Super Random #3

Sesungguhnya saya sedang belajar. Menjadi seorang yang jauh lebih perhatian. Perhatian pada kamu, dia, dan semua. Tapi, memang ga mudah. Butuh proses yang entah sampai kapan hingga akhirnya saya dipandang cukup untuk masuk dalam kategori romantis.

Saya memulai keunyuan dengan membeli 13 batang coklat. Kemudian, saya print foto kecil dan space kosong yang akan saya tulis dengan tulisan tangan sendiri. Foto menggunakan aplikasi photoscape yang menggabungkan potongan-potongan foto masing-masing dari kami. Setelah saya tulis satu per satu di setiap kertas, saya tempel di belakang coklat itu. Coklat Semangat untuk mereka yang telah berlelah-lelah bekerja dengan saya.

Saat mulai dibagikan, berbagai kometar tak hentinya terlontar. Yang paling saya ingat..

“katanya ga bisa unyu, nyatanya romantis..”  atau sekalimat

“Eh, teteh gw udah bisa unyu lhoo..”

Saya jadi malu sendiri. Apa dulu saya sangat ganas sampai-sampai bersikap unyu aja pada heboh dan beberapa kali dapet komentar dari orang-orang sekitar yang tak saya duga tahu perihal coklat itu.? Berasa jadi trending topic. Hahahaaa…

Tapi, agaknya kata istiqomah belum siap menyambangi keunyuan saya. Sepertinya mereka masih belum yakin bersemayam dalam diri ini.

Seminggu lebih lalu, saya membelikan sebuah hadiah untuk teman saya. Tapi, sampai sekarang belum saya berikan juga. Males ngebungkusnya. Ga punya kertas kado. Males belinya. Alhasil, sampai sekarang barang itu masih setia dalam kamar saya. Padahal, sebenarnya saya ingin sekali segera memberikannya. Ingin menunjukkan kalo saya perhatian juga lho. Nah, karena kelamaan dan saya belum menentukan sikap untuk memberikannya tanpa bungkus kado atau membiarkannya bulukan dalam lemari saya, akhirnya saya memberanikan diri mengatakan padanya..

“Sebenernya aku punya hadiah lho buat kamu, tapi belom aku bungkus. ga punya kertas kado dan males belinya. Hehe..”

“Dasar anak ini… ga romantis banget sih..”

belum lagi saat syuro dan sempat menyebut-nyebut perihal taakhi. Seketika ada yang mencondongkan badannya ke arah saya dan berkata, “Yahh, taakhi gw kayak begitu..”

dengan wajah polos tanpa dosa saya bertanya, “emang taakhi lw siapa min?”

daaaann..  segera saja suara menggelegar yang lebih cocok dimiliki oleh laki-laki ketimbang perempuan itu sedikit berteriak di dekat telinga saya.. “elo tauuu….”

“Hah? Gw? Emang iya ya? hahahahaaaa..” rasanya tertawa saya saat itu bahagia sekali saking jahatnya karena lupa pada taakhi sendiri. Oohh. How pity I’m. atau She is? Entahlah. Tapi, ini contoh kalo saya pelupa atau emang dasarnya saya ga perhatian makanya saya lupa sama teman yang dipersaudarakan itu.

Dan sekarang. Saya sedang kebingungan di persimpangan jalan *cem lagu kebangsaan mahasiswa*. Mendapat tugas sejak berbulan-bulan lalu dari Bos Ketua untuk membelikan hadiah pada orang tua adalah tugas paling sulit yang pernah ada di dunia ini *lebay* *tapi beneran*. Mencoba berpikir keras mau ngasih apa saya ke mereka, terutama ke ibu. Saya sama sekali tidak tahu bahkan menerka pun sulit perihal apa yang diinginkan atau dibutuhkan ibu saya. Seleranya sangat sulit ditebak. Mau ngajak makan pun, bingung mau kemana. Ibu saya ga suka ke Mal. Dan saat pembicaraan di ujung telepon itu terjadi,
“mau aku beliin apa Ma?”

“ga usah beli apa-apa..”

Bertanya secara eksplisit saja masih belum menemukan jawabannya.

Ini saya yang keterlaluan parah ga perhatiannya atau emang ibu saya yang sangat misterius?

Entahlah, saya masih belajar untuk menjadi orang yang perhatian, romantis, dan unyu. Tapi, sedikit-sedikit saya udah bisa lhoo… 🙂

Advertisements

Suntikan Semangat

Seminggu kuliah. Ini dunia macam apa sih? Unyuu begini.

Ya, Allah sedang menempa saya berada dalam lingkungan yang ‘ga gw banget’. Unyuu superr mungkin itu frase yang tepat yang bisa saya berikan untuk kampus ini. Kampus tempat saya dididik menjadi seorang dokter.

Di hari pertama kuliah di semester baru udah dapet suntikan semangat dari si Bos. Bapak Ketua Senat berinisial PAP. Seseorang yang pernah komen tentang saya dalam blognya yang isinya

#14 Kasie Kajian Strategis Ilmiah; Farhatul Inayah (Farah) – FK Unpad 2010

                Galak – Labil – Bayam – Konkret – BBM! Dikdok! SJSN!

Ya Allah, itu apa banget komennya. Saya dibilang galak dan labil. hahahaa…. Orang saya baik hati gini..

Dikasih semangat apa yaa??

Daaaannn, seketika saya inget bahwa kerjaan saya di akhir periode kepengurusan ini banyak banget. Ada proker besar yang menanti di bulan September ini. Proker yang udah ditunggu-tunggu. Kajian Luar Biasa. Bertajuk Internship. Salah satu fase kehidupan seorang dokter. Rencananya, (dan sudah dihubungi) kami akan mengundang perwakilan dari KIDI (Komite Internship Dokter Indonesia). Smoga si coklat bisa jadi booster semangat untuk saya dalam menjalankan amanah ini.

Dan beberapa hari kemudian dapet sesuatu yang tiba-tiba ada di jendela kamar kosan saya. Dari dua orang heboh dalam sebuah perkumpulan. Saya mendapatkan sebuah…

Dan yang paling bikin saya terharu yaitu ucapan di kertas serupa amplop dengan tulisan :

Special for our sister :

Farhatul Inayah Adiputri

Semoga bisa membentuk generasi Qur’ani kelak 🙂

Hwaaaa.. ga ngerti lagi.. saya suka banget bukunya.

Terimakasih ya untuk saudara-saudaraku  yang sangat baik.. mungkin saya belum bisa seunyuu kalian. Tapi, insya Allah akan menyusul menjadi bagian dari unyuers. Unyuers = mahasiswa FK Unpad yang unyu.

Ramadhan is Never Flat

Mungkin basi banget baru nulis Ramadhan hari gini. Ya tapi, emang feel nulis tentang Ramadhannya baru hari ini. Jadi, akhirnya saya tulislah kisah ramadhan saya yang juga sebagai tugas Tim #16 dari Pak Ketua Senat.

Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terluarbiasa yang  pernah saya rasakan. Bukan hanya sekadar targetan amal yaumiah yang meningkat dari tahun sebelumnya, tapi feeling yang jauh lebih tenang dengan aktivitas yang walaupun tetap saja diwarnai dengan hibernasi. Beritikaf di masjid yang berbeda dari tahun sebelumnya yang sarat dengan agenda itikaf yang keren. Mulai dari ceramah yang ‘kena’, kajian selepas tarawih, hingga solat malem 3 juz setiap malam di malam terakhir. Sekitar dua jam lebih untuk tahajud. Benar-benar malam luar biasa dengan full aktivitas rohani.

Dan yang paling berkesan adalah saat malam ke-25, sang Ustad mengatakan perihal  banyaknya asumsi bahwa malam ke-23 adalah malam Lailatul Qadr (Wallahu ‘Alam) dengan berbagai tanda, yaitu pagi harinya yang sangat adem tanpa silaunya matahari pagi seperti biasa. Pernah sebuah artikel menyebutkan bahwa pada malam Lailatul Qadr, pagi harinya matahari tidak mengeluarkan radiasi. Jadi, mungkin itu yang bikin pagi harinya matahari tak meyengat seperti biasa.

Dan pada malam itu terdapat satu bulan dan bintang yang jarak mereka berdekatan persis seperti lambing Islam yang identik dengan bulan dan bintang di atasnya. Kereenn banget. Dan sayangnya saat itu saya tidak mengabadikan fenomena langka tersebut karena keluar masjid niatnya cuma ambil air untuk sahur dan agak males untuk keluar lagi. Ditambah kamera Hp saya yang ga terlalu bagus. Jadi saya males. Dan efeknya saya menyesal. Terus sedih. Untung ga sampe nangis *ini apa deh*.

Selama sepuluh malam terkahir , memang banyak saya habiskan di masjid karena akan menimbulkan kelasutan yang laur biasa kalau saya ada di rumah aja. saya lebih memilih untuk nonton Tv selepas tarawih daripada tilawah yang menyebabkan tilawah saya keteteran. Pokoknya lasut parah kalo di rumah. Maka, saya putuskan untuk berdiam diri di masjid walaupun tak lepas dari ‘kebandelan’ sesekali mengobrol dengan  temen saat sedang kajian.

Pernah  lho ada kajian menarik. Tepatnya di masji Al-Azhar Jaka Permai Bekasi. Saat itu sekitar malam ke-27. Dimana terdapat kajian selepas tarawih yang menceritakan kisah Palestina dengan mendatangkan  narasumber langsung seorang pemuda Gaza dan relawan Gaza dari Indonesia yang sekaligus bertugas sebagai transleter bahasa Arab. Dari pemuda itu, kita seperti  ‘tertampar’ perihal kenyataan bahwa anak-anak di sana diwajibkan menghafal Al-Quran. Adalah sangat memalukan jika tak ada seorang pun yang hafidz dalam sebuah rumah. Adalah tugas wajib seorang ayah mewariskan Al-Quran  pada anak-anaknya. Adalah dengan Al-Quran hingga akhirnya Gaza pada tahun 2005 akhirnya lepas dari cengkraman Zionis walau tetap dijaga dengan helikopter-helikopter bejat zionis.

Dala video, seorang bapak mengutarakan bahwa jika saja dari dahulu pemuda Palestina seperti ini (menghafal Al-quran dan mengamalkan Islam dalam kehidupannya) maka tak mungkin negara palsu Israel berdiri di tanah mereka. Itu terjadi karena Palestina pernah hidup tanpa Alquran, saat Al-Quran hanya berada dalam rumah. Seketika itu juga saya terpikir pada negeri tempat saya berpijak. Adakah Al-Quran itu sudah dijadikan lifestylenya? Adakah kita telah meninggalkan Al-Quran? Retoris. Lalu pertanyaan berikutnya, adakah kita pernah terpikir mungkin saja kita akan mengalami penjajahan ke sekian kalinya sebagai bentuk peringatan Allah untuk kita? Sepertinya bangsa ini lupa akan hal itu. Sepertinya negeri ini terlena pada dunia dan isinya.

Dari paparan relawan itu (yang saya lupa namanya) kita mengetahui hal-hal yang belum pernah terkuak. Semisal betapa ‘banci’nya tentara Israel yang sebenarnya mereka tak berani sedikitpun keluar dari heli atau tank-tank baja mereka sekalipun untuk kperluan hajat mereka. Hingga layaknya bayi mereka menggunakan pampers agar tak perlu keluar dari ‘persembunyian’ yang kemungkinan besar akan menghilangkan nyawa mereka. Ahh, mereka memang pecundang. Tank-tank baja pelindas kehidupan muslim Palestina pun didapat dari negara-negara pendukung yang membenci Islam. Amerika, Inggris, dan Perancis adalah dalang di setiap aksi mereka. Dan dalang permainan internasional lewat hak veto mereka di lembaga berkelas dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Memang tak pernah ada habisnya mengupas Palestina. Tapi, yakinlah suatu saat Islam akan kembali berjaya. Ada atau tidaknya kita.

Ya, hingga malam Ramadhan itu sangat berkesan dan membuat saya mebulatkan azzam untuk menjadi ibu yang bisa melahirkan hafidz/ah sambil terus berusaha berdekatan dengan Al-Furqon ini.

Ramadhan. Baru beberapa tahun terakhir saya bisa merasakan tak ingin ditinggalnya. Dan ini entah tahun yang ke berapa. Tak pernah ingin berpisah dengannya. Akan tetapi, perpisahan dengan Ramadhan mengajarkan kita pada konsistensi. Adakah kita selalu mencari celah ‘berdekatan’ dengan Al-Quran di setiap harinya? Adakah kita lebih mencintai solat di masjid ketimbang di rumah? Adakah kita rela berbesar-besar dalam sedekah?

Semoga tak hanya Ramadhan yang bisa menjadi penjaga amal-amal kita. Melainkan, dengan Ramadhan, kita selalu bisa meng-upgrade diri untuk menjadi lebih baik dalam hal kuantitas dan kualitas ibadah maupun kebaikan kepribadan diri.