Temaram di Kapuas

Mengingat kembali

Episode kehidupan per April 2012

Temaram di Kapuas

Romantisme dalam Kesendirian

Perjalanan malam selepas dari rumah kakek dan dilanjutkan ke rumah kakak yang sudah berkeluarga mengingatkan saya pada banyak perjalanan malam lainnya. Jarang-jarang soalnya keluar sampe malam. Apalagi kalo sudah memasuki kehidupan kampus. Jangan pernah ketahuan pulang ba’da maghrib atau saya akan dapet ‘sms gelap’ *mungkin beberapa dari Anda mengerti maksud saya..:

Padahal, sesungguhnya saya amat sangat suka perjalanan malam. Melihat lampu-lampu berkelipan. Angin semilir. Aaahhh…entah mengapa memberikan suatu suasana yang tidak bisa saya gambarkan. Tapi, dari semua perjalanan malam, memang fenomena lampu kanan-kiri lah yang pemandangan eksotisnya.

Pemandangan paling eksotis yang pernah saya lalui sebenarnya bukan di Kapuas, melainkan di Jakarta. Nothing special, right?? Tinggal ngesot dari rumah gue. Tapi, jangan salah. Pemandangannya dilihat dari sisi  mana dulu. Ya, terlampau biasamemang  jika hanya melihat dari sisi biasa alias dari jalan raya meskipun itu di jalan layang yang cukup tinggi. Berapa sih jarak paling tinggi jalan layang dengan di bawahnya?? #agak belagu. Bukan pula dilihat dari gedung-gedung tinggi. Itu juga sedikit biasa, walaupun lebih keren dari jalan layang karena gedung-gedung bertingkat di Jakarta cukuplah untuk sarana uji nyalli atau bunuh diri. #parah.

Melainkan, saya melihatnya dari sisi vertikal. Saat berada dalam pesawat menuju Jakarta. Itu kali pertama saya naik pesawat. Dan lucky-nya saat itu saya dapat tempat duduk di pojokan deket jendela beserta waktu terbang yang mendukung suasana.  Ketika di  atas Jakarta, langit sudah menghitam. Dan tenaga listrik pun mulai bekerja lebih keras untuk menerangi si Metropolitan Indonesia. Hasil yang saya dapat, Subhanallah ga ngerti lagi kerennya. Lampunya…. Saya ga bisa menceritakan detailnya, tapi jepretan pemandangan itu masih terekam jelas dalam hipocampus saya.

Lalu, kaitannya ama Kapuas? Ya, kan saya ngeliat keeksotisan Jakarta saat di pesawat dengan rute perjalanan Pontianak-Jakarta. Artinya, sebelumnya saya ada di Pontianak.  Dan malam sebelumnya, tepatnya malam Minggu, saya mengahabiskan waktu di Kapuas hingga dini hari. Sebenernya Kapuas ga bagus-bagus amat. Apalagi pas siang *sotoy*. Soalnya pas malam sebenernya biasa aja. Hanya lampu dari rumah-rumah penduduk yang bikin suasana malamnya tuh dapet. Di tambah jembatan yang menghubungkan jalan yang dipisah Kapuas berlampu-lampu. Itu emang bagus. Dan beberapa lampu keren dari sebuah tugu atau tempat khusus lainnya saat menyusuri sungai. Dan sebelum pemandangan itu di dapat dari menaiki kapal untuk menyusuri sungai, saya harus menunggu di sebuah kafe yang menjadi tempat inti acara pada malam itu. Di sinilah nilai temaramnya. Di setiap meja kafe ada lilin dan itulah sumber penerangannya. Kafenya berada tepat di tepi sungai Kapuas. Saya jadi teringat sesuatu bernama candle light dinner. Tapi ga bisa dibilang candle light dinner juga karena saya dan rekan-rekan *gaya* sudah makan malam dan jam segini bukan lagi masuk jam makan malem, kecuali kalo telat makan.

Temaram malam itulah yang membuat malam minggu saya berbeda. Dulu, buat saya malam minggu dan malam lainnya sama saja. Yang tetap ada di rumah, nonton tv atau sekedar keluar beli kebab naik motor. Jalan-jalan keluar jarang. Lagian ama siapa juga? #derita dari dulu ampe sekarang masih single *single lho, bukan jomblo.

Temaram malam itulah dengan penerangan hanya dari api lilin yang akhirnya saya bisa bilang bahwa suasananya memang romantis. Tapi jadi ga romantis karena gue masih single..#eaaa..galau#. Nggak, nggak, biar gimana pun secara fisik, suasananya memang romantis meski kontradiktif dengan suasana hati. Toh, dengan ke-single-an itu tak membuat saya merasa sendiri karena saya ke sana bareng-bareng bersama calon rekan sejawat. Dan kebersamaan itu tetap didapat dengan keceriaan roundown acara yang telah disusun panitia. Apalagi ada makanannya. Bisa nambah lagi.

Dan suasana berlayar malam di Kapuas, hampir saya habiskan sendiri. Hanya beberapa kali berbincang dengan teman atau sekadar bergaya bersama dalam jepretan kamera. Selebihnya, dilantai dua kapal kayu yang cukup besar itu saya habiskan sendiri sambil melihat panorama Kapuas malam hari. Entah apa yang saya pikirkan malam itu. Yang saya tau, malam itu romantis. Dan saya tenggelam dalam kesendirian menikmati romantisnya malam itu.

Gambar 1. Salah satu pemandangan di Kapuas

Advertisements