Psikiatri

Dari balik kaca jendela saya perhatikan mereka. Tingkahnya, perilakunya. Lamat-lamat saya perhatikan menimbulkan kesedihan. Tidak terpikir oleh saya apa yang ada dalam benak mereka saat mereka melakukan hal-hal aneh. Berjalan dengan tatapan kosong, minum air pel, membuka celana di hadapan orang yang membuat seketika, kami yang (alhamdulillah) kejiwaannya baik, berteriak melarangnya melakukan hal tersebut.

Belum lagi ketika saya melakukan anamnesis (wawancara, red) pada salah satu dari mereka. Saat itu saya bertanya..
“Kamu ngerasa ada yang masukin sesuatu ke pikiran kamu ga?”
“Nggak, kan otak saya udah ga ada, dok.”

Sontak saya kaget mendengar jawabannya. Dia tidak mengalami fraktur kepala. Kepalanya normal seperti orang biasa. Lantas saya kembali bertanya.
“Loh, kepala kamu kan normal. Masih berbentuk bulat, ga ada luka, masih ada batok kepalanya. Berarti otaknya juga masih ada.”
“Tapi otak saya udah ga ada. Udah dicabut. Kan waktu itu ke tabib terus dijambak-jambak rambutnya. Jadi otaknya udah ga ada.”

Tentu itu jawaban yang sangat aneh. terlebih keluar dari mulut orang dewasa berusia 22 tahun. Tapi begitulah adanya, ia mengalami gangguan pikiran yang juga terganggu jiwanya.

Sesungguhnya, dari hari pertama banyak yg lebih amazing. Ada pasien yang mencium tangan saya lama sekali. Takut juga saya. Menemukan jawaban yang tidak relevan, perilaku aneh, dan lain-lain. Sering saya berpikir, apa sih sebenernya yang ada dalam pikirannya hingga mereka melakukan hal-hal aneh tersebut atau berbicara tidak karuan.

Beberapa cerita masa lalu mereka mewarnai pemikiran saya tentang mereka. Dari cerita masa lalu itulah kemudian saya diajak berpikir tentang keberadaan Allah di hati kita, tentang ujian dan kesabaran. Saya berpikir banyak jika ujian yang mereka hadapi terjadi pada saya, apakah saya juga akan mengalami gangguan kejiwaan seperti mereka. Entahlah, banyak sekali pertanyaan ‘andaikan’ dalam benak ini.

Ada pula cerita lain. Di poli jiwa, saat saya dan teman-teman bimbingan dengan dokter residen, sepasang suami istri masuk ke ruangan. Sang dokter mulai menjalankan tugasnya. Bertanya-tanya tentang kondisi si istri. Seorang ibu dengan 2 anak ini pernah mengalami gangguan jiwa psikotik. Kami pun dipersilakan melakukan anamnesis dan si istri dengan antusias menjawab pertanyaan kami. Sesekali suaminya ikut menjawab. Dari raut wajah suaminya, tidak terlihat rasa benci, lelah karena harus mengantar istrinya kontrol kejiwaan.

Keesokan harinya, saya dan teman sekelompok berbincang-bincang, tercetualah kalimat dari seorang teman saya, “bapak yang kemaren nganter istrinya sabar banget yaa..”
“Iya, yaa.. sabar banget..” kami menimpali. Si istri sudah beberapa tahun mengalami psikotik dan saat ini masih rutin minum obat dan kontrol rutin untuk memantau kesehatan jiwanya.

Ya itu sepenggal cerita saya selama 3 minggu di psikiatri. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat. Termasuk hikmah religi untuk senantiasa dekat dengan Allah. Hingga ujian seberat apapun yang datang pada saya, semoga saya hanya perlu bersandar padaNya. 🙂

Advertisements

2665 mdpl (part 1)

Malam itu, saya bergegas menuju Masjid Asy-Syifaa RSHS agar tidak kehujanan karena langit sudah mulai mengeluarkan suara-suara pertanda hujan. Akhirnya saya kehujanan juga. Berteduh depan poli Anggrek sambil membawa daypack penuh, matras, dan plastik kecil berisi makanan. Sesampainya di sana, saya mulai makan malam untuk kemudian packing.

Ternyata packing naik gunung itu lucu banget. Semua barang dimasukkan ke dalam plastik lalu dihirup agar tidak ada udara sedikitpun. Udara akan memakan space dalam carrier. Setelah, ngos-ngosan menghirup smua plastik bungkusan barang, saya mulai memasukkan barang ke dalam carrier yang dibawa kawan saya hasil pinjemannya dia pada temannya. Memasukkan barang dimulai dari barang yang akan digunakan terakhir. Sleeping bag adalah barang pertama yang dimasukkan. Setelah rapi, carrier ditimbang. Wow, berat carrier yang akan saya bawa 10 kg.

Setelah semua orang packing, perjalanan malam pun dimulai, kami bernagkat jam 12 malam menuju cileunyi dengan mencarter angkot. Setelahnya, kami naik semacem omprengan menuju cisurupan (daerah kaki gunung Papandayan). Sampai cisurupan jam 3 malam. Kami tidur di masjid sampai pagi dan sarapan. Setelahnya, kami akan menuju post camp laporan 1- dimana perjalanan mendaki dimulai – dengan menggunakan pick up. Uwow, jalanannya dahsyat banget. Rusak parah. Dan membuat kami harus saling berpegangan saat naik.

image

                          Ini foto di pick-up sebelum pendakian

Sesampainya di sana, kami melakukan pemanasan. Dan, pendakian pun dimulai. Gini nihh, kalo jarang olahraga, baru jalan sedikit udah capek. Kami melewati jalan bebatuan, kawah belerang, sungai yang terpaksa harus basah-basahan, pendakian dengan dinding curam, dan perjalanan panjang lainnya. Hingga sampai pada tempat peristirahatan dimana banyak orang mendirikan tenda. Pondok Cisaladah namanya. Perjalanan panjang yang melelahkan. Siang menjelang sore hujan, tendanya kehujanan, dan kami pun menunggu hujan reda untuk solat.

Sore setelah hujan reda, saya bersama kawan saya mencari aumber air untuk berwudhu. Huffhh, kehidupan sulit belajarlah dengan naik gunung. Mengambil air perjuangannya luar biasa. Kayak di acara-acara TV yang kalo mau ambil air bawa drigen dan harus berjalan berkilo-kilometer. Sabtu sore ini banyak sekali yang nge-camp. Sampai-sampai, saya dan kawan saya sempat tersesat. Tapi, tak perlu tersesat lama, kami menyadari bahwa itu bukan jalan menuju tenda kami.

Sesampainya di tenda, saya solat dan mulai memasaka. Menu untuk makan malamnya adalah nasi, nugget dan sayur sop. Karena kami ber-13 dan nesting (tempat masak untuk naik gunung) itu kecil, jadi harus masak berkali-kali. Kami masak sambil saling bully, bercanda, tertawa-tawa. Dan ide gilanya, 3 kawan laki-laki saya melakukan pengambilan gambar untuk video clip dengan lipsinc menggunakan LSR saya. Dasar kelakuan!