Dilema Ekstrovert

Aku ingin bertepuk tangan untuk orang-orang introvert. Mereka begitu bangga dengan keintrovertan mereka. Sebangga orang-orang ekstrovert bangga terhadap keekstrovertan mereka. Seolah ekstrovert selalu bisa ceria dengan masalah-masalah yang sudah mereka bagi dengan orang lain dan introvert merasa bahagia di tengah gemuruh hati untuk menyimpan segala cerita mereka sendiri.

Aku adalah seorang ekstrovert yang tak bisa menyimpan sendiri. Aku pernah mencobanya. Mencoba bertahan untuk berdiri tegak di atas kakiku sendiri. Mencoba menyimpan rasa berbeda dari dua puluhan tahun lalu. Namun, ternyata aku tak mampu. Aku kembali datang pada ‘peraduan’ku. Mencoba sedikit mengeluarkan sesak. Ya, sesak. Sesesak itu aku merasa. Dan tak bisa kumungkiri, menceritakannya seperti mengeluarkan biji salak di kerongkangan. Ternyata aku memang seorang ekstrovert sejati.

Lalu, kini aku ingin sekali memberikan jutaan pujian bagi introvert. Karena aku ingin sekali menjadi seperti mereka. Yang bisa menelan bulat-bulat ‘biji salak di kerongkongan’. Yang dengan itu, mereka masih bisa tersenyum meski ada segurat luka di dalam. Luka menganga yang masih bisa membuat mereka terlihat ceria di hadapan orang lain.

Aku ingin sekali menjadi seorang introvert karena aku ingin berhenti menjadi beban bagi siapapun peraduanku saat ini. Aku ingin menyimpannya sendiri. Menyimpan rasa luar biasa itu di dalam hati terdalam hingga hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku ingin sekali. Namun, tak mampu. Aku iri padamu, introvert. Tak bisakah aku menjadimu barang satu dua dalam perkara hidupku?

Bandung, 13 Oktober 2014

Advertisements

2 thoughts on “Dilema Ekstrovert

  1. Hai.. Nice post!
    Baru kali ini saya membaca artikel tentang ekstrovert-introvert yang penulisnya adalah seorang ekstrovert. Sangat menarik.
    Seringnya artikel-artikel yang saya temukan penulisnya adalah seorang introvert. Saya berpikir hal itu disebabkan para introvert tidak dapat dengan mudah mengungkapkan apa yang ada di pikirannya begitu saja secara lisan, sehingga mereka lebih memilih untuk mengeluarkannya dalam bentuk tulisan. Dan tadinya saya mengira para ekstrovert tidak terlalu mengacuhkan bahwa “saya ini ekstrovert”, karena mereka terlihat selalu enjoy dengan dirinya sendiri. Saya salah ya? hehe..
    Anda benar, si introvert lebih suka (baca: cenderung) untuk menyimpan masalah untuk dirinya sendiri dan sebisa mungkin tidak perlu merepotkan orang lain. Tapi pada suatu titik tertentu dia tidak akan tahan dengan dirinya sendiri. Mereka juga butuh orang lain yang bisa dipercayainya untuk melepaskan ‘sesak’ yang ada dalam dirinya. Meskipun pada akhirnya dia tak perlu menyampaikan semuanya, atau bahkan tak bicara sama sekali, dia sudah senang ada orang yang disampingnya, walau hanya sekedar menemaninya duduk. Lambat laun dia bisa memahaminya sendiri, dan sesak itu akan pergi dengan sendirinya.
    Saya tidak ingin menggeneralisir hal berikut ini. Namun bagaimanapun juga, si introvert juga ingin seperti si ekstrovert, yang bisa bicara banyak hal yang disukainya tanpa ada beban. Sedangkan setiap kali introvert ingin bicara, dia terlalu banyak berpikir dulu, akhirnya tak jadi bicara. Pun hanya bisa menyesal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s