Super Random #6

Kalau ternyata Allah menakdirkan saya menikah dengan seorang dokter, saya ingin membangun dinasti. Dinasti kedokteran. Pernikahan dua dokter itu merupakan benih terbentuknya dinasti kedokteran. πŸ˜€

Advertisements

Momentum UN

Saat itu, tanggal 20-an April 6 tahun lalu. Saya adalah murid SMA yang akan melaksanakan ujian yang menentukan kelulusan. Saya adalah murid SMA yang menaruh handphone di tas saat ujian. Tasnya diletakkan di depan kelas. Saya adalah peserta ujian tanpa jawaban. Di saat kanan, kiri, depan, belakang kasak-kusuk dengan handphone-nya.

Saya tak pernah lupa, kata-kata teman saya, Deni namanya. Saat itu siang selepas ujian Fisika. Air mata saya sudah mulai turun. Deni menimpali, “Parah banget sih Far, ini Ujian Nasional, malah ngasal..”

Ya, dari 40 soal fisika, saya hanya mampu menjawab 21-22 soal dalam waktu yang diberikan. Lama ngerjain soal hitungan. Saya lemah soalan hitungan. Saya bisa menghitung diulang berkali-kali karena saya sangat menyadari bahwa saya ceroboh pada angka. Sehingga saya tidak percaya pada hitungan pertama saya. Lantas, Sisa 18 nomernya? Saya jawab asal-asalan. Kenapa? Padahal jawaban bertebaran.

Karena saat itu saya mem-brainwash otak saya dengan mengatakan, “buat apa nilainya bagus, kalau tidak berkah. Kalau soal lulus, Allah Maha Tahu dan Maha Penolong”. Saat itu, yang saya kejar adalah keberkahan.

Nilai di atas ijazah saya terlampau biasa jika dibandingkan denganΒ  teman-teman saya. Tapi saya tidak peduli. Meskipun, pada akhirnya nilai fisika saya jelek dengan kepala 5 (bahkan di bawah kepala 6), saya bersyukur masih bisa lulus dan tidak perlu mengikuti paket C.
Allah baik sekali.

Dan kini, momentum itu, harusnya menjadi cambukan, menjadi pengingat bahwa saat itu, mental saya adalah kejujuran. Saya orang yang sangat menghargai sebuah kejujuran. Hal yang saya pegang sampai saat ini. Dan harusnya akan terus menjadi penjaga di saat nanti saya memegang amanah dalam bentuk pekerjaan yang mungkin rentan korupsi.

Saya juga masih berusaha memegang nilai “yang terpenting adalah keberkahan Allah”. Meskipun, harus menggadaikan rasa, mengganti dengan kesabaran. Karena yang terpenting berkah. Buat apa aman dan nyaman jika Allah tak memberkahi.

Ujian Nasional adalah momentum. Momentum dimana saya benar-benar merasa sebagai manusia. Manusia yang sadar bahwa ia memiliki Tuhan Yang Maha Melihat dan bergantung pada-Nya.

Selamat Ujian, adik-adik SMA. Percayalah, kejujuran tidak hanya menyelamatkanmu di dunia, melainkan juga di akhirat. Tinggalkanlah jawaban-jawaban yang bukan darimu itu..

#Sikap

“Jangan sisakan sekecil apapun kebencian..”

Begitu kata tausyiah pagi ini.

Dari dahulu, saya belajar untuk terbebas dari rasa benci meskipun rasa itu hadir tanpa pernah diminta. Benci dan cinta hakikatnya kan sama. Datang tanpa diminta dan sulit sekali diusir. Hanya rasanya yang berbeda.

Saya pun belajar tidak membenci manusianya. Hanya membenci sifat atau sikapnya. Karena masih mungkin kan sifat dan sikap seseorang berubah? Toh, yang menyebalkan juga kan adalah sifat dan sikapnya.

Saya belajar memaafkan sepenuhnya. Hanya saja, memaafkan bukan berarti menerima dan memasukkan kembali sesuatu atau seseorang dalam kehidupan kan?

Saya memilih memaafkan dengan (terus belajar) sepenuh hati, tidak membenci, serta tidak mau memasukkan dan menerimanya lagi dalam kehidupan saya. Dalam kehidupan lho, bukan hanya dalam hati.

Bandung, 11 April, 09:59

Manisnya Iman

Bahagia yaa melihat kawan-kawan saya di kampus yang semangat menuntut ilmu agamanya tinggi. Dahulu, saat awal-awal saya mengenal mereka, beberapa dari mereka memiliki pacar di tempat asalnya masing-masing, terlihat, hemm.. apa ya namanya, gaul mungkin. Gaya-gaya anak gaul daerahnya.

Kini, yang saya lihat status-status line mereka yang isinya informasi mabit, ajakan mabit, dan semisalnya. Sungguh berbeda dengan mereka yang saya kenal pada awal pertemuan. Puji Syukur, Allah limpahkan rahmat dan nikmat iman yang lebih kepada mereka. Saya bahagia sekali. Mengingatkan saya pada masa-masa dahulu giat mencari jalan Allah. Betapa manusia bisa berubah dengan hidayah Allah.

Bagi saya, tak ada nikmat terbesar selain hidayah dan rasa cinta kita yang besar pada Allah. Manisnya iman tidak semua Allah berikan pada makhluk-Nya. Melainkan ada ikhtiar-ikhtiar kita di sana. Saya ingat betul bagaimana perjuangan dahulu untuk dapat merasakan lezatnya iman dan manisnya cinta Allah. Yang kemudian masa-masa itu bisa menjadi penguat di kala futur melanda atau godaan datang menawarkan nikmat sesaatnya.

Seperti manusia-manusia lain, mungkin saya juga pernah terjerembab dalam kesalahan setelah ada di jalan ini. Tapi, lagi-lagi dengan baiknya Allah selalu ‘mengulurkan tanganNya’ mengangkat saya dari got yang saya terporosok di dalamnya. Ahh, rasanya cukup sudah mengkhianatiNya. Toh, terbukti saya tak bahagia dengan pengkhianatan itu. Sabar jauh lebih baik daripada jalan pintas yang Allah tidak suka.

Ah, tapi sesungguhnya saya malu pada mereka. Mereka, Allah mudahkan langkah-langkah kakinya ke majelis ilmu, majelis Quran, atau majelis berbuah pahala lainnya. Bangga sekali melihat mereka berbondong-bondong, saling mengajak. Doa terakhir, semoga manisnya iman ini bisa terasa hingga akhir hayat hingga perjumpaan kita di surga dan perjumpaan dengan Allah.

Terjebak

Ada pepatah yang mengatakan,

“lebih baik terjebak hujan daripada terjebak masa lalu.”

Sekilas lucu memang. Entahlah siapa pembuatnya. Tapi tentu jawabannya iya. Siapa yang mau dijebak masa lalu? Karena masa lalu sering sekali jadi hantu yang memaksa hulu airmata keluar. Begitulah perbincangan dengan kawan saya saat bercerita masa lalunya. Hingga ia mengatakan “gw ga bisa ga menaruh dia di masa depan gw..”

Ooh, dramatis sekali. Sedih juga saya mendengarnya. Saya hanya bisa memberikan nasihat “Jangan gitu, kita ga tahu takdir kita dengan siapa, nanti ga bisa buka hati untuk orang lain kalau memang takdirnya bukan itu.”

Belum lagi, ucapan ulang taun yang makin macam-macam. “Semoga dimudahkan move on-nya.”

Uwow.. susah move on lagi jadi trend sepertinya. πŸ˜€ Bahkan saking susahnya kawan saya (yang lain) untuk move on, sampai jadi ucapan miladnya di grup. Saya jadi penasaran. Saya telisik lebih dalam. Hingga ternyata, orang di masa lalunya yang sudah nikah saja, hampir 3 tahun setelahnya belum move on juga.

Kadang sedih juga melihat fenomena seperti itu. Saya sering berpikir, kalau ditakar, seberapa besar cinta orang-orang itu pada orang di masa lalunya hingga begitu. Mungiin saya terlalu polos soalan cinta. Tapi, apakah Allah tak kunjung mampu menggantikan cinta itu? Padahal justru cinta pada Allah bukan untuk jadi pengganti, melainkan menjadi utama.

Saya jadi menyadari sebuah nikmat Allah yang mungkin baru saya sadari bahwa ini adalah sebuah nikmat. Nikmat tidak pernah berharap pada satu nama. Saya tidak berani. Soal perasaan, saya ini antisipatif. Lebih baik berpikir ‘tidak mungkin, tapi sebenarnya mungkin’ daripada ‘berpikir mungkin, tapi kenyataannya tidak pernah mungkin’.

Tapi sebenarnya, bukan itu utamanya. Melainkan, karena Allah yang punya skenario hidup. Allah yang Maha patut paling dicintai. Harusnya saat kehilangan seseorang, yang jelas-jelas bukan milik kita karena ia milik Allah, kita ikhlas. Wong bukan milik kita. Dan karena kita punya kewajiban memberikan hati terbaik untuk orang yang kelak mendampingi hidup kita di masa depan. Kasihan kan, orang masa depan, cuma dapat sisa dari hati kita yang sudah habis digerogoti orang masa lalu. Hingga saya selalu bersyukur dengan nikmat Allah tadi. Gak jadi ya sudah. Akan bersama yang lain. Tidak menunggu, tidak pula berharap lagi. Menunggu bukan pilihan bagi saya. Semudah itu Allah hadirkan perasaan itu dalam hati ini. Semoga, ini bukti kecintaan Allah pada hamba-Nya. Saat hamba-Nya benar-benar pasrah pada nama siapapun. Tanpa terjebak nama A, B, atau C.

Bandung, 6 April 2014, 00:31