Super Random #2

Saya mau jadi ibu rumah tangga yang baik. Titik!

yang pandai ngurus rumah, manage keuangan keluarga.

Saya mau jadi ibu yang baik. Titik!

yang pinter mendidik anak. supaya anaknya ga bandel, hafidz/ah Qur’an, calon pemimpin masa depan. Semoga anak saya bisa jadi presiden. haha. 😀

Ga ada pekerjaan yang lebih mulia dari seorang ibu.

Tapi juga, yang ga kalah penting, saya mau jadi dokter yang baik. Walaupun, nanti dokter hanyalah pekerjaan sampingan buat saya. Pekerjaan utamanya tetep jadi IBU!

Terus sekarang saya pengen banget punya adik laki-laki. Yang usianya ga terpaut jauh. 2-3 tahun. Supaya bisa diajak main, nemenin jalan-jalan, dan diminta traktir (Lho? kebalik lah..). dan yang terpenting bisa diajak diskusi setiap masalah masing-masing dan membantu stiap ‘masalah’ saya. Padahal, dulu saya sangat menikmati jadi anak bontot. Entah kenapa. Padahal saya jadi korban ‘keganasan’ kakak-kakak saya.

Dengan semena-mena mereka nyuruh saya ke warung padahal mereka yang disuruh ibu saya. Terus, tanpa belas kasih, saya dibilang anak pungut. Nemu di tong sampah Taman Mini. dan itu berhasil membuat saya nangis di pojokan. Mungkin waktu itu kalo saya dicasting sinetron Ratapan Anak Tiri saya lolos casting. mungkin lebih tepatnya sinetron Ratapan Anak Pungut.

Tapi setelah saya udah gede, akhirnya kakak saya mengakui bahwa kalo dia lagi kesel sama saya dia ngibul dengan bilang saya anak pungut. Huh, jahat bangett kan??

dan sekarang, bukan karena saya ‘dianiaya’ sama kakak-kakak saya, saya pengen banget punya adik laki-laki. Tapi, itu udah ga mungkin. Yang mungkin, tapi belum pasti, adalah punya adik ipar laki-laki. Yahhh, jatohnya bukan mahrom. huhu. Naasib ga punya adik.

Berbahagialah kamu yang punya adik. Maka, jagalah adikmu baik-baik. Jangan kayak saya. Ga ada yang jagain. Hahaha… 😀

Advertisements

Careful, Pliss…

Berplesiran di dunia maya. Menikmati tulisan sang sahabat. Menemukan potongan kalimat :

And the last, for someone over there..
i just want to say:

From the very start, please be careful with my heart.

 

Saya tercenung. Terhempas. Sesak.

Mengapa tiada dari dulu saya menuliskan ini dalam kisah hidup saya.? Menjadi warning sign bagi sesiapa yang berseliweran dalam hidup saya. Kalau perlu, saya tulis di dahi saya. Saya tempel di tas saya. Dari dulu. Dari SMA, atau bahkan SMP.

Careful. Kata Ust. Salim A. Fillah hati-hati adalah keberanian melangkah dengan menyadari bahaya. Maka, hati yang sejatinya begitu rapuh memang harus ditapaki dengan kehati-hatian. Maka, berjalannya dengan semrawut hanya akan menjadikannya pesakitan.

Telusurilah setiap hati dengan hati-hati. Jangan biarkan ia pecah lantas menjadikannya pesakitan. Tak pernah ada yang mau itu. Saya, kamu, kita, tak ada yang mau menjadi pesakitan. Maka, berhatilah-hatilah menapaki segumpal daging yang rentan tercabik. Milik siapapun itu.

Meng-Elegan-kan Cinta

Elegan adalah sebuah kata yang mengisyaratkan keanggunan. Ga selalu mahal, tapi keren pasti. ga mudah terjamah, tapi down to earth. Cinta? Ga perlu dkasih taulah apa artinya. Mungkin kalian sudah mengerti sendiri. Jauh lebih mengerti dari saya.

Jadi bisa terbayangkan bukan, betapa paduan kata Elegannya Cinta atau Cinta Elegan begitu keren terdengar?

Kisah cinta elegan pun sudah banyak terlahir. Kisah Khadijah yang emang aslinya udah elegan yang kemudian berani mengelegankan cintanya pada Rasulullah. Kisah Ali dan Fatimah yang so sweetnya belum ada tandingannya.  Yang saling menyimpan rasa, tapi hanya termaktub dalam hati masing-masing dan terkuak setelah halal. Dan terakhir, kisah cinta elegan lainnya adalah kisah sahabat favorit saya. Yang cerita hijrahnya saja sangat elegan dan membuat saya jatuh cinta. Dialah Salman Al-Farisi.

Sejak pertama kali mendengar cerita hijrahnya dari negeri Persia hingga Madinah untuk mencari kebenaran, saya sudah jatuh hati padanya. Ia mengajarkan bahwa jika kita ingin berubah, bergeraklah! Hidayah itu dijemput, bukan ditunggu. Pemahaman itu dicari, bukan ditunggu! Jika kau tak berusaha bergerak untuk mencari kebenaran, maka jangan pernah berharap kebenaran itu akan menyambangi dirimu.

Itu baru kisah hijrahnya. Dan ternyata kisah cintanya, tak jauh dari nuansa elegan. Kau tahu bukan kisahnya? Tidak terlalu popoler ketimbang dua kisah lainnya. Tapi, kisahnya sungguh cukup membuat hati ini cemburu pada bidadari surga pemilik dirinya. Hahaha. Lebay.

Saya ceritakan sedikit ya sinopsisnya.

Salman Al-Farisi. Seorang  Persia yang kemudian memeluk Islam. Denngan segala taatnya pada Allah, ia jatuh cinta pada wanita Anshor. Karena ia bukan penduduk asli sana (Madinah), ia meminta sahabatnya untuk menjadi perantara. Abu Darda namanya. Datanglah mereka ke rumah wanita itu untuk melamar. Salman Al-Farisi ditolak! Dan ternyata si wanita menyukai Abu Darda dan bertanyalah ortu si wanita pada Abu Darda perihal begitu deh. Agak susah jelasinnya. Intinya, akhirnya si wanita jadinya sama Abu Darda.

Lantas, apakah Salman jadi berantem ama Abu Darda karena dianggap makan teman? Lah, orang Abu Dardanya juga sebenernya ga ada maksud begitu.

Nah, ini dia kerennya Salman. Mahar yang tadinya dia bawa untuk si wanita, dia relakan untuk jadi maharnya pernikahan Abu Darda. Dan dia yang jadi saksinya mamen! Widddih, kurang keren apa coba Salman itu.??

Saat cinta dan ukhuwah beradu tempat. Saat ‘sakit’ begitu kelu karena cinta pada Allah jauh lebih berharga. Saat kekecewaan ditolak bukanlah penghalang kebaikan. Maka di situlah cinta begitu elegan. Salman Al-Farisi telah berhasil mengelegankan cintanya. Menjadi sesuatu tempaan penuh makna.

Mungkin inilah yang disebut “Cinta tak Harus Memiliki”. Tapi, kalo kata Pak Mario Teguh, Cinta Harus Memiliki. Silakan dipilih mau prinsip yang mana. Selama jalan cintanya elegan dan penuh keberkahan. Di atas jalan yang benar tentu.

Elegan karena cinta tak pernah ada untuk menyiksa. Elegan tanpa mengumbarnya padahal kau belum halal. Elegan karena jalan yang kau tempuh di atas jalan kebenaran. Elegan karena ia membawa kau pada cinta dan ketaatan pada Yang Maha Cinta. Elegan karena cinta terselip di antara harap dan takut pada Rabbnya. Berharap cinta itu terwujud dalam takdir. Takut cinta itu menjadi maksiat dan pelalai di jalan Allah.

Maka, jangan pernah kau katakan itu cinta jika tak ada elegan di sana.

Sabar dalam Taat

Dalam diam
Mencoba menyimpan sendiri
Dalam kotak rahasia terdalam

Terbungkus dengan apik

Agar tak ada yang bisa membukanya

Jika keajaiban bertandang
berharap sang isi berubah rupa
Menjadi bunga nan cantik
Penghias kehidupan
Sebagai bayaran atas Bersabar Dalam Ketaatan

Miracle

Abis baca katalog barang dari sebuah bank. Ada penawaran barang, namanya…

The Power Tasbih

Yang terdiri dari 99 batu hematite hitam. Yang bikin kocak adalah manfaatnya.

Membantu memperlancar peredaran darah serta membuat anda tetap sehat & berdzikir lebih khusyuk.

Emangnya kekhusyukan bergantung juga pada alat yang digunankan ya? kalo pake tasbih seharga 1 miliar dan dari berlian sekalipun, tapi pas dzikir mikirin selain Allah, ya ga akan khusyuk juga kali. Apa kalo solat pake mukena sutra dan sajadah superlembut bak permadani solatnya jadi khusyuk?

Sama kocaknya dengan iklan sebuah susu. Sebut saja merknya susu Dankamu. Waktu versi dulu, pernah bintang iklannya kurang lebih bilang gini,

Susu Dankamu dapat membuat anak jadi pintar dan baik hati.

Saya yang tadinya ga ngeh jadi ikutan ketawa setelah diceritain kakak saya kenapa dia ketawa dan pas liat iklannya jadi lucu sendiri. Kalo susu bikin anak pintar masih diterima akal. Pikiran simpelnya, mungkin kandungan susunya dapat meningkatan jumlah neurotransmitter yang dapat meningkatkan hantaran impuls sehingga informasi akan lebih cepat sampai otak. Asumsi sederhana yang kemungkinan sesatnya luar biasa besar #peace. Tapi, korelasi susu bisa bikin baik hati darimana yak?

Enak bener kalo susu bisa bikin anak jadi baik hati. Anak yang badungnya na’udzubillah minum susu itu bisa tobatan nasuha kali ya. Wah, miraculous banget susunya. Hahaha..

NB : pada akhirnya, tulisan ini hanyalah pikiran yang sedang pop-up di kepala tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun. Sori dori mori stroberi ya, kalo bikin kamu yang baca pada gigit jari karena judul ama tulisan ga sesuai ekspektasi. 🙂

Count on Me

Lagu ini mengingatkan saya pada sahabat-sahabat saya tersayang. Kami dipertemukan oleh Allah di bumi-Nya.. tepatnya di sekolah SMA tercinta. Tempat dimana kami menuntut ilmu, mendapat hidayah dan dipersaudarakan di sana. Ukhuwah yang masih terjalin hingga sekarang. Sesuatu yang jauh lebih dari sekadar pertemanan.

Saling mencinta tentu karena Allah. Saling berbagi suka dan duka. seperti pada kutipan lagunya Mbak Andien.

Canda tawa serta ceria
Air mata dalam duka
Kita masih bersama
Rajut mimpi-mimpi indah
Menghias dunia kita
Berjanji di dalam cita
Akan selalu bersama
(Sahabat yang setia)