Boneka Pindy

Bermula dari keisengan kakak perempuan saya yang ngechat via kakao talk. Agak norak gtu deh dia.. hahaha…
Di tengah percakapan, saya teringet seorang teman yang baru saja milad dan dikasih hadiah oleh mentee-menteenya berupa bantal lucu bergambar… saya lupa. Kemudian, tetiba saya minta dibeliin kado (pake emot) oleh kakak saya karena saya jarang dikasih kado *menyedihkan*. Dan dia kembali mengirimkan emot kado itu lagi.

Lantas, saya bilang padanya, “kado beneran..”
“Kado apa?”
“Bonekaaa..”, layaknya anak kecil yang merengek. Tapi, saya ga sampai merengek sih.
“Boneka apa? Boneka pindy?”
“Hahahaa.. jadi inget waktu bocil. Itu siapa yg ngasih nama pindy ya? Mau boneka beruang.”

Jadi, boneka pindy adalah sebuah boneka beruang kecil berwarna coklat yang saya miliki saat saya berusia 1-2 tahun. Saya tak ingat persis. Yang saya ingat pula, boneka itu merupakan pemberian dari tante saya. Nah, si boneka ini dikasih nama Pindy. Hemm, saya juga lupa siapa yang kasih nama.

Lama saya berteman dengan pindy. Saya sangat sayang pada Pindy. Itu satu-satunya boneka yang saya miliki saat itu. Hingga saya SD, baru kemudian saya punya boneka baru. Boneka kelinci berwarna biru yang ukurannya lebih besar dari Pindy yang saya beri nama Pinky. Padahal warnanya biru, tapi namanya Pinky *Nay..–“*. Karena saat itu, si Pinky ingin saya jadikan kakaknya Pindy. Makanya, saya kasih nama depannya sama walaupun agak maksa.

Saya jadi teringat masa kecil saat bermain bersama boneka beruang dan kelinci milik saya. Saya jadi teringat pada kakak saya, semasa saya kecil. Apa ya yang mereka (keluarga inti saya) pikirkan tentang bocah paling muda di rumah dengan bonekanya? Masa kecil yang tak banyak saya rekam jejaknya.

Jadilah, saya bermain bersama Pindy dan Pinky dimana mereka adalah kakak beradik dan dalam kisah itu, saya berperan sebagai ibunya mereka. Saya sangat menikmati bermain bersama mereka kala itu.

Akan tetapi, saya lupa tepatnya kapan, boneka-boneka itu menghilang seperti ditelan bumi. Mungkin saat saya masuk SMP. Benar-benar hilang tanpa jejak sehingga mulai saat itu, saya tak punya lagi sebuah benda bernama boneka.

Ya, hingga sekarang, semenjak kehilangan mereka saya tak pernah berusaha mencari pengganti mereka *eeaaa*. Saat merasa (sok) dewasa pun, saya merasa tak butuh barang bernama boneka karena dirasa memiliki mereka seperti anak kecil. Tapi, entah kenapa, akhir-akhir ini saya ingin sekali punya boneka yang saya ga mau beli sendiri. Berasa agak worthless kalo beli boneka sendiri karena merasa tingkat kebutuhannya rendah. Dan kini, layaknya anak kecil, saya menanti ada yang memberikan saya boneka beruang. *Ngarep, pake banget* Hahahhaaa.. 😀

Advertisements

Quote of the Day

Hak seorang anak jauh sebelum ia dilahirkan adalah ibu yang tertarbiyah

Akan lebih baik jika ayahnya juga tertarbiyah. Semoga Allah izinkan anak saya mendapatkan haknya.. 🙂

Mahasiswa : Antara Intelektual dan Nurani

Sore itu, dalam diskusi meja lonjong saya diminta memberikan semacem materi diskusi terkait pergerakan mahasiswa. Menariknya, peserta diskusi bukan dari kalangan mahasiswa, tapi bapak-bapak dan ibu-ibu. Nah lho. Ya, diskusi rutin di InDeMo (Indonesia Democracy Monitoring) asuhan Pak Hariman Siregar diadakan tiap rabu di bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Saya yang datang untuk meminta informasi dan data terkait kenaikan BBM, malah disuruh berbicara di hadapan peserta diskusi. Kaget juga dan agak meragu sambil membatin, “mau ngomong apa gue?”. Ya sudahlah sekeluarnya saja berbicara apa. Dan lagi-lagi pertanyaan serupa yang entah si bapak-bapak ini orang ke berapa yang nanyain, “Kok bisa anak kedokteran jadi menteri pergerakan di universitasnya?”. “Ya, bisa-bisa aja Pak..” jawab saya dalam hati.

Tak lama, diskusi inipun ‘berakhir’ setelah kedatangan Pak Hariman Siregar sambil menjinjing tas kerjanya dan mengambil posisi duduk di sebelah saya. diskusi BBM pun berjalan. Hingga kemudian satu pertanyaan terlontar dari beliau untuk saya,

“Lo ke sini mau ngapain?” dengan gaya supersantai. Kaget juga saya dikasih pertanyaan begitu.
“mau minta data dan informasi terkait kenaikan BBM, Pak”
“emangnya jawab pake hati nurani aja ga cukup ya?”
“em…um…em..um..”, saya kebingungan broo sambil mengajak otak saya berunding karena saya diserang dengan pertanyaan terkait nurani. Sebenernya saya diem aja, gak pake gelagapan em um em um gtu.

“itulah bedanya jaman saya dan kalian. Saya bergerak cukup dengan nurani. Kalian direpotin dengan teori-teori. Untuk BBM, jawabannya adalah di nurani kalian. Nanti, kalian pulang ke Bandung, dapetin itu jawabannya. Kalo memang mau naikin ya sudah, ga usah dipaksa-paksain. Rakyat kecil sengsara. Ga cukup itu dijadikan alasan?”

Sesaat, saya seperti terpelanting. Kemudian mencoba mencerna dengan baik meski pikiran saya berkecamuk. Saya berusaha mengeneralkan posisi sebagai mahasiswa untuk kemudian memberikan tanggapan pada apa yang diucapkan Pak Hariman.
Kami kan mahasiswa, yang katanya makhluk intelek, masa soal negara hanya melihat dan merasa dari rakyat kecil?

Iya, itu juga poin, tapi salahkah, jika kami ingin menelisiknya dari banyak sisi?
Teringat kutipan dari rekan seperjuangan di bem, katanya, “Kita itu harus berpikir birokrat, gerakan rakyat.”

Sepakat. Saya sepakat akan hal itu.

Kami hanya ingin menggunakan intelektual kami untuk mencari pandangan lain tanpa mematikan nurani, Pak. Kami tahu, sedalam apapun kami memposisikan diri sebagai pemerintah dan ekonom, kami tak secepat itu mengaminkan apa kata pemerintah. Toh, kami ada dan berjuang memang untuk rakyat kecil. Kami tahu itu. sangat tahu.

Intelektual dan Nurani adalah landasan bergerak mahasiswa. Ada saat kita tak perlu memilih satu di antara keduanya, ada saat intelektual dan nurani harus dipilih mana yang lebih dominan. Ya, contohnya dalam menyikapi kasus BBM ini. Dua tokoh yang saya kunjungi dalam hari bersamaan melihatnya dari perspektif berbeda dengan dua sikap berbeda.

Pak Marwan Batubara yang berlatar belakang pendidikan Fakultas Teknik UI yang menyuarakan dukungannya terkait kenaikan BBM dengan berbagai tuntutan kepada pemerintah melihat dari sisi intelektualnya. Ia menilai kenaikan BBM dianggap perlu dipandang dari ekonomi, tepatnya soal inflasi. Lain Pak Marwan, lain Pak Hariman Siregar. Beliau yang terkenal karena ‘aksi’nya di Tragedi Malari (15 Januari) dengan gambling menyatakan menolak kenaikan BBM. Seperti sudah saya bahas di awal, alasannya simple, karena rakyat akan sengsara dengan kenaikan BBM.

Dari kedua alasan ini, kemudian, saya sebagai mahasiswa dan salah satu penentu sikap kelembagaan universitas, mencoba mengolaborasikan pandangan keduanya hingga menjadi satu sikap. Tak mudah memang. Tapi, beginilah mahasiswa. Intelektual dan Nurani, sesungguhnya tak pernah terpisah..

Mana Lucunya?

Saya ingin sekali menulis kisah lucu dalam deretan tulisan di blog ini. Tapi, ga tau kisah lucu yang mana. Masa iya sih, di umur segini ga punya kisah lucu satu pun semasa hidup? Ada sih, tapi saya lupa nyimpen dimana. Saya mencoba mengobrak-abrik isi kepala saya perihal memori-memori lucu. Kok ga nemu-nemu juga ya?

Oh, No! Sebegitu menyedihkannyakah hidup saya hingga kisah lucu pun tak ada.? Hmmm, bukan tak ada, tak ketemu. Saking jarangnya dan ketumpuk pula di atas gundukan cerita serius dan menyedihkan. Sebegitu seriusnyakah hidup saya? Hingga menumpahkan cerita diri yang dianggap lucu pun luput dalam ingatan.

Mungkin, mulai besok saya harus segera merekam kisah lucu apapun dalam hidup saya agar hidup ini tak selalu dipandang sebagai sesuatu yang kompleks. Life is so simple, isn’t it? >> *sedang menghibur diri*

Status

Bukan “kawin”, “belum kawin”, atau “in a relationship“. Bukan juga “kaya”, “menengah”, “miskin”. Tetapi suatu kata, frase, kalimat, atau beberapa kalimat, atau bait, atau beberapa bait di suatu media sosial atas nama akun seseorang. Sesungguhnya, seberapa jauh kita bisa menilai seseorang dari statusnya? Ehm.. saya tidak tahu pasti.

Tapi begini, semenjak saya cukup dewasa untuk mengerti negara saya, di situlah saya menenal kata pencitraan. Dimana kata ini tiba-tiba jadi fenomenal dan dikaitkan dengan kepala negara saya sekarang. Berhubung kepala negara diusung dari partai, jadilah mencuat kata politik pencitraan. Terus apa hubungannya ama status? Apa ya?

Ya, status itu bisa jadi bahan citraan. Klo kepala negara saya bercitra lewat pidatonya, berhubung kita bukan siapa-siapa dan kalo bikin pidato yang ada malah bikin orang supersensi karena kita dianggap sok penting, jadilah kita menulis di status. Status apapun itu. Bisa status facebook, line, whatsapp, kakao talk, yah apapun yang ada bagian statusnya. Meskipun, kadang kita ga mempedulikan perihal pencitraan yang akan timbul pada status kita. Yang penting, expressing feeling terjalankan.

Ada juga yang sengaja menggunakan status untuk pencitraan yang versi suudzonnya, kepala negara saya menggunakan pidato untuk pencitraannya. Tetapi, analisis saya, justru lebih banyak yang menulis status tanpa niat pencitraan, malah jadi bahan citraan dirinya. Makanya, itu kenapa kita perlu bikin status yang baik. Bukan bermaksud bikin bermuka dua. Ya, memang baiknya natural saja. Akan tetapi, jangan sampai citraan yang tergambar dari status kita membuat orang melihat kita tidak menanamkan sebuah nilai yang semestinya kita tanamkan. Hemm, mungkin bahasa saya agak ribet. Tapi itu bentuk kesengajaan untuk anda yang membaca untuk mencerna kalimatnya dengan baik.

Simplenya, status is you. Disadari atau tidak.

*ini adalah contoh tulisan yang ga baik karena menggunakan dua subjek. Saya dan kita. Tapi, ini kan blog gue, suka-suka guelah mau make berapa subjek. ^.^