No Reasons No Excuse

image

From my friend in Whatsapp group

Noted!!
No Reasons
No Excuse

Advertisements

Sepenggal Cerita

Pernah ada sebuah cerita. Tentang seorang wanita yang sangat membenci seseorang, sebut saja oknum. Melihat deretan abjad membentuk nama oknum, pikirannya bisa kacau. Membayang scene dirinya bertemu oknum kemudian menumpahkan kuah bakso ke muka oknum, melempar meja ke muka oknum, dan hal-hal ganas lainnya yang dia tau tidak semestinya pikiran tersebut hadir.

Setelah itu, ia akan menangis menyadari bahwa hal tersebut sesungguhnya tidak akan pernah benar-benar ia lakukan. Alasannya, karena wanita ini sangat mengetahui bahwa dalam agamanya tidak diajarkan seperti itu. Agamanya mengajarkan ia untuk ikhlas, sabar, dan menahan rasa amarah dan benci. Maka, wanita itu kemudian bersyukur pada Tuhannya karena ia masih diberikan hidayah untuk beragama. Tidak terbayangkan olehnya, jika ia tak ber-Tuhan, mungkin hal-hal yang lebih parah dari menumpahakan kuah bakso atau melemparkan meja ke muka orang akan benar-benar dilakukannya. Itulah hebatnya beragama. Hidup punya aturan dan akibatnya akan teratur.

Ia pun sadar bahwa sesungguhnya sangat mungkin ini akan jadi hikmah berharga yang tidak dapat dirasakan saat ini. Seperti, saat dirinya menikah kelak, betapa ia akan sangat-sangat mencintai suaminya. Karena suaminyalah yang akan menjadi obat atas kebenciannya pada oknum. Suaminyalah yang membuat ia tidak perlu mengingat perbuatan oknum dahulu.

Sampai di situ, saya jadi bertanya, ini wanitanya sakit hati, kecewa berat, atau apa?

Tak Ada Celah untuk Terbuka

Dahulu kala pintu itu pernah tertutup.
Rapat. Terkunci.
Kemudian meregang, meregang, hingga terbuka.
Entah karena apa.
Tapi kini, ia tertutup kembali.
Rapat. Lebih rapat dari yang dulu.
Bahkan ada tambahan kunci gembok. Yg anak kuncinya dibuang entah kemana.
Agar ia tak bisa membukanya lagi.
Kemudian penghuninya pergi meninggalkan pintu itu.
Agar ia tak pernah mendengar ketukan pintu.
Atau tak pernah ada kesempatan untuk mengintip keluar barang sedikit.
Atau tak pernah mau pintu itu benar-benar ia buka lagi.
Kemudian melangkah. Semakin jauh meninggalkan pintu itu.

Takut, Harap, Cinta

“Kelompok pertama keadaannya seperti orang yang beramal karena ikatan Islam dan iman semata. Kelompok kedua keadaanya seperti orang yang beramal karena dorongan rasa takut dan harap atau cinta. Orang yang takut akan tetap bekerja kendatipun terasa berat. Bahkan rasa takut terhadap sesuatu yang lebih berat akan menimbulkan kesabaran terhadap sesuatu yang lebih ringan kendatipun tergolong berat. Orang yang memiliki harapan akan tetap bekerja kendatipun terasa sulit. Harapan kepada kesenangan akan menimbulkan kesabaran dalam menghadapi kesulitan. Orang yang mencintai akan bekerja mengerahkan segala upaya karena rindu kepada kekasih sehingga rasa cinta ini mempermudah segala kesulitan dan mendekatkan segala yang jauh.”
—  Al-Muwafaqat, Asy-Syatibi.
Ahh, quote ini. sungguh saya suka. Begitulah seharusnya kita berjuang dalam hidup. Berjuang tentang apapun. Penuh rasa harap, takut, dan cinta. Saat berjuang dilliputi rasa takut, maka sesuatu seberat apapun jadi terasa ringan. Ini seperti konsep hormon adrenalin dalam tubuh kita. Di saat ketakutan, tubuh akan memproduksi banyak-banyak si adrenalin sehingga kita punya banyak energi untuk menyelamatkan diri dari apa yang ditakutkan. Maka lari yang sejatinya berat dan terasa malas dilakukan tentu terasa ringan bahkan tidak terasa dilakukan saat kita dilanda ketakutan dikejar anjing misalnya.
 
Berjuang pun baiknya dibarengi dengan rasa harap. Harapan besar kita akan sesuatu tentu bisa jadi motivasi besar dalam perjuangan itu. Karena ia akan berpikir berjuang saat ini adalah merealisasikan harapan masa depan.
 
Dan cinta. Ia adalah energi. Betapa berjuang ditemani cinta akan melahirkan semangat agar segera dipertemukan dengan yang dicinta dan dirindu. Seperti seorang ayah yang bekerja penuh semangat menanti hari sore untuk segera bertemu keluarganya yang meski hanya berpisah beberapa jam tapi mampu mebuatnya rindu. Bekerjanya ia hari itu ditemani cinta keluarganya.
 
Maka, dari rasa takut, harap, dan cinta itulah perjuangan akan menemui labuhannya. Selamat Berjuang.. 🙂
 

 

 

 Reblog

Menunggu (yang terdefinisi)

Pagi di 2014, layaknya pagi-pagi sebelumnya. Tak ada beda. Saya pun sadar bahwa hari ini sudah memasuki tahun 2014. Waktu cepat sekali berputar. Kalau secepat itu berputar, lantas mengapa saya takut untuk menunggu hal yang hanya terkesan lama, padahal (sangat mungkin) begitu cepat jika benar-benar dijalani.

Ini bukan perkara mau menunggu atau tidak. Ini perkara tentang keyakinan pada takdir. Tentang sepenuhnya taat pada perintah Allah. Hanya tentang itu. karena tidak menunggu pun awalnya adalah penyiksaan duniawi, tapi kecintaan pada Allah mengobati kekhawatian itu.

Ini saya berbicara tentang apa sih? Tentang waktu. Menunggu juga berkaitan dengan waktu bukan? Menunggu yang menjadi pekerjaan paling mengesalkan bagi banyak orang adalah hal yang aman dilakukan jika kita melihat dalam konteks lain. Tetapi, efek sampingnya juga besar. tak akan terlihat sih efek sampingnya. Berbeda dengan efek samping pada obat yang terasa dan juga mungkin dapat terlihat secara kasat mata.

Maka, menunggu atau tidak pada akhirnya adalah bagian dari prinsip. Bukan karena ketergesa-gesaan tak sabar menunggu. Tapi, prinsip cinta, keyakinan, dan taat yang akan terkotori jika memilih untuk menunggu (yang terdefinisi).

Tentang Cantik

Akhir-akhir ini, kata cantik jadi hal yang sering saya dengar. Tentang nominasi tercantik di angket ‘ter-bla3x’ nya BEM, dikomentarin oleh seorang kawan tentang ketidakcantikan, baca tumblr orang yang nulis tentang cantik.

Ah, cantik kini jadi kata yang mematikan tidak hanya bagi pria tetapi juga wanita itu sendiri. Saya melihat fenomena itu jelas. Melingkari kehidupan saya. Melihatnya nyata di dekat saya. Seorang teman yang setiap bulannya membeli krim wajah di klinik kecantikan ternama, membeli produk diet terkenal dan sangat mengurangi porsi makannya. Repot sekali ya, menjadi cantik itu.

Pada akhirnya, cantik itu juga punya persepsinya sendiri. Kalau kata orang, cantik itu relatif. Seperti halnya saya. saya bisa menilai dengan mudah seseorang yang tidak saya kenal yang saya temui saat itu juga apakah cantik atau tidak. Hanya dari sebatas fisiknya saja. Tetapi, jika ia adalah orang yang saya kenal, meski wajahnya cantik, saya tidak akan semudah itu mengatakannya cantik. Akan tetapi, akhirnya saya memadukan kata cantik (bagi orang yang saya kenal) merupakan gabungan antara fisik yang tidak kucel, perilaku, karakternya, dan cara berpikir. Perilaku (akhlak) menjadi poin teratas penilaian saya tentang cantik. Diikuti karakter dan cara berpikir. Dan terakhir justru tentang cantiknya wajah itu sendiri yang menempati posisi terakhir dalam penilaian cantik.

Banyak teman-teman saya yang cantik. Sangat mudah menemukannya di fakultas saya berkuliah. Hanya saja saya sering menyayangkan kecantikan wajahnya menjadi minim, bukan karena saya sok tahu dengan mengatakan perilaku dan karakter mereka kurang baik. Akan tetapi, dari cara berpakaian saja, saya bisa menilai meski tidak menyeluruh. Ah, karena setiap orang punya persepsinya sendiri tentang cantik.

Seperti kawan laki-laki saya. yang saya tangkap dari dialog bersamanya, cantik itu adalah fisiknya dulu, dan baginya fisik dan cantik memainkan porsi besar dalam pertimbangan dirinya memilih pasangan. Awalnya saya sempat tertawa dan membatin, “kayak anak SMP nyari pacar”. Tapi, biarlah, hak kawan saya. jadi teringat sebuah kutipan

Sesungguhnya tak ada wanita yang sangat cantik, yang ada ialah pria yang sangat lemah bila berhadapan dengan kecantikan.

Ya, ini mungkin juga menjadi jawaban atas diskusi-diskusi panjang tentang korupsi dan pertanyaan seorang partner saya di Kastrat BEM. “kenapa ya korupsi sering dikaitkan dengan wanita?”. Get the point.

Kemudian dalam sebuah tumblr, ada seorang laki-laki yang juga berkomentar soal cantik. Bahwa menurutnya, cantik itu adalah saat seorang wanita bisa tahu tentang harga dirinya. Tak mudah dilihat cantiknya oleh banyak orang. karena cantik fisik itu sejatinya tak bisa dinikmati oleh banyak mata. Hanya mata tertentu yang harusnya halal untuk melihat. Oke akan saya sertakan tulisannya.

http://tmblr.co/Z8QR6y12t11wi >> Harga Cantik

Cantik. Saya rasa kata itu semakin mengalami peyorasi. Dahulu, cantik identik dengan inner beauty dan begitu digembar-gemborkan. Kini, cantik tidak hanya soal inner beauty. Bagaimana pun, outer beauty alias wajah cantik memiliki porsi besar dalam penilaian tentang cantik. Seperti iklan yang berlomba-lomba membuat persepsi cantik. Bahwa cantik adalah tinggi semampai, langsing, berkulit putih, dan rambut hitam berkilau.

Lantas, menurutmu cantik itu apa?