Menerima Kebaikan

Ternyata, menerima kebaikan itu tidak mudah yaa.. Saya kira saat kita mendapat sedikit nasihat, kita akan segera beristighfar. Ya, minimal istighfar atas kelalaian-kelalaian kita sehingga mendapat nasihat seperti itu. Tapi.. ternyata kita butuh istighfar double, bahkan tripel, bahkan lebih banyak lagi karena mungkin, nasihat yang diberikan malah membuat kita marah, tidak terima, atau bahkan berpikir macam-macam tentang orang yang memberi nasihat tersebut.

Maka, bersyukurlah kita dan jagalah keadaan dimana kita mudah menerima nasihat apalagi itu nasihat tentang Allah. Semoga hati kita tidak dikeraskan hingga bgitu sulit menerima nasihat dan kebaikan.. 🙂

Advertisements

Lagi. Cerita Dokter

Pagi tadi, saya ada di Rumah Sakit Ujung Berung, Bandung. Masuk ke poli orthopedi. Selesai pasien diperiksa, kami diajak berdiskusi oleh sang dokter orthopedi. Dari diskuai tentang pelajaran -penyakit2 ortho- hingga akhirnya sang dokter bercerita tentang masa-masa residensinya dulu.

“Di kana pasiennya ada berapa sekarang?”
“Empat dok kayaknya. Kemaren sih visite cuma empat.”
“Empat? Beneran empat? Yang bener? (Dengan nada super ga percaya)”
“Iya dok,” jawab kami
“Jaman saya residen dulu, kana itu pasien orthonya ada 80. Kalo visite bisa 4 jam. Dan itu saya sendiri yang megang. Jam 3.30 pagi itu saya udh GV -ganti verban-. Jam 6 CR (Chief Residen) udah muter-muter ruangan. Abis saya ditanya Hb pasien, saya lupa. Mana saya inget Hb-nya pasien segitu banyak. Dapet hukuman tambah jaga 1 minggu.”

GLEK *nelen ludah*

“IGD itu penuh dulu. Sampe-sampe koas pasang skeletal traksi, tapi saya supervisi. Saking banyaknya pasien. Sekarang mana bisa koas pasang skeletal traksi? Saya pernah sampe ga pulang seminggu karena follow up pasien saya. Soalnya dulu pasien IGD ga bisa dioper. Kemaren saya liat IGD sepi gitu..”

*garuk2 kepala*

Lanjut cerita
“Ortho itu paling susah ujiannya. Ada ujian internasional yang diuji ama profesor luar negeri buat lulus ortho. Boleh tanya sama bagian lain.”

Mendengar cerita beliau, saya langsung lemes. Ga kebayang. Langsung coret ortho dari daftar studi lanjutan. Emang ga minat juga sih. Tapi, dari cerita beliau saya kayak ‘ditampar’ untuk ga mengeluh terutama capeknya bedah. Apa yang saya rasain belum ada apa-apanya dibanding koas-koas jaman baheula. Dan untuk memanfaatkan sisa waktu 4 minggu di bedah ini. Percuma mengeluh capek karena follow up pagi dan jaga. Toh, saya tetap harus melakukan itu..

“Perjuangan Dokter di Indonesia”

Masih banyak masyarakat yang berpikir kalo dokter itu kaya. Mungkin iya, dokter-dokter spesialis. Apa semua dokter spesialis? Nggak.
Apa masih mau masuk kedokteran supaya jadi dokter dan kaya? Jangan, atau nanti akan kecewa.

Profesi dokter ini lucu menurut saya. Punya stigamatisasi. Bedanya, stigmatisasinya positif. Dianggap “wow”, dilihatnya gimana gitu, diprediksi akan kaya. Padahal …

Saya jadi ingat, ada mas-mas di angkot nanya, “kuliah atau kerja mbak?”
“Kuliah, mas.”
“Jurusan apa?”
“Kedokteran..”
“Wahh, berarti nanti mah ga akan naik angkot lagi yaa..”
Saya lupa apa ekspresi saya selanjutnya mendengar kalimat terakhir mas-masnya.

Itu salah satu jenis stigma implisit mungkin. Itu contoh bahwa masyarakat kita melihat profesi dokter adalah profesi yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Mungkin iya. Setelah belasan tahun atau lebih menempuh sekolah dengan biaya yang ga bisa diprediksi dan masyarakat ga tau bagaimana kami bersekolah dengan jam belajar (kerja) yang tidak normal. Melewati batas kehidupan manusia pada umumnya.

Ya, sekali lagi. Menjadi dokter adalah pilihan hidup. Bukan salah satu pilihan untuk kaya selain menjadi pengusaha, notaris, dan lain-lain, melainkan pilihan untuk mengabdi pada negara, yang pelayanan kesehatannya masih banyak yang harus diperbaiki.

Bandung, 5 Agustus 2014
17:43

Super Random #7

Sudah setengah tahun 2014 terlewati. Sudah berapa buku yang saya baca? Hemm.. tak ada 1 buku pun saya habiskan. Beda dengan tahun lalu. Tahun lalu, saya menargetkan menghabiskan 30 buku karena saya berada di lingkungan manusia-manusia gila baca.

Saat itu, kawan saya bilang targetnya berat apalagi jadi menteri dan ngerjain skripsi. Yang ada harus banyak-banyak baca jurnal. Tapi, meskipun tidak sesuai target, buku yang habis saya baca lumayan banyak. Tak ada angka pasti karena saya tidak menghitungnya. 20 buku ada mungkin, ya 15-20 buku lah saya baca selama setahun dengan berbagai jenis buku. Tak banyak, tapi puas.

Tahun ini, saya punya target lain sehingga waktu membaca buku saya alihkan dengan mencapai target itu. Insya Allah target kebaikan, untuk investasi masa depan. Saya hanya baca buku seperlunya. Seperlunya informasi dan materi yang saya butuhkan, saya baca. Ya, saya baca buku-buku tebal yang hanya bagian-bagian tertentu saya baca yang saya butuh.

Tapi, saya jadi merasa kosong. Di setiap diskusi di grup line dan whatsapp saya lebih banyak menyimak, bahkan isu tentang jaminan kesehatan nasional aja saya jadi planga plongo. Padahal, itu makanan saya dulu. Hemm, saya harus belajar banyak lagi tentang tawazun. Ga berat sebelah. Target kekejar, tapi tetep kasih asupan untuk wawasan umum. Lalu hati senang.. 🙂