Rak Buku

Jika dahulu saya tak segan untuk menuliskan ‘membaca’ sebagai hobi, rasanya tak pantas lagi saya menuliskan itu jika tak ada kenaikan jumlah buku yang dibaca setiap tahunnya. Pun, rasanya saya malu menyematkan membaca dalam deretan kata tentang saya jika melihat teman-teman saya yang lebih ‘gila’ soal buku. Tapi, saya mencintai buku. Saya suka membeli buku. Menghabiskan waktu di toko buku, walaupun lama memilih buku, saya tak memasukkannya dalam kategori ‘nyampah’. Merogoh kocek ratusan ribu untuk buku tak lantas saya bilang hal itu boros. Dan selepas membayar buku di kasir, pulang dengan kresek berisi buku rasanya adalah puas luar biasa.

Maka, beberapa kata yang terlintas dalam pikir saya adalah toko buku, rak buku, dan membeli buku. Di luar, kapan membaca bukunya. Ah, tapi sekarang saya harus berubah. Membaca buku bukan lagi di luar, melainkan menjadi bagian dari toko buku, rak buku, dan membeli buku.

Dalam bayangan saya, rak buku menjadi suatu barang yang wajib dimiliki di awal-awal pernikahan selain kompor gas, magicom, kulkas atau lainnya. Bukan. Ini bukan tentang galau. Melainkan tentang rak buku. Rak buku yang akan diisi oleh buku-buku yang pernah dibeli semasa saya dan suami saya (kelak) saat masih sendiri. Rak buku yang setiap berjalannya waktu semakin penuh kemudian akan dibeli rak buku yang baru. Hingga akhirnya, kami merasa perlu untuk membentuk suatu ruangan khusus yang isinya adalah rak buku. Ruangan berdinding kaca ke arah luarnya dan dihadapkan pada pepohonan yang rimbun. Ruangan dengan rak buku minimalis, tapi jumlahnya maksimalis.

Ruangan itu, warna rak dalam imajinasi saya adalah putih. Entah cat ruangannya nanti berwarna apa. Ruangan dimana hampir semua buku kesukaan saya ada. Mulai dari buku agama, kedokteran (warisan saat kuliah), biografi, novel (sedikit aja), dan buku lain yang sering bingung dikategorikan dalam genre apa.

Rak buku. Adalah benda impian di masa depan. Karena aku, kamu, kita suka membaca.

Advertisements

Flow Free

Sesungguhnya saya amatlah sangat bukan seorang gamer. Saya benci sama game, selain wasting time, apa ya.. pokoknya saya ga gitu suka game. Tapi, masi suka ngegame yang cupu-cupu buat iseng. Tapi, sebenernya dulu saya adalah pecandu Sudoku yang masih bisa saya tolerir karena ini game yang menguras otak. Intinya, apalah daya ternyata saya hanyalah makhluk yang tak kuasa oleh godaan syetan untuk ngegame.

Bagi kamu yang punya tab atau ipad pasti tau permainan Flow Free, dimana kita menguhubungkan titik-titik berwarna sama hingga kolom-kolomnya penuh tak bersisa. Awalnya mudah, tapi semakin ke sini, semakin naik level, semakin banyak jumlah kotak dan titik-titiknya, maka semakin banyak kita harus memanfaat gyrus-gyrus otak yang telah Allah ciptakan.

Hingga, pernah saya lama sekali, berkali-kali mencoba untuk berhasil hingga masuk ke level berikutnya dengan kata ‘perfect’ dari layarya. Dan saat saya coba loncat ke kotak 14×14, Subhanallah, saya belum berhasil, entah sudah percobaan yang ke berapa. Mungkin karena saya loncat-loncat juga jadinya lama.

Tapi, di luar itu, game ini memberikan pelajaran pada kita, bahwa kita jangan pernah berhenti mencoba sekalipun itu gagal berkali-kali. Karena kita tidak akan perah tahu di percobaan ke berapa kita akan berhasil. Hikmah yang simple dan mungkin juga udah basi banget. Tapi, saat kita memainkan game ini hingga level dan kotak-kotak yang semakin sulit, maka kita akan merasakan langsung hikmah yang sering kita dapat dari Om Alfa Edison lewat penemuan lampunya.

dari yang kosong hingga full terisi, tidak melulu sekali jalan langsung bisa, melainkan berkali-kali mencoba..

KosongFix

Superteam

Akhirnya hari ini terjadi juga. Hal yang sudah saya rencanakan dari beberapa hari lalu. Berkumpul dengan superteam saya di Kastrat BEM Unpad 2013.

Ini adalah awal yang luar biasa. mendapati mereka yang keren-keren jadi staf saya yang mungkin justru saya yang harus belajar banyak dari mereka.

Ditambah rasa haru dari mereka yang punya militansi tinggi luar biasa. jauh-jauh dari Jakarta dan pulang lagi ke Jakarta, ada yang dari Surabaya dari hari Senin khusus untuk datang ke rapat awal Kastrat. Aah, rasanya saya yang telah lama berkecimpung di dunia organisasi jadi minder karena mungkin militansi saya tak melebihi mereka.

Saya hanya berharap, semoga ini jadi awal yang baik, jadi sebuah impian yang akan terwujud dalam bulan-bulan di dalam tahun 2013, dan jadi penyemangat di kala lelah dan jenuh menyergap. Semoga Allah selalu memberkahi kita.. Superteam!!

20130117_120744

Ujian, Skripsi, Menteri

Plak! Plak! Sepertinya saya masih harus menampar wajah (halus aja tapi) untuk meyakinkan hal ini lagi. Ujian + Skripsi + Menteri. Ya, dalam waktu bersamaan, mereka menarik ulur saya. Meenn, apa kabar sooca gw?

Ya, saya juga harus tersadar bahwa tahun ini mungkin akan lebih ‘mengancam jiwa, meminta raga’. Entah  kehidupan semacem apa yang akan saya jalani setahun ke depan dengan bejibunnya amanah kehidupan ini. (sebenernya ga banyak, tapi lingkup dan tanggungjawabnya yang besar).

Awal tahun saja sudah bisa menjadi refleksi setahun ke depan. Di saat sedang mempersiapkan sooca, selalu ada jarkom “bla..bla..bla..  di sekre jam sekian-sekian..” sering sekali bahkan tak jarang sangat dadakan. Dinamikanya beberapa menit jawabannya kalau ditanya kenapa seringkali mendadak. Ya, akhirnya saya merasakan juga perbedaan jadwal antara fakultas saya dengan fakultas lain sehingga dari dulu tidak banyak mahasiswa FK yang berkecimpung di dunia tarik suara, eh, berkecimpung di dunia kegiatan universitas maksudnya, termasuk BEM. Tetapi, ini sudah menjadi bagian dari konsekuensi yang saya pilih. *tarik napas panjang*

Belum lagi ujian dan skripsi. Ujian akhir semester dan segera secepat kilat menyiapkan bab 1-3 dimana judul masih menggantung kayak baju di lemari. Dua yang seolah saya kerjakan untuk diri saya sendiri. Secara kasat mata iya. Akan tetapi, ini adalah bentuk lain pengabdian saya sebagai seorang dokter yang belum sempurna. Belum sempurna pengabdiannya karena belum sempurna menjadi dokternya. Dan akan saya sempurnakan melalui belajar, mematangkan pribadi, menyelesaikan semua persyaratan menjadi dokter.

Kalau dulu, saya masih memiliki ruang untuk berpikir “Terus waktu untuk diri gue sendiri mana?”. Mungkin, pertanyaan itu sudah harus saya buang di tempat antah-berantah yang tidak akan lagi saya temukan. Tapi harus saya ganti pola pikirnya merujuk pada kalimat Ust. Rahmat Abdullah tentang dakwah. Maka, pola pikir yang terbentuk menjadi “Ini hidup gue. Tapi, bukan sepenuhnya milik gue. Tapi, millik Allah. Maka, semua harus diberikan untuk Allah lewat dakwah. |Lalu untuk dirimu sendiri?| Tetap ada, hanya berapa persen ruangnya, biarkan jalannya kehidupan yang memberi ruang untuk dirimu sendiri..” begitu kira-kira bunyinya. Ekstrem menakutkan sih. Tapi, biarlah. Sukses itu butuh perjuangan kan??

Kadang, sisi manusia saya pun meragu. “apa saya sanggup?” Pernah suatu sore badan saya lemes -yang emang udah agak lemes karena baru pulang bimbingan di RSHS- seketika mendengar arahan Pak Presiden setahun ke depan tentang harapan, sedikit arah geraknya. Saya hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan panjang lebarnya kali tinggi sama dengan volume. Ini tidak semudah yang saya bayangkan saat saya menerima amanah ini.

Seringkali lelah saya mengatakan “gue ga bisa ngikutin dinamikanya, apa mundur aja ya?”.  Tapi, selalu. Saya (entah dari sisi koleris atau originator) tak pernah punya pilihan untuk mundur.  Ini tantangan hidup Broo!! Mana seru hidup kalo ga ada tantangannya!

Huffh, kemudian menari-narilah kutipan seorang hebat dalam white-gray matter brain saya.

Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta kan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tetang ummat yang kau cintai. –Allahumma Yarham Ustadz Rahmat Abdullah-

Hingga akhirnya saya kembali membentuk self motivation “saya hanya perlu berkorban yang akan mengejawantah menjadi kematangan pribadi di dunia dan surga di akhirat.”

Hanya perlu berkorban –> paradox sekali..

Semoga Allah memberkahi perjuangan ini