Temaram di Kapuas

Mengingat kembali

Episode kehidupan per April 2012

Temaram di Kapuas

Romantisme dalam Kesendirian

Perjalanan malam selepas dari rumah kakek dan dilanjutkan ke rumah kakak yang sudah berkeluarga mengingatkan saya pada banyak perjalanan malam lainnya. Jarang-jarang soalnya keluar sampe malam. Apalagi kalo sudah memasuki kehidupan kampus. Jangan pernah ketahuan pulang ba’da maghrib atau saya akan dapet ‘sms gelap’ *mungkin beberapa dari Anda mengerti maksud saya..:

Padahal, sesungguhnya saya amat sangat suka perjalanan malam. Melihat lampu-lampu berkelipan. Angin semilir. Aaahhh…entah mengapa memberikan suatu suasana yang tidak bisa saya gambarkan. Tapi, dari semua perjalanan malam, memang fenomena lampu kanan-kiri lah yang pemandangan eksotisnya.

Pemandangan paling eksotis yang pernah saya lalui sebenarnya bukan di Kapuas, melainkan di Jakarta. Nothing special, right?? Tinggal ngesot dari rumah gue. Tapi, jangan salah. Pemandangannya dilihat dari sisi  mana dulu. Ya, terlampau biasamemang  jika hanya melihat dari sisi biasa alias dari jalan raya meskipun itu di jalan layang yang cukup tinggi. Berapa sih jarak paling tinggi jalan layang dengan di bawahnya?? #agak belagu. Bukan pula dilihat dari gedung-gedung tinggi. Itu juga sedikit biasa, walaupun lebih keren dari jalan layang karena gedung-gedung bertingkat di Jakarta cukuplah untuk sarana uji nyalli atau bunuh diri. #parah.

Melainkan, saya melihatnya dari sisi vertikal. Saat berada dalam pesawat menuju Jakarta. Itu kali pertama saya naik pesawat. Dan lucky-nya saat itu saya dapat tempat duduk di pojokan deket jendela beserta waktu terbang yang mendukung suasana.  Ketika di  atas Jakarta, langit sudah menghitam. Dan tenaga listrik pun mulai bekerja lebih keras untuk menerangi si Metropolitan Indonesia. Hasil yang saya dapat, Subhanallah ga ngerti lagi kerennya. Lampunya…. Saya ga bisa menceritakan detailnya, tapi jepretan pemandangan itu masih terekam jelas dalam hipocampus saya.

Lalu, kaitannya ama Kapuas? Ya, kan saya ngeliat keeksotisan Jakarta saat di pesawat dengan rute perjalanan Pontianak-Jakarta. Artinya, sebelumnya saya ada di Pontianak.  Dan malam sebelumnya, tepatnya malam Minggu, saya mengahabiskan waktu di Kapuas hingga dini hari. Sebenernya Kapuas ga bagus-bagus amat. Apalagi pas siang *sotoy*. Soalnya pas malam sebenernya biasa aja. Hanya lampu dari rumah-rumah penduduk yang bikin suasana malamnya tuh dapet. Di tambah jembatan yang menghubungkan jalan yang dipisah Kapuas berlampu-lampu. Itu emang bagus. Dan beberapa lampu keren dari sebuah tugu atau tempat khusus lainnya saat menyusuri sungai. Dan sebelum pemandangan itu di dapat dari menaiki kapal untuk menyusuri sungai, saya harus menunggu di sebuah kafe yang menjadi tempat inti acara pada malam itu. Di sinilah nilai temaramnya. Di setiap meja kafe ada lilin dan itulah sumber penerangannya. Kafenya berada tepat di tepi sungai Kapuas. Saya jadi teringat sesuatu bernama candle light dinner. Tapi ga bisa dibilang candle light dinner juga karena saya dan rekan-rekan *gaya* sudah makan malam dan jam segini bukan lagi masuk jam makan malem, kecuali kalo telat makan.

Temaram malam itulah yang membuat malam minggu saya berbeda. Dulu, buat saya malam minggu dan malam lainnya sama saja. Yang tetap ada di rumah, nonton tv atau sekedar keluar beli kebab naik motor. Jalan-jalan keluar jarang. Lagian ama siapa juga? #derita dari dulu ampe sekarang masih single *single lho, bukan jomblo.

Temaram malam itulah dengan penerangan hanya dari api lilin yang akhirnya saya bisa bilang bahwa suasananya memang romantis. Tapi jadi ga romantis karena gue masih single..#eaaa..galau#. Nggak, nggak, biar gimana pun secara fisik, suasananya memang romantis meski kontradiktif dengan suasana hati. Toh, dengan ke-single-an itu tak membuat saya merasa sendiri karena saya ke sana bareng-bareng bersama calon rekan sejawat. Dan kebersamaan itu tetap didapat dengan keceriaan roundown acara yang telah disusun panitia. Apalagi ada makanannya. Bisa nambah lagi.

Dan suasana berlayar malam di Kapuas, hampir saya habiskan sendiri. Hanya beberapa kali berbincang dengan teman atau sekadar bergaya bersama dalam jepretan kamera. Selebihnya, dilantai dua kapal kayu yang cukup besar itu saya habiskan sendiri sambil melihat panorama Kapuas malam hari. Entah apa yang saya pikirkan malam itu. Yang saya tau, malam itu romantis. Dan saya tenggelam dalam kesendirian menikmati romantisnya malam itu.

Gambar 1. Salah satu pemandangan di Kapuas

Advertisements

Menderet Alfabet

writing-with-pena

Menulis adalah teman saat berkawan sepi, tempat berlabuh di kala sendiri padahal berseliweran  orang-orang. Hiruk pikuknya pun tak kalah ramai. #paradoks

Menulis tak selalu bertinta. Hanya tinggal menekan tuts-tuts keyboard, memindai sinyal-sinyal di otak ke layar, sederet kata teruntai. Berkisah  tentang aku, kamu, dan dirinya. Merekam mozaik kehidupan. Atau merangkai cerita masa depan. Walaupun kadang  utopis. Tak apa. Toh, tak pernah ada orang yang diminta bayaran saat ia menyusun mimpi.

Menulis berarti menyampaikan pesan pada yang terdefinisi ataupun tidak. Entah yang terdefinisi menyadari atau tidak. Mungkin lebih banyak tidak. Karena banyak yang hanya tersimpan di memori dalam kotak bergiga-giga. Atau sedikit menelurkannya lewat media atau jejaring sosial. Tanpa si terdefinisi tahu ada dirinya berwujud dalam deretan alfabet.

Menulis lebih sering tak berbalas. Karena yang terpenting, seruakan rasa bisa berhamburan keluar. Berharap menemukan tepiannya. Tapi, jika tak bertepi, setidaknya seruakan rasa itu tak lagi menghimpit dada yang membuat sesak.

Menulis tak selalu mengekspresikan yang sesak, kadang bahagia tak luput jadi bahan cerita. Candaan penggugah rasa, tawa lebar ekspresi jiwa, senyum pengukir wajah jadi bagiannya. Potret seonggok kisah yang tak ingin dilepaskan dari kehidupan.

Menulis kadang tak beralur. Membiarkan si penelusur huruf mencari sendiri arahnya.

“Mau kemana ini?”

“Terserah”, kata si empunya tulisan.

REACH

Saat semangat berlari tak karuan,

Sebuah lagu membuat kuduk merinding,

Membisikkan untuk segera bangkit, menyampaikan bahwa SOOCA hanya tinggal menghitung hari..

REACH by Gloria Estefan..

Some dreams live on in time forever
Those dreams, you want with all your heart
And I´ll do whatever it takes
Follow through with the promise I made
Put it all on the line
What I hoped for at last would be mine

If I could reach, higher
Just for one moment touch the sky
From that one moment in my life
I´m gonna be stronger
Know that I´ve tried my very best
I´d put my spirit to the test
If I could reach

Some days are meant to be remembered
Those days we rise above the stars
So I´ll go the distance this time
Seeing more the higher I climb
That the more I believe
All the more that this dream will be mine

If I could reach, higher
Just for one moment touch the sky
From that one moment in my life
I´m gonna be stronger
Know that I´ve tried my very best
I´d put my spirit to the test
If I could reach

If I could reach, higher
Just for one moment touch the sky
I´m goona be stronger
From that one moment in my life
I´m gonna be so much stronger yes I am
Know that I´ve tried my very best
I´d put my spirit to the test
If I could reach higher
If I could, If I could
If I could reach
Reach, I´d reach, I´d reach
I´d reach´ I´d reach so much higher
Be stronger

Saya dan Biru-Hijau

Hari ini adalah Syukuran Fakultas Farmasi Universitas Indonesia di Balairung UI. Pasti serru bangett dehh. Apalagi danau balairung adalah salah satu spot favorit saya. Dulu, kalo lagi sepedaan, saya sering berhenti sejenak , duduk di pinggiran danau, dan menikmati pamandangannya. Sayang, saya ga bisa hadir (lagian, siapa gw??)

Dulu, saat saya masih di sana, Farmasi adalah sebuah jurusan dalam lingkup fakultas MIPA. Dan sekarang, ia telah berubah menjadi Fakultas Farmasi. Berubah wajah dari biru-hitam menjadi biru-hijau.

Berputarlah memori-memori otak ini. Kembali menekuri secuprit perjalanan kehidupan dalam balutan kampus bermakara. Walaupun, awalnya saya kebingungan dan masih bertanya kenapa harus ada di jurusan ini. Tak disangka, ternyata saya bisa juga jatuh cinta pada jurusan ini. Tepatnya saat memasuki semester dua. Saat jiwa kefarmasian itu muncul dengan adanya praktikum sebagai mata kuliah. Saat kontribusi diri disalurkan lewat HMD Farmasi. Saat pertemanan berubah menjadi persahabatan (bagai kepompong).

Teringat betul momen-momen bersama Maserasi (Manajemen Sumber Daya Farmasi) yang bisa menjadi keluarga. Klasik memang saat menyebutkan sebuah divisi yang kita bernaung di dalamnya sebagai sebuah keluarga. Tapi, memang begitu adanya. Teringat bahwa proker pertama HMDF adalah Diklat (Pendidikan dan Latihan) bertajuk TOPIK dari maserasi. Jalan-jalan kami ke Kota Tua dan rapat-rapat lainnya. Aahhh, saya rindu Maserasi. Apa kabar Maserasi? Sekarang saya banting setir. Dari dunia Kaderisasi menjadi dunia Kastrat, agak jauh berbeda. Aahhh, saya rindu Maserasi.

Saat saya sudah pasrah dan tidak berharap banyak lagi terhadap profesi berjas putih, Allah memberikan ujiannya. Allah biarkan saya memilih jalan hidup. Berat memang, tapi begitulah kehidupan. Tersusun atas pilihan-pilihan yang nantinya berwujud takdir. Saat itu, terpaksalah  harus menggantungkan jaket kuning makara biru-hitam dan meninggalkan mozaik kehidupan di sana. meninggalkan teman-teman tersayang, meninggalkan amanah sebagai (lazimnya)PSDM-ers HMDF, kebiasaan naik spekun dan berhenti sejenak untuk memandangi danau, dan cuplikan kehidupan lain selama setahun di sana.

Image

Biru-hijau, saya bukan bagian darimu. Tapi, sebelum kau berganti menjadi dirimu yang sekarang, kau telah jadi puzzle kehidupan dan terpatri dalam hati ini.

SELAMAT FAKULTAS FARMASI UI,.. Semoga semakin Sukses lahirkan generasi terbaik Bangsa…

Hidup Menyejarah

Menjadi dokter adalah sebuah cita-cita yang jatuh bangun menggapainya. Untuk memasuki gerbangnya saja, membutuhkan hitungan tahun menunggu. Belum lagi proses yang harus dijalani. Sesungguhnya jauh lebih berat lagi. Jadi teringat kalimat bijak bahwa mempertahankan jauh lebih sulit dari mendapatkannya, memang benar adanya. Saat sudah mendapatkan apa yang diinginkan kadang terlena dan lupa bahwa kita harus mempertahankannya dengan cara bekerja lebih keras. Akan tetapi, kadang hal ini terabaikan.

Kembali ke sebuah cita-cita di masa depan. Motivasi awal saya masuk kedokteran adalah karena pada saat itu saya ingin sekali menjadi seorang obgyn. Benar-benar cita terpatri dalam hati. Akan tetapi, setelah saya memasuki dunia kedokteran sempat juga terpikir untuk keluar saja dengan rutinitas yang padat. Bukan, bukan karena belajarnya. Tapi, nantinya saat sudah menjadi dokter. Apakah saya bisa melakukan amanah sebagai dokter dan juga ibu untuk keluarga dengan aktifitas dokter yang sangat padat? Jawabannya ya bisa aja, tergantung bagaimana memanage waktunya.

Dan mendengar cerita tentang residen yang bisa ga pulang itu membuat saya kembali berpikir untuk nantinya mengambil spesialis obgyn. Gila aja kalo sampe harus ga pulang dan nitipin anak terus, kasian anak gue lah. Bukan berarti ingin mengungkung cita, tetapi ini bagian penting juga dalam siklus kehidupan seorang manusia.

Selain, menjadi dokter obgyn, saya juga pengen banget jadi menteri kesehatan. Well, cita-cita yang banyak diinginkan mahasiswa kedokteran memang. Tujuan khususnya sih belum pasti, tetapi tujuan-tujuan umumnya kegambarlah.

Yah, intinya cita-cita saya nantinya adalah ingin menjadi dokter dan ibu yang sukses terlepas jadi dokter apa nantinya. Seimbang adalah keharusan, akan tetapi, jika harus mencondongkan pada sesuatu, tentu menjadi ibu yang sukses jauh lebih prioritas. Buat apa jadi dokter hebat, pasiennya banyak, dapat banyak penghargaan kalo anak-anaknya terlantar?

So, saat saya meninggal kelak, tentu saya ingin dikenang sebagai dokter sekaligus ibu yang sukses melahirkan generasi-generasi yang sukses pula. Lebih tepatnya, saya ingin sekali saat meninggal dikenang seperti Bunda Yoyoh. Lihatlah bagaimana beiau bisa melahirkan 13 orang anak yang semuanya hafidz dan hafidzoh (walaupun belum semua 30 juz). Betapa Bunda Yoyoh begitu berjasa bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di Palestina. Beliau begitu dikenal dengan petinggi-petinggi Hamas karena jasanya.

Aaahh, saya ingin sekali seperti Bunda, yang kematiannya saja seperti mengguncang Arsy. Semua orang bersedih, menangis karena kepergiannya. Dan saya ingin sekali mengukir sejarah seperti Bunda Yoyoh yang tak hanya hebat di kancah perpolitikkan, tetapi juga di tataran rumah tangga dengan 13 orang anak luar biasa.

Gambaran nyata seorang dokter luar biasa. Hasri Ainun Habibie. saya juga ingin sekali seperti beliau. Beliau adalah spesialis mata yang akhirnya mengabdikan diri untuk suami, anak, bangsa, dan negara. Apa yang luput dari kontribusinya? terhadap suami, jelas tak perlu ditanya. Bacalah bukunya. Habibie dan Ainun, Di sana tergambar jelas bagaimana beliau selalu setia menemani tugas-tugas suaminya. Terhadap anak, lihatlah saat akhirnya beliau memutuskan untuk berhenti praktik sebagai dokter di rantau (Jerman) dengan pemikiran, “anak orang lain diurusin, anak sendiri?”

Terhadap Bangsa dan Negara Indonesia? Hemm, kalo belum baca bukunya, mungkin saya ga tau beliau udah ngapain aja. Kontribusi luar biasa. Menjadi ketua yayasan ini itu, menjadi ibu Menteri (istrinya Mentri maksudnya) yang selalu menemani suaminya dengan kondisi tubuh yang tak selalu sehat, menjadi ibu luar biasa untuk dua orang anak, dan seabrek pekerjaan lainnya. Tapi, toh, pada akhirnya, apa yang beliau lakukan tak lantas menghambat profesi dan gelar dokter yang sudah didapat.

Great, dua perempuan hebat yang menginspirasi cita-cita saya saat hidup dan mati kelak. Pun, satu lagi harapan  saya adalah saya ingin sekali menjadi inspirasi bagi anak-anak saya kelak, ingin menjadi kebanggaan mereka. teringat sebuah cerita sebuah keluarga dengan sekian anak hafidz. Saat itu, sang ayah berkata, “adalah seorang wanita hebat di belakang mereka”. Saya tak ingat pasti qoute luar biasa si ayah. Tapi, intinya, bahwa ada satu wanita hebat yang akhirnya bisa mencetak anak-anak hafidz miliknya yaitu adalah istrinya a.k.a ibu si anak-anaknya. Dan begitulah saya ingin dikenang.

Akhirnya, ada banyak pilihan hidup di luar sana. Apa yang kita pilih tak melulu harus berdasar apa yang lazim dipilih. Profesi dokter tak selalu menuntut kita untuk menjadi dokter yang hebat. Karena yang terpenting adalah menjadi seorang yang hebat dengan kontribusi luar biasa. Begitulah, saya ingin dikenang selepas pemakaman kelak.

Bukan serta merta, tapi dari Allah-lah..

Kemarin, setelah sekian lama tidak membaca novel, saya berhasil menamatkan sebuah novel hanya dalam hitungan jam. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Mungkin karena novelnya berkisah tentang cinta. Selalu saja, cinta menjadi sesuatu yang masih ‘laku di pasaran’.

Dari novel itu saya diingatkan kembali tentang sesuatu. Jadi teringat asumsi saya tentang pernikahan. Bahwa sesunguhnya, keyakinannya tentang menikah dan cinta adalah benar. Bahwa menikah tak perlu lah cinta, yang penting sreg. Barulah setelah menikah cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Hanya butuh kebiasaan dan kebersamaan. Biasa bersama. Dengan keterbiasaan adanya seseorang yang tadinya tidak ada menjadi ada, yang tadinya jauh menjadi dekat, yang dulu saling diam menjadi becanda tiap hari, atau bahkan yang tadinya tidak saling kenal kini menjadi teman akrab. Ibarat pepatah Jawa ” Weting Tresna Jalaran Saka Kulina”. Yang ga tau artinya, cari di Buku Primbon. :p

Keyakinan itu memang benar adanya. Bahkan, dulu zaman Rasulullah tidak ada proses bernama taaruf. Yang ada adalah nazhor untuk melihat rupa si calon. Berharap ada sesuatu ketertarikan di sana. Ingat, hanya ketertarikan, bukan cinta. Dan saat ketertarikan itu ada, pun cinta tak serta merta muncul. Bisa sih love at the first sight. Tapi, apakah yakin ada love at the first sight.? Kalau pun dilakukan survey dan ada, perbandingan antara love at the first sight dan tidak pasti jauh berbeda.

Tidak semudah itu mempercayai bahwa menikah tak perlu lah cinta. Karena justru banya orang menikah atas dasar cinta. Tapi, toh kenyataannya banyak pernikahan yang kandas di tengah jalan padahal menikahnya pake cinta. Artinya, asumsi yang banyak beredar (yang kebanyakan hasil dari olahan sinetron) tidaklah tepat. Karena sesungguhnya cinta itu berasal dari Allah, Allah yang Maha Mecintai-lah yang nantinya akan menurunkan rasa cinta itu pada hambaNya.

Begitu pun pada orang tua. Apakah serta merta rasa cinta pada anak benar adanya? Mungkin iya, karena memang kebanyakan orang tua mencintai anak-anak mereka. Tapi, sadarkah kita, bahwa rasa sayang dan cinta yang ada orang tua kita dan kita sendiri adalah pemberian dari Allah. Bahwa Allah-lah yang menyematkan cinta di hati para orang tua dan anaknya sehingga mereka saling mencintai.

Hal inilah yang tidak disadari oleh banyak orang. Pemikiran bahwa kasih sayang dan cinta orang tua pada anaknya terjadi secara natural. Padahal, jika Allah berkehendak mengambil cinta di antara kedua belah pihak bukan hal yang mustahil. Orang tua dan anak menjadi musuh, tak ada cinta di antara mereka. Tapi, Allah Yang Maha Rahman tidak melakukan itu. Dia menyusupkan cinta ke dalam hati ibu kepada anak dan anak kepada ibunya, begitu pun dengan ayah. Hal yang tidak disadari inilah yang membuat kita lupa untuk mensyukuri nikmatnya pemberian cinta Allah kepada orang tua kita dan sebaliknya. Hal itu juga yang pada akhirnya, semestinya, kita mencintai kedua orang tua karena Allah.

Jadi, memang sudah sepantasnya kita menempatkan cinta Allah pada urutan pertama, baru setelah itu kepada Rasul dan setelahnya barulah turunan dari keduanya. Yang memang karena dari Allah-lah cinta itu ada.

Klise

Ada banyak kata, frase, atau kalimat indah yang bemakna dalam. Yang sering orang dengung-dengungkan dan menjadi andalan dalam berargumen, bernasehat, atau beretorika tentang sebuah tema.

Klise. Sebuah kata yang dalam KBBI memiliki beberapa arti. Pertama, klise adalah gambar negatif pd film potret. Ini berarti klise dalam arti sebuah benda. Kedua, keping atau pelat berisi gambar yg agak menonjol untuk dicetakkan dengan  cetak tinggi. Ini juga berarti benda. Memang, sebelum dunia digital berteknologi tinngi menyentuh dunia, klise adalah sebuah benda yang diberikan oleh studio foto pada anda setelah anda berfoto. Fungsinya, saat foto habis, klise dapat digunakan untuk mencetak kembali foto anda. Kalo sekarang, cukup memori untuk menyimpan foto baik di flashdisk, handphone, harddisk, dan lainnya, Anda akan mudah untuk mencetak foto. Seperti ini gambarnya.

Tapi, bukan klise itu maksud saya.

Arti selanjutnya adalah gagasan (ungkapan) yg terlalu sering dipakai. Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya di awal tulisan. Mendekati apa yang saya maksud. Dan arti keempat adalah tiruan; hasil meniru. Arti yang terakhir sepertinya mengacu pada klise sebuah benda bahwa gambar dalam klise adalah tiruan gambar dari sebuah foto. Jika anda kehilangan foto bersejarah, asalkan memiliki klise, maka foto anda akan kembali ke tangan anda. Tapi, lagi-lagi bukan itu yang saya maksud.

Klise seperti sebuah kata, frase, atau kalimat yang sering didengungkan orang. Biasanya terdengar indah. Dan banyak orang mengatakannya bernada sinis. “Ahhh…Klise…”. Tahukah Anda mengapa begitu? Karena beberapa klise bernilai utopis, bias. Seperti tidak akan pernah terwujud atau sangat lama untuk akhirnya bisa diwujudkan. Walaupun tidak semua klise. Karena pada akhirnya, klise menjadi sebuah hal yang relatif. Tidak semua frase adalah klise bagi sebagian orang, tapi bagi sebagian yang lain, bisa jadi iya.

Saat frase ‘Semua akan Indah pada waktunya’ begitu indah, sering, menenangkan bagi si pengucap dan pendengar, tapi tidak untuk saya. Bukan karena saya tidak percaya akan hal itu. Saya percaya bahwa suatu hal akan terasa indah pada saat yang tepat layaknya saya mempercayai adanya surga. Tapi, entah mengapa saya benci mendengar hal itu, terlebih dikhususkan pada saya saat seseorang berucap. Apalagi dalam konteks menasihati. Please don’t use this phrase if you want to say something with me. Mengapa? Karena buat saya itu klise.

Hingga saya bertanya pada seorang teman, kira-kira mengapa saya membenci hal tersebut dan dijawablah, “ karena gak tau kapan waktunya. Dan lo termasuk orang yang gak suka dengan kata-kata yang bermakna ambigu dan tidak jelas.”

“You’re Right”, saya katakan padanya. Sebagai seorang wanita, kadang saya banyak berpikir logis ketimbang perasaan. Yang ada saya malah seperti tidak berperasaan, terlampau cuek dan sangat sulit menghayati posisi yang bukan diri saya. Bukan dalam hal acting. Mungkin acting juga. Tapi, saya tidak tahu pastinya karena saya belum pernah acting sepertinya. Lebih tepatnya dalam kehidupan sehari-hari. Karena karakter bermain setiap harinya dalam episode hidup.

Secara logis, frase itu sangat klise, terlalu muluk, terlalu jauh seperti sulit dijangkau walaupun saya sangat mempercayai derajat kebenarannya. Sedikit sulit menggambarkan apa yang saya rasa dan pikir tentang frase tersebut. Mungkin tepat (benar tidak selalu tepat, tapi tepat insya Allah benar) karena ketidakjelasan kapan waktunya. Ya, soalnya kalo waktunya jelas juga jadi gak seru. Ahh, peduli amat seru atau tidak. Saya hanya butuh kejelasan tentang sesuatu yang sedang saya tunggu.