Yang tak pernah Terungkap

Jika selama ini rutinitas pulang setiap bulan adalah meluncurkan cerita pada sahabat, maka rutinitas itu menghilang. Bukan karena itu saya pulang. Karena ada alasan lain. Pun bukan alasan karena merindu keluarga. Tak sama sekali merindu keluarga.. (terdengar kejam)

Namun, kemudian, setelah hampir satu setengah bulan belakangan mendekam di Jatinangor, saya yang membatalkan kepulangan minggu ini karena satu dan lain hal, akhirnya merasakan juga kerinduan pada keluarga itu. Mungkin dahulu sebenarnya, rindu itu tertutupi oleh keinginan dan semangat bercerita pada sahabat yang jauh lebih besar.

Tiba-tiba rasanya menyeruak saat pesan dari ayah saya muncul di layar handphone, “neng, pulang jam berapa?”. Paginya juga ibu saya telepon menanyakan hal serupa.

Aahh, inilah anehnya keluarga saya. Saya pernah mengatakan kepada seorang teman bahwa keluarga saya aneh, unik lebih tepatnya. Dimanakah letak keunikannya? Kami tak pernah mengatakan apa yang sesungguhnya kami rasa, tapi makna bahasa yang kami gunakan adalah menyatakan rasa cinta. Kau tak mengerti?

Begini kawan. Saya lupa kapan terakhir kalinya ayah ibu saya mengatakan “Mama (atau Papa) sayang sama Farah..”, atau ucapan serupa kepada kedua kakak saya. Rasanya, saya ga pernah mendengar kalimat itu, saking lamanya mungkin. Tapi, saya sungguh tahu mereka menyayangi saya. Sama halnya saat ayah ibu saya menanyakan kapan kepulangan saya ke Bekasi. Saya tahu, mereka rindu anak bungsunya pulang, tapi mereka tak pernah mengatakan kangen  saya. Pun begitu dengan saya, saya tak pernah berani mengatakan saya rindu ayah ibu saya. Kami, menggunakan bahasa implisit untuk mengungkapkannya.

Ada lagi ceritanya. Sebelum UTS, ada libur longweekend yang saya putuskan tidak pulang untuk belajar. Entah kenapa, saat itu saya ingin ketemu ibu saya untuk mendapat semangat belajar. Akhirnya saya minta ibu saya datang ke Nangor, tak saya katakan bahwa saya ingin dapat semangat darinya. Saya tak memberikan alasan khusus kenapa menyuruh ibu saya datang ke sini. Mengapa? Karena saya tak pernah ingin benar-benar ketahuan membutuhkan semangat darinya, ibu yang sangat mencintai saya.

Begitu pula antara saya dengan kedua kakak-kakak saya. Dan antara mereka dengan ayah ibu saya. Tapi, saya tahu (betul) bahwa kami berlima saling mencinta dan menyayangi yang tertumbuh atas ikatan darah. Hanya saja, rasa itu tak pernah bebar-benar kami ungkap.

Begitulah cara kami mencinta. Unik memang. Mungkin ada juga kekurangannya. Membuat saya sempat ‘diprotes’ karena sulit sekali perhatian.  Padahal, sesungguhnya, lebih tepatnya, saya tak benar-benar pandai mengungkap rasa.

Akhirnya, saya benar-benar meresapi perkataan Ust. Anis Matta dalam buku Serial Cintanya. Bahwa “cinta adalah pekerjaan. ia merupakan kata kerja.”. Ya, cinta adalah bekerja aktif. Bukan hanya sekadar perkataan “saya cinta kamu”. Keluarga saya mengajarkan, pekerjaan cinta lebih terasa daripada sekadar mengucap cinta. Toh, tanpa mengucap, cinta itupun terasa dengan segala keunikannya. Meski sesekali mengucapnya juga penting.

Simpelnya,

Jangan pernah katakan cinta, jika kau tak bisa membuktikannya.

Advertisements

Bunda Menginspirasi

Wanita adalah tiang negara

.
Yah, begitulah sebuah pepatah mengatakan. Pantas memang. Karena dari rahim wanitalah terlahir sesosok Hasan Al-Banna, Muhammad Mursi, M. Natsir, Recep Tayeb Erdogan, dan deretan nama lainnya yang tidak hanya berkuasa, tetapi juga memiliki keimanan luar biasa yang mendampingi kekuasaannya. Hingga makna kuasa bagi mereka akan berbeda dengan para bedebah di negeri ini.

Lantas, wanita seperti apa yang dikatakan tiang negara? Semua wanitakah? Atau hanya sebagiannya saja? Silakan Anda jawab sendiri.

Menurut ilmu kekinian dan kedisinian, ada dua wanita yang sangat menginspirasi hidup saya. Siapakah mereka? Seorang ibu yang hebat dan seorang istri yang hebat.

Di postingan beberapa waktu lalu, saya pernah memparkan sesosok bunda Yoyoh Yusroh menginspirasi saya dalam hal mendidik anak. Kini, ada wanita baru dalam lembaran cerita orang-orang yang menginspirasi saya selain bunda Yoyoh, beliau adalah Netty Prasetyanti Heryawan. Mengapa?

Karena orasi beliau yang sangat terkenal di lapangan Gasibu yang tak saya dengar yang kemudian beliau ucapkan di sebuah kesempatan luar biasa. Yang dengannya, ibu Netty membuat saya tercenung. Apa yang beliau katakan?

Saya waqafkan suami saya untuk umat.

Mengharukan sekali kalimat simpel tersebut. Membuat bergidik siapapun yang ingin menjadi atau menginginkan wanita solihah. Begitulah semestinya seorang wanita berkata. Bukan malah mengahalang-halangi suaminya dalam dakwah. Saat itu, juga, airmata saya meleleh sambil berdoa “Allah, izinkanlah suatu saat nanti saya dapat mengucapkan hal serupa. Izinkanlah saya menjadi tiang negara.”.

Begitulah setiap wanita dapat menginspirasi dengan caranya masing-masing. Maka, dengan cara apakah kita dapat menginspiasi dunia?

Sehatkan Makananmu..

Pasti dulu sering bertanya-bertanya, kenapa koki banyakan laki-laki? Padahal masak itu identik dengan perempuan. Mungkin ini yang dinamakan emansipasi lelaki *naon eta*. Yah, diluar laki-laki atau perempuan, memasak itu sudah tidak bisa dikaitkan dengan gender. Kalaupun masih dikaitkan, itu hanya pembagian tugas dalam rumah tangga bahwa si ibu tugasnya memasak. Ah, dewasa ini pun banyak ibu-ibu yang ga masak, karena punya pembantu misalnya.

Bicara soal masak-memasak, dahulu saya merupakan perempuan anti masak. Kalopun masak, ya paling ga jauh-jauh dari intel alias indomie telor. But, siapa sangka, akhirnya saya keranjingan masak juga. Subhanallah. Akhirnya, saya merasakan juga sensasi masak sendiri dan nikmatnya makan masakan sendiri, meski belum expert dan rasa masih aneh, tapi menurut saya itu enak lah.. *haha narsis*

Bagi saya, memasak seperti sesuatu yang menjadi penting. Why? Kan mahasiswa ga sempet masak, makanan di warung juga banyak. Sabar, sabar, jadi begini saudara-saudara sebangsa dan setanah air, di triwulan terakhir tahun 2012 sekitar bulan September atau Oktober, saya sedang memasuki sistem Cardiovascular System atau akrab disapa CVS. Salah satu kasusnya, ada aterosklerosis dimana salah satu faktor resikonya adalah karena kebanyakan asupan kolesterol. Dan perlu diketahui, makanan yang kita konsumsi, terlebih makanan luar rumah itu ga paham lagi sama minyaknya yang super-duper item. Jangankan minyak item, makanan yang digoreng dengan minyak yang masih cling-cling pun jatuhnya mengandung kolesterol yang cukup banyak. Belum lagi kalau kita makan telur. Kuning telur itu menempati peringkat tertinggi loh kadar kolesterolnya. Padahal tubuh kita juga sudah mensinesis kolesterol.

Jadi, bisa dibayangkan yah, kalau sehari kita makan tiga kali dimana semua lauk-pauknya digoreng, berapa banyak kelebihan asupan kolesterol kita. Dan kolesterol itu lama dimetabolismenya. kalau kebanyakan ia bisa ‘mengendap’ dan dapat menjadi oklusi di pembuluh darah. Jangan main-main sama penyakit kardiovaskuler. Penyebab kematian tingkat tinggi. Itu kenapa Islam meyuruh kita untuk makan makanan yang tidak hanya halal, tapi juga baik. Baik untuk kesehatan maksudnya.

Nah, kalau kita terbiasa membeli makanan di luar seperti mahasiswa, pasti pilihannya itu-itu saja. Yang parahnya, sayur itu bukan pilihan untuk dikonsumsi sehari-hari. Padahal, sayuran itu banyak banget manfaatnya. Salah satunya, membawa kolesterol keluar tubuh, karena kolesterol butuh waktu yang lama untuk keluar dari tubuh, sedangkan sangat mungkin tiap hari kita mengonsumsi kolesterol. Apalagi, kadang mahasiswa ngiritnya suka ga ketulungan, ga mau beli buah karena memang buah-buahan harganya mahal. Yahh, masgay sih. Masing-masing gaya (hidup).

Saya jadi selalu ingat pesan ibu saya di ujung telepon, “makan yang banyak, jangan lupa makan sayur dan buah. Beli aja. Ga papa mahal juga. Nanti uangnya diganti.” Ada yang perlu dikoreksi sih, bahwa, makan juga jangan kebanyakan. Obesitas itu merupakan faktor resiko banyak penyakit. Jadi, makanlah secukupnya. Tiga kali sehari. Sisanya makan buah.

Akhirnya, karena alasan kesehatanlah, saya berusaha untuk menjalani healthy lifestyle. Ga lebay sih, ga sampe jadi vegan, ga ampe stop makan gorengan, tetapi setidaknya, saya mengupayakan untuk mengonsumsi buah dan sayur setiap hari. Walau kadang sering lupa kalau belum makan buah. Dan, berhubung saya tidak terlalu suka membeli sayur matang di warteg atau warung makan, yah, saya memutuskan untuk memasak sendiri sayurnya. Dan, hasilnya ga memuakkan kok. Hehe..

Dan ternyata belanja sayuran di pasar tradisional itu sesuatu lohh, sensasinya luar biasa. Jika selama ini saya ke pasar tradisional membeli sayur untuk ibu tercinta, kemarin, saya belanja sayur atas nama Farah.

Oiya, jangan lupa untuk menyeimbangkan dengan olahraga. Yah, teman-teman semua tahulah manfaat olahraga. Salah satunya, olahraga adalah cara yang bagus untuk menghindari penyakit semisal jantung karena makanan-makanan akan lebih cepat dimetabolisme. So, olahraga menjadi salah satu cara untuk membuang kolesterol yang tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh.

Salam Sehat :’)