Together

image

You are Not alone

Itu adalah kalimat terakhir dari gambar tersebut.
You are not alone. Yeahh… akhir-akhir ini saya sering merasa sepi. Saya tinggal di sebuah kamar besar (untuk ukuran kos-kosan) yang terpisah dari penghuni lain di kosan ini. Kala malam menjelang, ia seperti menjadi sosok mencekam. Tak ada yang bisa saya ajak bicara, keluar kamar malas sekali. Akhirnya saya memutuskan untuk ngisengin sobi saya dengan ceng-cengan ga jelas di grup persahabatan kami. Mbak Danis kepancing dan bilang,
“Ni orang keliatan banget jomblonya dan ga punya temennya..” hahahaa..

Pernah suatu malam juga, saya whatsapp mbak Danis dan bilang, saya mau pulang ke Bekasi aja, pengen main sama mereka (Danis dan Mayang). Jiwa kekanakkan saya muncul di tengah lelahnya kehidupan koas ini. Kemudian Mbak Danis bilang, “kalo lo mau pulang ke bekasi ga cuma weekend, cepetan selesein koas..”

“By talking with others, you will get the help and assurance that you need to fight through it. TOGETHER”
Ya, saya merasakan itu. Sering saat pada titik saturasi, saya tak mampu bergumul hanya pada diri saya sendiri. Kemudian, saya tumpahkan itu di grup persobian saya bersama Danis dan Mayang. Dan mereka bisa jadi mood booster buat saya. Apalagi dengan kata ‘TOGETHER’, saya semakin merasakan bahwa saya tak sendiri. Tidak pernah sendiri. Ada keluarga, sahabat, dan yang selalu bersama saya adalah Allah Yang Maha Penyayang..

Begitu pula dengan mereka. Mereka juga punya ceritanya sendiri saat menumpahkan sisi melankolis mereka di grup.

Gambar di atas, 3 makhluk bulet itu layaknya saya, danis, dan mayang. Kami ada untuk bersama hingga kami dipanggil ‘nenek’ mungkin oleh cucu-cucu kami.

Bandung, 30 September 2014
17:18

Advertisements

Kepompong

Persahabatan bagai kepompong.. mengubah ulat menjadi kupu-kupu.

-sebuah lagu yang dipopulerkan oleh (mungkin) sebuah band-

Memasuki beberapa bulan koas.. saya terpikir sesuatu. Ternyata saya ingin menjadi seorang spesialis sekaligus guru. Gimana caranya? Bekerja di Rumah Sakit Pendidikan. Dan yang paling memungkinkan adalah belajar dan menjadi guru di kampus almamater. Artinya, kalo mau merealisasikan mimpi saya itu, yang paling memungkinkan ya kerja di Bandung, di RSHS. Walaupun, kerja di RSUP lain juga bisa sih, bergantung pada dimana sekolah spesialis saya nanti.

Tapii… keindahan Bandung tetap tidak bisa membuat saya berpaling dari kota kelahiran saya. Bandung dengan segala keasriannya, tetap membuat saya merasa sendiri. Saya selalu rindu pulang. Saya selalu ingin pulang. Setelah lama mencari, akhirnya saya menemukan jawabannya. Bahwa Bekasii… adalah tempat saya menemukan persahabatan sejati.

Saya memiliki 2 sahabat. Umur persahabatan kami sudah memasuki usia 9 tahun. 9 tahun.. angka yg tidak muda untuk sebuah persahabatan. Bersama merekalah lembaran-lembaran kehidupan dewasa saya tercipta.
Yang namanya tertawa dan menangis bersama-sama nyata kami lakoni. Bahkan, secara virtual pun, kami tetap bercerita tentang perasaan kami masing-masing. Menangis tentang sebiah cerita sedih salah satu di antara kami dan kemudian saling beri semangat.

Kami punya cerita paling epik yang tiada pernah kami lupa dan akan selalu jadi bahan tertawaan kami setelahnya jika bertemu.

Jadi ceritanya, kami lagi makan di sebuah restoran. Mayang, mulai bercerita kisahnya. Saya ga nyangka, seorang sanguinis parah macem mayang punya rasa itu yang bikin air mata mau keluar. Saat itu, mayang sudah mulai mengeluarkan air matanya. Ahhh, saya mana sanggup mendengar cerita sedih macem ini.

Saya pun mulai berkaca-kaca. Tapi sebelum bulir-bulir itu turun… saya segera ambil tisu. Tapii.. kalo saya ambil tisu kemudian mengelap airmata, nanti keliatan cengeng banget. Akhirnya, tisu yang saya ambil saya pake buat ngelap meja yang basah karena es teh manis yang mulai mencair. Kebayang kan canggungnya ngambil tisu yang awalnya buat ngelap airmata tapi malah ngelap-ngelap meja padahal mata berkaca-kaca?

“Gw kira lo mau ngasih tisu buat mayang..”
“Tadinya gw mw ambil buat lap airmata gw sih dan, tapi gw malu ngelap airmata, jadi gw pake buat ngelap meja dehh…”
“Ahh, dasar ini orang, masih aja ga peka..”

Mungkin kalo diceritain ulang ga lucu banget. Tapi asli, kalo percakapan ini diulang dengan ekspresi yang sama, mungkin kalian akan ngakak. Betapa saya… amat sangat takut sebenernya saat itu terlihat mau ikutan nangis. Betapa saya, ingin nyembunyiin airmata itu dengan tidak mengelapnya. Apa daya airmata yang menggenang itu tidak bisa membohongi kalau saya merasakan apa yang diceritain mayang.

Saya, mayang, dan danis dengan karakter yang berbeda, dikit-dikit sama, dipersatukan oleh Allah mengukir cerita tentang persahabatan. Saya, selalu ingin bersama mereka. Merekalah yang menghapus kesedihan-kesedihan dalam hidup saya. Merekalah yang membuat saya tak bisa menyembunyikan cerita apapun tentang saya. Ternyata saya tak sanggup untuk menyimpan cerita sendiri dan menutupnya dari mereka.

Benar ternyata, persahabatan itu seperti kepompong. Cerita saya dan atau mereka yang bagai ulat berasa seperti kupu-kupu setelah kami berbagi..

image

                                     Danis, Farah, Mayang

Selamat Ulang Tahun, Ma.. :*

Pagi2 buta (bahkan sebenernya belum bisa disebut pagi) saya masih ‘ON’ untuk jaga IGD bedah terakhir. Saya lihat hape. Tanggal di sana bertuliskan 7 September. Wow.. my mom’s birthday

Paginya, setelah jaga, saya coba hubungi ibu saya. Hapenya saya telpon-telpon, ga diangkat, saya telpon rumah juga ga diangkat. Begitu berkali-kali. Bergantian. Tak kunjung dijawab. Hingga petang hari, ibu saya telpon balik

“Ada apa? Mama abis jalan-jalan ke ancol nih se-RT.”
“Jalan-jalan ngapain?”
“Halalbihalal”
Etdah, lebaran udah lama gini, baru halalbihalal.
“Selamat ulang tahun ya maa.. smoga berkah usianya, sehat selalu,.. :*”
“Hahahaa..oiya, ulang tahun yaa.. makasih yaa..”
Dan percakapan sisanya saya minta dikirimin kentang goreng kecil-kecil.

Jadi, kesimpulannya, ibu saya lupa sama ulang tahunnya. Dan bukan cuma tahun ini aja. Udah beberapa tahun terakhir ibu saya lupa sama ulang tahunnya sendiri. Kalo ga karena saya yang telepon, mungkin tanggal itu berlalu begitu saja.. Sesungguhnya saya agak sedih sih, tapi ada sebuah kebahagiaan lain. Bahwa saya adalah orang pertama yang mengucapkan itu pada ibu saya. Sebagai tanda cinta.

Ulang tahun memang tak ada kisahnya dalam kehidupan Rasulullah. Pun kita merayakan atau sekadar mengucapkan hanyalah bentuk rasa sayang dan cinta kita pada orang yang kita cintai. Ulang tahun adalah satu waktu dimana kita secara gamblang menyebutkan doa kita untuk orang yang kita cintai di depannya (depan wajah ataupun depan layar), sedangkan sisanya.. doa-doa kita untuk mereka itu hanya teruntai lirih, tersembunyi, di setiap selesainya sujud-sujud kita.

Bukan, bukan untuk mengikuti budaya barat. Hanya salah satu bentuk perhatian yang ‘obvious’ setahun sekali pada orang yg kita cintai di antara perhatian-perhatian kita sepanjang tahun lainnya yang diam-diam. Sekali-kali memperlihatkan perhatian tak apakan?

Bandung, H+1 Ultah Mama
20:59

2665 mdpl (part 1)

Malam itu, saya bergegas menuju Masjid Asy-Syifaa RSHS agar tidak kehujanan karena langit sudah mulai mengeluarkan suara-suara pertanda hujan. Akhirnya saya kehujanan juga. Berteduh depan poli Anggrek sambil membawa daypack penuh, matras, dan plastik kecil berisi makanan. Sesampainya di sana, saya mulai makan malam untuk kemudian packing.

Ternyata packing naik gunung itu lucu banget. Semua barang dimasukkan ke dalam plastik lalu dihirup agar tidak ada udara sedikitpun. Udara akan memakan space dalam carrier. Setelah, ngos-ngosan menghirup smua plastik bungkusan barang, saya mulai memasukkan barang ke dalam carrier yang dibawa kawan saya hasil pinjemannya dia pada temannya. Memasukkan barang dimulai dari barang yang akan digunakan terakhir. Sleeping bag adalah barang pertama yang dimasukkan. Setelah rapi, carrier ditimbang. Wow, berat carrier yang akan saya bawa 10 kg.

Setelah semua orang packing, perjalanan malam pun dimulai, kami bernagkat jam 12 malam menuju cileunyi dengan mencarter angkot. Setelahnya, kami naik semacem omprengan menuju cisurupan (daerah kaki gunung Papandayan). Sampai cisurupan jam 3 malam. Kami tidur di masjid sampai pagi dan sarapan. Setelahnya, kami akan menuju post camp laporan 1- dimana perjalanan mendaki dimulai – dengan menggunakan pick up. Uwow, jalanannya dahsyat banget. Rusak parah. Dan membuat kami harus saling berpegangan saat naik.

image

                          Ini foto di pick-up sebelum pendakian

Sesampainya di sana, kami melakukan pemanasan. Dan, pendakian pun dimulai. Gini nihh, kalo jarang olahraga, baru jalan sedikit udah capek. Kami melewati jalan bebatuan, kawah belerang, sungai yang terpaksa harus basah-basahan, pendakian dengan dinding curam, dan perjalanan panjang lainnya. Hingga sampai pada tempat peristirahatan dimana banyak orang mendirikan tenda. Pondok Cisaladah namanya. Perjalanan panjang yang melelahkan. Siang menjelang sore hujan, tendanya kehujanan, dan kami pun menunggu hujan reda untuk solat.

Sore setelah hujan reda, saya bersama kawan saya mencari aumber air untuk berwudhu. Huffhh, kehidupan sulit belajarlah dengan naik gunung. Mengambil air perjuangannya luar biasa. Kayak di acara-acara TV yang kalo mau ambil air bawa drigen dan harus berjalan berkilo-kilometer. Sabtu sore ini banyak sekali yang nge-camp. Sampai-sampai, saya dan kawan saya sempat tersesat. Tapi, tak perlu tersesat lama, kami menyadari bahwa itu bukan jalan menuju tenda kami.

Sesampainya di tenda, saya solat dan mulai memasaka. Menu untuk makan malamnya adalah nasi, nugget dan sayur sop. Karena kami ber-13 dan nesting (tempat masak untuk naik gunung) itu kecil, jadi harus masak berkali-kali. Kami masak sambil saling bully, bercanda, tertawa-tawa. Dan ide gilanya, 3 kawan laki-laki saya melakukan pengambilan gambar untuk video clip dengan lipsinc menggunakan LSR saya. Dasar kelakuan!

Manisnya Iman

Bahagia yaa melihat kawan-kawan saya di kampus yang semangat menuntut ilmu agamanya tinggi. Dahulu, saat awal-awal saya mengenal mereka, beberapa dari mereka memiliki pacar di tempat asalnya masing-masing, terlihat, hemm.. apa ya namanya, gaul mungkin. Gaya-gaya anak gaul daerahnya.

Kini, yang saya lihat status-status line mereka yang isinya informasi mabit, ajakan mabit, dan semisalnya. Sungguh berbeda dengan mereka yang saya kenal pada awal pertemuan. Puji Syukur, Allah limpahkan rahmat dan nikmat iman yang lebih kepada mereka. Saya bahagia sekali. Mengingatkan saya pada masa-masa dahulu giat mencari jalan Allah. Betapa manusia bisa berubah dengan hidayah Allah.

Bagi saya, tak ada nikmat terbesar selain hidayah dan rasa cinta kita yang besar pada Allah. Manisnya iman tidak semua Allah berikan pada makhluk-Nya. Melainkan ada ikhtiar-ikhtiar kita di sana. Saya ingat betul bagaimana perjuangan dahulu untuk dapat merasakan lezatnya iman dan manisnya cinta Allah. Yang kemudian masa-masa itu bisa menjadi penguat di kala futur melanda atau godaan datang menawarkan nikmat sesaatnya.

Seperti manusia-manusia lain, mungkin saya juga pernah terjerembab dalam kesalahan setelah ada di jalan ini. Tapi, lagi-lagi dengan baiknya Allah selalu ‘mengulurkan tanganNya’ mengangkat saya dari got yang saya terporosok di dalamnya. Ahh, rasanya cukup sudah mengkhianatiNya. Toh, terbukti saya tak bahagia dengan pengkhianatan itu. Sabar jauh lebih baik daripada jalan pintas yang Allah tidak suka.

Ah, tapi sesungguhnya saya malu pada mereka. Mereka, Allah mudahkan langkah-langkah kakinya ke majelis ilmu, majelis Quran, atau majelis berbuah pahala lainnya. Bangga sekali melihat mereka berbondong-bondong, saling mengajak. Doa terakhir, semoga manisnya iman ini bisa terasa hingga akhir hayat hingga perjumpaan kita di surga dan perjumpaan dengan Allah.

Terjebak

Ada pepatah yang mengatakan,

“lebih baik terjebak hujan daripada terjebak masa lalu.”

Sekilas lucu memang. Entahlah siapa pembuatnya. Tapi tentu jawabannya iya. Siapa yang mau dijebak masa lalu? Karena masa lalu sering sekali jadi hantu yang memaksa hulu airmata keluar. Begitulah perbincangan dengan kawan saya saat bercerita masa lalunya. Hingga ia mengatakan “gw ga bisa ga menaruh dia di masa depan gw..”

Ooh, dramatis sekali. Sedih juga saya mendengarnya. Saya hanya bisa memberikan nasihat “Jangan gitu, kita ga tahu takdir kita dengan siapa, nanti ga bisa buka hati untuk orang lain kalau memang takdirnya bukan itu.”

Belum lagi, ucapan ulang taun yang makin macam-macam. “Semoga dimudahkan move on-nya.”

Uwow.. susah move on lagi jadi trend sepertinya. 😀 Bahkan saking susahnya kawan saya (yang lain) untuk move on, sampai jadi ucapan miladnya di grup. Saya jadi penasaran. Saya telisik lebih dalam. Hingga ternyata, orang di masa lalunya yang sudah nikah saja, hampir 3 tahun setelahnya belum move on juga.

Kadang sedih juga melihat fenomena seperti itu. Saya sering berpikir, kalau ditakar, seberapa besar cinta orang-orang itu pada orang di masa lalunya hingga begitu. Mungiin saya terlalu polos soalan cinta. Tapi, apakah Allah tak kunjung mampu menggantikan cinta itu? Padahal justru cinta pada Allah bukan untuk jadi pengganti, melainkan menjadi utama.

Saya jadi menyadari sebuah nikmat Allah yang mungkin baru saya sadari bahwa ini adalah sebuah nikmat. Nikmat tidak pernah berharap pada satu nama. Saya tidak berani. Soal perasaan, saya ini antisipatif. Lebih baik berpikir ‘tidak mungkin, tapi sebenarnya mungkin’ daripada ‘berpikir mungkin, tapi kenyataannya tidak pernah mungkin’.

Tapi sebenarnya, bukan itu utamanya. Melainkan, karena Allah yang punya skenario hidup. Allah yang Maha patut paling dicintai. Harusnya saat kehilangan seseorang, yang jelas-jelas bukan milik kita karena ia milik Allah, kita ikhlas. Wong bukan milik kita. Dan karena kita punya kewajiban memberikan hati terbaik untuk orang yang kelak mendampingi hidup kita di masa depan. Kasihan kan, orang masa depan, cuma dapat sisa dari hati kita yang sudah habis digerogoti orang masa lalu. Hingga saya selalu bersyukur dengan nikmat Allah tadi. Gak jadi ya sudah. Akan bersama yang lain. Tidak menunggu, tidak pula berharap lagi. Menunggu bukan pilihan bagi saya. Semudah itu Allah hadirkan perasaan itu dalam hati ini. Semoga, ini bukti kecintaan Allah pada hamba-Nya. Saat hamba-Nya benar-benar pasrah pada nama siapapun. Tanpa terjebak nama A, B, atau C.

Bandung, 6 April 2014, 00:31

Pilihan yang Tak jadi Pilihan

Agak lega setelah resmi melepas amanah kemarin. Amanah terakhir saya terbilang cukup berat, apalagi harus dipegang oleh anak FK yang nyambi skripsi dikejar deadline lulus.

Dan kini, saya tak ada bayangan untuk mengambil organisasi lagi di dunia koas. Meski, sering saya diingatkan tentang amanah. “Setelah selesai amanah yang satu, akan ada amanah yang lain. Kita tidak akan pernah habis oleh amanah.”

Dan memang begitu adanya. Dahulu pun, amanah tak pernah berhenti meminta saya menjadi tuannya. Saat ini, saya memiliki pilihan untuk tidak beramanah di lembaga resmi. Saya ingin membiarkan saya berkembang di bidang lain.

Tapi, sebagaimanapun saat ini saya menetapkan pilihan, saya tidak pernah tau apa yang terjadi kelak. Saat seseorang meminta saya menjalankan sebuah amanah, saya tidak tahu akankah saya kuat menolak atau tidak. Seperti halnya dulu-dulu, saya tidak pernah berencana dan menetapkan pilihan ada di kastil, menjadi ketuanya, kemudian jadi menteri di tataran universitas. Tidak pernah sekalipun saya membayangkan hal tersebut. Tapi kenyataannya? Yang terjadi adalah hal itu.

Seringkali saya menetapkan pilihan, yang dalam kenyataannya, hal tersebut bukanlah pilihan bagi saya. Karena saya, seringkali menjalani apa-apa yang bukan jadi pilihan saya. Bukan berarti kita tidak perlu memilih. Ya, hidup ini selalu dipenuhi pilihan, oleh karenanya kita pasti akan memilih. Seperti memilih diam atau bergerak. Yang patut digarisbawahi adalah, seringkali yang terjadi dalam kehidupan kita adalah apa-apa yang dahulunya bukanlah pilihan kita. Tapi, ia nyata terjadi.

Sepenggal Cerita

Pernah ada sebuah cerita. Tentang seorang wanita yang sangat membenci seseorang, sebut saja oknum. Melihat deretan abjad membentuk nama oknum, pikirannya bisa kacau. Membayang scene dirinya bertemu oknum kemudian menumpahkan kuah bakso ke muka oknum, melempar meja ke muka oknum, dan hal-hal ganas lainnya yang dia tau tidak semestinya pikiran tersebut hadir.

Setelah itu, ia akan menangis menyadari bahwa hal tersebut sesungguhnya tidak akan pernah benar-benar ia lakukan. Alasannya, karena wanita ini sangat mengetahui bahwa dalam agamanya tidak diajarkan seperti itu. Agamanya mengajarkan ia untuk ikhlas, sabar, dan menahan rasa amarah dan benci. Maka, wanita itu kemudian bersyukur pada Tuhannya karena ia masih diberikan hidayah untuk beragama. Tidak terbayangkan olehnya, jika ia tak ber-Tuhan, mungkin hal-hal yang lebih parah dari menumpahakan kuah bakso atau melemparkan meja ke muka orang akan benar-benar dilakukannya. Itulah hebatnya beragama. Hidup punya aturan dan akibatnya akan teratur.

Ia pun sadar bahwa sesungguhnya sangat mungkin ini akan jadi hikmah berharga yang tidak dapat dirasakan saat ini. Seperti, saat dirinya menikah kelak, betapa ia akan sangat-sangat mencintai suaminya. Karena suaminyalah yang akan menjadi obat atas kebenciannya pada oknum. Suaminyalah yang membuat ia tidak perlu mengingat perbuatan oknum dahulu.

Sampai di situ, saya jadi bertanya, ini wanitanya sakit hati, kecewa berat, atau apa?

Tak Ada Celah untuk Terbuka

Dahulu kala pintu itu pernah tertutup.
Rapat. Terkunci.
Kemudian meregang, meregang, hingga terbuka.
Entah karena apa.
Tapi kini, ia tertutup kembali.
Rapat. Lebih rapat dari yang dulu.
Bahkan ada tambahan kunci gembok. Yg anak kuncinya dibuang entah kemana.
Agar ia tak bisa membukanya lagi.
Kemudian penghuninya pergi meninggalkan pintu itu.
Agar ia tak pernah mendengar ketukan pintu.
Atau tak pernah ada kesempatan untuk mengintip keluar barang sedikit.
Atau tak pernah mau pintu itu benar-benar ia buka lagi.
Kemudian melangkah. Semakin jauh meninggalkan pintu itu.

Menunggu (yang terdefinisi)

Pagi di 2014, layaknya pagi-pagi sebelumnya. Tak ada beda. Saya pun sadar bahwa hari ini sudah memasuki tahun 2014. Waktu cepat sekali berputar. Kalau secepat itu berputar, lantas mengapa saya takut untuk menunggu hal yang hanya terkesan lama, padahal (sangat mungkin) begitu cepat jika benar-benar dijalani.

Ini bukan perkara mau menunggu atau tidak. Ini perkara tentang keyakinan pada takdir. Tentang sepenuhnya taat pada perintah Allah. Hanya tentang itu. karena tidak menunggu pun awalnya adalah penyiksaan duniawi, tapi kecintaan pada Allah mengobati kekhawatian itu.

Ini saya berbicara tentang apa sih? Tentang waktu. Menunggu juga berkaitan dengan waktu bukan? Menunggu yang menjadi pekerjaan paling mengesalkan bagi banyak orang adalah hal yang aman dilakukan jika kita melihat dalam konteks lain. Tetapi, efek sampingnya juga besar. tak akan terlihat sih efek sampingnya. Berbeda dengan efek samping pada obat yang terasa dan juga mungkin dapat terlihat secara kasat mata.

Maka, menunggu atau tidak pada akhirnya adalah bagian dari prinsip. Bukan karena ketergesa-gesaan tak sabar menunggu. Tapi, prinsip cinta, keyakinan, dan taat yang akan terkotori jika memilih untuk menunggu (yang terdefinisi).