Itu-Itu Aja

Selama sekian tahun gw hidup di dunia… sebenernya permasalahan gw berkutat di situ-situ aja. Seolah-olah ini menjadi jawaban bahwa tantangan terbesar hidup gw bukanlah besarnya beban amanah. Tapi…. itu. Soal itu. Soal orang-orang yang ga ada henti-hentinya keluar masuk hidup gw. Ada yang lama banget masuk hidup gw, ngilang, masuk lagi. Ada yang bertahun-tahun masuk, ngacak-ngacakin, sempet ngilang, masuk lagi, ngacak-ngacakin lagi, terus ilang……

Ada pula yang setrilipan dateng, tapi efeknya luar biasa, dan berharap, dateng lagi.. *terlalu jujur*

Kadang gw mikir. Sebenernya, apa ya tujuan Allah memberikan gw masalah hidup yang temanya sama dengan pelaku berbeda. Seolah-olah hidup gw jadi cuma ngurusin ini doang. Seolah-olah gw galau ga ada berenti-berentinya. Tapi, ga juga sih gw bisa nunjukkin gw ngapain aja selama 2 tahun belakangan ini. Amanah yang ga main-main broo..

Dulu sih, waktu jaman SMP, ini bukan masalah gede. Waktu SMA, masalah banget, tapi masih bisa gw cover. Setelah masuk kuliah, ampuunn dehhh.. rasanya mau nyerah. Tapi ga tau gimana juga bentuk nyerahnya, jadi ya mau ga mau harus dihadapi.

Gw ga tau kapan ini berhenti, ujungnya dimana, endingnya kayak apa. Gw jadi tau jawaban kenapa dulu-dulu sering galau. Ya gara-gara suka ada orang keluar masup hidup gw. Dan kadangg ada yang smena-mena ngobrak-ngabrik. Dengan prinsip gw, gw jadi harus cari pelarian dengan cara yang lebih baik. Dikata enak apa. Nggak. Nggak, sama sekali.

Kadang, gw lelah ama ujian satu ini. Tapi.. setiap orang ada ujiannya masing-masing kan?
Mungkin, ini emang bagian gw. Dan sangat mungkin, ada wanita lain yang berprinsip sama ama gw dan mengalami hal yang sama ama gw.

Kalo bentuk ujian gw ini diganti, belum tentu gw juga sanggup mengatasinya kann?

Bekasi, 5 Juni 2014

Advertisements

Beginilah seharusnya Laki-laki

Kemarin hari, saya bertemu dengan sahabat saya yang baru menikah. Kami meluangkan waktu untuk saling bercerita. Sudah lama sekali kami tak bersua dan cerita-cerita seperti kemarin. Saya, secara eksklusif, meminta diceritakan ‘proses’ sahabat saya bersama suaminya itu.

Kemudian, dia menceritakan banyak. Termasuk tentang hal yang pernah dilakukan suaminya sebelumnya. Apa yang pernah dilakukan suaminya?

Sang suami, sebut saja X, beberapa kali mengajukan diri untuk akhwat-akhwat yang diketahui menyukai dirinya. “Saya ga tega membiarkan perempuan maju duluan atau menyebut nama duluan. Gimana gitu. Ya udah, saya aja yang maju duluan,” katanya menirukan suaminya berbicara. “Dia baik banget, Far..” ujar sahabat saya.

Meski akhirnya proses itu selalu gagal karena berbagai faktor. Tapi, ini bukan perkara prosesnya berhasil atau gagal. Ini tentang sikap seorang lelaki.

Saya hampir tak bisa berkomentar tentang sikap suaminya ini. Ini adalah jenis cerita tentang sikap lelaki yang baru saya dengar. Tanpa sahabat saya berkata suaminya baik banget, kebayang kebaikannya dari cerita tersebut. Bahkan ini jauh lebih dari kata gentlement. Jika dikatakan terlalu gentle, kata ‘terlalu’nya bisa bermakna negatif. Maka, fix, saya tidak bisa menamakan apa atas sikap suaminya ini.

Saya hanya bisa mengatakan, “Beginilah seharusnya laki-laki..” 🙂