Gelap

Sedari kecil, saya terbiasa tidur dalam keadaan lampu mati. Maka, saat liburan atau hari raya yang mengharuskan saya tidur bersama sepupu-sepupu di rumah kakek, saya agak tersiksa. Bukan karena kasurnya jadi sempit, tapi karena mereka terbiasa tidur dengan lampu menyala. Ooh, God, saya sulit tidur. Tapi karena sekarang saya suka tidur, dalam keadaan lampu menyala pun saya tetap bisa tidur. Haha.. tetapi, tetap saja, tidur akan lebih berasa kalau lampunya mati. Dan Alhamdulillahnya, mematikan lampu saat tidur itu termasuk sunnah Nabi lohh,.

Kalau ditelisik, ternyata saya lebih suka gelap. Saya tidak terlalu suka dalam keadaan yang sangat terang. Lampu terlalu terang aja saya ga suka. Saya baru menyadari bahwa kalau di rumah, saya hampir tidak pernah solat dalam keadaan lampu menyala. Setiap solat saya selalu mematikan lampu terlebih dahulu. Reflex. Saat solat berjamaah di rumah pun saya mematikan lampu. Karena buat saya, gelap itu syahdu. Uraian airmata yang menyertai doa dan bacaan Alquran akan turun saat lampunya mati. Kekhusu’an itu lahir saat tak ada cahaya lampu. Nah lohh, kalo lampunya nyala solatnya ga khusuk nihh? Hehe.. yang pasti, saya jarang menangis saat solat dan berdoa dalam keadaan lampu menyala. Entahlah mengapa demikian.

Tak pelak, saya menerapkan ini di kosan. Saat, tak sempat berjamaah, saya yang solat sendiri di kamar kosan akan mematikan lampu. Tidak selalu. Tapi, sering. Jadi, kalo lampu saya mati di jam-jam yang semestinya menyala, bukan berarti saya sedang tidur. Mungkin aja saya lagi solat.

Advertisements

Tanpa Logika #2

Jangan sampai rasa merusak logika. Bukan hanya ‘jangan membuat rasa membabibuta menjadi laku tak agung’ seperti dalam postingan serupa sebelumnya. Tetapi juga ‘jangan sampai rasa melunturkan idealisme’. Bertahun-tahun hidup, tentu kita diberkahi pengalaman, pelajaran yang senantiasa menjadikan kita selalu punya mimpi dan harapan menjadi lebih baik. Ya, saat kita punya mimpi dan harapan dengan standard yang cukup tinggi tak salah. Tak pernah salah. Bahkan saya merasa harus dijaga, agar tercambuk diri untuk senantiasa pantas memeluk mimpi. Mimpi dan harapan adalah campuran rasa dan logika yang menyatu. Maka jagalah ia pada jalurnya.  

Logika dan rasa seringkali tak sejalan beriringan. Kadang, ada saat kita mengikui rasa, tak jarang menentukan pilihan berdasarkan logika. Sebelum berjalan terlalu jauh untuk menentukan mengikuti logika atau tasa, tak ada salah meminta saudara membantu menimbang logika atau rasa.  

Jika memilih logika, pastikan kita telah meminta fatwa pada hati kita yang mengarah pada rasa. Yakinkan bahwa tak ada kecenderungan tertindas di sana. Bagaimanapun kita punya nurani yang patut didengar. Jangan sampai kita abaikan suaranya.  

Jika kita harus memilih rasa, pastikanlah rasa itu benar, sesuai dengan harapan besar kita yang kita bangun untuk lebih baik. Bukan hanya sekadar rasa yang bersinar di saat kita harus memilih antara ‘logika dan rasa’. Karena tentu, rasa akan membuat pilihan kita lahir tanpa logika.

1 Visi 1 Frekuensi

1 visi 1 frekuensi : sebuah harapan tentang masa depan hasil akumulasi kehidupan 2 tahun ke belakang.

Visi dalam KBBI adalah pandangan atau wawasan ke depan. Artinya, akan lebih baik bersama dengan yang satu pandangan dan wawasan untuk ke depannya.

Sedangkan frekuensi diartikan sebagai gelombang pemikiran. Artinya, satu frekuensi adalah satu gelombang pemikiran tentang dua hal. Tarbiyah dan Dakwah.

1 visi 1 frekuensi adalah pilihan. Tidak wajib, tidak juga sunnah. Itu hak prerogatif masing-masing dalam menentukan arah gerak masa depan. Ada yang berpikir mengajak, mengajarkan, menuntun hingga kemudian meroket bersama. Adapula yang ingin segera meroket bersama dengan melebarkan sayap sambil menggali ilmu bersama dengan basic yang sama.

Tak pernah menyangka akan berjalan sejauh ini, masuk dalam lingkaran lebih dalam. Terlibat dalam aktivitas melelahkan namun membahagiakan. Mengatur strategi. Berinteraksi dengan mereka yang menuai decak kagum. Menebar manfaat seluas-luasnya. Mengibarkan panji Allah di bumiNya. Semua beragregasi membentuk satu azzam untuk berkata, “tak ada pilihan selain pilihan kedua”.

Bukan apa-apa. hanya ingin menebar manfaat lebih besar segera setelah Allah izinkan bersama dengan meleburkan dua potensi yang tak jauh terpaut. Karena mungkin aku tak sekuat itu menuntun dari nol. Inginku, di awal gerbang, tak lagi berkutat dengan pertanyaan “Bagaimana kita?”, melainkan “Apa yang akan kita lakukan bersama untuk umat?”

Kuat dan saling menguatkan dalam jalan yang tak sedikit menuai korban kecewa, sakit hati, lelah tak terkira, mundur perlahan karena tuntutan hidup tak lagi sama. Sholih mensholihkan untuk tetap mempertahankan idealisme di tengah derasnya ujian keimanan.

1 visi 1 frekuensi. Hanya ingin mewujudkan platform kehidupan yang sudah dirancang untuk membangun generasi qur’ani, keluarga rabbani, dan masyarkat madani sesaat setelah qodarullah berkata.

Sami’na wa Atho’na

Selalu. Kapanpun. Memulai adalah bagian tersulit dari tiap episode. Terlebih memulai di dalam dunia yang belum pernah terjamah. Di rongga lain, ia menuntutmu belajar. Karena hakikatnya manusia adalah insan pembelajar. Maka, amanah datang bukan pada orang yang hebat, melainkan pada orang yang mau belajar.

Saat rongga lain memintamu mengisinya, di saat itulah sami’na wa atho’na-mu bekerja. Relung hati itu meminta keyakinan, menguji keimanan yang katanya berkorelasi (cukup) kuat dengan sami’na wa atho’na. Jika sami’na wa atho’na berjalan ke arah kanan dari nol, tugas selanjutnya adalah berlari hingga mencapai titik finish keikhlasan. Kendalanya, sangat tidak mudah berjalan dari nol untuk kemudian berlari sampai titik akhir karena lelah akan menggerogoti di tengah jalan sedang cinta tak kunjung bermekaran di antara nol dan finish.

Begitulah sami’na wa atho’na bekerja. Tak hanya menguji keyakinan di awal, tetapi juga menggoda di tengah. Memaksa untuk senantiasa belajar. Belajar menjaga ketaatan agar tetap dalam orbitnya. Jika sami’na wa atho’na terancam, rehatlah sejenak. Ambil hikmah dari Sang Pedang Allah salah satunya, ya Khalid bin Walid dengan perbedaan konteks. Ia mencintai strategi perang dengan kemenangan merajai dirinya, tetapi sami’na wa atho’na-nya pada keputusan qiyadah memaksanya meletakkan pedang. Berbeda konteks, tapi satu makna.

Tak jarang kita terperangah pada rongga yang harus kita masuki tapi belum kita pahami. Maka buatlah diri kita paham dengan membuat sami’na wa atho’na kita berlari dari nol hingga titik ikhlas. Dan beharap sami’na wa atho’na itu menguap menjadi pundi-pundi pemberat neraca kebaikan.

Tanpa Logika

F : “ya udah sih nikahin aja. datengin bokapnya..”

X : “iya, kalo gw nikah sekarang emang terbebas dari jeratan rasa, tapi gw terkena jeratan hutang”

F : “mending terjerat hutang daripada terjerat rasa.”

Dialog di atas adalah sepenggal dialog antara saya dengan seorang teman. Sebut saja Bunga, eh, salah Budi.

Jadi, teman saya bernama Budi ini meminta petuah pada saya terkait perasaannya pada seseorang. Dan yang paling menyebalkan adalah, Budi telah menyimpan rasa dari dulu dan merasa perasaannya udah ga sehat. Kenapa ga sehat? Karena ia memupuknya lewat sms-sms.

Fenomena yang saya temui bukan cuma sekali dua kali. Mungkin Anda yang membaca tulisan ini juga pernah mengalami hal serupa. Baik pihak yang mendekati atau didekati via sms.

Sesungguhnya saya ingin banget mencak-mencak pada Budi dan Anda yang berani-beraninya mendekati wanita lewat sms-sms sok penting yang kebanyakan kalian adalah orang yang (maaf) chicken (tapi, saya ga melakukan itu pada Budi sih, kami dialog dua arah aja, kan saya konsultannya, jadi harus sabar). Maju ga berani, Mundur ga mau. Disuruh tanggung jawab ga mau dengan alasan klasik financial. Banyak beralasan aja sok-sok deketin anak orang. Menyebalkan luar biasa bukan??! Mungkin bagi Anda yang berjenis kelamin laki-laki ada yang sepahaman dengan saya ada pula yang tidak. Yang sepaham, saya tahu Anda cukup mengerti dan berusaha menjalankan perintah Tuhan kita, Allah, dengan baik. Yang belum sepaham, cobalah cari sendiri hakikatnya. Ga perlu beralasan untuk hal yang jelas hukumnya.

Saya sering ga mengerti apa yang ada di cerebrum lelaki perihal ini. Rasanya mereka selalu punya seribu alasan untuk mendekati wanita padahal siap ke pelaminan aja belum. Betapa egois, tapi ajaibnya betapa mereka ga sadar bahwa itu bentuk sebuah keegoisan. Kenapa egosi? Ya iya, mereka punya tanggung jawab untuk membuat siapapun di dunia ini taat pada aturan agamanya. Dengan cara mendekati lewat sms itu adalah salah satu cara menjauhkan keimanan dengan mengobrak-abrik rasa di dirinya sendiri maupun pada orang yang di-sms walaupun dalam perbincangannya ngomongin dakwah, Islam, bertanya tentang Allah dan Rasulnya. Dan yang paling menyakitkan adalah alasan mendekati itu supersampah, ya pengen ngejagainlah, lebih tepatnya menjaga supaya ga diembat duluan sama orang lain alias ga mau kehilangan. Astaghfirullah. Semoga kita semua dilindungi dari sifat dan perbuatan seperti itu. dan semoga teman saya Budi segera dapet pencerahan.

Emang ada sedikit perbedaan antara kisah Budi dan fenomena serupa, si Budi emang punya rasa bersalah setiap kali sms Bunga. Budi tau itu salah. Budi pun sebenernya merasa ga pantes buat  Bunga. Saya suruh nikah aja dan salah satu alasan Budi adalah dia masih waras untuk membuat Bunga dapet yang lebih baik. Dalam hati saya berujar sambil gregetan “ya kalo gitu ngapain lw sms-sms dia??” Tapi entahlah, mungkin ini yang dibilang cinta tanpa logika. Udah jelas-jelas salah masih aja dilakuin. Suka ga ngerti deh gue..-__-“

Ya, jadi laki-laki atau perempuan sebenarnya sama sulitnya. Sama-sama punya tanggung jawab untuk tetap menjaga kehormatan dan keagungan akhlak bahkan akidah masing-masing. Bukan ngejagain lewat sms. Tapi menjaga dengan cara berkomunikasi dan berinteraksilah seperlunya. Itulah sebaik-baik penjagaan diri jika memang kita belum siap menanggung beban yang lebih atas sebuah rasa di atas mitsaqan gholizho.

Berani berbuat berani bertanggung jawab. Itu adalah (entah pepatah entah bukan) istilah yang sering kita dengar dari kecil mungkin. Artinya, saat kita mengambil sebuah tindakan ‘menjaga lewat sms’ berarti juga kita siap untuk mengambil tanggung jawab lebih untuk menjaganya dalam istilah yang sesungguhnya. Jika memang belum siap, berhentilah bertindak apapun.

Satu hal yang perlu diingat bahwa permasalahan-permasalahan seperti ini sudah bukan lagi memasuki kategori masalah akhlak, melainkan sudah memasuki ranah akidah. Artinya, bisa saja akidah kita tercoreng karena kita dianggap masih kurang percaya terhadap takdir-takdir Allah hingga kita sendiri yang membuat penjagaan-penjagaan dunia pada seseorang.

Jika rasa cinta itu fitrah, maka jagalah cinta itu tetap dalam kefitrahannya (suci) dengan cara yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan.

Kisah Sang Pelayan

Tak pernah sekalipun terbayang memasuki dunia macem begini untuk kemudian menekuninya. Bahkan bukan hanya menekuni, tapi mengajarkan pada anak-anak itu sesuatu yang awalnya tidak saya mengerti. Tetapi, bersama mereka, saya teriakkan bahwa ini salah satu dunia saya.

–#–

Kemarin, bersama sinambel, saya melakukan ‘pengakuan dosa’. Bagaimana dulu denial saya sangat besar saat poundra meminta saya menjadi kasie Kastil. Bagaimana tidak, saya masuk ranah ini jelas terpaksa. Saya besar dan lahir dari rahim kaderisasi, kemudian harus memasuki dunia kastrat yang saya tak punya minat terhadapnya. Kemudian saya diminta jadi ketuanya. Ini sih bilang ‘Wow’ sambil salto masih kurang.

Kabar baiknya, saya adalah seorang koleris yang tertantang  pada kepemimpinan dan tertantang untuk menjadikan bidang ini lebih menarik di mata anak FK Unpad. Dan saya termasuk orang yang  90% tidak bisa menolak amanah karena berbagai alasan. Oke, saya terima tawaranmu, Pond. Dan mulailah saya meraba-raba sambil terus mencari arah geraknya. Bereksperimen sendiri dicampur petuah s(k)ang ‘deddy’, guru saya di Kastil. Yahh, di luar permasalahan affection, kerja saya bersama mereka yang tercinta membuahkan hasil, setidaknya sebagai pondasi, ini lebih dari cukup. Bagaimana sinambel memberikan apresiasi terhadap Kastil pun merupakan suatu kebahagian luar biasa. Dan ingin saya persembahkan untuk kampus ini sambil berujar, “inilah keringat kami selama setahun..”

–#–

Dan beginilah kehidupan mengajarkan saya untuk senantiasa belajar. Karena berhenti belajar adalah indikasi jiwa dan raga telah tiada. Saya belajar bahwa totalitas tidak selalu harus berada di tempat yang kita mau. Bahwa segala sesuatunya memang harus dicari. Itulah makna pembelajaran. Bahwa cinta tidak selalu mekar di rongga yang kita inginkan, melainkan di rongga lain itulah kita temukan cinta.

Itulah amanah. Sesuatu yang memberikan kita pembelajaran, kekuatan, pendewasaan, cinta, dan syurga jika kau lakukan itu karena Rabb-Mu.

Selamat Beramanah, Kawan!

–#–

Dahulu, saya sempat berpikir bahwa kepemimpinan berarti kita memiliki kuasa pada konsep kemudian (sedikit) dirundingkan dan biarkan mereka mengeksekusinya. Kepemimpinan berarti kau bisa dengan mudah menggerakkan telunjuk kepada salah satu dari mereka untuk kemudian mereka yang mengerjakananya.

Tetapi, pemikiran ini berubah semenjak satu tahun lalu. Kau tahu apa? Bahwa kepemimpinan 180o berbeda dari apa yg saya pikirkan. Bahwa hakikat memimpin bukanlah berkuasa, melainkan melayani. Bukan saja melayani yang kau pimpin, tapi melayani semua orang yang berhak menerima manfaat atas kerja-kerja kepemimpinanmu.

Memimpin berarti meminta waktumu untuk terkuras atas kerja yang kau geluti. Meminta raga itu sedikit lebih lelah dari yang lain. Meminta beberapa uang itu rela dikeluarkan untuk menunjang kerja-kerja kepemimpinan. Dan meminta waktu 24 jam untuk senantiasa kau berpikir tentang amanah kepemimpinan yang telah kau sandang di pundakmu.

Pernah saya tak menyangka, dalam sebuah event, saya harus jadi multitalented. Saya yang sejatinya fully conceptor berubah menjadi eksekutor dadakan. Semua seksi dilakoni karena kekurangan SDM. Capek? Jangan ditanya. Saya hanya bisa menghibur diri. Beginilah pemimpin, hakikatnya adalah melayani, bukan dilayani. Hanya berharap setiap bulir keringat adalah keikhlasan.

Bicara kepemimpinan pun mengingatkan saya pada kuliah PHOP beberapa bulan lalu. Judul kuliahnya ‘Set Up Program – Leadership’. Ada hal yang menarik dari teori kepemimpinan, yaitu perbedaan antara leader dan manager. Tentu kita tahu bedanya. Hanya saja, yang ingin saya tekankan adalah bagaimana pun seorang pemimpin harus memiliki kemampuan manajerial yang baik. Itu penting. Butuh. Artinya, leader dan manager adalah sebuah kesatuan yang harus dimiliki oleh pemimpin, tapi tak wajib keduanya dimiliki oleh seorang manager.

Mungkin dari training-training leadership atau bahkan dari kuliah PHOP tentang Leadership kita bisa belajar banyak tentang kepemimpinan, apapun itu. Mulai dari karakteristik, leader attributes, tipe-tipe kepemimpinan, dan sebagianya.  Tapi, tak akan benar-benar belajar sebelum kau memasuki rimbanya. Dan kini, saya telah memasuki rimba itu, bahkan nyaris keluar. Rimba yang mengajarkan saya banyak hal. Rimba yang me
Continue reading

Sudah Sejauh Mana?

Sudah Sejauh Mana?

Seringkali terbersit dalam benak saya, apa yang kita dapat kemudian kita amalkan. Seberapa yang kita tahu yang bersumber dari lisan seorang guru, coretan ulama, dan tempat lain dimana ilmu itu tertimbun. Berapa ayat cinta-Nya yang kita hafal. Seberapa jauh ikhlas, iman -yang bisa saja terrepresentasikan lewat sami’na wa atho’na-, dan pemahaman lain. Jangan-jangan akidah kita saja masih harus dipertanyakan.

Saat mengingat pertama kali diri kita ikut duduk dalam lingkaran kecil, rasanya air mata selautan pun tidak cukup untuk menangisi kesia-sian yang telah dilakukan. Allah telah berbaik hati memudahkan langkah kaki dan menggerakkan hati kita menuju majelis ilmunya. Lalu, apa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas?

Sungguh, saya malu menjawabnya. Tujuh tahun lebih berada dalam naungan tarbiyah, apa yang sudah kita lakukan untuk umat? Menceracau soal dakwah, tapi sesungguhnya terpasung dalam dunia kita sendiri, tanpa sadar. Bicara banyak, tapi buku yang sudah kita ‘makan’ bisa dihitung jari. Sibuk beraktivitas dakwah, tapi ruhiyah sendiri terbengkalai. Berapa tilawah kita sehari?

Coba sejenak kita bandingkan antara kita dua tahun lalu dengan diri kita saat ini. Apa yang berbeda? Apa yang bertambah? Jangan-jangan kita dua tahun lalu tidak berbeda jauh dengan saat ini. Mari kita menangis. Menangisi diri kita sendiri. Menangisi dua tahun lalu yang ternyata tidak memberikan progress kecuali sedikit. Padahal, tidak sedikit orang yang hafal Al-Quran dalam kurun waktu dua tahun bahkan kurang dari itu.

Hingga pertanyaan besar pun muncul. Seperti judul buku. “Sudahkah kita tarbiyah?”. Sudah sejauh mana ilmu kita jika dilihat dari usia tarbiyah kita? Jangan-jangan, setiap pekan hanya raga kita yang tertarbiyah.