Al-Fatihah

Jika di setiap solat kita membaca Alfatihah dengan tidak terburu-buru dan tahu artinya, saya yakin siapapun akan menangis..

Dari Alfatihah kita belajar adab tentang doa. Bahwa doa, baiknya didahului dengan puji-pujian untuk Allah. Setelahnya, ada bagian pernyataan bahwa kita hanya menggantungkan hidup pada-Nya. Lantas, mengapa kita masih sering menggantungkan harap pada manusia?

Setelahnya, adalah doa. Doa mohon diberi petunjuk jalan yang lurus. Karena sejatinya, nikmat terlezat di dunia adalah hidayah dari Allah. Sesuai doa dalam Alfatihah..

Advertisements

Cerita di Bedah

Ada pertanyaan menggelitik saat perjalanan pulang dari RS Cibabat. “Apa sih yang ada dalam pikiran residen bedah cewek ngambil bedah?” Begitu pertanyaan kawan saya. Kawan saya lain menjawab, “Ya karena hobi. Suka. Kalo udah suka ya gitu..”

Hemm.. saya hanya tidak habis pikir pada mereka -residen bedah cewek- saat memutuskan ngambil studi spesialis bedah. Jadi koas bedah aja rasanya pengen lari dari kenyataan, apalagi jadi residennya. Kayaknya kehidupan cuma ada di rumah (kosan) dan Rumah Sakit. Kehidupan mungkin cuma operasi, meriksa pasien, gadget, dan.. sedikit kehidupan pribadi. Lebay sih mungkin. Karena saya juga tidak tahu2 banget tentang bedah.

Ada seorang dokter residen saat itu ikut belajar bersama koas saat di bagian bedah vaskuler. Dia bercerita “temen saya, 4 perempuan, ambil bedah saraf, bercerai..”

Ah, tidak. Sakit sekali mendengarnya. Padahal saya tidak tahu siapa. Dokter itu pun tak menyebut nama kawannya itu. Saya ngilu mendengar perceraian karena profesi dokter. Karena wanitanya lebih memilih mengambil studi spesialis ketimbang keluarga. Sungguh menyesakkan memang. Tapi, begitulah pilihan hidup. Bahkan, tak hanya menimpa dokter wanita, tapi juga dokter laki-laki. Kalo kamu pernah nonton serial Code Blue, sang dokter bercerai dengan istrinya karena profesi yang menuntutnya ada di rumah sakit terus-terusan. Bukan ingin menelantarkan keluarga, tapi memang tuntutan profesi.

Melanjutkan studi spesialis dengan studi S2 tentu sangat berbeda. S2 bahkan bisa diambil sambil bekerja. Kalo studi spesialis? Udah lama, 4-6 tahun, ga bisa kerja pula. Atau kalopun bisa kerja, kalau sudah jadi CR (Chief Residen). Itu masih lama, udah masa-masa nyusun thesis. Studi spesialis belajarnya kayak kerja. Kerja jadi dokter di poli, di IGD, di ruang rawat inap. Bekerja siang malem kalo ada jadwal jaga, TANPA DIBAYAR. Yang ada malah bayar studi tiap semester dengan angka yang besar. Belasan juta. Oh…

Beberapa kali saya juga sering mendengar cerita-cerita residen tentang kehidupan keluarganya. Tentang anak-anak yang harus ‘ditinggalkan’ dulu. Tentang suami yang membantu mencari jurnal buat besoknya karena ada jaga malem, dan cerita ajaib lainnya.

Kemudian, sang dokter residen melanjutkan lewat petuahnya kepada kami, sang koas bedah. “Kalian nanti kalo mau ambil spesialis nikah dulu. Terus cari orang yang mengerti profesi dokter. Ga gampang loh nemuin itu. Cari yaa yang mengerti kalian. Mengerti kehidupan dokter. Ga mesti dokter, yang penting ngerti.”

Ah, membersamai dokter itu mungkin sulit. Sangat sulit dengan tuntutan pasien yang masih banyak. Maka, jika kamu dokter, berilah pengertian pada (calon) pasanganmu. Lain cerita sih kalo pasanganmu dokter juga. Jika kamu bukan dokter dan ada minat atau kesempatan hidup sama dokter, mengertilah.. kehidupan mereka rumit tapi humanis sekali.. dan kamu jadi punya dokter pribadi tanpa dibayar. Syaratnya, harus ngerti, syukur-syukur kamu mau bantuin ngerjain tugasnya yang mau dikumpulin besok.. Haha..