Jas Putih

Kemarin hari, saya dapat jadwal ke CICU (Cardiac Intensive Care Unit). CICU adalah ruang intensif untuk pasien-pasien penyakit jantung, termasuk ruang intensif pascaoperasi CABG (Coronary Artery Bypass Grafting). Di sana, sang dokter jaga-residen kardiologi- bilang, “kalo kalian kerja di Rumah Sakit, akan ada jaga ICU. Itu yang jaga kalian, dokter umum, nyambi jaga ruangan.”

Sehari sebelumnya, untuk pertama kalinya, saya jaga 24 jam. Hanya tidur sekitar 2,5-3 jam. Jaga dengan kehadiran pasien emergency yang harus diberikan bantuan nafas, kami menyebutnya ambu. Sambil ngambu, sambil ngantuk-ngantuk. Alhamdulillah, setelah 3 jam diambu manual, pasien kembali stabil. Saturasi oksigen yang tadinya berkisar 37-40% naik menjadi 88-90%.

Kadang jadi ngebayangin dan bertanya-tanya sama diri sendiri, “saya udah siap belom ya jadi dokter? Siap ga ya kalo ‘dikasih’ pasien? Mau diapain itu pasien?”

Jas putih adalah sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab atas nyawa manusia. Bukan hanya pakaian formalitas di rumah sakit atau klinik. Jas putih adalah amanah atas setiap harapan manusia akan hidupnya. Bukan hanya euforia karena bergelar dokter. Jauh, jauh lebih berat dari itu.

Jas putih artinya kau harus rela belajar seumur hidup tentang tubuh dan penyakit manusia. Harus rela berbagi kehidupan untuk orang lain, -yang kau sebut pasien-.

Bandung, 6 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s