Konro Time

Sore itu, anak-anak D1 GUS bergegas mewujudkan rencana jalan-jalan tutorial ke Bandung. Nonton di Movie Room dan botram alias makan bareng. It was culinary time. Dan dipilihlah tempat makan Sop Konro samping Circle K di jl. R.E.Martadinata.

Ini pertama kalinya saya makan sop konro yang dari dulu banget saya pengen cobain. Konro bakar yang dipesen oleh 10 manusia D1 GUS ini porsinya besar dan tersedia terpisah dari kuahnya. Kuah itemnya yang saya idam-idamkan dari lama, akhirnya bisa diicip juga. Ternyata rasanya begini, ga terlalu special sih..

image

Dagingnya emang gede banget gtu. Ga heran emang kalo harganya juga gede. Konronya aja seharga 46.500. Plus nasi dan es jeruk bisa nguras kantong senilai 60.500. Ehm.. satu kali makan tuh. Emang jadi mahal banget sih jatuhnya. Yah, tapi sekali-kali ga papalah.. Kan jalan bareng kelompok tutorial juga jarang-jarang..

Setelah itu lanjut nonton film horror barat yang jatuhnya adalah pembunuhan-pembunuhan ketimbang memperlihatkan hantunya. SINISTER. Bener-bener film yang bikin adrenalin memuncak karena triak-teriak dan pake adegan ga mau menghadap ke screen sambil berpelukan ama Elisa. Tenyata saya cupu juga. Walaupun ga secupu Ridho yang sepanjang nonton, nutupin muka pake bantal sampe doi sendiri bilang, “Aduh gue cupu banget nih. Muka preman, hati warna pink”. Hahahaa.. gue aja ga nyangka punya temen cowok yang takut nonton film horor atau thriler.

Makasih D1 GUS, yg lebih banyak laki-laki daripada perempuannya. šŸ™‚ (Ridho, Adi, Sheilla, Elisa, Mega, Qadri, Ade, Fauzi, Aang, Rangga)

Advertisements

Muslimah: “Perempuan-perempuan Istimewa” (Peran Perempuan dalam Perspektif Islam)

Catatan Pengembara

Ada cerita, para perempuan yang memilih jalannya untukĀ pureĀ menjadi istri dan ibu setelah mereka menikah.

Ada cerita, para perempuan yang memilih berprofesi setinggi-tingginya sehingga mengabaikan peran menjadi istri dan ibu, bahkan menolak untuk menikah. Padahal menikah adalah sunnah Rasulullah (sunnah itu artinya keteladanan dari Rasulullah yang harus kita upayakan untuk juga kita jalankan dalam kehidupan kita).

Ada cerita, para perempuan yang memilih untuk menekuni bidang keilmuannya dengan tetap berupaya sebaik-baiknya menjadi istri dan ibu.

Perempuan-perempuan yang Allah beri kesempatan untuk menuntut ilmu dengan leluasa maupun penuh pengorbanan, sepatutnya bersyukur.. Kenikmatan yang belum bisa sepenuhnya diperoleh perempuan-perempuan lainnya.

Selanjutnya, pilihan-pilihan tadi, memang menjadi salah satu pilihan besar setelah seorang perempuan menemukan pendamping hidupnya, kemudian menyambut pangeran dan putri kecil yang terlahir dari rahimnya.

Alangkah penting untuk mempertimbangkanĀ pilihan besarĀ tersebut dengan bijak. Bukan hanya rasio, tapi juga hati. Bukan hanya asumsi, tapi juga ilmu. Bukan hanya pertimbangan pribadi, tapi jugaā€¦

View original post 515 more words

Orang Tua dan Anaknya

Melalui kultwit ust. Felix Siauw tentang mendidik dan mengasuh anak, saya diajak banyak berpikir. Benar adanya, bahwa Islam yang anak dapat dari orang tuanya sedari kecil tak menjamin masa dewasanya akan sama dengan masa kecilnya. Ia akan lebih banyak berinteraksi dengan teman ketimbang orang tua. Lihat saja, pada diri kita mungkin, yang lebih senang bercerita pada teman daripada orangtua. Entah apa kendalanya.

Setiap yang menikah tentu berharap memiliki anak, sedang anak adalah titipan Allah. Artinya, saat Allah menitipkan manusia tambahan sebagai pelengkap dari dua manusia yang bersatu, di saat itulah dua manusia itu harus menjaga dan memastikan kehidupan dunia akhiratnya. Sesungguhnya, itu menandakan bahwa tugas orang tua teramatlah berat. Dan fenomena yang sering terjadi adalah orang tua lebih menitikberatkan kehidupan dunia si anak ketimbang akhiratnya.

Anak lebih banyak diberikan waktu untuk mengejar sisi akademisnya, tapi lupa diajarkan solat dan mengaji. Anak dipacu untuk berprestasi di sekolah, tetapi tidak mengenal siapa Tuhannya. Anak harus kuliah di tempat yang bagus dan mendapat pekerjaan yang baik, tapi lupa mengingatkan sisi agamis saat dewasa. Lalu, jika si anak melakukan dosa, salah siapa? Orangtua yang tak mengajarkan atau anak yang tidak berusaha mencari di masa dewasanya? Teringat fenomena yang nantinya terjadi di masa-masa penentuan surga nerakanya manusia. (Yang katanya) orang tua dan anak saling menyalahkan. Wallahu’alam.

Akan tetapi, di luar itu, bagaimana pun juga, orangtua wajib memastikan anaknya memahami Islam secara holistik. Bukan hanya sewaktu kecil, bukan hanya soal ibadah. Bahkan menurut saya, belum tuntas pekerjaan orang tua terhadap anaknya sebelum anaknya menikah. Memastikan bahwa lingkungan remaja dan dewasa anak merupakan tugas orangtua. Dan terkadang orangtua sering lupa memperhatikan aspek-aspek kecil saat anak beranjak dewasa. Ya, saat riak-riak kecil rasa bertumbuh di hati sang anak. Hal yang sepele tapi sesungguhnya memiliki dampak luar biasa pada kehidupan si anak dan atau orang di sekitarnya. Sehingga, ada kewajiban orang tua di sana. Entah itu menasihati, mengingatkan, dan bentuk apapun yang membuat anak paham tentang bagaimana Islam mengatur itu semua.
Sesungguhnya, ada tiga fenomena kehidupan keluarga. Satu, orang tuanya baik, anaknya juga baik. Dua, orang tuanya baik, anaknya aneh (kurang/tidak baik). Tiga, orang tuanya aneh, anaknya baik. Termasuk yang manakah keluarga kamu? Hehe…

Yah, apapun kondisinya, semua bersifat multifaktorial. Hidayah hanya Allah yang punya dan berhak memberikan. Jd, bukan sepenuhnya salah orang tua karena anak pun diberi kesempatan mencari hidayah dan ilmu sebanyak-banyaknya. Setiap manusia punya kesempatan untuk menjadi baik. Jika keluarga kita sekarang bukan masuk ke dalam poin satu, maka tugas kita untuk menjadikannya lebih baik. Dan berjanji, keluarga baru kita nanti harus jadi poin nomer satu. Bercita-citalah sekeluarga mendapat ridho dan surga Allah.

Menjadi orang tua adalah pertanggungjawaban dunia akhirat. Maka, tidak heran jika nanti, setelah hari Kiamat, orang tua dan anak saling menyalahkan tentang dosa mereka. Memiliki anak, tak cukup hanya dipandang sbagai siklus kehidupan yang berulang bak lingkaran setan tak berujung. Memiliki anak bukan perkara menikah kemudian sang istri melahirkan dan si ayah memutar otak mencari nafkah tambahan. Bukan, bukan soal itu. Percayalah, kesolihan anak tak bisa dibeli dengan uang. Maka, sebelum si janin itu lahir, sebelum ia belum direncanakan, adalah haknya mendapatkan orangtua yang baik. Bagaimana caranya? Dengan senantiasa memperbaiki diri untuk kelak menjadi orang tua yang baik demi anak yang solih yang lahir dari mani/rahim kita.

Semoga Allah, perkenankan kita menjadi orang tua yang melahirkan generasi robbani. Allahu Akbar.

BEM Unpad 2013 “PROTAGONIS”

image

Keluarga saya. Yang mengajarkan tentang apa itu bergerak dan menggerakkan. Yang memberi hikmah dengan cara yang berbeda. Unik dengan caranya sendiri. Lewat pressurenya, kerasnya, cairnya, dan keberagaman pemikiran, serta #SalamSatuUnpad-nya.

Dari kiri ke kanan:

Bawah : Ela (Sekretaris Kabinet), Farah (Menteri Kajian Strategis), Widya (Menteri Pendidikan Keilmuan) ,Ā  Tika (Menteri Pengabdian Kepada Masyarakat) , Sarah (Menteri Media Informasi), Mutya (Kabir Sumber Daya Mahasiswa Kabinet), Mawaddah (Kabir Keuangan), Lisya (Menteri Apresiasi dan Pelayanan Mshasiswa)

Tengah : Azis (Menteri Akademi Profesi), Zunarto (Menko Kesejahteraan Mahasiswa dan Sosial), Wildan (Presiden BEM), Suci (Kabir Administrasi dan Rumah Tangga), Rendi (Wapres BEM), Jhovy (Kabir Bandung), Dimas (Menteri Pengembangan Sumber Daya Manusia Organisasi)

Atas : Hadiyan (Menteri Hubungan Eksternal), Nizar (Menteri Kewirausahaan), Ikey (Menteri Minat Bakat) Tyo (Menteri Lingkungan), Dadieh (Menteri Hubungan Internal), Ridwan (Menko Pengembangan Potensi Mahasiswa), Agil (Menko Komunikasi dan Kebijakan Publik)

Malam itu..

Saat tersadar kembali, bahwa hikmah adalah segala. Orang terbaik adalah yang bisa memberikan hikmah kemudian kita menjadi baik karena hikmah tersebut.

Merindukan orang yang bisa memberikan hikmah tentang Islam dan cinta pada Rabb semesta alam yang kemudian membuat derivatnya, untuk saya. šŸ™‚

Orasi

Tepat seminggu, setelah sekian lama hiruk pikuk Jakarta dalam bising mobil sound tak pernah saya dengar. Pertama dan terakhir kalinya melingkarkan lengan membentuk border di pelataran gedung DPR mengenakan jas kuning. Memori Oktober beberapa tahun silam yang tak pernah saya lupa.

Ya, tepat seminggu, kembalinya saya melingkarkan lengan di terik panas Jakarta. Bukan di depan gedung kura-kura hijau, melainkan di halaman gedung Kemendikbud. Ah, ya sudahlah, dimana pun itu yang penting untuk rakyat.

Sebelum sampai di gedung bertingkat entah berapa lantai itu dengan jas almamater biru dongker (bukan kuning), penawaran orasi di dalam bis terjadi. Saya masih ragu untuk orasi, meski hanya di dalam bis dan di depan dua pulahan mahasiswa berjas biru dongker. Saat itu, saya memikirkan quote, ilustrasi, cerita, atau intermezo apa yang bagus untuk mengawali orasi.

Ahh, terlalu lama berpikir, waktu orasi di dalam kotak panjang berjalan itupun habis. Lagipun, saya masih belum jago soal orasi. Meski, terbiasa bebicara di depan umum, tetapi bagi saya orasi memiliki keunikan tersendiri. Tak seperti memberi materi atau presentasi, orasi memiliki penekanan-penekanan tertentu yang belum pernah saya lakukan. Dan orasi tak bisa dilakukan dengan kalimat-kalimat asal sekeluarnya. Orasi seringkali spontanitas, akan tetapi penjagaan bahasa sangat penting. Dan titik berat orasi adalah bagaimana membawa opini untuk diterima pendengar. Itulah sisi menantangnya.

Yah, di luar bagaimana itu orasi, saya banyak mendapat sebuah awalan cerita yang menjadi inspirasi dari beberapa orator dadakan dalam bus. Contohnya..

KH. Ahmad Dahlan pernah berkata saat mendirikan ormas yang besar hingga kini, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, dan carilah kehidupan di Muhammadiyah”. Dan yang dilakukan oleh tikus-tikus nakal pendidikan adalah “Hidup-hidupilah Pendidikan dan carilah kehidupan di pendidikan.” Janganlah Pak, pendidikan bukan ladang uang untuk hidup. Intinya janganlah kita (terutama para pejabat itu) hidup hanya untuk mengisi perut dan mempertebal dompet.

Kedua, orasi dimulai dengan prolog bahwa kehidupan kita ada empat fase, yaitu fase sekolah, fase kampus, fase kerja, dan fase keluarga. Fase sekolah, kita hanya tau belajar dan bermain (walaupun gw ga sepakat, waktu SMA gw ga cma main dan belajar lohh). Fase kerja kita dituntut bekerja menguras energi mengumpulkan uang. Fase keluarga yang dipikirkan adalah bagaimana kita menafkahi keluarga, membahagiakan anak istri. Maka, fase kuliahlah fase dimana kita tak hanya memikirkan diri sendiri. Fase dimana idealisme begitu kuat, fase mendewasa, fase pembentukan karakter.

Begitulah, kedua orasi itu menginspirasi saya tentang pemaknaan hidup. Sungguh, bukanlah kita pemilik hidup diri kita. Maka, berikanlah setengah jiwa dan raga itu untuk yang berhak (Allah, umat, dan negara)..

Cinta itu Allah

Allah, padaNya segala apa yang tak pernah kumiliki.
Allah, meski sering skenarioku tak bersua dengan jalan ceritaMu, aku selalu bersyukur masih mampu menapaki jalan ini dan senantiasa berhusnudzon padaMu. Tak lantas aku mengatakan “sungguh ini tak adil”.
Allah, aku bahagia, telah kau ciptakan dengan jelas mana itu haram dan halal dalam batinku. Hingga aku masih mampu meminta fatwa pada hati yang senantiasa Kau menggenggamnya. Semoga Engkau senantiasa menjaga diri ini dari bentuk maksiat yang paling halus sekalipun.
Allah, terimakasih untuk nikmat hidayah yang mungkin akan sangat hina diri ini tanpa anugerah indah dariMu itu.
Allah, terimakasih, telah meletakkan dunia di tanganku, bukan di hatiku. Aku seringkali khawatir racun dunia merusak hati ini.
Allah, terimakasih telah menjaga hati ini, meski kadang aku bandel untuk bermain-main dengan hati.
Allah, aku tak tahu bagaimana menggambar cinta itu untukMu.

Allah, adakah yang patut lebih kita cintai dariNya?