per-Skripsi-an

Saya tidak pernah paham, mengapa skripsi seolah bagaikan monster menyeramkan atau sambaran petir yang ketika dilontarkan akan membuat sang mahasiswa tingkat akhir seperti ketakutan atau menghindari jenis pembicaraan atau pertanyaan ini. Tak jarang, pembicaraan tentang skripsi dianggap merupakan pembicaraan yang ‘jorok’. Skripsi adalah hal paling sensitif bagi mahasiswa tingkat akhir yang mungkin akan menurunkan mood orang yang diajak bicara atau ditanya tentang ‘bagaimana skripsinya?’.

Saya tidak paham itu karena bagi saya skripsi itu menyenangkan meski saya juga agak malas mengerjakannya. Alasannya sih (yang dibuat-buat oleh diri saya) tidak banyak referensi yang membahas tentang tema skripsi saya. Jadi, kadang saya suka bingung mau nulis apa. Selebihnya karena saya adalah seorang deadliner yang akan mengerjakannya di akhir waktu. Hahaha..

Saya sangat menikmati proses pengerjaan skripsi ini, menikmati waktu-waktu (menunggu) bimbingan, mengambil data di bagian rekam medis pusat atau rekam medis kemuning RSHS, dan aktivitas seputar skripsi lainnya. Saya pun tak segan jika ditanya tentang skripsi saya, maka saya akan menjawabnya dengan senang hati. Kalau perlu, saya akan bercerita tentang apa skripsi saya, bagaimana judul itu terlintas (sesuangguhnya itu judul dari residennya pembimbing saya), bagaimana progresnya, pada tahap apa skripsi saya saat ditanya itu.

Mengapa skripsi menjadi menyenangkan bagi saya? Mungkin karena saya memaknai skripsi tidak hanya sebagai syarat lulus. Yang saya pahami bahwa skripsi adalah masterpiece, sejarah hidup seseorang yang pernah mengenyam pendidikan strata satu. Ia adalah project yang menjadi saksi perjuangan 3,5 hingga sekian tahun seseorang yang menimba ilmu di perguruan tinggi. Lalu, kenapa harus bete jika ditanya tentang skripsi? Bukannya dengan ditanya itu menjadi motivasi untuk mengerjakannya? Hahahaaha.. it’s so bullshit. Karena motivasi mengerjakan skripsi sesungguhnya adalah diri kita. Melawan rasa malas mengerjakan skripsi itulah yang sulit, yang butuh motivasi besar dari diri kita sendiri. Atau mungkin juga dari orang tua yang menginginkan kita segera lulus. Ah, saya saja yang begitu bersemangat dengan skripsi malas mengerjakannya dan memilih mengerjakan di waktu-waktu dekat bimbingan, apalagi mereka yang memang hanya memaknai skripsi sebagai syarat lulus. 

Hingga skripsi itu dikumpulkan, rasa lega menyeruak. Menunggu-nunggu waktu sidang supaya bisa liburan, dan begitu malas mengerjakan revisi. 

Jadi, kerjakanlah skripsi. Segera kumpulkan. Setelah itu, timbang berat badan Anda. Kemungkinan ((sangat) kecil) berat anda akan turun karena beban hidup menurun hingga 50%. Hahahaa.. 

 

Advertisements