Militansi

Siang ini, saya mendapat amanah untuk membawakan materi tentang militansi kader. Beraaatt. Ya Allah, ngerjain amanah aja belum beres disuruh membawakan materi tentang militansi. Kaburro maqtan ga ya? Alfaqir Illalah ini merasa sungguh tak pantas memberikan materi ini. Kaburro maqtan ga ya? Mudah-mudahan tidak dan bisa menjadi cambukan buat saya juga.

Saya tak menyiapkan konten khusus untuk membawakannya. Tak membaca buku khusus untuk mneyampaikannya. Bentuk pemberian materinya pun seperti sharing biasa, bukan berdiri di antara audiens dengan potongan-potongan slide. Diawali dengan sebuah pertanyaan, “militansi itu apa sih?”. Merangkum dari seluruh jawabannya, militansi adalah sebuah kata abstrak yang tak terlihat, tak ada parameternya, tapi kita bisa menilai dan merasakan kemilitansian seseorang. Kalo kata KBBI, militansi adalah ketangguhan dalam berjuang. Wuihh, berat ya arti harfiahnya.

Poin terpenting dari materinya adalah bagaimana meningkatkan militansi itu. Sesungguhnya saya tak pernah benar-benar bisa memberikan poinnya. Hanya, pengalaman mengatakan bahwa militansi lahir dari kemampuan kita mencari jawaban dari pertanyaan “mengapa kita harus bergerak?”. Layaknya air, air yang baik adalah air yang bergerak, air tergenang dan diam bisa menjadi sumber penyakit. Begitupun manusia, perlu dipahami bahwa kita perlu bergerak, bukan hanya untuk keperluan dan kepentingan diri kita, melainkan bergerak untuk orang lain. Menyadari penuh bahwa hakikat diri kita adalah milik Allah sehingga ada porsi kerja untuk orang lain. Dari sinilah kemudian militansi itu lahir, saat menyadari kita terlahir bukan hanya untuk memikirkan diri sendiri. Bukan hanya soal akademis saya, keperluan saya, ibadah saya. Tetapi juga tentang kamu, dia, dan kita yang harus sama-sama masuk ke surgaNya.

Poin keduanya adalah “bagaimana menjaga militansi di ranah manapun?”. Hemm, ini sih akhirnya curcol. Bagaimana kemudian saya mencintai dunia yang ‘terpaksa’ saya ada di dalamnya. Bagaimana kemudian saya menyadari bahwa dimana pun militansi harus menyertai.

Sesungguhnya, kita tak pernah benar-benar tahu potensi terbaik kita dimana. Saat merasa bahwa bidang ini adalah “gue banget”, tapi ada penilaian lain yang mengharuskan kita bekerja di tempat lain. Dan sangat mungkin tempat lain itu adalah tempat terbaik untuk kita berkembang dan produktif. Bukan hanya berkembang dan produktif, tetapi juga menjadi pribadi dengan tempaan lebih dahsyat dan memberikan manfaat lain yang kita juga rasakan daripada di tempat yang awalnya kita anggap baik. Ya semacem penjabaran dari cerita “Lahir dari rahim kaderisasi, bertumbuh dan berkembang dalam asuhan pergerakan”.

Tinggal bagaimana kita mengolah amanah itu menjadi militansi. Salah satunya dengan doktrinasi. Serem banget pake doktrin-doktrin segala. Ya, karena militansi tak pernah didapat dari luar, ianya lahir dari dalam internal individu bergerak tersebut. Ia lahir dari diri masing-masing untuk memahami hakikat bergerak dan menjaganya tetap bergerak. Proses penjagaan ini yang kemudian tidaklah mudah. Godaan dimana-dimana, ujian bertebaran. Peernya adalah meng-counter semua itu tetap pada pathway-nya. Salah satunya adalah dengan doktrinasi. Doktrin yang lahir dari kumpulan-kumpulan pemikiran positif tentang “mengapa harus bergerak?”, “mengapa saya?”, “apa yang akan saya dapat?”. Ya, begitulah kemudian saya mendoktrin diri saya untuk tetap menjaga dinamika pergerakan diri. Dan tambahan ruhiyah sebagai energi dasar kalau-kalau saya tak merasakan manfaat duniawi dari bergerak yang militan itu. Setidaknya, dengan energi dasar tersebut, saya percaya bahwa Allah mengganjarnya dengan akhirat jika dunia belum mampu membalas. Semoga.

Advertisements

Kerja.. Kerja…

Haloo.. Perkenalkan. Saya Farah. Saat ini mendapat amanah sebagai Menteri Kajian Strategis BEM Kema Unpad 2013. Kemarin saya and friends abis menulis sejarah *eaa*. Dilirik dan dibaca dikit bisa kali.. hehehe..

“Century Belum Selesai” http://www.mediafire.com/download/q156ldzew1sn5g4/Kajian+Century.pdf
oleh Kementrian Kajian Strategis BEM Kema Unpad 2013

Buletin Kajian Strategis BEM Kema Unpad 2013 “Protagonis Speaks” http://www.mediafire.com/download/8tq9k05yljt3l58/PROTAGONIS_SPEAKS.pdf

The Melancholic

Ada dua kata yang tidak terlalu saya (apa sih?). Plegmatis dan melankolis. Kalo diurutin, ehm.. saya bingung mana yang paling ‘ga gw banget’. Tapi, tapi, tapi, entah kenapa akhir-akhir ini saya lagi super-duper melankolis. Tumben ngerasa, tumben ‘ngeh’ sama kode (kalo kata temen saya), bahkan sampai kebawa-bawa ke amanah (ini parah banget sih). Super sensi.

Lalu saya jadi merasa banyak mendzolimi orang gini dengan kemelankolisan saya. Rasanya selalu ingin pulang cepet untuk ‘merayakan melankolisme’ yang menyedihkan ini bagi seorang koleris kuat. Ya Allah, saya lagi sakit apa? sakit hati?

Bagi saya, menjadi melankolis itu menyiksa (sori ya bro and sist yang melankolis sempurna). Dan saya bersyukur Allah ciptakan saya sebagai koleris. Soal perasaan, jadi koleris aja bisa melankolis, apalagi kalo melankolis, jadi apa? Ga kebayang gimana rasanya. Kayak hidup tuh menyedihkan selalu (ini pemikiran superlebay). Tapi ya gini, kadang urusan perasaan meminta haknya lebih dari yang semestinya. Seolah selama ini ia termarginalkan. Menguras pikiran tiada henti, menuntut ruang lebih untuk diurus. Padahal saya tak bisa berbuat apa-apa. Dipikirkan pun akhirnya hanya jadi sampah terserak karena tak tau kemana harus menyalurkan pemikiran itu.

Hanya bisa beharap ada keajaiban. Klise lagi. Entahlah apakah lagunya Mas Duta SO7 akan segera bersenandung mengiringi langkah ini? “Berhenti Berharap”-nya kadang minta dimainkan dalam kehidupan. Oke, akan saya pertimbangkan.

Jeratan Gelap

Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan

Sebuah kalimat yang pertama aku dengar saat berkenalan dengan seorang pejabat kampus ganesa saat aku meminta dirinya memberikan sepetik materi tentang kekastratan untuk anak-anak (baca : staf) ku di tempat aku mengabdi.

Kalimat familiar yang baru aku dengar saat itu. Memang benar adanya, tak pernah ada guna mengutuk gelap dengan gulitanya itu. Tetap saja ia gelap. Tak akan pernah berpendar barang setitik juga dengan kutukan dan umpatan. Hanya lilinlah yang kemudian memberikan harapan.

Aku tak berniat mengutuk gelap dengan selalu menyalahkan pemikiran konservatif itu. Tapi pun aku tak tahu bagaimana caranya menyalakan lilin. Aku hanya dapat membuat pemikiran tandingan yang bukan untuk dtandingi. Pemikiran tandingan untuk ditandingi sudah ada sejak dulu. Hanya saja ia tak pernah bertemu lawannya untuk membuktikan kemenangan. Aku hanya butuh pemikiran yang dapat menuntunku untuk keluar dari gelapnya asa. Yang setelah keluar, kemudian mencari bantuan untuk tetap berdiri normal.

Yakinkah ia akan tetap normal setelah melewati gelap? Entahlah, yang terpenting sekarang adalah mencari cara untuk keluar dari jeratan gelap. Tak peduli bagaimana nantinya..