Again. About Them

 

Tentang mereka. Cinta. Keluarga. Sayang. Romantis. Unyu. Lucu. Serius tapi santai. Garing. Ukhuwah. Politik. Kesehatan. Isu. Masyarakat. Pencerdasan.

Advertisements

Tim #16

Ini adalah foto TIM #16 yang merupakan tim inti Senat Mahasiswa FK Unpad 2012. Foto ini diambil di studio Papyrus di Jl. Bengawan Bandung, bukan Solo. Agak lupa berapa sesion fotonya #gaya. Dan hasil foto di CDnya ada lima. masing-masing dapet print-an satu. Dan ini foto (diedit, dikasi efek-efek gitu) yang dipajang besar-besar bersama pigura di ruang Senat-BPM. Kenapa dipilih foto ini? Karena ini foto paling rapi jali dan jadi favorit kami, termasuk saya. Liat aja formasinya rapi kan?? Semoga ukhuwah Tim #16 ga cuma di foto aja ya…:)

Di Balik Kata ‘Staf’

Tahun 2012 ini adalah tahun luar biasa. Tahun dimana Allah memberikan saya kekuatan dalam bentuk berbeda. Berupa amanah dan perangkat-perangkatnya. ‘Perangkat-perangkat’ luar biasa yang memberikan saya perubahan luar biasa.

Amanah menjadi ketua tidaklah semudah yang saya bayangkan. Banyak bumbu-bumbu kecil dari sekadar proker, timeline, rapat, kajian, upgrading. Jauhhh dari itu, banyak hal-hal kecil ‘penjaga’ semangat yang tak boleh luput. Sejatinya, tak boleh luput. Tapi, dengan karakter saya yang supercuek, bumbu-bumbu itu tak saya masukkan. Bisa dibayangkan tentu, bagaimana rasanya sebuah masakan tanpa bumbu? Hambar. Pasti. Mungkin karena saya juga belum bisa masak. Catat! Belum bukan tidak bisa.

Hingga akhirnya…DUARRR… saya jungkir balik. Hingga titik kulminasi. Dan pada titik kulminasi tersebutlah saya banyak merenung. Tentang bumbu. Bukan cabe, bawang, ataupun lada. Tapi tentang cinta, perhatian, dan romantisme. Kebersamaan. Bukan dalam rapat. Kebersamaan dari hati ke hati. Bahwa antara saya dan mereka sangatlah butuh bumbu tersebut yang saya lupaa..

Saya yang fitrahnya seorang pencinta yang hanya saja Allah belum menurunkan cinta untuk saya, terlena pada kebebasan diri sendiri. Melupakan bahwa cinta itu sebenarnya telah ada. Halus. Lembut. Bersemayam mesra. Tapi, saya terlampau tak sadar pada perasaan itu. atau jika pun saya sadar, saya sangat tidak jago untuk membahasakan secara lisan dan laku bahwasanya saya sudah jatuh. Jatuh cinta. Sayang pada mereka. Pada ketiga belas orang hebat yang Allah perkenankan saya menjalankan semua proker bersama mereka.

Staf Kajian Strategis Ilmiah. Adalah tulisan di kartu Senat Mahasiswa berwarna hijau tersebut. tulisan untuk mereka. Dan tulisan itu berbeda satu kata di depan dengan kartu Senat saya. Satu kata tersebut hanya cantuman di kartu Senat. Staf. Di tulisan. Tapi, di hati saya, mereka tak ubahnya agen atau bandar cinta dan semangat.

Hingga pada satu masa. Tiba-tiba jari jemari saya tak lagi hanya mengetikkan kalimat jarkom, arahan atau apapun namanya. Pernah saya hanya menulis ‘”Selamat Pagi Kastil..” disertai senyuman manis tentu. Dan hal-hal serupa lainnya. Pada tingkat akut, saya sering memikirkan mereka. Layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Bisa dipastikan. Saya memikirkan mereka dengan atau tanpa unsur kerjaan. Dan pada tingkat kronik, jika hati ini mulai gundah gulana, sedih, merasa tak berharga, galau karena jodoh tak datang-datang *Z@#$%^#$%* merekalah yang sebenarnya menyeka air mata saya. Dan seolah-olah berkata “Teteh Semangat!!”. Tangannya sih tangan saya. Tapi mereka lah yang menggerakan si tangan menyeka air asin di pipi saya.

Lalu, masihkah perlu dipertanyakan tentang kata staf? Staf itu bukan kata yang saya berikan untuk mereka. Si kartu yang ngasih. Jikapun pernah kata itu keluar dari oral dan abjad saya, percayalah, itu hanya sekadar deretan huruf S, T, A, dan F. *ya iyalah ya, semua juga tau*. Nyataya, dalam kehidupan saya, merekalah guru saya. Dan pelajaran pentingnya adalah membahasakan cinta dalam wujud lisan, tulisan, dan laku hingga dalam definisi saya menjadi sayang. *agak absurd deh gue*

Dari Herza saya belajar keunyuan, benar-benar belajar bahasa romantis, hingga saya bisa menggunakan kalimat “iya sayang” atau “iya cantik/manis”

Dari Mala saya belajar kelembutan. Belajar nilai-nilai keperempuanan, kefemininan walaupun saya belum bisa mengaplikasikannya..

Dari Citra saya belajar pengertian dan kepatuhan. Kepatuhan pada amanat.

Dari Lisha saya belajar kesungguhan. Ambisiusnya pada AMP yang menjadikan fisiknya jadi agak berubah sesaaat yang kemudian mengantarkannya menjadi anggota muda AMP dengan seabreg amanah lainnya menjadi pelajaran tentang keseimbangan jika kita benar-benar mau.

Dari Salman saya belajar kebaikan dan pentingnya tolong menolong #udah kayak guru PPKn aja#

Dari Fajar, saya juga belajar keseimbangan dengan seabreg amanah dan  pentingnya punya wawasan luas, seluas samudera.

Dari Ridha saya belajar ketegaran hidup. Dan ingin saya katakan padanya “Kamu Hebat banget Ridha..”

Dari Bryanto saya belajar bersemangat dan kegigihan. #dan begitulah ia tertempa di AMP…#

Dari Oryza saya belajar kepolosan dan keluguan. Tapi sebenernya saya udah polos koq. *kalo gue polos apa telmi ya?!*

Dari Gembong saya belajar ketawa. *kasian gue, ketawa aja perlu belajar*.  Sumpritt ini anak berhasil membuat saya mau ketawa kalo inget dia. Dan ternyata dia juga ngasih tau saya sisi lainnya cowok.

Dari Ichsan saya belajar kegaringan. Haha *atau jangan2 gue yang ngajarin*. Belajar berpikir lebih kritis.

Dari Sarah saya belajar keanggunan. Irit yang berharga dalam berbicara.

Dari Juju saya belajar senyuumm.. mau ahh, kaya Juju yang ga pernah marah dan selalu tersenyum. Hehe, bisa ga ya??

Thank You for my all Teachers..:D

Kastrat di Bumi Khatulistiwa

Saat itu, Jumat malam. Berbagai sambutan diberikan kepada delegasi. Mulai dari sambutan Ketua Acara, Ketua IMKU, Koordinator Kastrat ISMKI Wilayah II, PD III FK Untan, tim paduan suara FK Untan dan tarian tradisional suku Dayak untuk menyambut kami, para delegasi, di Bumi Khatulistiwa yang beberapa hari akan kami singgahi. Ya, School of Kastrat 2012 di Pontianak.

Ada sejuta kisah dari para delegasi tentang tanah ini karena mungkin ini bisa jadi kali pertama kami menginjakkan kaki di Kalimantan Barat. Panas, tak perlu ditanya. Bahkan, kemarin sempat ada yang mengatakan bahwa saat kami di sana cuaca Pontianak bisa dikatakan tidak terlalu panas. Bagaimana saat panasnya?? Entahlah. Tetapi, ternyata panasnya udara Pontianak tidak menyurutkan semangat kami untuk belajar banyak di sana. Dan tidak hanya belajar, kami pun merajut persahabatan di sana.

Esok harinya (Sabtu) kami diberikan berbagai materi beserta simulasinya. Sebanyak 33 peserta siap menelan dan menikmati materi yang telah disiapkan untuk nantinya diturunkan kepada teman-teman lain dalam satu institusi. Materi yang banyak karena beberapa memangtak memakan banyak waktu. Materi pertama adalah Quo Vadis yang disampaikan oleh Trahmono sebagai Koord Kastrat Wilayah II. Ketua Acara pun (Deril Rengga Permana) mengisi materi tentang Kastratisasi. Ada juga, materi tentang Kastrat dan bagaimana membuat Kajian yang baik yang dibawakan oleh Guntur Bayu Bima (FK Unjani 08).

Di sela-sela materi, kami memilih ketua SOK Second Generation hingga akhirnya Zul Achmad (FK UMJ) terpilih sebagai ketua. Siangnya, ada seminar tentang Sistem Kesehatan Nasional dengan pemateri Ketua Dinas Kesehatan Kalimantan Barat, drg. Multi J. Bhatarendro, MPPM. Dilanjutkan materi Public Speaking oleh Bang Finza dengan simulasi orasi oleh Andika, Afifan dan Icha yang mengundang gelak tawa.

Selepas Ashar, materi sore dibawakan oleh Diaz Novera (FK UI 08) atau akrab disapa Bang Diaz. Tentang Advokasi dan Negosiasi dengan awalan yang cukup unik. Materi pun tidak membosankan karena pembawaan materinya menggunakan analogi mengadvokasi wanita. Untuk simulasinya, dibagi menjadi empat kelompok yang terdiri dari Suku Timur (pemilik domba), Barat, Utara, Selatan sebagai pihak yang akan memperebutkan domba dengan advokasi dan negosiasi yang baik. Hasilnya, Suku Barat yang diketuai oleh Indra Fahlevi menjadi pemenang dengan mendapatkan domba dengan harga yang terbilang rendah.

Materi terakhir, dibawakan oleh Mega Febrianora (FK Unpad 08) tentang Rancangan Pengemangan Organisasi (RPO). Walaupun energi dan pikiran sudah terkuras habis di pagi sampai sore, ternyata semangat belajar belum usai. Hal ini terbukti saat simulasi pembuatan RPO berjalan dengan lancar dan kelompok 2 yang diketuai oleh Gisna (UKRIDA) selesai lebih dulu dan kebagian untuk presentasi.

Begitulah lelahnya hari pertama School of Kastrat yang ditutup dengan jalan-jalan ke Sungai Kapuas. Suasana malam semakin terasa dengan lampu-lampu rumah di pinggiran sungai. Kami dibagi menjadi dua kloter untuk menaiki perahu mengitari luas dan panjangnya sungai pembelah kota itu. Tidak hanya itu, kami pun disuguhi makanan khas Kalimantan, seperti kue bingke, cai kue, dan pisang srikaya di kafe yang letaknya persis di tepi Sungai Kapuas dengan suasana malam plus lilin di setiap meja dan hamparan bintang di atas langit. Keren bangetlah.

Hari kedua, tak kalah seru pastinya. Walaupun hanya satu materi tentang Manajemen Aksi, simulasinya menguras tenaga dan mengundang kegembiraan. Simulasi aksi dilakukan di pelataran lobi FK Untan yang sudah dijaga oleh pasukan polisi (panitia SOK) berhelm motor. Agak konyol memang, lucu lebih tepatnya. Tapi, dalam pelaksanaanya, aksi ini begitu luar biasa layaknya aksi sungguhan di Gedung Hijau. Bertemakan Penolakan RUU Legalisasi Ganja, aksi ini bisa dibilang sedikit heboh antara massa dan petugas dengan adanya adegan gigitan dan robeknya almamater salah satu massa aksi (peserta SOK).  Dan dua negosiator pun, akhirnya berhasil membuat ‘pejabat teras’ di sana menunda sidang pengesahan RUU tersebut. Dua jempol untuk kalian semua.

Sebelum berakhir, kami berembug untuk membicarakan Plan of Action yang diberikan oleh panitia untuk dapat menyokong kastrat-kastrat baru di ISMKI wilayah II. Begitulah hingga akhirnya penutupan School of Kastrat dan kembalinya para delegasi ke tempat masing-masing untuk esoknya kembali menuntut ilmu di bangku kuliah. Sebelum ke bandara, kami diajak ke tempat pembelian oleh-oleh bernama PSP untuk membeli sedikit buah tangan untuk kerabat tersayang.

Image

Saya Jatuh Cintaa…

Ini bukan kali pertama saya jatuh cinta. Sudah kesekian kali. Mungkin ini kali keempat perasaan itu bertumbuh. Dan semoga yang ini benar-benar istiqomah dengan segala rutinitasnya.

Pertama kali saya jatuh cinta saat kami pertama kali bertemu. Saat itu tepat tanggal 12 Februari. Bisa dibilang Love at the first sight. Ya, love at the first sight. Dan perasaan membuncah melahirkan ide-ide kreatif untuk memajukan semua ini.

Belum sampai pudar rasanya, cinta itu kembali merekah. Tepatnya tanggal 25 Februari di Perkemahan Kiara Payung. Tak ada momen tertentu yang mempersatukan kami di sini karena semua membaur. Pada satu sesi harusnya kami bertemu dalam sebuah pertemuan, tetapi tidak pada tahun ini.  Dan barulah saat acara berakhir, kami bisa melabuhkan hati kami. Berfoto-foto ria. Dengan gaya macam-macam yang menunjukkan’ identitas kedua’ kami.

Dan setelah itu, langsung setumpuk pekerjaan mulai kami raup. Hingga kami (tepatnya saya) lupa memberi pupuk untuk cinta kami. Dan beterbanganlahh cinta itu. Termakan UAS, termakan kesibukan lain.

Kemudian, untuk ketiga kalinya cinta itu bersemi kembali. Di suatu tempat indah. Khusus jalan-jalan. Tapi di sana saya melakukan kebodohan. Bodoh karena tak seharusnya saya melakukan itu, momen yang amat sangat jarang dan berkesan malah saya tinggalkan hanya demi membaca buku. Tugas. Hmmhh…. Begitulah hidup penuh dinamika.

Hingga akhirnya, hampir sebulan kemudian, harus kayak orang stress ngurusin proposal dan krintil-krintilnya. Termasuk masalah siapa yang akan berangkat. Hingga akhirnya masalahnya selesai. dan setelah pulang dari itu, ada kerinduan membuncah. Asa sudah lama kami tak bersua. Walaupun, belum ada momen, tapi sepertinya saya jatuh cinta lagi. Yang keempat kalinya. Dan mulailah saya belajar untuk memupuk kembali cinta itu. Bukan hanya dipupuk, tapi saya berazzam menyiraminya, merawatnya, hingga cinta itu tumbuh semakin subur dan berbunga.

Izinkan saya pernah menjadi spesial dalam kehidupan kalian… Love U…

Selamat Datang dan Menikmati Cinta di dunia Sosial Politik Kemasyarakatan,.. Herza, Citra, Ichsan, Lisa, Gembong, Juan, Salman, Mala, Brianto, Ridha, Sarah, Oryza, dan Fajar…

Kastil #14

#14

Beberapa tahun lalu, tanpa ada peresmian khusus, saya menetapkan F14 sebagai kode spesial nama saya walaupun asal muasal kode ini ga bagus. Tapi, ga pentinglah. Dulu, (buat saya) itu keren dan representatif nama saya banget, makanya nama itu sering saya gunakan di akun atau alamat2 di internet.

F14 sendiri merupakan pesawat tempur jenis ini dan itu. Dan saya pun baru tau, saat seorang teman komen di status FB manggil saya tomcat (udah kayak nama serangga di bale aja) dan dia menuturkan bahwa itu adalah nama pesawat. Dari situlah saya mengetahui bahwa F14 itu adalah nama pesawat.

Menariknya, di bulan November saya ditunjuk oleh ketua Senat terpilih sebagai ketua Kastil (Kajian Strategis Ilmiah) atau lazimnya (di tempat lain) Kastrat. Sesungguhnya, nama Kastrat itu lebih keren. Dapet aja gitu feelnya. Lebih garang dan berwibawa. Sebenranya, sudah dijelaskan berkali-kali kenapa juga namanya Kastil, walaupun menurut saya kurang menjawab. Tapi ya sudahlah. Apalah arti sebuah nama (Eh, tapi kalo ngasi nama anak penting banget tuhh dicari baik-baik, jangan berprinsip begitu ya..). dan sang ketua Senat (yang tidak perlu disebutkan namanya, karena dia hobi gentayangan) memberikan nomer kode untuk tim inti Senat. Berkat kebijakannya memindahkan Kastil dari bidang 1 ke bidang 3, dapatlah saya nomer #14. Awalnya biasa aja. Setelah berjalan beberapa bulan, saya baru tersadar. Itu angka yang ada di kode nama saya. Semakin terikatlah saya dengan angka itu.

Menjalani kehidupan sebagai seorang kasie (baca : ketua seksi) dengan 13 orang anak merupakan perjuangan. Terlebih, empat di antaranya merupakan angkatan 2010 yang memiliki banyak amanah. Di situlah letak perjuangannya. Dengan berbagai karakter, latar belakang, dan pemikiran tentunya.
Inilah kami ber-14 di bawah naungan seksi bernomer #14 (nomer saya sih sebenernya, bukan nomer seksi).

Farhatul Inayah Adiputri :  koleris dominan plus sedikit sanguinis. Kata orang saya galak, jutek, kayak preman (koq jelek semua sih?). Cuek dan ga pekaan. Kelebihannya baik hati, tidak sombong, rajin menabung, dan suka menyiram tanaman serta berbakti pada orang tua. Yang pasti, sebagai seorang koleris saya itu terbilang cukup tegas.

Nur Mala Il A’la : mala ini dari cara bicaranya lembut. Kritis dan melankolis. Cinta banget ama basket. apa juga dibela-belain untuk basket. Semoga basketnya menang ya…Dia juga suka buat buletin. Selain itu, Mala itu girly banget. Semuanya serba pink. kamarnya pink banget. Udah gitu doi jago masak dan merajut. Aaahhh… saya jauh kalah sebagai perempuan.

Gembong Soeyono : anak ini lucu bangett. Cara ngomongnya apalagi. Lagi serius aja dia lucu. Apalagi kalo ketawa sambil ngomong, cara bicaranya jadi kayak bocil. Terus dia paling aktif di grup BB Kastil, hobi ngejayus. Tapi, luar biasa banget pengetahuannya. Wawasannya luas, bahkan saya sering banyak tanya waktu dia bicara terkait masa presiden Soeharto. Malah lebih tau dia daripada gue, secara gue lahir duluan. Ya begitulah Gembong. Empat kata buat dia : Lucu dan Berwawasan luas.

Sutra Khalishaputri : perempuan struggle dengan bejibun prestasi. Kritis dan tegas. Saat diwawancara, dia mengatakan kelemahannya adalah cuek dan ga pekaan. Emang deh, cukup banyak sifat kami yang mirip. Lisha juga termasuk mahasiswa super sibuk luar biasa.

Citra Restia : dari cara bicara saat jadi ketua kajian dia itu terlihat tegas. Tipe pembelajar dan tsiqoh. Salah satu muslimah yang baik dengan selalu datang paling on-time. Dan memiliki loyalitas tinggi. Paling sigap dengan segala ini-itu dari saya.

Ridha Ramdani : dijuluki ‘Miss Matching’ karena dia suka sekali memakai baju dari atas ampe bawah warnanya sama. Mempunyai pemikiran kritis dan sudah memiliki pengalaman sebagai koor Humas HGN. Ridha yang lahir taun 95 terlihat lebih dewasa dari anak-anak seumurannya. Wajar sih, karena karakterakan terbentuk dari lingkungan. Pernah kuliah di UI juga seperti saya…

M. Salman Zenga : temen seperjuangan di Kastil dulu. Sang Sekum Asy-syifaa. Dia sibuk. Tapi baik hati dan suka menolong saya. Saat di Kastil dulu, dia berpengalamn menjadi Koor Acara FMB sehingga saya yakin kemampuan organisasinya berkembang cukup pesat. Sesibuk apapun, kalo ada waktu luang, dia akan menyempatkan diri untuk datang ke kajian.

Herza Fadlinda : cantik dan kritis. Menyukai dunia politik. sempet galau mau masuk Kastrat BEM Unpad atau enggak.  Herza juga suka banget ama film action. Waktu nonton ‘The Raid’, saya yang udah ga kuat ngeliat adegan ‘pembantaian’, dia malah semangat sambil ngepalin tangannya ngikutin gerakan bang Iko Uwais. :p

Abdullah Ichsan : walaupun baru tingkat 1, tapi Ichsan ini luar biasa amanahnya. Didaulat sebagai Ketua MMLC, tentu harus pinter-pinter bagi waktu ya San. Kritis. Dan sebagai PHW Kastrat ISMKI, tentu pergaulannya luas. Tapi, dia hobi telat kalo kajian…hehe…

Fajar Faisal : teman satu fasil dulu yang sibuknya ga ngerti lagi. Sering dia datang abis itu izin karena ada agenda lain. Ya, begitu lahh, namanya juga KaDept Syiar Asysyifa. Fajar ini pinter, kritis banget dan suka menulis.

Oryza Sativa : nama yang unik memang. Ory, begitu panggilannya. Ory ini lembut dan paling pendiem di antara kami. Bendahara Kastil yang juga menjabat sebagai mentee-nya Icha. apalagi denger ceritanya ory saat bertemu seorang ibu di angkot.

Brianto Adhy : bri ini termasuk anak yang cukup gaul di kalangannya (kalangan mana?? :p). Aktivis AMP (bersama Lisha), jadi belum bisa sering ikut kajian. Bri itu lucu. saat wawancara Senat, jawabannya santaii…

Sarah Qurrotun Aini : dari wajahnya, sarah terlihat cerdas dan dewasa. Menurut hasil wawancara, Sarah suka mencari isu-isu kesehatan di waktu luang (padahal gue aja ga segitunya). Sarah juga mempunyai segudang prestasi lhoo…

Juan Achmad Yudhistira : laki-laki yang akra disapa  Juju ini sering ketiduran kalo lagi jadwal kajian. Tapi, juju masih menyempatkan diri untuk datang kajian  walaupun telat. Mungkin prinsipnya, “lebih baik telat daripada tidak sama sekali. “ hehe…  juju itu pinter, cnta dengan kekeluargaan di Kastil dan yang cirri khasnya adalah murah senyum, senyum terus. Sampe-sampe ada pertanyaan, “ju, kamu pernah marah ga?” dan dijawab dengan senyuman.

dan itulah kami…. KASTIL 2012... 🙂