Beginilah Cara Allah Membina

Aku tak punya alasan lain atas keegoisanku pada dirinya, kecuali ketakutanku akan menduanya cintaku pada Allah. Ya, hatiku berkecamuk antara mengikuti perasaan dan ketakutan maksiat kecil dalam hatiku. Sungguh, jika bukan karena Allah, mungkin tak pernah ada pertengkaran, tak pernah ada keributan.

Mungkin karena alasan itu juga, Allah dengan baik hatinya, tak rela aku jatuh terpuruk terlalu lama dan dalam. Segera Allah membangunkanku dari segala macam isak tangis dunia dengan amanah-amanahNya yang tak kusangka-sangka.

Bagiku, obat dari segala gundah, selain berkhalwat denganNya tentu saja, adalah berbagi ilmu. Ilmu agama terutama. Dan ada dua kabar menyenangkan sekaligus bertepatan dengan lahirnya kesedihanku.

Satu, salah satu kelompokku dinaikan levelnya. Dua, ada tambahan kelompok baru yang sudah cukup tinggi levelnya meski hanya sementara menggantikan temanku yang sedang koas di ujung sana. Jadi, jumlah 3 kelompok dengan status yang ‘hampir’ sama menandakan amanah ini makin berat, Allah makin sayang, Allah ingin levelku meningkat. Atau bahkan juga, ujian itu juga termasuk sarana Allah menguji levelku.

Aku selalu senang saat berkumpul dengan orang-orang solih dalam lingkaran kecil. Terlebih jika aku yang harus mengisi materinya. Artinya, aku punya dua tanggung jawab. Memberikan materi itu dan sebelumnya mempersiapkan. Bukan hanya mempersiapkan materi, tetapi juga mempersiapkan ruhiyah agar apa yang aku sampaikan tak sia-sia. Dan pekan ini, aku cukup puas. Allah mudahkan lisan ini tanpa kebingungan sedikitpun karena aku benar-benar mempersiapkannya. Ya, karena menyadari bahwa level mereka makin tinggi, aku tak bisa memberikan asupan kepada mereka secara biasa-biasa saja.

Allah, dengan caraNya berusaha membuatku lebih dekat denganNya. Dengan caraNya, Ia ingin aku berlepas dari segala macam kesedihan dunia. Begitu banyak kasih sayangNya yang tak kita sadari. Salah satu nikmat terbesarnya adalah saat kita mencintai ketaatan, sedang yang lain terjebak dalam urusan dunia yang semakin samar membentuk daerah abu-abu. Antara hitam dan putih yang semakin sulit dibedakan. Seperti kata temanku, “Karena sekarang kebenaran adalah sesuatu yang relatif.” Ironis.

Advertisements

2 thoughts on “Beginilah Cara Allah Membina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s