Bukan serta merta, tapi dari Allah-lah..

Kemarin, setelah sekian lama tidak membaca novel, saya berhasil menamatkan sebuah novel hanya dalam hitungan jam. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Mungkin karena novelnya berkisah tentang cinta. Selalu saja, cinta menjadi sesuatu yang masih ‘laku di pasaran’.

Dari novel itu saya diingatkan kembali tentang sesuatu. Jadi teringat asumsi saya tentang pernikahan. Bahwa sesunguhnya, keyakinannya tentang menikah dan cinta adalah benar. Bahwa menikah tak perlu lah cinta, yang penting sreg. Barulah setelah menikah cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Hanya butuh kebiasaan dan kebersamaan. Biasa bersama. Dengan keterbiasaan adanya seseorang yang tadinya tidak ada menjadi ada, yang tadinya jauh menjadi dekat, yang dulu saling diam menjadi becanda tiap hari, atau bahkan yang tadinya tidak saling kenal kini menjadi teman akrab. Ibarat pepatah Jawa ” Weting Tresna Jalaran Saka Kulina”. Yang ga tau artinya, cari di Buku Primbon. :p

Keyakinan itu memang benar adanya. Bahkan, dulu zaman Rasulullah tidak ada proses bernama taaruf. Yang ada adalah nazhor untuk melihat rupa si calon. Berharap ada sesuatu ketertarikan di sana. Ingat, hanya ketertarikan, bukan cinta. Dan saat ketertarikan itu ada, pun cinta tak serta merta muncul. Bisa sih love at the first sight. Tapi, apakah yakin ada love at the first sight.? Kalau pun dilakukan survey dan ada, perbandingan antara love at the first sight dan tidak pasti jauh berbeda.

Tidak semudah itu mempercayai bahwa menikah tak perlu lah cinta. Karena justru banya orang menikah atas dasar cinta. Tapi, toh kenyataannya banyak pernikahan yang kandas di tengah jalan padahal menikahnya pake cinta. Artinya, asumsi yang banyak beredar (yang kebanyakan hasil dari olahan sinetron) tidaklah tepat. Karena sesungguhnya cinta itu berasal dari Allah, Allah yang Maha Mecintai-lah yang nantinya akan menurunkan rasa cinta itu pada hambaNya.

Begitu pun pada orang tua. Apakah serta merta rasa cinta pada anak benar adanya? Mungkin iya, karena memang kebanyakan orang tua mencintai anak-anak mereka. Tapi, sadarkah kita, bahwa rasa sayang dan cinta yang ada orang tua kita dan kita sendiri adalah pemberian dari Allah. Bahwa Allah-lah yang menyematkan cinta di hati para orang tua dan anaknya sehingga mereka saling mencintai.

Hal inilah yang tidak disadari oleh banyak orang. Pemikiran bahwa kasih sayang dan cinta orang tua pada anaknya terjadi secara natural. Padahal, jika Allah berkehendak mengambil cinta di antara kedua belah pihak bukan hal yang mustahil. Orang tua dan anak menjadi musuh, tak ada cinta di antara mereka. Tapi, Allah Yang Maha Rahman tidak melakukan itu. Dia menyusupkan cinta ke dalam hati ibu kepada anak dan anak kepada ibunya, begitu pun dengan ayah. Hal yang tidak disadari inilah yang membuat kita lupa untuk mensyukuri nikmatnya pemberian cinta Allah kepada orang tua kita dan sebaliknya. Hal itu juga yang pada akhirnya, semestinya, kita mencintai kedua orang tua karena Allah.

Jadi, memang sudah sepantasnya kita menempatkan cinta Allah pada urutan pertama, baru setelah itu kepada Rasul dan setelahnya barulah turunan dari keduanya. Yang memang karena dari Allah-lah cinta itu ada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s