu jadi juga. Dan ada satu hal menarik lainnya, yaitu pada proses pertama dimana saat ada satu sperma yang menembus korona radiata, maka sperma lainnya akan membantu sperma tersebut. Begitu pula dengan manusia, jika salah seorang laki-laki telah mengkhitbah, alangkah lebih baik laki-laki lain yang mungkin juga tertarik dengan wanita tersebut tetapi belum siap, dapat membantu saudaranya itu. Bukannya malah mencari-cari celah atau kesempatan lain agar tetap bisa bersanding dengan wanita tersebut. Dan inilah yang terjadi pada kisah Salman Al-Farisi dan Abu Darda’ (cari sendiri ya kisahnya..) 

3. Fusi membrane sel sperma dan oosit
Setelah melekat , membrane plasma sperma dans el telur menyatu dan melakukan reaksi-reaksi atau aktifitas lain yang akhirnya dapat menghasilkan zigot.

Satu dari ratusan juta sperma telah menjadi seorang manusia, ya kita-kita ini….. betapa besar perjuangan mantan sperma yang merupakan cikal bakal diri kita sehingga kita ga punya alasan untuk ga berjuang hidup di dunia ini. Hidup di genital tract aja butuh perjuangan, apalagi hidup di bumi Allah.
Semoga bermanfaat…

Fase2 fertilisasi diambil dari Learning Issue temen tutorial saya di A5 dengan pengeditan yang merujuk pada buku Embriology-nya Langman.

Tentang Ibu

Saat mendengar kata ibu, tentu semua akan berbicara banyak tentang ibu-ibu mereka. Dengan segala perjuangannya, cintanya, semua yang dimiliki adalah untuk anaknya. Tentu, tak ada anak yang tak akan mencintai ibunya, selama ibunya tak pernah membuang anaknya. Bahkan, mungkin cinta ibu bisa tak berbalas.

Entah aku yang kelewat dewasa atau gimana, pemikiran aku tentang ibu bukanlah sesosok mamah yang ada di rumah. Beliau juga sih, tapi ruang berpikirku tak sebanyak itu untuk mamah. Bukan karena tak cinta atau terlampau jauh untuk diingat, melainkan suatu jeritan hati bahwa mungkin beberapa tahun lagi diri ini akan menjadi seorang ibu. Tidak mau cepet-cepet sebenernya. Tapi, ini bukan masalah waktu, melainkan tentang harapan & mimpi tentang sang buah hati.

Terlalu banyak ‘pelajaran’ dan hikmah yang didapat selama 20an tahun perjalanan kehidupan. Asam garam, pahit getir dan manis gula kehidupan pun pernah dicicipi. Setiap singgahan menuai ceritanya sendiri. Senang susahnya, suka dukanya, maupun alay-alaynya. Semua menjadi renungan yang menjadi renungan masa depan. Renungan untuk menjadi lebih baik dan menjadikan orang lain lebih baik. Terutama untuk generasi penerusnya.

Dari seluruh pengalaman hidup ini, akhirnya aku berkesimpulan bahwa lingkungan rumah dan didikan sejak kecil akan sangat mempengaruhi karakter seseorang. Seperti layaknya aku yang terbiasa ditinggal-tinggal sejak kecil menjadikan diri ini tumbuh mandiri (walaupun definisi mandiri itu relatif). Jauh dari orang tua, tidak pernah dilarang-larang, mempunyai kesempatan sebebas-bebasnya dalam menentukan pilihan hidup benar-benar menjadikan aku sebagai (satu-satunya) pengontrol diriku yang artinya aku harus membuka pikiran dan menjernihkan hati agar saat pilihan itu salah, nurani tak diam untuk bersuara “Hey, ini salah”.

Akan tetapi, tak ada gading yang tak retak. Kebebasan yang didapat pun menjadi bayaran yang setara untuk kurangnya kebutuhan psikologis seorang anak. Dan itulah, itulah core pointnya.

Belum lagi kejadian yang menimpaku hampir setahun lebih lalu. Kejadian yang pada akhirnya telah membuat azzam sekuat-kuatnya untuk menjadi ibu yang baik. Bukan hanya saat anakku masih kecil, tapi juga saat anakku tumbuh dewasa dan akhirnya memutuskan untuk berumah tangga. Betapa sangat terasa pengetahuan dan pemahaman seorang ibu dari sikap anaknya (sekali lagi, ini relatif). Dan itulah, itulah cita-citaku nanti. Membentuk karakter anak dengan sebaik-baiknya. Menjadi guru bagi anak-anakku sebaik-baiknya. Bahkan, aku sudah memikirkan metode pendidikan untuk anak-anakku kelak walaupun belum pernah sekalipun aku membaca buku tentang mendidik anak. Mungkin itulah, saat naluri keibuan itu muncul. Saat sekian puluh tahun kehidupan bersama lingkungannnya memberikan informasi bahwa rumah adalah madrasah pertama bagi seorang anak.

Betapa rumah itu dan kedua gurunya beserta kurikulumnya telah ada dalam benak.  Belum ditentukan berapa jumlah muridnya. Bergantung pada  Yang Maha Pengasih memberikannya berapa. Dan madrasah itu nantinya akan menjadi baiti jannati yang ditinggali oleh calon-calon penghuni surga dan menjadi teladan untuk tetangga-tetangganya dan lingkungannya. Yang akan menjadikan lulusannya menjadi generasi rabbani. Menjadi prekursor kebaikan dan menularinya.

Ahh, rumah itu..betapa kurindukan….

Setoples Cinta

Setoples Cinta akan aku siapkan

Untukmu yang pertama dan terakhir datang ke sini

Setoples Cinta akan kuberikan

Saat penyerahan ayahku kau jawab

Setoples Cinta akan kuhias

Agar menjadi kawan hidup nan setia

Setoples Cinta akan kita pupuk bersama

Untuk terciptanya sakinah di gubuk kita

Setople Cinta aku butuhkan

Untuk menjadi ummi madrosatun terbaik di kerajaanmu

Setoples Cinta akan kita kembangkan bersama

Untuk membentuk generasi rabbani di gubuk kita

Setoples Cinta akan kita tuai

Saat kita bercengkrama lagi di surgaNya kelak

Setelah Barzah dan Mahsyar memisahkan…

 

Barakallah untuk yang telah dan yang akan menikmati setoples cintanya masing-masing… 🙂

Gelasnya (hampir) Penuh

Berapa lama ia akan bertahan untuk tidak mengeluarkan isinya.? Ternyata tak cukup lama. Dalam hitungan minggu saja sudah hampir penuh. Alhamdulillahnya masih tertahankan.

Ini sudah lebih dari empat pekan. Dan ia belum juga mengeluarkan isinya. Karena memang pertemuan itu belum terjadi. Sabar ya, semoga pekan ini kita bertemu.

Atau ikuti saja kata Cinta dalam filmnya, “Pecahkan saja gelasnya, Biar ramai, biar Gaduh…” hahahahaa… belakangnya ngaco. udah lupa soalnya. tapi, tidak tidak tidak. Saya akan berusaha menjaga gelas (si ‘ia’ dalam tulisan ini) itu agar tidak pecah. berusaha mengeluarkan isinya sesuai takdirnya. Takdir adalah pilihan. Pilihan sebelum ia benar-benar menjadi takdir. Tidak semua takdir adalah pilihan, tetapi setiap pilihan akan menjadi takdir. Dan kita dapat memilih untuk mempertahankan gelas itu. Atau memecahkannya juga boleh, tapi saya masih sanggup mempertahankannya.

Memang harus dipertahankan. Bukan hanya agar tidak pecah, tetapi juga agar tidak tumpah. Karena memang ia tidak bisa tumpah di sembarang tempat. Itu artinya ia harus menunggu sebelum akan memuntahkan isinya. Menunggu pada saat yang tepat.

Tak selamanya menunggu itu membosankan. Menjaga ia, hampir setara dengan menjaga sesuatu yang penting dalam hidup. Jangan tanya kenapa. Kan tadi sudah dibilang, ia hanya akan tumpah pada tempat yang tepat. Biarlah ia menambah volumenya. Semoga Allah masih memberikan kesempatan agar si gelas bisa memuai. Agar menampung lebih banyak lagi. Agar tak salah tumpah.

#saathatirindusahabat