Labirin

Aku terjebak

Kemudian megap-megap

Dalam labirin. Yang tak ada ujungkah?

Berkontemplasi

Tentang apa?

Labirin itu

Berputar-putar di dalamnya

Memaksa keluar

Tapi tak bisa..

Advertisements

yang tak Selalu Zahir

Selepas membaca novel The Romantic Girl series besutan mbak Iva Afianty, saya terkenang pada beberapa sosok yang bisa dibilang memiliki perangai seperti saya. Yang paling saya rasakan sih Tere. Tapi, kini yang mengusik benak saya bukan dia, melainkan sosok preman yang merindukan keromantisan dari suaminya, jeng jeng.. dialah Daisy.

Kenapa?

Selintas, dari sisi preman dia emang agak mirip ama saya walaupun dia jauh lebih tomboy dari saya. Dan entah dari kepremanannya yang merindu kemanjaan atau darimana, Daisy ingin sekali dimanja atau diperlakukan romantis oleh suaminya yang tak kunjung mengerti maksud hatinya. Nah, di sinilah jiwa keperempuanan itu ada. Pada sosok tomboy, preman, keras seperti batu sekalipun.

Artinya apa?

Saya sempat terkesiap pada dialog

Someone           : “Kamu jadi akhwat harus lembut..”

Saya                    : “Saya lembut kok, suatu saat nanti. Entah kapan.. he..” :p

Lembut. Menjadi satu kata yangmengusik diri saya. Awalnya saya memberikan jarak pada diri saya untuk menjadi lembut. Membiarkan kesendirian saya sedikit jauh dari kata itu yang akan mengesankan saya tough, ga manja, ga menye-menye jadi cewek. Sehingga lembut bukan pilihan saat ini. Lalu, jika ternyata ke’rapuh’an (belum menemukan padanan kata yang pas) menjalari hati , masihkah ada jarak pada saya dengan kelembutan? Bahwa sebenarnya, kelembutan sudah terbenam dalam hati saya. Hanya ia terbungkus entah oleh apa dan karena apa ia terbungkus.

Teringat pula pada petikan lagu Ada Band

Karena wanita ingin dimengerti

Lewat tutur lembut dan laku agung

Ya memang begitulah kenyataannya. Di luar sifat dasar wanita yang bervariasi, sesungguhnya dalam hatinya meneriakkan keinginan diperlakukan dengan lembut, minimal tidak kasar baik secara lisan maupun perilaku. Bedanya, ada wanita yang menunjukkan keinginannya itu lewat lisan, perilaku, atau keduanya, atau bahkan tidak lewat keduanya.

Lalu, jika wanta ingin diperlakukan lembut kenapa ia tak menjadi lembut?

Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya bahwa sesungguhnya kelembutan bukanlah benda asing bagi wanita. Bedanya ada yang zhahir ada yang abstrak. Tetakdir kehidupanlah yang menjadi alasan setiap wanita untuk kemudian memilih menzhahirkan kelembutan atau tidak.

Tidak semua wanita terlahir dari keluarga berlimpah kasih sayang. Tidak semua wanita terlahir dari keluarga kecukupan financial yang masih menjadi faktor kehidupan itu dinyatakan keras. Tidak semua wanita dengan mudah berplesiran pada surga dunia. Tidak semua wanita memiliki jalan yang mulus. Sehingga, tidak semua wanita memilih untuk menzhahirkan kelembutan. Karena kadang, kelembutan dinilai lemah untuk kehidupan yang begitu keras. Walaupun, lembut tak senilai dengan lemah.

Jadi, percayalah suatu saat nanti (seperti dalam dialog), pada akhirnya wanita akan menzhahirkan kelembutannya pada kalian. Siapapun kalian. Hanya butuh time dan moment yang tepat. Eh, ternyata butuh juga dengan cara apa kelembutan itu disentuh. Tentu dengan menyentuhnya secara lembut. Maka, sempurnalah kelembutan itu terlahir.

Jadi, sedikit bersabarlah menghadapi wanita. Di tengah kehidupannya yang keras, di tengah kesendiriannya yang tak bersandar pada seorang pun, di tengah badai yang mencoba menggoncangkan prinsipnya, di tengah nikmatnya godaan dunia.

Pada akhirnya, benarlah kata sebuah hadits :

Selalu wasiatkan kebaikan kepada wanita, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskanya, ia akan patah. tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. karena itu, wasiatkanlah kebaikan kepada wanita (HR. Abu Bukhari dari Abu Hurairah).

Yang senilai dengan kutipan..

Bukan dari tulang ubun ia dicipta
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak-injak dan diperbudak
Tetapi dari rusuk kiri
Dekat ke hati untuk dicintai
Dekat ke tangan untuk dilindungi

(dikutip dari buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu”)


Traktir

Kalo ini sih namanya pelit.. Haha..

Siapa yang nolak kalo ditraktir? Tapi, kalo disuruh nraktir pasti beratnya minta ampun. Berat diongkos Bo!! Tapi, siapa sangka kalo nraktir bisa jadi hobi. Ga hobi juga sih, tapi sesuatu.

Adalah kesukaan saya culinary di tempat baru. Apalagi Bandung itu surga dunia banget katanya. Tapi biasa aja sih sebenarnya. Bandung tetaplah kota yang disayang matahari (red : panas), macet ga keruan, apalagi klo weekend, dan banyak sisi dari Bandung yang membuat saya ga suka. Misalnya, jalanan yang dipake buat parkiran atau pedagang kaki lima yang ga cuma berhamburan di trotoar, tapi juga di jalan rayanya. Ga beda jauhlah ama Jakarta. Tapi, emang sih Bandung yang dikenal dengan FOnya punya warna yang khas sehingga orang Jakarta demen bener dah tuh ke Bandung.

Bandung ini punya banyak tempat makan yang saya suka yang  tidak saya temukan di kota saya bernaung, Bekasi. Bergaya rumah yang dimodifikasi jadi tempat usaha berupa café, tempat makan, atau semacemnya. Tempat makan kayak gitu buat saya, lebih cozy dibandingkan food court atau restoran di Mal. Jadi, kalo ga mau cuma makan, sambil beli suasana, makanlah di tempat-tempat seperti itu. nah, karena kita membeli suasana, jadi biasanya harga yang dibayar juga lebih mahal. Biasanya ada tambahan cost 5% for service charge.

Saya sendiri sangat suka tempat makan. Pernah ada seseorang ngetwit “Tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan di meja makan.” Sepakat. Saya setuju banget. Dan memang begitulah kebiasaan saya. Saat ada yang ingin dibicarakan, biasanya saya memilih tempat makan. Itu udah paling oke banget deh.

Lalu benang merahnya dengan tempat makan, sebenernya, saya termasuk orang yang suka nraktir. Tapi, saya nraktir itu nunggu moment banget. Jadi, ga sering-sering karena ‘moment’ dalam definisi saya punya standard yang tinggi. Misal, saat saya mau traktir mentee saya, saya pengennya mereka semua ada. Tapi, kan kegiatan orang beda-beda, bisa dihitung jari kapan bisa fullteam, jadi kadang batallah niat saya mentraktir mereka. Ujung-ujungnya mentoring lagi di kampus atau di Bale dan hanya bawa makanan ringan aja.

Sebenernya, saya ga tau pasti feel orang yang abis dtraktir walaupun saya cukup sering ditraktir sama Pak Ketu. Kalo saya ditraktir beliau sih seneng-seneng aja. lumayan bisa ngirit. Tapi, efek setelahnya? Tentu ada, kita akan berpikir.. “wooww, dia baik yaa…” Abis itu? Entahlah.

Tanpa mempedulikan feel dan efek dari ditraktir, saya punya feel tersendiri saat mentraktir. Ada satu kepuasan tersendiri memang  saat kita abis mentraktir orang. Apalagi saat kita mentraktir orang-orang di lingkaran dalam hidup kita (di luar keluarga ya). Rasanya gimana gitu. Sulit digambarkan. Bukan karena ucapan terimakasih dengan senyuman mengembang dari wajah cantik dan ganteng. Tetapi, sesuatu yang ga tau apa. Padahal, efeknya juga belum tentu lama. Tapi, memang bukan itu tujuan orang nraktir. Bukan ucapan terimakasih, pujian, apalagi cinta yang berbalas. Ga meaning banget suka ama orang karena doi suka traktir. Yang ada, tuh orang kemungkinan besar metrix (red : matre). Haha..

Mungkin feelnya sama dengan orang yang memberikan hadiah. Tapi, saya merasa ada hal berbeda antara feel abis nraktir dan memberikan hadiah. Relatif sih. Tapi, saya merasa bahwa memberi hadiah itu justru lebih berkesan bagi si penerima hadiah. Apalagi hadiah yang sifatnya permanen bisa disimpen. Efeknya jauh lebih lama dibandingkan pada orang yang abis ditraktir. Karena mungkin, besok juga udah ‘keluar’ tuh traktirannya. Ga meninggalkan bekas apalagi jejak.

Maka, tanpa alasan yang jelas, mentraktir itu mempunyai rasa tersendiri yang efeknya cukup lama buat saya. Bukan karena inget-inget kebaikan diri sendiri, tapi perasaan apa yaaahhh namanya.. Saya ga tau. Ada yang tau?

Kereenn…

Kereenn...

ini foto keren banget. like this bangetlah.. saya suka banget. foto ini saya ambil dari akun twitternya Ust. Felix siauw.. terus diedit, diambil bagian kaosnya aja. Saya mau kasih empat jempol tangan dan kaki saya. Semoga laki-laki yang baca tulisan di kaos itu terketuk hatinya dan abis itu semua crew yang terlibat dalam pembuatan kaos itu mendapat pahala yang berlipat… Amin…

Batagor Judi

Judulnya sih agak eksentrik. Ga kebayang kan batagor judi itu kayak apa?

Jadi, tadi malem tuh saya mimpi. Mimpinya menurut saya agak ajaib. Karena cerita mimpinya superaneh menurut saya.

Dalam mimpi itu…

Saya dan teman-teman kampus yang juga teman kosan saya abis solat zuhur gitu. Ceritanya latarnya siang. Terus kami mau makan siang, tapi bingung mau makan apa. Anehnya, siang-siang tengari bolong pada mau makan bubur. Udah kayak mau sarapan aja. Terus emang dasarnya, mimpi itu suka maksa-maksain, di mimpi saya ini tempatnya di rumah kakek saya. Ngapain juga teman-teman saya pada ke rumah kakek saya.

Nah, kemudian ada 3 tukang makanan pake gerobak di depan rumah kakek saya itu. Sebenernya saya ga tau pasti itu gerobak makanannya apa aja. Pokoknya, ada tukang siomay dan batagor. Mungkin ada tukang bubur juga kali ya. Karena ceritanya saya udah makan jadi ga terlalu laper, saya beli batagor aja. Satu porsinya harganya 5 ribu. Tapi ya karena saya udah makan, jadi saya minta beli 3 ribu aja dan ama abangnya boleh.

Terus pas saya kasih uangnya, agak berjarak sedikit dari gerobak, ada seorang perempuan dengan di depannya ada meja yang di atasnya ada wadah bulet kayak akuarium kecil yang didalamnya ada beberapa bola bekel dengan banyak buletan-buletan salju dari gabus. Terus, si mbak2 ini ngobok-ngobok wadah tadi dan ngambil empat bola bekel . Dan pas diliat, Taraaa…… bola bekelnya ga ada angkanya. Artinya, saya ga dapet batagor. Ngerti ga?

Jadi, setiap ada yang beli batagor, kan idealnya jika itungan satu batagor 500, maka kalo beli 3ribu dapet enam batagor. Nah, kalo batagor yang dijual si abang dalam mimpi saya ini harus diundi dulu dapet berapa dengan ngambil empat bola bekel yang ada angkanya di dalam wadah mirip akuarium tadi. Terus dijumlahin dan segitulah kamu akan dapet  batagor. Artinya, walaupun kamu dan temanmu beli batagor 5ribu, tapi bisa aja jumlah batagor yang didapet beda sesuai dengan angka bola bekel yang diundi tadi. Aneh kann?

Nah, karena saya dapet bola bekel yang ga ada angkanya semua, maka saya ga dapet batagor satupun. Dan saya cuma bisa cengo sambil agak sedih. Lahh, orang udah bayar tapi ga dapet. Terus gara-gara itu, si mbak2 pengambil bola tadi nangis dan kabur. Terus ada mbak2 satu lagi (kayaknya sih temennya) seolah-olah nyalahin saya. Katanya kalo hal itu terjadi, mbak2 yang kabur tadi bisa dipecat, makanya dia nangis. Jadi ketiga gerobak itu tadi bersama abang-abang dan mbak-mbaknya udah satu ‘perusahaan’ gitu deh dan ada bosnya.

Terus saya emosi gitu kan. Orang saya ga salah apa-apa, malah disalahin. Saya kan cuma mau beli batagor. Mana saya tau cara jualannya aneh gitu. Dan entah saya kesambet setan apa, di situ saya langsung angkat kerah baju si mbak B (yang nyalah-nyalahin saya) dan bersiap mau nonjok layaknya orang yang mau berantem. Gila! Preman banget gue. Padahal kan biasanya kalo cewek berantem  jambak-jambakan, pukul-pukulan yang sebenarnya ga terlalu sakit. Pokoknya berantemnya cewek khas dan beda ama cowok. Tapi ini gaya berantem saya gentle banget. Terus sambil mau nonjok (kepalan tangan saya udah di depan muka mbaknya), saya bilang yang intinya, saya ga tau apa-apa, mana saya tau hasil undiannya begitu terus saya ngomongin tentang halal haram. Bahwa itu haram dan selama ini saya berusaha ngindarin hal-hal yang haram. Hihi. Padahal gue aja udah hampir mau nonjok orang. Hahaha..

Lagian ya logikanya, ada juga saya yang marah. Udah bayar batagor dan ga dapet lagi batagornya.

Abis itu saya ikhlasin aja uangnya tanpa saya makan batagornya, orang ga dapet juga. Bukan bermaksud ngikutin aturan main penjualanan batagor, tapi  saya ga mau berurusan lagi ama metode penjualanan batagor yang aneh itu. Dalem mimpi itu saya menganggap uangnya saya sedekahin aja  pada abangnya. Ga tau pasti apa hukum berjualan dengan cara itu. Tapi, yang pasti itu superaneh banget menurut saya.

Terus entah kenapa abis itu saya jadi merinding sendiri. Takut banget ama hal-hal yang berbau-bau judi versi lain. Kadangan kan di hidup kita ini masih banyak hal-hal yang sifatnya masih syubhat. Bahkan sebenernya sudah termasuk haram hanya dimodifikasi aja jadi keliatan ga haram. Macem bunga bank yang masuknya riba. Na’udzubillah.

Tim #16

Ini adalah foto TIM #16 yang merupakan tim inti Senat Mahasiswa FK Unpad 2012. Foto ini diambil di studio Papyrus di Jl. Bengawan Bandung, bukan Solo. Agak lupa berapa sesion fotonya #gaya. Dan hasil foto di CDnya ada lima. masing-masing dapet print-an satu. Dan ini foto (diedit, dikasi efek-efek gitu) yang dipajang besar-besar bersama pigura di ruang Senat-BPM. Kenapa dipilih foto ini? Karena ini foto paling rapi jali dan jadi favorit kami, termasuk saya. Liat aja formasinya rapi kan?? Semoga ukhuwah Tim #16 ga cuma di foto aja ya…:)

Tagline

Jadi ceritanya, dulu itu, tagline blog saya adalah “saat diri harus mengubah dunia”. Kemudian saya ganti menjadi tagline yang sekarang, yaitu “menggores peristiwa, mengambil saripati hikmah untuk kemudian belajar”. Mungkin sekilas agak ga penting juga ampe harus dibikin pengumumannya gini. Tapi, ini merupakan perubahan yang signifikan buat saya.

Dulu, sesungguhnya blog ini ingin saya isi dengan info-info seputar isu-isu yang beredar di seantero Indonesia. Tapi, apa daya. Saya kalo nulis cuma superficialnya aja berasa ga begitu berguna. Kalo mau nulis terlalu dalam, saya yang ga tau mendalam tentang isu-isu tersebut. Jadilah blog ini saya isi suka-suka saya. Semau-maunya saya nulis apa.

Pas dilihat lagi, eh, ternyata banyakan curcolnya daripada nulis isu yang informatif. Dan pergeseran keinginan isi blog inilah yang membuat hati saya tergerak untuk mengubah tagline. karena sepertinya, hampir ada peristiwa apa dalam hidup saya, saya tulis padaha itu ga informatif banget.

Kalo tagline yang pertama kan pas tuh ma isinya yang informatif ama isu-isu yang berseliweran di jagat raya ini. Tapi, ternyata saya masih cupu untuk nulis tulisan bagus. Jadi, ya sudah lah, saya berusaha dari nol dulu untuk menulis. Mungkin dari curcolan-curcolan ini akan bisa jadi step untuk menulis layaknya kuli tinta di media massa.

Di Balik Kata ‘Staf’

Tahun 2012 ini adalah tahun luar biasa. Tahun dimana Allah memberikan saya kekuatan dalam bentuk berbeda. Berupa amanah dan perangkat-perangkatnya. ‘Perangkat-perangkat’ luar biasa yang memberikan saya perubahan luar biasa.

Amanah menjadi ketua tidaklah semudah yang saya bayangkan. Banyak bumbu-bumbu kecil dari sekadar proker, timeline, rapat, kajian, upgrading. Jauhhh dari itu, banyak hal-hal kecil ‘penjaga’ semangat yang tak boleh luput. Sejatinya, tak boleh luput. Tapi, dengan karakter saya yang supercuek, bumbu-bumbu itu tak saya masukkan. Bisa dibayangkan tentu, bagaimana rasanya sebuah masakan tanpa bumbu? Hambar. Pasti. Mungkin karena saya juga belum bisa masak. Catat! Belum bukan tidak bisa.

Hingga akhirnya…DUARRR… saya jungkir balik. Hingga titik kulminasi. Dan pada titik kulminasi tersebutlah saya banyak merenung. Tentang bumbu. Bukan cabe, bawang, ataupun lada. Tapi tentang cinta, perhatian, dan romantisme. Kebersamaan. Bukan dalam rapat. Kebersamaan dari hati ke hati. Bahwa antara saya dan mereka sangatlah butuh bumbu tersebut yang saya lupaa..

Saya yang fitrahnya seorang pencinta yang hanya saja Allah belum menurunkan cinta untuk saya, terlena pada kebebasan diri sendiri. Melupakan bahwa cinta itu sebenarnya telah ada. Halus. Lembut. Bersemayam mesra. Tapi, saya terlampau tak sadar pada perasaan itu. atau jika pun saya sadar, saya sangat tidak jago untuk membahasakan secara lisan dan laku bahwasanya saya sudah jatuh. Jatuh cinta. Sayang pada mereka. Pada ketiga belas orang hebat yang Allah perkenankan saya menjalankan semua proker bersama mereka.

Staf Kajian Strategis Ilmiah. Adalah tulisan di kartu Senat Mahasiswa berwarna hijau tersebut. tulisan untuk mereka. Dan tulisan itu berbeda satu kata di depan dengan kartu Senat saya. Satu kata tersebut hanya cantuman di kartu Senat. Staf. Di tulisan. Tapi, di hati saya, mereka tak ubahnya agen atau bandar cinta dan semangat.

Hingga pada satu masa. Tiba-tiba jari jemari saya tak lagi hanya mengetikkan kalimat jarkom, arahan atau apapun namanya. Pernah saya hanya menulis ‘”Selamat Pagi Kastil..” disertai senyuman manis tentu. Dan hal-hal serupa lainnya. Pada tingkat akut, saya sering memikirkan mereka. Layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Bisa dipastikan. Saya memikirkan mereka dengan atau tanpa unsur kerjaan. Dan pada tingkat kronik, jika hati ini mulai gundah gulana, sedih, merasa tak berharga, galau karena jodoh tak datang-datang *Z@#$%^#$%* merekalah yang sebenarnya menyeka air mata saya. Dan seolah-olah berkata “Teteh Semangat!!”. Tangannya sih tangan saya. Tapi mereka lah yang menggerakan si tangan menyeka air asin di pipi saya.

Lalu, masihkah perlu dipertanyakan tentang kata staf? Staf itu bukan kata yang saya berikan untuk mereka. Si kartu yang ngasih. Jikapun pernah kata itu keluar dari oral dan abjad saya, percayalah, itu hanya sekadar deretan huruf S, T, A, dan F. *ya iyalah ya, semua juga tau*. Nyataya, dalam kehidupan saya, merekalah guru saya. Dan pelajaran pentingnya adalah membahasakan cinta dalam wujud lisan, tulisan, dan laku hingga dalam definisi saya menjadi sayang. *agak absurd deh gue*

Dari Herza saya belajar keunyuan, benar-benar belajar bahasa romantis, hingga saya bisa menggunakan kalimat “iya sayang” atau “iya cantik/manis”

Dari Mala saya belajar kelembutan. Belajar nilai-nilai keperempuanan, kefemininan walaupun saya belum bisa mengaplikasikannya..

Dari Citra saya belajar pengertian dan kepatuhan. Kepatuhan pada amanat.

Dari Lisha saya belajar kesungguhan. Ambisiusnya pada AMP yang menjadikan fisiknya jadi agak berubah sesaaat yang kemudian mengantarkannya menjadi anggota muda AMP dengan seabreg amanah lainnya menjadi pelajaran tentang keseimbangan jika kita benar-benar mau.

Dari Salman saya belajar kebaikan dan pentingnya tolong menolong #udah kayak guru PPKn aja#

Dari Fajar, saya juga belajar keseimbangan dengan seabreg amanah dan  pentingnya punya wawasan luas, seluas samudera.

Dari Ridha saya belajar ketegaran hidup. Dan ingin saya katakan padanya “Kamu Hebat banget Ridha..”

Dari Bryanto saya belajar bersemangat dan kegigihan. #dan begitulah ia tertempa di AMP…#

Dari Oryza saya belajar kepolosan dan keluguan. Tapi sebenernya saya udah polos koq. *kalo gue polos apa telmi ya?!*

Dari Gembong saya belajar ketawa. *kasian gue, ketawa aja perlu belajar*.  Sumpritt ini anak berhasil membuat saya mau ketawa kalo inget dia. Dan ternyata dia juga ngasih tau saya sisi lainnya cowok.

Dari Ichsan saya belajar kegaringan. Haha *atau jangan2 gue yang ngajarin*. Belajar berpikir lebih kritis.

Dari Sarah saya belajar keanggunan. Irit yang berharga dalam berbicara.

Dari Juju saya belajar senyuumm.. mau ahh, kaya Juju yang ga pernah marah dan selalu tersenyum. Hehe, bisa ga ya??

Thank You for my all Teachers..:D

SuperRandom. Semua Dimasukkin.

# Dulu, saya kira pelajaran biokimia itu yang paling susah. Tapi ternyata tak lagi. Ada pelajaran yang lebih susah. Namanya kehidupan. Kehidupan ini berapa sks sih? Koq ujiannya susah banget ya?

Pertanyaan yang agak-agak dodol emang. Padahal dodol enak *teruskenapa*. Kalo ga susah ya bukan ujian hidup namanya.

# Saya ingin menggelar sajadah. Bermunajat. Meminta diperlihatkan yang hak dan yang batil. Menangis sesedu-sedunya. Meminta sebanyak-banyak yang ingin saya minta.

# Katanya bahagia itu sederhana. Seperti apa sederhananya? Ayoo..ajarkan saya bagaimana bahagia dengan cara yang sederhana

# Saya sudah terlanjur pasrah pada hidup ini. Bukan tak mau berusaha. Tapi saya hanya percaya bahwa Allah akan mengirimkan yang terbaik dengan cara yang terbaik.

# Jangan pedulikan ucapan manusia, karena mereka bukan empunya surga | Allah lebih layak bagi kita, hanya dari-Nya siksa dan pahala. (Ust. Felix Siauw)

# belajar bersabar atas hawa nafsu itu susah-susah gampang. Tapi, intinya, memang mengalah itu selalu jadi pilihan tepat. Tak ada penyesalan sedikit pun dari setiap apa-apa yang keluar.

# Bila engkau lelaki, kata-katamu adalah nyawamu. (Ust.Felix Siauw)

# Pria dinilai dari ucapannya | sedangkan wanitalah (ibunya) yg bertanggung jawab atas pria yg memegang ucapannya. (Ust.Felix Siauw)

ini lagi superrandom..semua aja dimasukkin..

Tanpa Judul

Di tengah siang ini. Airmata belum mau berhenti menyambagi pipi saya. Sudah saya katakan padanya, berhentilah karena  sudah ada Allah di sini.

Saya tak sanggup. Tapi Allah ternyata beri saya kekuatan lebih sehingga separuh hati saya berkata bahwa Allah akan menyanggupi. Saya tak kuat. Lagi-lagi ia berkata bahwa Allah akan menguatkan.

Jika bukan karena Allah, sungguh mungkin saya udah berdarah-darah karena jatuh dari lantai 13. *lebay*. Tapi, memang begitu. Kalo saya lupa saya punya Allah, mungkin sekarang saya sudah bunuh diri. Hahahahaha…

Saya percaya betul bahwa Allah Maha Mengetahui lintasan hati dan bersitan pikiran hambaNya. Bahwa Dia tak akan menyia-nyiakan hambaNya yang berserah diri kepadaNya dan memilih meninggalkan ‘dunia’ karena Dia.

Allah selalu menjadi sejuta alasan untuk tetap berdiri tegak setegak Gunung Uhud, setegar batu karang, sekeras baja,tanpa meninggalkan keanggunannya. Padahal berkali-kali diri ini mengatakn bahwa “Aku tak sekuat itu Allah, Aku tak seperti itu..”

Tetapi, Allah dengan baiknya memberikan kekuatan lebih. Lebih dari yang saya bayangkan. Hampir saya berpikir bahwa kebahagiaan tak kan pernah sudi singgah dalam hidup saya. Jangankan singgah, lewat pun mungkin enggan. Karena buat saya rasa bahagia dunia ini sudah terasa hambar.

Tapi, sejurus kemudian saya teringat akan postingan sebelumnya bahwa kebahagiaan sejati adalah saat kita berada dalam keadaan terdekat dengan Allah. Dan mungkin saja, saat ini, saat di mana saya merasa ujian ini teramat sangat berat, justru adalah kebahagiaan yang jauh dari kefanaan dunia. Mungkin secara dunia, ini sakit. Ini berat. Tapi, jika kita melihat dari sudut pandang berbeda. Sudut pandang Allah, maka di saat inilah saya sedang berbahagia. Bahagia karena menjadikan Allah berjam-jam dan satu-satunya dalam tahta hidup saya.

Saya selalu percaya bahwa saat ini. Saat deretan alfabet ini keluar dari layarnya, Allah melihat bagaimana saya mencurahkan hidup ini semata-mata untukNya. Tanpa peduli manusia berkata apa tentang saya. Tanpa peduli sejuta manusia membenci saya. Toh, alasan begini adalah Allah dan tetap ada di jalanNya. Bukankah dulu Rasulullah juga begitu? Dilempari batu oleh penduduk Thaif. Diludahi. Diletakkan kotoran unta saat solat. Tapi, jika semua dilakukan karena Allah maka ringanlah urusan dunia ini.

Kadang, kita manusia suka sotoy pada kapasitas diri kita. Seperti sotoynya saya sekarang yang mengatakan bahwa saya tak sanggup. Nyatanya, Allah beri kekuatan lebih untuk akhirnya saya tetap mensyukuri kehidupan ini, mensyukuri pertemuan itu, yang Insya Allah nantinya akan mendewasakan dengan sejuta masalahnya. Kita sotoy karena kita belum tahu kapan akhirnya Allah menyingkap tabir hikmahnya.

Begitu pula sebaliknya. Saat kita merasa kapasitas kita melebihi orang lain. Percayalah, Allah akan segera mengambilnya. Cepat atau lambat. Karena ternyata bukan segitu kapasitas yang pantas didapat bagi orang yang merasa dirinya lebih dari orang lain.

Saat saya bilang saya tak punya sejuta kesabaran, di saat itulah Allah menurunkan kesabaran luar biasa. saya kira, saya yang sekeras batu ini akan mengeluarkan ‘kata-kata terbaiknya’ untuk menghindar dari kekalahan. Tapi, Allah sangat baik hari ini.

Ia memberikan saya kekuatan, kesabaran, kesanggupan untuk tetap berada dalam jalanNya. Ternyata bersabar itu ada nikmatnya tersendiri. Karena mengalah tak selalu berarti kalah. Hingga saya tak perlu bertanya-tanya lagi. Mengapa saya? Mengapa begini? Kenapa bukan dia? Karena sesungguhnya Allah-lah yang tahu kapasitas kita.

Istiqomahkanlah saya selalu dalam kesabaran menuju jalanMu ya Rabb…