Logika dan Rasa #2

Terlampau sering kita tak bisa mendefinisikan sebuah rasa, yang diwakili dengan kalimat “apalah itu namanya”. Entah terlalu rumit atau memang sebenernya simpel dan kita yang memperumit. Apapun alasannya, banyak sekali warna dalam rasa yang sulit didefinisikan. Ianya mengalir bersama simfoni ritme tubuh yang kadang kita enggan menerima si tak terdefinisi itu.

Tapi, apa daya, kadang rasa bergerak lebih cepat daripada logika seperti emosi yang bisa membuat mulut lebih cepat bekerja daripada logika. Pergerakan rasa sering meruntuhkan logika. Sedang logika tak ingin kalah dengan rasa. Penerimaan yang tak bisa ditolak.

Benteng logika terlalu kuat untuk diruntuhkan. Karena rasa terlalu absurd untuk bisa mengalahkan logika. Bagaimana logika bisa runtuh saat kebutuhan-kebutuhannya tak terpenuhi? Bagaimana logika bisa kalah jika rasa tak mampu meyakinkannya? Bahkan hanya untuk kata keberanian pun, rasa tak bisa membawanya untuk logika. Hanya satu kata keberanian. Logika butuh itu. Dan rasa tak mampu memenuhinya. Semakin samarlah si tak terdefinisi.

Pertanyaannya kemudian, jika rasa menjerit, apa yang bisa dilakukan logika?

Advertisements