Wanita berKarir

Siang itu, sang dokter spesialis penyakit dalam (wanita) menjadi trainer kami di skills lab. Beliau sedikit bercerita tentang anaknya yang hiperaktif dan tak bisa lepas dari psikolog sampai kelas 3 SD. Ya, akibat kesibukan saat menjalankan pendidikan sebagai residen ilmu penyakit dalam.

Kemudian saya berpikir banyak, jika nanti saya mengambil spesialis ini dan itu atau mengambil pendidikan lanjutan ini dan itu, “anak gue apa kabar?”

Akhirnya saya mengerti, tentang makna filosofi wanita dan pendidikan. Bahwa memang, pendidikan bagi wanita sejatinya adalah untuk mendidik anak kelak. Bukan untuk Karir. Karena setiap ibu adalah madrasah untuk anak-anaknya.

Hingga pernah seseorang menulis dalam statusnya, “Karir terbaik seorang wanita adalah Ibu Rumah Tangga.” Sekelebatan, mungkin ini ga adil. Tapi, secara kodrat memang begitu. Toh, ini bukan pakem. Masih bisa dimodif sedikit. sebagai pekerja kantoran 20% dan ibu rumah tangga 80% kan juga bisa.

Karir dan uang, biarin aja urusan laki-laki. Tugas terpenting  wanita adalah memastikan bahwa anak-anaknya bertumbuh dan berkembang dengan baik secara  fisik, psikologis, dan ilmu. Itu kenapa ibu rumah tangga pun perlu punya pendidikan tinggi. Ilmu dan pengalaman kita saat menjadi mahasiswa bisa sangat berguna untuk mendidik anak (sepertinya).

Seorang dokter wanita, saat dia hanya menjadi dokter umum, mungkin jika dilihat dari sisi karir, terlihat ga ada apa-apanya. Tapi, ilmu kedokterannya bisa digunakan untuk mengurus keluarga dari sisi kesehatan sehari-harinya, soal makanan, penanganan sakit, lingkungan, dan lain-lain.

Atau saat wanita ,menempuh pendidikan keguruan, dari situ bisa dipelajari cara mendidik anak yang menyenangkan, yang mudah dipahami anak-anak, dan lain-lain. Dan berlaku untuk semua bidang pendidikan dengan kelebihan cara mendidik anak di sisi yang berbeda.

Pada akhirnya, keputusan menjadi ibu rumah tangga, berkarir di kantor, atau menjadi keduanya dengan seimbang atau berat sebelah adalah pilihan. Selamat memilih wahai wanita terpilih..!

Advertisements

Nothing To Lose

From my tweets on Friday Morning

  1. Teringat saat sooca semester kmrn. Malemnya, saya udh pasrah sepasrah-pasrahnya pasrah.. udh bergantung aja sama Allah..
  2. Blm pernah bgt saya sampe kayak gtu. Tp ternyata Allah berkehendak yg saya ga sangka. Akhirnya saya tau, mgkn itu yg namanya #NothingToLose
  3. Dari yg saya rasa, #NothingToLose itu semacem kita ga pnya tuntutan sama Allah. Ya terserah Allah aja ngasihnya gmn.
  4. Beda sama sbelumnya, kalo ada ujian apa2, di lisan sih pasrah, tapi hati masi ‘ingin’ Allah ngasih begini begitu.
  5. Tp bkn lantas gpnya harapan sma Allah. Hanya aja, saat kita ngrasa pasrah, kita g perlu menuntut lg mauny kita. Ikhlasin utk smw kemungkinan
  6. Ya gitu. Akhirnya saya belajar tentang #NothingToLose. Oo, ternyata gtu ya rasanya.. 🙂
  7. Spt waktu taun 2010 ikut SNMPTN. Perihal ujian, saya #NothingToLose. Ga dapet jg ga papa. Saya udah cinta kok sama farmasi UI.
  8. Tapi, soal pilihan, saya ga #NothingToLose bgt. Masi pgn bgt2 di fkui. Pasrah ga dpt snmptn, tp mikirnya apa? “smoga klo dpt, dpt fkui”
  9. Akhirnya saya dpt ke-#NothingToLose-an itu. Saya lulus snmptn, tp bkn di fkui. Di fk unpad. Krn buah ketidak-NothingToLose-an saya.
  10. Saya dpt formula pada hidup saya. Bahwa saat kita tidak menuntut (scara keinginan, dan agak maksa) sesuatu akan lbh mudah dapet.
  11. Punya keinginan, dkejar itu wajib. Hanya saja, hati hrs tertata utk membedakn mana harap mana nuntut. Itu beda. Qolbu kita pasti bsa bedain.
  12. So, saat terjadi kgagalan, yg dikoreksi bkn cma usaha, tp jg penataan hati. Jgn2 hati kita tlalu nuntut pd Allah. Pdhl Allah tau yg terbaik.

 

Beda Rumus

Menikah dan belum menikah itu beda rumus. Rumus single adalah logika diikuti rasa. Setelah menikah, logikalah yang mengalah untuk mengikuti rasa. Karena logika tunduk pada rasa di bawah ikatan sah. #sikap #prinsip

-versi gue, dan mungkin hanya gue yang berpikir seperti ini-

Komunikasi

Sepertinya, dari jaman batu sampai teknologi makin canggih dengan banyak aplikasi seperti whatsapp, line, skype, akar masalah manusia berkutat di situ-situ saja. Komunikasi. Yg membuat masalah pribadi, organisasi, hingga masalah rumah tangga mencuat, ternyata masalah utamanya kadang cuma soal komunikasi. Kasus tentang dokter dan rumah sakit yang kini jadi sorotan media atau kasus ‘malpraktik’ lainnya, ya sesungguhnya masalahnya adalah di komunikasi. Dokter ga pandai menyampaikan inform consent yang merupakan bagian dari komunikasi antara dokter dan pasien.

Komunikasi adalah bagian dari kita mentransfer apa yang kita pikirkan. Cobalah komunikasikan apa yg kita pikirkan jika kita menginginkan seseorang atau lebih mengerti dan paham apa yang kita pikirkan dan inginkan. Karena kebanyakan kita bukanlah cenayang bisa membaca pikiran manusia lain. Atau kita bukanlah Habibie dan Ainun yang bisa berkontak hanya dengan saling tatap. Lagipun, komunikasi bukan hanya dilakukan antara kita dengan pasangan sehingga tatap-menatap bukanlah hal yang boleh dilakukan kalo ga sesuai hukumnya.

Sebegitu ribetnyakah komunikasi? Sesungguhnya sih ga. Hanya saja si pelakunya yg bikin jadi ribet atau bisa juga terlalu underestimate. Komunikasi pun punya dua mata pedang. Di satu sisi, bisa bikin miskom di sisi lain bisa jadi fitnah.

Satu prinsip komunikasi, yang juga diajarkan Islam, adalah seperlunya. Tidak berlebih dan tidak kesedikitan. Karena yang berlebih dan terlalu sedikit, akan berefek tidak baik. Terlalu sedikit tak jarang menimbulkan miskom, yang berlebih memunculkan virus-virus yang tak terdeteksi di mikroskop elektron sekalipun. Maka, berkomunikasilah seperlunya, sebutuhnya. Jelaskan dengan baik tanpa harus menimbulkan efek-efek yang tidak diinginkan.

Gue

Sering mbak masulah bilang saya orang yang simple. Tapi, tak jarang orang mengatakan saya rumit. Setelah mengelompokkan orang yang mengatakan simple ataukah rumitnya saya, dapat saya tarik garis kesimpulan. Bahwa, saya orang yang simple dalam tataran teknis dan logika. Sedangkan soal rasa, apapun yang melibatkan rasa, saya (terlampau) rumit.
Jika tak ada izin logika di dalam rasa, maka saya bisa berubah menjadi makhluk superrumit. Tetapi, jika tak ada rasa dalam logika, saya bisa go ahead sambil terus mencari rasa di sepanjang perjalanan. Nyatanya hampir yang saya jalankan adalah tanpa rasa suka, namun masuk logika saya, dan pencarian rasa itu, alhamdulillah, selalu berjumpa, meski kadang di akhir. bagi saya, rasa itu tak pernah cukup berdiri sendiri, sedangkan logika masih bisa, tapi untuk diawal saja. Di akhir, mesti banget logika dan rasa akhirnya menyatu. Rumit kan?? Karena kita bicara rasa, jadi akan keluar kerumitan saya. 😀