When the Heartbeats were Abnormal

Seorang perempuan mendapati pusat akumulasi darahnya berdetak tidak normal. Sinyalnya menangkap radar. Garpu tala nya menangkap getaran dan frekuensi. Hanya karena suara. Bisikan temannya tentang siapa yg memperdengarkan lantunan suara indah itulah yang membuatnya tidak normal malam itu.

Di usianya yang tidak lagi muda, sepertinya ia merasakan sesuatu yang biasa dirasakan manusia pada usia yang lebih muda darinya kini. Untuk pertama kalinya.

Ingin saya katakan padanya, “you are a normal woman beibh..”

Lalu ia menjawab, “saya ga suka merasakan ini.. butuh tenaga ekstra untuk menghalau ini.. saya tidak ingin tersiksa karena ini..”

Saya hanya bisa diam. Mencoba berempati.

Advertisements

Di Perfect Night

image

Tika-Dimas-Farah.
Kami bukan Trio Kwek-Kwek. Kami juga ga berniat bikin vocal grup tandingan. Kami hanyalah tiga manusia yang ditakdirkan menjalani kehidupan bersama 2 tahun selain di bangku kuliah.

Kami memang bertemu di FK Unpad 2010. Tapi kalo cuma itu, ratusan dari kami juga begitu. Lalu kenapa jadi spesial? Karena di luar bangku kuliah, kami pernah masuk dalam tim luar biasa yang sama sebanyak 2 kali.

Kami diikat hatinya pertama kali dalam lingkaran Tim 16 Senat FK Unpad 2012. Saat itu, Tika memegang amanah sebagai Ketua Seksi Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dan Dimas sebagai Kepala Bidang 1. Saya, sebagai Ketua Seksi Kajian Strategis. Saya dan Tika bernaung dalam 1 bidang, yaitu bidang 3 yang dikepalai oleh Nuni.

Setahun berjalan, bagi saya, Tim 16 adalah sekelompok manusia hebat yang bersatu padu, saling mencintai dan menyayangi di bawah kepemimpinan Poundra, ketua Senat saat itu. Dan tahun 2012 adalah tahun kami banyak sekali bermanuver. Saya merasa kemahasiswan FK UP saat itu ada di puncak kejayaan. Hahaa.. *lebay*

Hingga akhirnya kami berpisah dan mulai menjalani kehidupan masing-masing. Tapi tidak dengan saya, dimas, dan tika. Kami ditakdirkan lagi menjalani kehidupan di luar FK bersama. Bergabung lagi dalam tim keren bernama, Kabinet Inti Protagonis. Dimas sebagai Menteri PSDMO, dan Tika sebagai Menteri PKM. Kami berbeda bidang, tak ada satupun yang sama.

Dan hal yang sangat mengharukan, saat kami menjalani amanah tidak mudah tersebut, kami sedang menyusun skripsj, sambil kuliah seperti biasa. Teringat akan pertanyaan adik saya di Kastrat. “Teh, gimana rasanya jadi menteri sambil kuliah dan ngerjain skripsi?”

Jawaban saya panjang saat itu, tapi ada sepotong kalimat begini, “ya alhamdulillahnya ada Tika dan Dimas yang meski kami beda kerjaan dan ga belajar bareng karena kosannya saling berjauhan, minimal ada temen seperjuangan, sepenanggungan.”

Kini, 2 tahun lalu itu telah terlewati. Tapi, saya tak akan pernah lupa bahwa mereka adalah dua orang yang pernah membersamai saya dalam beratnya menjalankan amanah selama saya di kampus. Semoga kita ketemu lagi yaa, bukan hanya di Rumah Sakit untuk koas, tapi di surga yang mungkin karena kerja-kerja tulus kita untuk kampus. 🙂

*Eh, saya pendek banget ya? Maklum ga pake high heels. 😀
NB: pake high heels itu capek parah. Serius. So, i don’t like high heels.

Pilihan yang Tak jadi Pilihan

Agak lega setelah resmi melepas amanah kemarin. Amanah terakhir saya terbilang cukup berat, apalagi harus dipegang oleh anak FK yang nyambi skripsi dikejar deadline lulus.

Dan kini, saya tak ada bayangan untuk mengambil organisasi lagi di dunia koas. Meski, sering saya diingatkan tentang amanah. “Setelah selesai amanah yang satu, akan ada amanah yang lain. Kita tidak akan pernah habis oleh amanah.”

Dan memang begitu adanya. Dahulu pun, amanah tak pernah berhenti meminta saya menjadi tuannya. Saat ini, saya memiliki pilihan untuk tidak beramanah di lembaga resmi. Saya ingin membiarkan saya berkembang di bidang lain.

Tapi, sebagaimanapun saat ini saya menetapkan pilihan, saya tidak pernah tau apa yang terjadi kelak. Saat seseorang meminta saya menjalankan sebuah amanah, saya tidak tahu akankah saya kuat menolak atau tidak. Seperti halnya dulu-dulu, saya tidak pernah berencana dan menetapkan pilihan ada di kastil, menjadi ketuanya, kemudian jadi menteri di tataran universitas. Tidak pernah sekalipun saya membayangkan hal tersebut. Tapi kenyataannya? Yang terjadi adalah hal itu.

Seringkali saya menetapkan pilihan, yang dalam kenyataannya, hal tersebut bukanlah pilihan bagi saya. Karena saya, seringkali menjalani apa-apa yang bukan jadi pilihan saya. Bukan berarti kita tidak perlu memilih. Ya, hidup ini selalu dipenuhi pilihan, oleh karenanya kita pasti akan memilih. Seperti memilih diam atau bergerak. Yang patut digarisbawahi adalah, seringkali yang terjadi dalam kehidupan kita adalah apa-apa yang dahulunya bukanlah pilihan kita. Tapi, ia nyata terjadi.

Tidur

Saya adalah penyuka tidur. Dahulu, saat masih SMA, kakak saya pernah bertanya “tidurnya berapa jam sehari?”.

Dengan pedenya saya menjawab, “delapan jam.”

“Kayak bayi lo..”

Beberapa lama kemudian, saya baru tahu, meski angka delapan jam itu adalah angka normal untuk tidur orang dewasa, tapi angka tersebut cukup fantastis *lebay*. Artinya, sebenernya, angka itu agak kurang wajar. Kurang wajar bagi siapa? Bagi dia yang ingin produktif.

Saya orang yang tidak bisa meninggalkan tidur. Di saat teman-teman saya begadang, tidur jam 3 atau 4 subuh menjadi rutinitas saat ujian, hal itu tidak terjadi pada saya. Saya akan tetap tidur sebelum subuh. Belum pernah rasanya begadang dan kemudian tidur setelah subuhnya. Ga kuat broo.

Bahkan saya juga gampang tidur di kampus. Hahahaa.. tentu aja masih ada yang lebih mudah tertidur dibanding saya. Intinya, balik lagi ke awal saya penyuka tidur.

Tidur (bagi saya) bukan hanya suatu agenda rutinan yg wajib. Bukan hanya kegiatan yang memulihkan energi setelah sekian jam beraktivitas, tapi juga sarana saya lari sejenak dari kenyataan hidup. Sering saya menghindari percakapan menyebalkan, tidak ingin ingat sesuatu, atau menghindari masalah sejenak dengan tidur. Ya, tidur jadi pelarian masalah bagi saya. Apalagi jika kemudian, di dalam kamar, tak ada pekerjaan apapun yang menuntut dikerjakan yang memungkinkan saya banyak mengingat memori-memori ajaib yang membuat hati saya tak tentu arah. Kadang, tidur menjadi pilihan meski tidak ngantuk sekalipun.

Selama ini, tidur adalah salah satu sarana terbaik saya ‘keluar’ dari kehidupan ini. Jadi teringat pesan seorang dokter tadi di laboratorium patologi klinik, “sebelum koas, puas-puasin tidur. Nanti koas ada jaga malem dan sorkadian sungguh menjadi tidak normal.”
Oohh,. Mungkin pelarian ini akan berubah sarana.

Belajar dari Film

Sekitar seminggu lalu, saya menonton sebuah film yang (katanya) harusnya saya sudah menontonnya. Judulnya Sang Murabbi. Film ini mengisahkan perjuangan seorang da’i Indonesia yang sangat dicintai yang tentu saja menyisakan isak tangis saat kepergian beliau. beliau adalah Ust. Rahmat Abdullah. 

Sekitar seperempat perjalanan film, dikisahkan beliau sedang menasihati adiknya yang saat ditemui olehnya sedang memukul orang. kemudian beliau berkata pada adiknya. “Ada dua hal yang harus kita ingat. Pertama kebaikan orang lain pada kita. Kedua, kesalahan kita pada orang lain. Ada dua hal juga yang harus kita lupakan, yaitu kebaikan kita pada orang lain dan kesalahan orang lain pada kita.

Dari situ, saya terdiam. Tertohok. 

Setiap kita pasti memiliki rekam jejaknya masing-masing. Ada cerita sedih dan bahagianya. Ada banyak orang lalu lalang, keluar masuk dalam kehidupan kita dengan berbagai peran. Dengan berbagai rasa. Yang kemudian membekas dengan berbagai warna dan rasa. 

Ada orang yang seolah-olah tercipta untuk menjadi ‘ibu peri’ dalam hidup kita, seperti orang tua, sahabat. Ada pula orang yang datang dalam kehidupan kita menjadi ujian kesabaran dengan kehadirannya yang menyebalkan dan lainnya. Yang sangat memungkin mereka (keduanya) dapat melakukan kebaikan dan kesalahan sekaligus selama menetap dalam hidup kita.

Siapapun mereka, sangat mungkin memiliki keniscayaan melakukan kebaikan dan kesalahan selama singgah dalam hidup kita. Sama seperti kita yang juga hampir niscaya melakukan kebaikan dan kesalahan pada mereka. Tinggal bagaimana sikap kita terhadap dua perlakuan tersebut. Apakah kita mau terus-menerus terbelenggu dalam ingatan kesalahan orang lain pada kita atau membebaskannya menjadi butiran-butiran hikmah yang menjadikan kita lebih dewasa menyikapi kehidupan.

Saya ingin belajar bijak. Dengan memulai berdamai dengan masa lalu. Membebaskan rasa benci, membiarkan Allah sebagai Hakim Yang Maha Adil pada setiap perbuatan makhluk-Nya. Allah tahu bahwa kita mampu bersabar, menormalkan rasa pada titik netralnya sehingga Ia memberikan ujian itu. Kalau tidak bisa, sesungguhnya kita tidak akan pernah diberikan ujian itu. Hanya kita perlu sugesti kuat untuk melawan ego-ego rasa dari kungkungan hal yang (cukup) pahit.

Percakapan ber-Benang Merah

Ucapan selamat ulang tahun itu ada-ada aja ya.. ada yang ngucapin “Semoga jadi akhwat yang tambah macho..”

Oh, jadi selama ini saya macho?

Benang merahnya dalam hari yang sama adalah saat saya konsultasi pada teman saya tentang rasa berat saya membeli make-up untuk wisuda. Kata dia, “usia lo udah masuk usia bersahabat dengan make-up.”

Ada lagi perbincangan tentang tas dan sepatu. “Ga mungkin kan lo akan pake ransel dan sepatu kets terus. Lo juga udah harus mikirin pake tas cewek.”

Atau celetukan semisal, “The farah ini taunya apa sih tentang cewe? Make-up ga tau, bumbu masakan ga tau. Kajian mulu sih..”

Lalu, saya kepikiran. Gak kebayang kalo saya kuliah di teknik. Jadi apa saya di sana?

Dan percakapan kecil lainnya tentang cewek yang sering membuat tenggorokan saya tercekat setelahnya. Pembicaraan tentang make-up, tas cewe, sepatu cantik, wedges sesungguhnya adalah pembicaraan yang rada bikin pusing kepala. Tapi, saya yakin someday, mereka akan jadi sahabat saya di rumah. Rumah yang lain, bukan rumah orang tua. Hahahaa.. 😀