Sedesperado Itukahh ???

Beberapa hari terakhir ini gue merasa diteror dengan beberapa pertanyaan dan pernyataan. Pertanyaan dan pernyataan yang cukup menohok sebagai anak manusia normal. Yang keduanya (pertanyaan dan pernyataan) itu berasal dari temen-temnen gue. Oiya, izinkan saya menggunakan kata ganti gue ya.. biar lebih meresapi kegondokan yang saya rasakan ini.

Berawal dari.. tengari bolong di rumah temen gue.

F : “Ternyata bener ya kata mayang lw gendutan. Berapa berat lw? 50 ya?”

C: “Nggak kok.” (dengan muka sedihh)

F: “Terus berapa?” (dengan estimasi dalam balutan pikiran gue ya berarti 40-an)

C : “55.”

F : “Eeee.. GUBRAKKK.. Dasar Endut..” (sambil ngeledek)

C : “Biarin,yang penting ada yang nyantol. Bentar lagi mau nikah. Daripada lw….”

F : (cengo) #sakit mamennn…#

Itu baru satu. Ada lagi..

U : “Far, temen gue 92 kemaren lohh. Kamu kapan?”

Ngerti kan maksud pertanyaannya? Ga perlu gue jelasin ya penonton.. (penonton tulisan gue maksudnya).

F : dan gue hanya bisa terdiam. Kapan ya? Kapan-kapan lahh kalo udah ada.

Teruss…

D : “Itu DP lo anaknya mba kiki (kaka saya) ya? Kok udah gede aja?”

F : “Iya. Lahh, moso mau bayi terus.”

D : “Udah segede gitu aje. Tantenya aje ga kawin2.. :p”

F : “Aaaaa…. Sial… “

Begitulah kira-kira tiga dialog yang cukup menohok sehingga gue tertohok. Dalem kan sodara-sodara? Bahkan ada yang lebih menohok. Di bulan April kemarin temen seangkatan gue di kampus udah ada yang nikah aja ama junior gue. Gue yang cukup tuir di angkatan karena emang aslinya bukan angkatan mereka dibilang ga laku. Ya Allah, kejam amat yak dunia.

Setuir itukah gue? Sedesprado itukahh? #muka sedih# (kalo pake BB enak nih ekspresiin pake emot). Menyedihkan sekali sepertinya dibombardir pertanyaan dan pernyataan seputar begituan. Ampe sensitip. Kesannya gue desperado amat nihh.

Ya begitulah. Kegalauan yang melanda angkatan asli gue yang memang udah tingkat akhir. Akhir banget. Tinggal dipanggil ama rektor buat diselametin karena akan get out dari kampus. Dan gue masi akan berkutat dengan kuliah S1. Ya ga papa sih sebenernya. Jadi dokter emang butuh perjuangan masbroo.

Cuma yang jadi permasalahan adalah yang itu tadi. Seolah-olah gue adalah cewe yang umurnya udah paruh baya atau bahkan sepuh dan beloman nikah-nikah juga. Apa temen-temen gue yang pada mau wisuda itu juga dapet pertanyaan serupa? Serupa tapi tak sama juga ga papa deh. Secara mereka lebih ‘mapan’ dari gue.

Emang sih, akhir-akhir ini emang banyak acara walimahan yang perhelatannya diadain ama temen atau senior gue yang usianya sama atau beda dikit ama gue. Jadilah, gue kena imbasnya. Pliss ya, yang seumuran ama gue di seantero Indonesia ini banyak kalee. Dan banyak juga yang belum menyempurnakan agama. Tapi kenapa? Kenapa seolah-olah pertanyaan ini hanya tertuju pada daku? #mau nangis #siapin tissue#

Nih ya, jawabannya.. mau umur berapa kek, kalo Allah belum berkehendak yaaa apa mau dikata. Gue juga maunya cepet mbaksist. Tapi, jika belom dateng? Ya sudah.. hanya bisa berdoa semoga ia cepet datang. #mulai ekstrem#

Ya begitulah kisah hidup gue yang memilukan bersama teman-teman gue yang rada-rada ngeselin itu. Semoga temen2 gue itu diberi hidayah dan inayah oleh Allah agar ga jadi temen yang ngeselin lagi. Dan jadi temen yang baik. Yang bisa konkret untuk temennya ini. KONKRET dong Brooo… cariin gihh sono.. #eksterm versi desperado ini mahh#

Advertisements

Mandi Keringat atau Darah ?

Ada sebuah quote dari seorang dosen yang masih berputar-putar dalam otak saya kemarin saat Yudisium.

Lebih baik bermandikan keringat di medan latihan daripada bermandikan darah di medan perang.

Entah ini kalimat nyontek darimana atau emang buatannya dr. Alwin (salah satu dosen FK Unpad) sendiri. Dan kalimat itu sangat apa ya.. Menohok sih tidak. Tapi memang menyadarkan kita untuk lebih berusaha keras pada kehidupan ini. Pada kehidupan dengan keniscayaan penuh ujian dan perjuangan. Jika dalam hidup ini kau tidak pernah mendapat ujian dan berjuang, pertanyakanlah, kau masih hidup atau hanya mayat hidup?

Bermandikan keringat lebih baik dan harusnya menjadi piklihan agar saat menerima hasil tak perlu bersimbah darah (kerasnya) atau berlinang bulir airmata (biasanya).

Tafsiran dr. Alwin sendiri pada kalimat ini memang ditujukan untuk para pembelajar calon dokter (soalnya dikasih pas yudisium mahasiswa FK Unpad). Bahwa bersakit-sakit semasa kuliah dan belajar adalah hal biasa daripada harus bertaruh pada nyawa pasien di ranah pengobatan. Sesungguhnya kasus-kasus malpraktik itu bukannya sedikit. Banyak. Hanya tidak terekspos. Ada yang memang kesalahan dokternya, ada juga karena kurangnya inform consent, dan banyak faktor lainnya. Kalau sudah begini siapa yang mau bertanggung jawab?

Lebih baik bermandikan keringat di medan latihan daripada bermandikan darah di medan perang.

Dan memang begitu semestinya. Hal ini tak berlaku pada mahasiswa kedokteran saja sebenarnya. Melainkan berlaku pada kehidupan seluruh manusia. Melakukan kerja keras sedemikian rupa dengan tetap memenuhi hak diri mutlak hukumnya. Sesiapa yang tidak melakukannya, ya bersiaplah menyiapkan ember untuk menampung airmata bahkan darah. Karena pada hakikatnya, hasil akan berbanding lurus dengan usaha, kecuali jika Allah berkehendak lain.

Bukan berarti Allah jahat. Hanya saja kerja keras itu ditabung untuk menuai hasil yang akan lebih besar lagi nantinya. Karena seberapapun kerasnya usaha, tetap Allah yang punya kuasa pada hasilnya. Seperti pada kata-kata bijak. Kita tulis rencana kita dengan pena dan berikan penghapusnya pada Allah. Dan biarkan Allah tetap mengukir atau sedikit bahkan banyak mengubah ukiran pada kalkir di dasar tinta pena kita.

True Happiness ???

Hidup ini terlampau sulit untuk dijelaskan. Masing-masing punya ceritanya sendiri. Setiap kita punya episode yang tak akan pernah sama. Jungkir balik kehidupan pasti pernah dialami. Lalu, dimana sisi kebahagiaan kehidupan?

Tak ada baku pada definisi kebahagiaan. Tiap individu punya maknanya sendiri pada bahagia. Dalam arti sempit, mungkin bahagia adalah di saat dapat nilai bagus lalu orang tua ikutan tersenyum bangga. Atau saat orang tercinta duduk bersisian sambil menerima tamu.

Kalo kata Pak Mario Teguh sih, kebahagiaan itu ga usah dicari di luar diri kita. Kenapa? Karena kebahagiaan itu berasal dari diri kita sendiri. Yang bisa bekerja ikhlas dan selalu mensyukuri kehidupan. Nah, itu bahagia. Jadi, terbantahkan tuh dua statement di atas.

Lalu, kalo menurut penulis sendiri sih kebahagiaan itu emang sulit didefinisiin. Bahkan lebih sulit daripada ‘cinta’. Tapi, penulis akan bahagia saat merasa dekat dengan Allah. Kayaknya tuh kalo dekat ama Allah segala ujian dan cobaan tuhh ya biasa aja gitu. Kan yang namanya kehidupan ga ada yang enak terus. Dan lagi pun, kehidupan kekal kita kan di akhirat, jadi sakit sejenak di sini ga apalah. Toh, Allah tak akan membiarkan hambaNya berkutat pada ujian yang di luar kemampuan hambaNya.

Ada satu kebahagian tersendiri yang tak bisa disiratkan pada ungkapan apapun di saat hati ini selalu ingat Allah. Bahwa kehidupan ini hanya milik Allah. Jadi, biarkanlah Allah melenggangkan penanya pada diri kita dengan ikhlas. Ikhlas di sini ya ga banyak protes. Kadang kan ada manusia yang kalo ga dapet keinginannya suka bertanya-tanya. “kok Allah ga adil? Kok Allah gini sih? Kan saya udah banyak doa”. Ya, kalo gitu, jangan harap ngerasa bahagia.

The True Happiness, pasti akan senantiasa dicari oleh setiap manusia. Satu hal yang harus dicamkan, bahwa seberapapun bahagia Anda saat ini, jika Anda jarang atau bahkan tak pernah sedikitpun mengingat dan mengenal  Allah, percayalah, itu bukan kebahagiaan.

Presiden yang Subhanallah…

Mendengar kemenangan Dr. Mursi adalah sesuatu banget. Apalagi setelah mengetahui bahwa beliau adalah seorang hafizh. Dan sukses jadi presiden pertama di dunia (kalo ga salah) yang merupakan seorang hafizh. Terharu gitu deh. Terus buka-buka FB dan ada artikel tentang kemenangan beliau. Dari link itu juga saya akhirnya tahu bahwa keluarga Mursi merupakan keluarga hafizh. Wahh, jadi pengen nangis gitu.

Ada yang belum tahu Dr. Mursi? Jadi, beliau yang bernama lengkap Dr. Muhammad Mursi ini adalah presiden baru Mesir. Nah, sebelumnya beliau udah pernah duduk di parlemen dan pernah juga ngerasain kejamnya jeruji Mesir semasa Mubarak.

Mursi lahir di Udwah kawasan Syarqiyah, 20 Agustus 1951. Orang tuanya hanyalah seorang petani. Beliau menikah pada tahun 1978. Kini telah dikarunia 5 orang anak dan 3 cucu. Beliau, isteri dan seluruh anaknya adalah penghafal Al-Quran. Tahun 1978 meraih gelar Master sain bidang teknik material di Universitas Kairo. Meraih gelar PhD. Dari Universiti Southern California pada tahun 1982 dengan nilai summa cumlaude. Banyaknya tawaran dari universitas terkemuka di Amerika tak membuatnya tergiur. Tahun 1983 ia pulang ke kampung halamannya kemudian menjabat Dekan di Universitas Zaqaziq dari tahun 1985 sampai 2000. Pernah menjadi anggota parlemen Mesir pada tahun 2000-2005. Pada periode selanjutnya, kemenangannya dianulir oleh penguasa. Mencicipi jeruji besi pada masa itu. Bahkan 28 Januari 2011, pernah ditangkap untuk tidak menggerakkan revolusi.

— http://www.islamedia.web.id/2012/06/mursi-seorang-hafidz-dari-penjara.html —

Tuh kan keren banget… saya jadi langsung ngefans nih sama beliau..

Balik lagi cerita tentang hafizhnya beliau. Saya kebayang sesuatu. Tentu kita juga udah pernah denger cerita tentang Imam Syafi’I yang hafalannya hilang 3 juz karena ga sengaja ngeliat betis wanita yang tersingkap. Itu ga senagaja lhoo. Bikin ilang hafalan. Apalagi yang sengaja.

Artinya apa?

Jika banyak pemimpin di luar sana yang banyak kena skandal korupsi (terutama Indonesia yang menempati peringkat ketiga negara terkorup), tentu pemimpin yang punya hafalan akan lebih terjaga. Selain karena kedekatannya dengan Al-qur’an, kan biasanya seorang hafizh akan punya defense tersendiri pada nafsunya. Terutama nafsu yang biasanya merajalela pada diri pemimpin, yaitu kekuasaan dan harta. Walaupun, bukan berarti tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan.  Ya, biar gimanapun Pak Mursi kan juga manusia, dimana tempat salah dan lupa. Tapi, setidaknya, Pak Mursi akan dijaga oleh Allah dan Al-Qur’an.

Dengan hafizhnya Pak Mursi ini juga menjadi harapan besar bagi warga Mesir setelah banyak kita tahu sejarah kelam presiden-presiden Mesir yang dikenal dengan pro-Israel. Harapan terbesarnya pula, ada kaitannya dengan kebebasan rakyat Palestina atas negaranya.

Katanya sih, kemenangan Dr. Mursi ini bikin Israel gigit jari. Tapi, Obama juga ngucapin selamat gitu deh. Semoga ga ada maksud apa-apa ya. Soalnya, saya inget banget tuh, waktu dulu, Obama -sebagai calon presiden AS- kan dielu-elukan. Dianggap akan pro-Palestina. Tapi nyatanya?? Jadi antek-anteknya Yahudi juga. Nah, semoga dengan kemenangan Pak Mursi ini bikin Mesir ga lagi jadi salah satu jundi Israel.

Ya, Allah.. smoga kita -sebagai calon pemimpin- juga bisa mengikuti jejak DR. Mursi untuk segera menambah hafalan hingga akhirnya menjadi hafizh/oh. Mudahkan kami ya Allah… Amin..

Membeli Suasana…

Adakah jalan keluar dari sini? Adakah kesempatan itu datang lagi?

Antara cita-cita dan suasana.

Berapa harga yang harus dibayar untuk membeli suasana demi menggapai cita-cita? Mahal sekali sepertinya. Sampai-sampai tak mampu dibeli. Padahal, di tempat dulu, betapa tawaran suasana itu begitu banyak. Dengan berbagai macam cara.

Antara cita-cita dan suasana

Setelah berada dalam jalur menuju cita-cita, terbentur masalah suasana. Hingga menggapai cita tak lagi selezat es krim atau seenak coklat. Padahal dulu, berjuang menuju jalannya seperti pahlawan memperebutkan kemerdekaan. Penuh peluh dan darah walaupun, tak sampai darah itu mengucur.

Antara cita-cita dan suasana

Apakah tak bisa kalian berdua berjalan beriringan? Tahukah kalian betapa sulitnya memilih sesuatu yang bukan pilihan? Dan ini, masalahnya, sudah tak bisa lagi memilih.

Antara cita-cita dan suasana

Tak bisa mengertikah sedikit, bahwa setiap orang terlahir berbeda.? Dengan fenotip dan genotipnya, karakternya. Tak serta merta bisa mengubah seorang anak manusia yang puluhan tahun memang begitu bentuknya.

Antara cita-cita dan suasana

Bukankah segalanya perlu proses? Adakah sarana belajar untuk sekadar menjadi lebih manis agar bisa membeli suasana mungkin? Mungkin. Tak pernah ada jaminan menjadi lebih manis kemudian kau bisa membeli suasana.

Antara cita-cita dan suasana

Tahu koq betapa memuakkannya minta dimengerti itu, padahal diri belum mengerti. Tapi, jika untuk mengerti membutuhkan suasana, salahkah jika ingin sedikit dimengerti hingga akhirnya bisa mengerti.?  Semata hanya karena suasana itu belum bisa terbeli. Atau jangan-jangan memang ia tak pernah ada. Hingga tak pernah terbeli.

Kadang, lelah sekali mencari dirimu, suasana…

Tak bisa kah kau sedikit mendekat?

Politik(us) dan Aktivis Kampus

Politik kerap disandingkan dengan kata busuk, kotor, atau kata-kata kasar lainnya. Rasanya kami sebagai rakyat jelita, #eh..jelata maksudnya,  jengah sekali pada kelakuan (poli)tikus-(poli)tikus nakal yang tak terhitung jumlahnya, yang berwajah tebal atau (kasarnya) bermuka badak, dan sebutan-sebutan lain yang menyertai. Hingga rakyat tak percaya lagi pada mereka. Bahkan tak sedikit yang ‘menarik diri’ dan memilih menjadi golongan putih. Itu hak mungkin. Tapi, pernahkah terpikir, jika semua orang membenci politik, lantas siapa yang akan mengubah wajah perpolitikkan Indonesia? Apakah kita mau politik kita berada dalam lingkaran setan? Lingkaran setan koruptor?  Apakah sakit kronis itu tak lagi bisa disembuhkan? Ya, penyakit kronis itu. Korupsi namanya.

Dalam suatu surat kabar nasional online, ada sebuah rubrik bernama ‘Aku Muak dengan Korupsi’. Isinya seputar berita korupsi yang ditulis oleh pembaca. Jadi, dari sana, kita bisa melihat bahwa korupsi tidak hanya terjadi pada tatanan negara, bahkan di tingkat terendah macam RT pun, korupsi bisa saja terjadi.  #miris.

Kita pun sebagai mahasiswa, sering kali berkoar-koar tentang korupsi. Kebencian atas tindakan keji tersebut kadang membawa mahasiswa hingga ke jalan. Mendengung-dengungkan tentang korupsi dan antikorupsi. Tapi, sadarkah kita kadang perbuatan kita sehari-hari pun tak jauh dari korupsi. Mungkin tak sampai nyolong uang rakyat ratusan juta. Mungkin tak sampai merugikan orang lain. Tapi, apapun namanya, ketidakjujuran itu adalah salah satu bentuk korupsi.

Contoh gampangnya, saat sebuah kampus menerapkan tidak boleh absen kecuali dengan alasan yang jelas dan terlambat pun tak boleh masuk, maka saat terpaksa datang terlambat, (karena takut terjadi apa-apa) dibuatlah surat sakit rekaan. Apalagi jika orang tuanya adalah dokter, tentu akan lebih mudah mendapatkan surat itu secara cuma-cuma. Jadi, ngapain repot? H, kalo begini apa namanya? Membenci korupsi  yang dilakukan pejabat, tapi juga melakukan ketidakjujuran. Hampir sama dengan Kaburo maqtan namanya, beda tipis.

Tidak hanya itu, masalah contek-mencontek pun malah jadi budaya #pantaskah disebut budaya?#, saking biasanya dianggap lazim. Bahkan dari kecil. Saya ingat betul sebuah berita beberapa tahun lalu tentang seorang ibu yang menyuruh anaknya untuk berlaku jujur saat UASBN SD jaman itu, malah diusir warga sekampungnya. Ga ngerti lagi ama akhlak kita. Membela kebenaran adalah hal tabu di jaman ini. Bukan sekadar tabu, melainkan kebenaran itu sendiri mungkin jadi musuh untuk kita. Pantas saja, pejabat kita banyak korupsi, kita sebagai elemen terkecil negara saja sudah membenci kejujuran, bagaimana dengan pejabat di senayan atau di gedung pencakar langit lainnya yang memang godaannya besar.

Dan soal contek mencontek pun bukan hanya anak SD, SMP, dan SMA. Di tingkat kampus yang bangkunya diisi oleh orang-orang yang katanya intelek saja masih ada yang mencontek. #apanya yang intelek coba kalo masih nyontek??

Maka, sebenernya, kita tak perlu berlarut-larut berkoar-koar perihal korupsi. Tak apa untuk mengajak kepada kebaikan dan membenci kezhaliman. Tak perlu juga sampai membenci politik dan menjadi golongan putih. Bayangkan, jika tak ada politik, maka tak ada negara. Wong, organisasi kampus saja sudah bagian dari politik. Mungkin, tak bisa serta merta mengubah wajah dunia politik kita yang korupsinya bisa membawa Indonesia menjadi peringkat ketiga soal korupsi. Tapi, dengan kita belajar untuk selalu menjadi pribadi yang jujur, sepahit apapun, semendesak apapun, seterpaksa apapun. Kadang kita gitu sih, membenci korupsi, gedeg setengah mati ama koruptor, kita sendiri juga masih sering bohong.

Pernah berpikir ga? Dulu, sangat tidak menutup kemungkinan para koruptor itu adalah mantan aktivis dan organisatoris kampus seperti kita. Rajin bertoa-toa ria di jalan demi rakyat. Mengatasnamakan rakyat. Seperti kita sekarang ini. Tak jauh berbeda. Seperti ini :

Sekarang mereka duduk di kursi empuk dan lahan basah penuh godaan ditambah dorongan untuk membahagiakan keluarga dan tuntutan istri yang hobi shopping (hati2 ya yg hobi shopping, takut kebablasan, entar nyuruh suami korupsi lagi #no offense sama sekali) ditambah bisikkan syaitonnirodjim…jadilah mereka begitu.

Dan suatu saat nanti, kita-kita inilah yang akan menggantikan mereka duduk di tempat tersebut. di bangku nyaman Senayan, bahkan bisa saja tidur di istana megah presiden. Lalu, apa yang kita lakukan terhadap godaan-godaan seperti itu, jika saat ini kita masih menganggap biasa kebohongan-kebohongan kecil? Mungkin tak berefek banyak saat ini. Tapi bisa saja kebohongan kecil tersebut terakumulasi menjadi korupsi besar saat kita sudah memangku jabatan seperti koruptor-koruptor tersebut. Na’udzubillah. Karena tak ada dosa kecil jika sering dilakukan dan taka da dosa besar jika bertobat. Wallahu’alam.

Semburat Jingga

Aku rindu pada semburat jingga

Yang menemani matahari pulang ke pelatarannya

Aku rindu pada semburat jingga

Yang mengawal burung-burung ke sarangnya

Aku rindu pada semburat jingga

Yang bersamanya mengalun sautan suara adzan

Aku rindu pada semburat jingga

Yang saat aku mendongakkan kepala, kau sangatlah indah

Aku rindu pada semburat jingga

Yang akhirnya mengantarkan aku pulang ke rumah setelah puas bermain di sore hari

Semburat jingga, sekarang aku jarang melihat dan menikmatimu. Terburu-buru pulang, takut dapet sms ‘gelap’.. #ups

Waspadalah, pada Koleris Garis Keras

Sesungguhnya menjadi sanguinis, koleris, melankolis, dan phlegmatis pasti ada sisi menderitanya. Betapa kekurangan dan kelebihan masing-masing hampir sama rata. Tidak lebih di kelebihan maupun kekurangan. Ataupun, jika jumlahnya berbeda, tak akan terpaut jauh selisihnya.

Menjadi ke-empat-nya pun menuai suka dan duka. Menuai kritik, saran, dan (kadang) pujian #jarang bangett tapi#. Menanggung beban dan lain sebagainya, terlebih saat ia harus diperlakukan tidak sesuai dengan karakter dan tempatnya.

Tentu sedikit kerepotan menjadi melankolis yang menuntut keperfectan. Saat semua yang dilakukan harus sesuai standardnya. Ini sebuah kelebihan, tapi lebih banyak nilai negatifnya. Pertama, bisa menjadi kelebihan karena biasanya standard yang digunakan si melankolis tinggi boo.. jadi ya bisa dibilang terstandardisasilah. Kekurangannya, tidak semua orang bisa mencapai standarnya secara kuantitatif dan secara kualitatif, tidak semua orang menyukai atau sepaham dengan standarnya. Terlalu perfect kadang juga menyiksa. Karena kita semua tahu, hampir tak ada yang sempurna di dunia ini.

Contoh lagi. Orang koleris dengan sifat tegas dan egoisnya. Selalu ingin mendominasi #walaupun saya tidak begitu. Biasa aja.# terlebih, jika si koleris ini sifatnya kayak batu, alias keras kepala. Tak usah ‘berpuk-puk’ ria menghadapinya saat dirinya dirundung duka. Kadang, tak semua kedukaan adalah duka untuk yang lain. Semua bernilai relatif. Jadi, tak perlu berlebihan juga. Itu secara general tanpa melihat koleriskah, melankoliskah, ataupun yang lainnya.

Artinya, kadang dengan ketegasan dan sifat alamiahnya yang selalu ingin memimpin dan sifat sarkastis dan kejamnya, ia tak ingin terlihat lemah. Sesakit apapun selalu ingin menjadi ‘setegar batu karang’ di kancah luar entah bagaimana dalamnya. Tak pernah ingin ada air mata keluar dari kelenjar lakrimal, kecuali jika tak tertahankan lagi, maka jangan coba-coba sok-sok-an datang bak malaikat untuk sekadar memberi semangat, penguat, atau apalah namanya. Tidak semua suka akan hal itu. Maka, tak perlu repot-repot memberikan banyak perhatian terlebih rasa belasungkawa saat si koleris ‘jatuh’. Ia butuh beberapa waktu untuk berada dalam suasana sendiri melupakan sejenak apa yang telah terjadi. Sejurus kemudian, baru ia akan teringat kembali pada apa yang terjadi pada dirinya. Dan mulai untuk menatap apa yang ada di depan setelahnya.

Tak semua orang suka diberi rasa iba. Walaupun kadang kita merasa iba pada suatu peristiwa atau seseorang. Tapi ada yang merasa dirinya kuat atau sambil berusaha untuk menjadi kuat. Jadi, kadang kalimat penyemangat tak begitu berharga, bahkan mungkin ia hanya sambil lalu atau pada tingkat ekstrim hal tersebut hanyalah sampah. Atau kalimat penguat lainnya, mungkin bagi sebaian besar orang, kalimat itu bisa menjadi motivasi atau apalah, tapi toh, tidak semua merasakan itu. Di titik ekstrim, kalimat penguat bisa berarti sebaliknya, yaitu menjadi pelemah, menjadi alasan untuk underestimate pada dirinya sendiri. Dan sepertinya begitu yang terjadi pada seorang koleris kuat sangat. Maka, sedikit berhati-hatilah menghadapi si koleris garis keras.

Begitu pula saat Anda berinteraksi dengan si phlegmatis. Alangkah lebih baik Anda jangan berdebat dengan mereka. Percuma. Sebelum didebat, mereka akan kabur duluan. Mereka yang tidak menyukai konflik saking cinta perdamaian, mungkin sangat enggan meladeni Anda berdebat, karena sepertinya mereka yang mengaku cinta damai ini lebih memilih sebagai pengalah dan berakhir kalah.

Begitulah semestinya memang, saat kita ingin melakukan sesuatu pada orang lain, alangkah baiknya kita sedikit mengetahui karakternya. Ada yang niatnya baik ingin memberi perhatian dan menebar keunyuan, tapi tak sedikit pula yang tidak suka mendapat perhatian dan terlalu diperlakukan unyu. Ada pula yang suka diperlakukan unyu dan ingin diperhatikan, tapi banyak juga yang tak terlalu pandai berunyu-unyu dan perhatian pada sesama.

Tapi pun pada akhirnya, hukum karakter ini semua adalah relatif. Tidak semua koleris seperti itu. Begitu pun dengan melankolis, phlegmatis, dan sanguinis. Relatif pada masing-masing individu.

#Sepertinya, ini bukan tulisan semata, melainkan sedikit curcolan sang koleris sangat kuat saat dapet sms penguat.