Menderet Alfabet

writing-with-pena

Menulis adalah teman saat berkawan sepi, tempat berlabuh di kala sendiri padahal berseliweran  orang-orang. Hiruk pikuknya pun tak kalah ramai. #paradoks

Menulis tak selalu bertinta. Hanya tinggal menekan tuts-tuts keyboard, memindai sinyal-sinyal di otak ke layar, sederet kata teruntai. Berkisah  tentang aku, kamu, dan dirinya. Merekam mozaik kehidupan. Atau merangkai cerita masa depan. Walaupun kadang  utopis. Tak apa. Toh, tak pernah ada orang yang diminta bayaran saat ia menyusun mimpi.

Menulis berarti menyampaikan pesan pada yang terdefinisi ataupun tidak. Entah yang terdefinisi menyadari atau tidak. Mungkin lebih banyak tidak. Karena banyak yang hanya tersimpan di memori dalam kotak bergiga-giga. Atau sedikit menelurkannya lewat media atau jejaring sosial. Tanpa si terdefinisi tahu ada dirinya berwujud dalam deretan alfabet.

Menulis lebih sering tak berbalas. Karena yang terpenting, seruakan rasa bisa berhamburan keluar. Berharap menemukan tepiannya. Tapi, jika tak bertepi, setidaknya seruakan rasa itu tak lagi menghimpit dada yang membuat sesak.

Menulis tak selalu mengekspresikan yang sesak, kadang bahagia tak luput jadi bahan cerita. Candaan penggugah rasa, tawa lebar ekspresi jiwa, senyum pengukir wajah jadi bagiannya. Potret seonggok kisah yang tak ingin dilepaskan dari kehidupan.

Menulis kadang tak beralur. Membiarkan si penelusur huruf mencari sendiri arahnya.

“Mau kemana ini?”

“Terserah”, kata si empunya tulisan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s