Krisis di Kemahasiswaan

Saya ga menyangka ini akan terjadi lagi. Calon tunggal. Kemana orang-orang? Lebih tepatnya, Kemana para Lelaki? Bukankah mereka ditakdirkan sebagai pemimpin? Lantas, kenapa hanya satu?

Terus saja pertanyaan itu berputar di orbit otak saya. Jumlah laki-laki di kedokteran tak sesedikit di Farmasi. Jadi, jika pertanyaan kenapa calon tunggal terjawab karena tidak ada SDM itu salah besar. Lalu karena apa?

Kaderisasi. Adalah jawaban yang diberikan pada Forum kemarin.

Ikut forum kemarin rasanya kembali menghidupkan keinginan saya pada satu hal yang sangat tidak mungkin terjadi. Menjadi laki-laki. Kemudian ambil formulir untuk kemudian jadi calon Ketua Kemahasiswaan Fakultas. Heyy, kamu dilahirkan sebagai perempuan dan selamanya akan menjadi perempuan! Begitu hati saya berujar. Walaupun tak pernah ada larangan untuk maju meski jenis kelamin adalah perempuan, isyarat laki-laki adalah pemimpin masih sangat kuat. Dan selama masih ada laki-laki yang daftar, yang perempuan siap-siap aja digaet menempati posisi-posisi strategis lain yang tersedia.

Oke, daripada memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi jauh lebih baik memikirkan solusinya. Lantas apa solusi dari kaderisasi kemahasiswaan yang sedang mengalami krisi kepemimpinan ini? Nah, ini adalah sebuah PEER besar bagi kemahasiswaan kami. Peer yang mungkin tak akan selesai dalam kurun waktu satu atau dua tahun. karena melahirkan pemimpin tak semudah menggelengkan kepala. Apalagi pemimpin yang adil, kuat, bijaksana.

Setiap yang dilahrikan adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Tapi, tak semua memiliki jiwa kepemimpinan. Karena tak semua orang mau belajar. Tak semua orang mencari pemahaman pada hakikat diri dan kepemimpinan. Tak semua mencari tahu korelasi antara dirinya dan kepemimpinan. Tak semua orang berusaha untuk memantaskan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin.

Dan ini, ini masalah kaderisasi. Bukan hanya kaderisasi dari senior pada juniornya. Tapi, juga mungkin kaderisasi orangtua pada anaknya. Maka, bagaimana kaderisasi membentuk jiwa kepemimpinan seseorang tentu sangat penting. Bukan saja lewat training kepemimpinan yang mereplikasi. Tapi, bagaimana jiwa kepemimpinan itu dimunculkan dengan inovasi bentuk yang cerdas dari sekadar bikin training dan memikirkan wadah pengaktualisasian dari jiwa kepemimpinan itu.

Maka, inilah PEER besar kemahasiswaan kita kawan. KEPEMIMPINAN!! Segeralah selesaikan karena bukan hanya kemahasiswaan yang butuh pemimpin. Dunia meneriakkannya. Semoga dunia mengizinkan, untuk dipimpin oleh KAMI!

Advertisements

Reminder

Terkuras habis pikiran ini tentang Jamkesmas, Jampersal, Sistem Kesehatan Nasional, Grand Design Kaderisasi, dan ribuan (yang mungkin lebih tepat disebut) tugas lainnya yang meraung-raung di kepala. Belum lagi tumpukan buku suplemen penambah wawasan yang diam tersusun rapi tapi sesungguhnya mereka bersautan berebut minta dibaca. Adapula LI, tugas Lab activity, dan draft Sooca yang harus segera diselesaikan tapi agak sedikit dikesampingkan.

Meluangkan sedikit waktu untuk nonton film (hobi kebanyakan orang, yang sering saya anggap ada hal lain yang lebih bermanfaat untuk dikerjakan) kedokteran Jepang berseri berjudul’ Code Blue’ yang belum tuntas saya tonton. Film yang mungkin udah jamuran di leptop saya yang juga sangat mungkin semua anak kedokteran udah khatam menonton film itu kecuali gue (Haha).

Saya sering tertegun pada sosok (sok cool) Aizawa (yang sepertinya adalah seorang Residen Bedah) yang sering memiliki ide cemerlang dalam menghadapi pasien emergencinya. Kadang saya bertanya dalam diri, “Kok bisa ya dia berpikir sampai kesitu??” (—> pertanyaan bodoh)

Kadang melihat beberapa adegannya saya jadi bergidik . Seperti pada scene :

Itulah sebuah bukti kepercayaan pasien. Saya terharu melihat scene ini. Sebegitu besar kepercayaan pasien hingga seolah-olah seorang dokter adalah ‘dewa’ yang bisa menyembuhkan setiap manusia. Yang sebenarnya, tangan para dokter adalah perantara kesembuhan dari Allah.

Saya jadi membayangkan beberapa atau belasan tahun mendatang tentang pertanyaan, “bagaimana pasien saya nanti? Apa saya bisa membuat mereka survive bahkan sembuh?”

Pada scene lain, saya membayangkan alangkah bahagianya mendapat ucapan terimakasih dari seseorang yang pernah merasakan hidup sekarat dan dapat diselamatkan nyawanya oleh saya atau kita (para dokter). Ucapan terimakasih yang menunjukkan survivenya seseorang lewat tangan kita atas izin Allah.

Dan membawanya keluar untuk kemudian dirawat di Intence Care Unit (ICU) pasti akan menjadi kebanggaan tersendiri. Seperti mereka, dengan perasaan dan gaya yang berbeda-beda. Ada yang bahagia berlebih mungkin dalam hatinya. Ada yang keluar dari jalan terowongan dengan gaya so cool-nya. Dan ribuan rasa yang meyeruak lainnya  bagi mereka..

Hingga telah selesai saya menonton film itu, saya seperti diingatkan. Kamu akan jadi dokter, Farah!

Ahhh, kadang dalam kesibukan, saya suka lupa kalau suatu saat saya bukanlah hanya seseorang yang akan mendapat gelar dokter, melainkan akan menangani setiap pasien dalam keadaan apapun*. Berazzam sekuat-kuatnya untuk menyeimbangkan diri dalam segala aspek, semoga itu bukan hanya sekadar wacana.

 

 

*: tidak semua orang yang bergelar dokter akan menangani pasien yang biasa disebut dokter nonklinisi.