My New Tumblr

http://chocolafarah.tumblr.com/

Agak taklid oleh kebanyakan orang. Entah ingin gaya-gayaan aja atau ingin menyebar cerita dan kebaikan lebih banyak? Yang penting aku menulis. Dimana saja aku ingin.

Advertisements

Absurdnya Tulisan Ini..

Aku suka menulis. Menulis apapun. Menulis apa yang ingin kutulis. Menuliskan apa yang kurasa. Menulis apa yang kupirkan. Kurasa segala bersitan hati, lintasan pikiran akan mudah untuk ditulis.

Aku suka menulis. Kadang menulis yang eksplisit. Tak jarang kumenulisnya secara implisit. Pokoknya aku ingin menulis, apapun bentuknya. Tanpa keteraturan bahasa. Tanpa kaidah tanda baca. Yang penting menulis.

Aku suka menulis, tentang aku, tentang hatiku, tentang kamu, tentang kita, tentang sahabat-sahabatku. Tentang semuanya. Eh, siapa kamu? Berani-beraninya masuk dalam tulisanku.

Seringkah aku menulis tentangmu? Entahlah. Aku tak tahu pasti jumlahnya. Bahkan aku pun tak tahu pasti jumlah tulisanku. Ya aku menulis, menulis saja. Tanpa pernah berhitung. Tanpa pernah memikirkan ulang menulis dirimu yang sering ada dalam tulisanku. Kadang tanpa sadar, aku telah menulis tentangmu. Menceracau tak jelas. Yang penting aku menulis. Apa yang tak bisa terungkap yang sering airmata membantu menyiratkannya.

Kamu, yang entah sudah kukenal atau belum.

-Absurdnya tulisan ini-

Keterikatan Hati

Saat seorang teman menulis bahwa salah satu sifat dasar manusia adalah cenderung pada yang mengikat hati, seketika itu juga saya mengamininya. Saya sebagai manusiaNya kadang juga merasa demikian. Saat ada keterikatan (baik hati, pekerjaan, atau apapun itu) tentu kita lebih merasa aman. Lebih merasa ‘oh, udah ada ini, tinggal sejengkal lagi’ walaupun kadang keterikatan itu tak selamanya mengikat. Mengikat pada saat itu saja. Pada saat kita membutuhkan rasa aman dan dilanda gusar. Mungkin itu juga yang kemudian banyak orang-orang memilih untuk mengikat hati pada apa-apa yang mereka cenderungkan. Adanya rasa aman akan sesuatu yang membuat galau, resah, gusar, setidaknya terobati dengan keterikatan tersebut.

Pertanyaannya kemudian, apakah yakin dengan keterikatan tersebut kita benar-benar aman? Dalam sandaran dan pandangan dunia mungkin sekali iya. Setiap pembahasan tentangnya kita akan merasa aman karena keterikatan tersebut. Tetapi, belum tentu dengan pandangan Allah dan akhirat. Bukankah takdir tidak ada yang tahu kecuali Dia? Lantas mengapa kadang kita sepeti terlalu berani mendahuluinya dengan keterikatan-keterikatan tersebut yang belum tentu terwujud dalam dimensi waktu berbeda? Mengapa tak langsung saja kita ikatkan hati pada takdirNya yang meski kadang membuat kita bertanya-tanya galau, tapi sesungguhnya kita dalam proses memercayai QodarullahNya?

Bukankah lebih menyenangkan menjadi makhlluk independent dari segala macam bentuk keterikatan yang aneh?

Bersyukurlah kita untuk nikmat Allah yang masih menjaga kita berlepas diri dari keterikatan hati tersebut. Yang tak suka keterikatan yang tidak jelas kemana ujungnya. Mengapa harus membentuk keterikatan yang tidak jelas kalau sebenarnya membuatnya menjadi jelas itu bisa?

Kita hanya butuh sabar untuk mendapat jawaban atas puzzle-puzzle hidup ini. Tidak semua harus berjawab sekarang. Tidak perlu disandarkan pada keterikatan hati yang hanya memberikan rasa aman sesaat. Karena sesungguhnya, saat kita berada dalam keadaan hati terikat pada ‘sesuatu’, kita bukanlah ada pada zona aman, melainkan zona bahaya yang tersamar menjadi zona aman.

“Ya Allah, ikatkanlah hati kami padaMu, agar tak ada lagi pengait dunia yang kami terikat padanya.”

 

Jatinangor, 29-10-2013

3:18

Beginilah Cara Allah Membina

Aku tak punya alasan lain atas keegoisanku pada dirinya, kecuali ketakutanku akan menduanya cintaku pada Allah. Ya, hatiku berkecamuk antara mengikuti perasaan dan ketakutan maksiat kecil dalam hatiku. Sungguh, jika bukan karena Allah, mungkin tak pernah ada pertengkaran, tak pernah ada keributan.

Mungkin karena alasan itu juga, Allah dengan baik hatinya, tak rela aku jatuh terpuruk terlalu lama dan dalam. Segera Allah membangunkanku dari segala macam isak tangis dunia dengan amanah-amanahNya yang tak kusangka-sangka.

Bagiku, obat dari segala gundah, selain berkhalwat denganNya tentu saja, adalah berbagi ilmu. Ilmu agama terutama. Dan ada dua kabar menyenangkan sekaligus bertepatan dengan lahirnya kesedihanku.

Satu, salah satu kelompokku dinaikan levelnya. Dua, ada tambahan kelompok baru yang sudah cukup tinggi levelnya meski hanya sementara menggantikan temanku yang sedang koas di ujung sana. Jadi, jumlah 3 kelompok dengan status yang ‘hampir’ sama menandakan amanah ini makin berat, Allah makin sayang, Allah ingin levelku meningkat. Atau bahkan juga, ujian itu juga termasuk sarana Allah menguji levelku.

Aku selalu senang saat berkumpul dengan orang-orang solih dalam lingkaran kecil. Terlebih jika aku yang harus mengisi materinya. Artinya, aku punya dua tanggung jawab. Memberikan materi itu dan sebelumnya mempersiapkan. Bukan hanya mempersiapkan materi, tetapi juga mempersiapkan ruhiyah agar apa yang aku sampaikan tak sia-sia. Dan pekan ini, aku cukup puas. Allah mudahkan lisan ini tanpa kebingungan sedikitpun karena aku benar-benar mempersiapkannya. Ya, karena menyadari bahwa level mereka makin tinggi, aku tak bisa memberikan asupan kepada mereka secara biasa-biasa saja.

Allah, dengan caraNya berusaha membuatku lebih dekat denganNya. Dengan caraNya, Ia ingin aku berlepas dari segala macam kesedihan dunia. Begitu banyak kasih sayangNya yang tak kita sadari. Salah satu nikmat terbesarnya adalah saat kita mencintai ketaatan, sedang yang lain terjebak dalam urusan dunia yang semakin samar membentuk daerah abu-abu. Antara hitam dan putih yang semakin sulit dibedakan. Seperti kata temanku, “Karena sekarang kebenaran adalah sesuatu yang relatif.” Ironis.

Menjemput Takdir

Sore itu (Selasa, 22-10-2013), seperti biasa, setelah aku selesai berkutat dengan rekam medis di RSHS, aku memutuskan untuk segera pulang ke Nangor. Tetapi, sebelum pulang, aku harus solat Ashar dulu di Asy-syifaa RSHS. Setelah, selesai solat, aku bertemu dengan Salman dan Siddiq (temanku di FK Unpad) yang juga selesai solat setelah mengambil data rekam medis. Setelah itu, aku bertanya pada mereka, mau naik travel damri dari mana (karena aku sudah tahu sebelumnya mereka akan naik travel damri, jadi tidak menanyakan naik apa). Mereka memutuskan naik travel damri langsung dari pool-nya (sesungguhnya aku tak tahu pasti bagaimana tulisannya) di Unpad Dipati Ukur yang agak jauh dari RSHS. Aku yang merasa itu sangat jauhdan muter-muter, ditambah setelah beberapa kali naik travel damri memutuskan untuk naik di perhitungan damri dekat Tol Pasteur. Lebih irit waktu pastinya.

Saat itu, Salman dan Siddiq hampir saja memutuskan untuk mengikuti jejakku. Tapi, niatnya diurungkan karena ketakutan mereka tidak mendapatkan bangku jika tidak langsung naik dari pool-nya.

Ya sudah. Kembali aku sendiri menyusuri sepanjang jalan depan RSHS menunggu angkot menuju BTC kesanaan dikit menuju tempat perhitungan travel damri.

Di pertengahan jalan menuju tol Pasteur macet seperti biasanya. Aku perhatikan mobil-mobil travel yang padat merayap seperti angkot yang aku naiki. Seketika itu juga, mataku menangkap mobil travel. Aku coba pastikan seiring berjalannya angkot dan travel karena Pasteur sering dilalui mobil-mobil travel. Yap, benar. Mobil itu adalah travel damri. Yang saat ini ‘balap-balapan’ dengan angkotku. Oh Tuhan, aku berharap masih punya cukup waktu untuk memburu travel itu. semoga angkot aku lebih cepat sampai tempat tujuanku untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Nangor dengan travel yang ketar-ketir aku dibuatnya. Dalam hati, aku masih berdoa agar keburu untuk menaiki travel itu.

Logikaku berhitung. Kalau naik angkot (dengan posisi yang sama dengan travel damri) akan butuh waktu untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Maka, ada kemungkinan aku akan ketinggalan travel hanya dalam waktu beberapa menit saja. Bagiku itu menyakitkan karena telah melihatnya di depan mataku tapi ketinggalan. Beberapa kali aku urungkan niat untuk berhenti dan naik travel damri di tengah jalan. Berpikir sejenak tentang permainan takdir. Sempat aku berpikir, “kalau aku berjodoh dengan travel itu, angkot aku saat ini akan sampai duluan di tempat perhitungan. Kalau ternyata tidak, ya artinya takdirku adalah tidak naik travel itu dan menunggu lagi kloter berikutnya. Entah berapa menit atau jam aku menunggunya.” Bukan kah begitu konsep takdir?

Akan tetapi, aku masih punya kesempatan untuk menaiki travel damri. Aku tak mau menyerah pada takdir. Hingga kemudian, aku memutuskan nekat turun dari angkot dan naik travel itu di tengah jalan. Secepat kilat aku turun, membayar angkot, kemudian memberi kode pada supir travel bahwa aku ingin naik, dan kubuka pintunya. Sempat kesulitan aku menutup pintunya karena aku belum memakai tas dengan baik. Mobil di belakang travel pun sudah mulai membunyikan klakson tanda travel harus segera jalan. Aku segera meminta tolong kepada penumpang lain untuk menutup pintunya karena posisiku yang baru naik itu sulit untuk menutup pintunya.

Alhamdulillah, akhirnya dapet juga takdir duduk di travel itu di jam segitu. Tanpa aku harus menunggu di tempat perhitungan. Segera aku line Salman. Memberitahukan bahwa aku sudah berada di travel. Hingga jarak waktu aku dan Salman sampai di nangor hampir satu jam. Waktu yang lumayan bukan?

Kamisnya, aku bertemu Salman di RSHS dan bercerita perjalanan pulang kemarin lusa. Kata Salman, “Kalo kamu ga naik travel jam segitu, bisa2 kamu ga akan dapet lagi karena setelah jam segitu travelnya udah penuh dari DU.”

Dalam hati aku bersyukur sangat. Allah menggerakkanku untuk segera mengejar si travel. Kalau tidak, entah berapa lama waktu yang akan kubutuhkan untuk menunggu lagi bahkan dengan kemungkinan terancam tidak mendapatkan tempat duduk sama sekali sampai travel damri habis di hari itu.

Lalu, apakah ini hanya sekadar cerita tentang mengejar travel damri?

Bagiku bukan hanya itu. Ini adalah cerita tentang usaha menjemput takdir. Bahwa bagaimana pun, takdir itu harus dijemput dengan usaha maksimal. Dengan perhitungan yang matang. Matang tidak selalu harus lama. Jangan samakan perhitungan dengan buah. Buah butuh waktu untuk matang. Tapi perhitungan butuh ketepatan untuk dapat dikatakan matang.

Menjemput takdir pun butuh keberanian. Berani mengambil resiko. Saat itu, aku mengambil resiko naik kendaraan di tengah jalan, memang sempat mengganggu aktivitas lalu lintas lewat bunyi-bunyi klakson beberapa mobil, tapi hasil yang kudapat sangat signifikan. Aku bisa mengirit waktu hingga satu jam. Jika kubandingkan dengan kerelaanku tidak turun dari angkot dan pasrah pada takdir menunggu, aku pasti akan menyesal karena nyatanya aku masih bisa mengusahakan untuk mendapatkannya. Tapi, Allah mempertemukan usaha dan takdirku dengan si travel damri jam 4-an itu.

Begitulah kira-kira. Bahwa takdir, bukan hanya sekadar takdir. Bukan hanya sekadar apa yang tertulis di Lauh Mahfuz. Ia adalah pertemuan antara usaha + keberanian + takdir itu sendiri. Usaha akan mempengaruhi sedikit banyak takdir, bagiku. maka begitulah prinsipku. Mengerahkan semua usaha untuk mendapatkan yang terbaik. Tanpa mengotak-ngotakkan jenis usahanya. Tanpa harus memilah usaha tertentu yang akan ditempuh. Selama semua bisa dilakoni, kenapa tidak?

Bukan Bak Mandi

Akhirnya saya tersadar. Pikiran saya bukanlah bak mandi yang bisa dikuras habis kemudian diisi lagi. Iya bak mandi sih bagus. Dikuras untuk dibersihkan dan diisi air yang walaupun dengan kualitas air yang sama, akan memberikan dampak positif pascapengurasan. Lah, kalau pikiran saya terkuras kemudian terisi oleh apa yang belum boleh saya pikirkan.. tentu ada yang cemburu.

Siapa yang cemburu? | Itu loh dia yang paling mencintai saya. | Siapa sih siapa? Kepo nihh.. | Siapa hayooo.. | hemm.. *mulai bete* | Allahu Robbi :* |

Tak Berjawab

Sudah bertahun-tahun lamanya sebuah tanya tak berjawab mengelilingi kepala saya. “apa sih hikmah takdir Allah atas langkah kaki ini tanpa merasa berdosa ke sebuah jalan bernama buah yang suka dijadikan manisan? yang menjadi awal sebuah…hemm. entah musibah, ujian, petaka, atau semisalnya.” Dari saya berseragam putih abu, kemudian berstatus makhluk ga jelas, terus punya jakun, hingga hijrah ke desa yang sekarang apartemen lagi berlomba-lomba dibangun cem bocil yang lagi lomba makan kerupuk tiap 17-an saya tak kunjung menemukan misteri Ilahi tersebut.

Saya hampir putus asa atas pertanyaan tersebut. Lalu saya mulai bertanya lagi, “Apa ada ujian, musibah, atau semacemnya di dunia yang bahkan sampai kita tak bernyawa lagi masih belum diketahui apa hikmah dibaliknya?” Pertanyaan yang kemungkinan menemukan jawabannya juga sulit. Tapi yang saya yakini, setiap apa-apa yang terjadi pasti ada hikmahnya. Mungkin tak tersurat. Ia tersirat dalam kehidupan selanjutnya pasca-peristiwa yang disebut ujian atau musibah itu berlalu.

Kemudian saya bertanya lagi, “kalau ujian, musibah, atau semisalnya itu datang lagi dalam wujud yang sama dan hanya berbeda dimensi waktu, bagaimana saya memaknainya bahwa ada hikmah di dalamnya?” Padahal, di serial sebelumnya, pertanyaan hikmah pun, tak berjawab. Kemudian datang lagi memahat cerita yang berujung pilu tanpa saya tahu apa hikmahnya. Aahh, saya jadi makhluk absurd begini dengan segala pertanyaan-pertanyaan yang mungkin selamanya tak akan pernah ada jawabannya.

Meski begitu, saya mensyukuri, Allah tetap membuat saya berhusnudzon pada takdir-Nya, makhluk-Nya, dan cinta-Nya. Tanpa pembelotan. Tanpa merasa ini tidak adil. Menyisakan saya yang menjadi abnormal tapi akan kembali normal. Tunggu saja. ^.^

Saya, Aku, atau Gue?

Dalam keseharian, saya menggunakan tiga kata ganti orang pertama. Saya, aku, gue. Ketiganya saya gunakan dengan orang-orang berbeda. Saya biasanya digunakan pada orang-orang di ranah formal, seperti pada  dosen, temen-temen organisasi, dan orang yang lebih tua dan negasinya alias junior-junior saya. Atau orang yang tak begitu saya kenal dekat.

Penggunaan kata aku, menunjukkan kedekatan. Biasa digunakan saat berbicara dengan keluarga dan teman dekat. Nah, yang paling slengean adalah penggunaan kata ‘gue’. Biasa digunakan pada orang-orang yang sudah akrab (tidak sekadar dekat), jadi ya penggunaan kata gue menunjukkan keakraban.

‘Gue’ pun menjadi pilihan saat saya bermonolog. Misalnya, pernah saya membeli gorengan untuk berbuka puasa dengan niat untuk sedikit meninabobokan peristaltik usus saya karena makanannya harus saya masak dulu. Saat saya masuk kamar, saya melihat sekotak brownis amanda dan segera saya memulai monolog dengan diri sendiri, “Ya ampuun, gue lupalah kalo punya brownis amanda. Tau gitu kan ga usah beli gorengan. Nambah-nambahin kolesterol aja..”

Begitulah saya membuat segmentasi pada orang-orang sekitar melalui pilihan kata ganti orang kesatu. Dan entah mengapa, ‘saya’ menjadi pilihan kata ganti di banyak tulisan saya.

Munculnya Makhluk Sanguinis

Sejak tahun lalu, saat menjadi ketua kastil (dan saat blog ini dibuat), saya berharap dapat menulis tulisan analisis yang agak berbobot. Terlebih, tahun ini saya masuk ke ranah universitas dengan amanah sebagai menteri kastrat. Namun, agaknya kualitas tulisan dan amanah tidak berbanding lurus bagi saya. Hampir pupus harapan saya. Padahal, beberapa kali saya menulis kajian untuk kastrat yang cukup njelimet. Tetapi, mengapa agak sulit ya menulis blog yang senilai dengan kajian yang saya tulis. Miris. *hiks*

Setelah sedikit menganalisis, ternyata saya cukup mendapat alasan atas kegundahgulanaan saya terhadap blog ini. Yakni, saat di luar sana, saya lebih sering memperlihatkan sisi koleris saya. Namun, saat menulis, saya seperti (ingin) keluar dari kekolerisan ini. Meski beberapa kali saya menulis tentang bagaimana kolerisnya saya, tetapi sesungguhnya, saat menulis, justru sanguinislah yang keluar tanpa saya sadari.

Hal ini terlihat dari bagaimana saya membca blog orang lain. Saat membaca blog orang lain saya lebih suka yang isinya ringan, tulisannya pendek, bukan tipikal tulisan analisis. Hemm, saya agak cepat bosen jika membaca blog yang isinya panjaaaaang sekali. Sanguinis banget kan, cepet bosen. Hahaa..

Dalam blog saya sendiri, saya lebih banyak bercerita tentang saya. Apapun itu. Khas sanguinis. Suka bercerita. Jadi, bisa dibilang blog ini adalah representatif saya, entah berapa persen. Maka, pelis banget, jangan pernah mempertanyakan mengapa tulisan saya ga cocok untuk ukuran anak kastrat. Maklum, saya butuh tempat (sampah) untuk menampung sisi sanguinis saya yang minoritas itu.