Fruits Party

image

Yuhuuuu… lucu ya?? Foto ini saya ambil dari facebooknya temen saya…
Suka banget… :*

Apalagi saya ini pecinta buah. Setiap hari mesti banget makan buah. Asa makan buah itu hukumnya wajib buat saya, minimal satu kali sehari.. hehe..

Kalo nanti saya jadi ibu, pengen deh bisa kreasi kayak gini buat anak-anak saya.. kalo sekarang belum mampu bikin-bikin kreasi kayak gitu karena beli buahnya masih harus satu jenis supaya ga busuk kelamaan, soalnya kan yang makan saya sendiri.

Kalo dulu saya punya cita-cita punya rak buku yang isinya banyak buku, sekarang jadi ngebayangin isi kulkas yang isinya penuh sama buah-buahan dan sayuran.. dikreasiin jadi menarik, supaya makanan sehat itu juga menarik buat dimakan. Mengubah kebiasaan ngemil yang ga sehat jadi ngemil buah.. keren kan?? Hihihiii.. 😀

Yuk ah healthy lifestyle..

Advertisements

Super Random #7

Sudah setengah tahun 2014 terlewati. Sudah berapa buku yang saya baca? Hemm.. tak ada 1 buku pun saya habiskan. Beda dengan tahun lalu. Tahun lalu, saya menargetkan menghabiskan 30 buku karena saya berada di lingkungan manusia-manusia gila baca.

Saat itu, kawan saya bilang targetnya berat apalagi jadi menteri dan ngerjain skripsi. Yang ada harus banyak-banyak baca jurnal. Tapi, meskipun tidak sesuai target, buku yang habis saya baca lumayan banyak. Tak ada angka pasti karena saya tidak menghitungnya. 20 buku ada mungkin, ya 15-20 buku lah saya baca selama setahun dengan berbagai jenis buku. Tak banyak, tapi puas.

Tahun ini, saya punya target lain sehingga waktu membaca buku saya alihkan dengan mencapai target itu. Insya Allah target kebaikan, untuk investasi masa depan. Saya hanya baca buku seperlunya. Seperlunya informasi dan materi yang saya butuhkan, saya baca. Ya, saya baca buku-buku tebal yang hanya bagian-bagian tertentu saya baca yang saya butuh.

Tapi, saya jadi merasa kosong. Di setiap diskusi di grup line dan whatsapp saya lebih banyak menyimak, bahkan isu tentang jaminan kesehatan nasional aja saya jadi planga plongo. Padahal, itu makanan saya dulu. Hemm, saya harus belajar banyak lagi tentang tawazun. Ga berat sebelah. Target kekejar, tapi tetep kasih asupan untuk wawasan umum. Lalu hati senang.. 🙂

Momentum UN

Saat itu, tanggal 20-an April 6 tahun lalu. Saya adalah murid SMA yang akan melaksanakan ujian yang menentukan kelulusan. Saya adalah murid SMA yang menaruh handphone di tas saat ujian. Tasnya diletakkan di depan kelas. Saya adalah peserta ujian tanpa jawaban. Di saat kanan, kiri, depan, belakang kasak-kusuk dengan handphone-nya.

Saya tak pernah lupa, kata-kata teman saya, Deni namanya. Saat itu siang selepas ujian Fisika. Air mata saya sudah mulai turun. Deni menimpali, “Parah banget sih Far, ini Ujian Nasional, malah ngasal..”

Ya, dari 40 soal fisika, saya hanya mampu menjawab 21-22 soal dalam waktu yang diberikan. Lama ngerjain soal hitungan. Saya lemah soalan hitungan. Saya bisa menghitung diulang berkali-kali karena saya sangat menyadari bahwa saya ceroboh pada angka. Sehingga saya tidak percaya pada hitungan pertama saya. Lantas, Sisa 18 nomernya? Saya jawab asal-asalan. Kenapa? Padahal jawaban bertebaran.

Karena saat itu saya mem-brainwash otak saya dengan mengatakan, “buat apa nilainya bagus, kalau tidak berkah. Kalau soal lulus, Allah Maha Tahu dan Maha Penolong”. Saat itu, yang saya kejar adalah keberkahan.

Nilai di atas ijazah saya terlampau biasa jika dibandingkan dengan  teman-teman saya. Tapi saya tidak peduli. Meskipun, pada akhirnya nilai fisika saya jelek dengan kepala 5 (bahkan di bawah kepala 6), saya bersyukur masih bisa lulus dan tidak perlu mengikuti paket C.
Allah baik sekali.

Dan kini, momentum itu, harusnya menjadi cambukan, menjadi pengingat bahwa saat itu, mental saya adalah kejujuran. Saya orang yang sangat menghargai sebuah kejujuran. Hal yang saya pegang sampai saat ini. Dan harusnya akan terus menjadi penjaga di saat nanti saya memegang amanah dalam bentuk pekerjaan yang mungkin rentan korupsi.

Saya juga masih berusaha memegang nilai “yang terpenting adalah keberkahan Allah”. Meskipun, harus menggadaikan rasa, mengganti dengan kesabaran. Karena yang terpenting berkah. Buat apa aman dan nyaman jika Allah tak memberkahi.

Ujian Nasional adalah momentum. Momentum dimana saya benar-benar merasa sebagai manusia. Manusia yang sadar bahwa ia memiliki Tuhan Yang Maha Melihat dan bergantung pada-Nya.

Selamat Ujian, adik-adik SMA. Percayalah, kejujuran tidak hanya menyelamatkanmu di dunia, melainkan juga di akhirat. Tinggalkanlah jawaban-jawaban yang bukan darimu itu..

per-Skripsi-an

Saya tidak pernah paham, mengapa skripsi seolah bagaikan monster menyeramkan atau sambaran petir yang ketika dilontarkan akan membuat sang mahasiswa tingkat akhir seperti ketakutan atau menghindari jenis pembicaraan atau pertanyaan ini. Tak jarang, pembicaraan tentang skripsi dianggap merupakan pembicaraan yang ‘jorok’. Skripsi adalah hal paling sensitif bagi mahasiswa tingkat akhir yang mungkin akan menurunkan mood orang yang diajak bicara atau ditanya tentang ‘bagaimana skripsinya?’.

Saya tidak paham itu karena bagi saya skripsi itu menyenangkan meski saya juga agak malas mengerjakannya. Alasannya sih (yang dibuat-buat oleh diri saya) tidak banyak referensi yang membahas tentang tema skripsi saya. Jadi, kadang saya suka bingung mau nulis apa. Selebihnya karena saya adalah seorang deadliner yang akan mengerjakannya di akhir waktu. Hahaha..

Saya sangat menikmati proses pengerjaan skripsi ini, menikmati waktu-waktu (menunggu) bimbingan, mengambil data di bagian rekam medis pusat atau rekam medis kemuning RSHS, dan aktivitas seputar skripsi lainnya. Saya pun tak segan jika ditanya tentang skripsi saya, maka saya akan menjawabnya dengan senang hati. Kalau perlu, saya akan bercerita tentang apa skripsi saya, bagaimana judul itu terlintas (sesuangguhnya itu judul dari residennya pembimbing saya), bagaimana progresnya, pada tahap apa skripsi saya saat ditanya itu.

Mengapa skripsi menjadi menyenangkan bagi saya? Mungkin karena saya memaknai skripsi tidak hanya sebagai syarat lulus. Yang saya pahami bahwa skripsi adalah masterpiece, sejarah hidup seseorang yang pernah mengenyam pendidikan strata satu. Ia adalah project yang menjadi saksi perjuangan 3,5 hingga sekian tahun seseorang yang menimba ilmu di perguruan tinggi. Lalu, kenapa harus bete jika ditanya tentang skripsi? Bukannya dengan ditanya itu menjadi motivasi untuk mengerjakannya? Hahahaaha.. it’s so bullshit. Karena motivasi mengerjakan skripsi sesungguhnya adalah diri kita. Melawan rasa malas mengerjakan skripsi itulah yang sulit, yang butuh motivasi besar dari diri kita sendiri. Atau mungkin juga dari orang tua yang menginginkan kita segera lulus. Ah, saya saja yang begitu bersemangat dengan skripsi malas mengerjakannya dan memilih mengerjakan di waktu-waktu dekat bimbingan, apalagi mereka yang memang hanya memaknai skripsi sebagai syarat lulus. 

Hingga skripsi itu dikumpulkan, rasa lega menyeruak. Menunggu-nunggu waktu sidang supaya bisa liburan, dan begitu malas mengerjakan revisi. 

Jadi, kerjakanlah skripsi. Segera kumpulkan. Setelah itu, timbang berat badan Anda. Kemungkinan ((sangat) kecil) berat anda akan turun karena beban hidup menurun hingga 50%. Hahahaa.. 

 

Absurdnya Tulisan Ini..

Aku suka menulis. Menulis apapun. Menulis apa yang ingin kutulis. Menuliskan apa yang kurasa. Menulis apa yang kupirkan. Kurasa segala bersitan hati, lintasan pikiran akan mudah untuk ditulis.

Aku suka menulis. Kadang menulis yang eksplisit. Tak jarang kumenulisnya secara implisit. Pokoknya aku ingin menulis, apapun bentuknya. Tanpa keteraturan bahasa. Tanpa kaidah tanda baca. Yang penting menulis.

Aku suka menulis, tentang aku, tentang hatiku, tentang kamu, tentang kita, tentang sahabat-sahabatku. Tentang semuanya. Eh, siapa kamu? Berani-beraninya masuk dalam tulisanku.

Seringkah aku menulis tentangmu? Entahlah. Aku tak tahu pasti jumlahnya. Bahkan aku pun tak tahu pasti jumlah tulisanku. Ya aku menulis, menulis saja. Tanpa pernah berhitung. Tanpa pernah memikirkan ulang menulis dirimu yang sering ada dalam tulisanku. Kadang tanpa sadar, aku telah menulis tentangmu. Menceracau tak jelas. Yang penting aku menulis. Apa yang tak bisa terungkap yang sering airmata membantu menyiratkannya.

Kamu, yang entah sudah kukenal atau belum.

-Absurdnya tulisan ini-

Munculnya Makhluk Sanguinis

Sejak tahun lalu, saat menjadi ketua kastil (dan saat blog ini dibuat), saya berharap dapat menulis tulisan analisis yang agak berbobot. Terlebih, tahun ini saya masuk ke ranah universitas dengan amanah sebagai menteri kastrat. Namun, agaknya kualitas tulisan dan amanah tidak berbanding lurus bagi saya. Hampir pupus harapan saya. Padahal, beberapa kali saya menulis kajian untuk kastrat yang cukup njelimet. Tetapi, mengapa agak sulit ya menulis blog yang senilai dengan kajian yang saya tulis. Miris. *hiks*

Setelah sedikit menganalisis, ternyata saya cukup mendapat alasan atas kegundahgulanaan saya terhadap blog ini. Yakni, saat di luar sana, saya lebih sering memperlihatkan sisi koleris saya. Namun, saat menulis, saya seperti (ingin) keluar dari kekolerisan ini. Meski beberapa kali saya menulis tentang bagaimana kolerisnya saya, tetapi sesungguhnya, saat menulis, justru sanguinislah yang keluar tanpa saya sadari.

Hal ini terlihat dari bagaimana saya membca blog orang lain. Saat membaca blog orang lain saya lebih suka yang isinya ringan, tulisannya pendek, bukan tipikal tulisan analisis. Hemm, saya agak cepat bosen jika membaca blog yang isinya panjaaaaang sekali. Sanguinis banget kan, cepet bosen. Hahaa..

Dalam blog saya sendiri, saya lebih banyak bercerita tentang saya. Apapun itu. Khas sanguinis. Suka bercerita. Jadi, bisa dibilang blog ini adalah representatif saya, entah berapa persen. Maka, pelis banget, jangan pernah mempertanyakan mengapa tulisan saya ga cocok untuk ukuran anak kastrat. Maklum, saya butuh tempat (sampah) untuk menampung sisi sanguinis saya yang minoritas itu.

Yang tak pernah Terungkap

Jika selama ini rutinitas pulang setiap bulan adalah meluncurkan cerita pada sahabat, maka rutinitas itu menghilang. Bukan karena itu saya pulang. Karena ada alasan lain. Pun bukan alasan karena merindu keluarga. Tak sama sekali merindu keluarga.. (terdengar kejam)

Namun, kemudian, setelah hampir satu setengah bulan belakangan mendekam di Jatinangor, saya yang membatalkan kepulangan minggu ini karena satu dan lain hal, akhirnya merasakan juga kerinduan pada keluarga itu. Mungkin dahulu sebenarnya, rindu itu tertutupi oleh keinginan dan semangat bercerita pada sahabat yang jauh lebih besar.

Tiba-tiba rasanya menyeruak saat pesan dari ayah saya muncul di layar handphone, “neng, pulang jam berapa?”. Paginya juga ibu saya telepon menanyakan hal serupa.

Aahh, inilah anehnya keluarga saya. Saya pernah mengatakan kepada seorang teman bahwa keluarga saya aneh, unik lebih tepatnya. Dimanakah letak keunikannya? Kami tak pernah mengatakan apa yang sesungguhnya kami rasa, tapi makna bahasa yang kami gunakan adalah menyatakan rasa cinta. Kau tak mengerti?

Begini kawan. Saya lupa kapan terakhir kalinya ayah ibu saya mengatakan “Mama (atau Papa) sayang sama Farah..”, atau ucapan serupa kepada kedua kakak saya. Rasanya, saya ga pernah mendengar kalimat itu, saking lamanya mungkin. Tapi, saya sungguh tahu mereka menyayangi saya. Sama halnya saat ayah ibu saya menanyakan kapan kepulangan saya ke Bekasi. Saya tahu, mereka rindu anak bungsunya pulang, tapi mereka tak pernah mengatakan kangen  saya. Pun begitu dengan saya, saya tak pernah berani mengatakan saya rindu ayah ibu saya. Kami, menggunakan bahasa implisit untuk mengungkapkannya.

Ada lagi ceritanya. Sebelum UTS, ada libur longweekend yang saya putuskan tidak pulang untuk belajar. Entah kenapa, saat itu saya ingin ketemu ibu saya untuk mendapat semangat belajar. Akhirnya saya minta ibu saya datang ke Nangor, tak saya katakan bahwa saya ingin dapat semangat darinya. Saya tak memberikan alasan khusus kenapa menyuruh ibu saya datang ke sini. Mengapa? Karena saya tak pernah ingin benar-benar ketahuan membutuhkan semangat darinya, ibu yang sangat mencintai saya.

Begitu pula antara saya dengan kedua kakak-kakak saya. Dan antara mereka dengan ayah ibu saya. Tapi, saya tahu (betul) bahwa kami berlima saling mencinta dan menyayangi yang tertumbuh atas ikatan darah. Hanya saja, rasa itu tak pernah bebar-benar kami ungkap.

Begitulah cara kami mencinta. Unik memang. Mungkin ada juga kekurangannya. Membuat saya sempat ‘diprotes’ karena sulit sekali perhatian.  Padahal, sesungguhnya, lebih tepatnya, saya tak benar-benar pandai mengungkap rasa.

Akhirnya, saya benar-benar meresapi perkataan Ust. Anis Matta dalam buku Serial Cintanya. Bahwa “cinta adalah pekerjaan. ia merupakan kata kerja.”. Ya, cinta adalah bekerja aktif. Bukan hanya sekadar perkataan “saya cinta kamu”. Keluarga saya mengajarkan, pekerjaan cinta lebih terasa daripada sekadar mengucap cinta. Toh, tanpa mengucap, cinta itupun terasa dengan segala keunikannya. Meski sesekali mengucapnya juga penting.

Simpelnya,

Jangan pernah katakan cinta, jika kau tak bisa membuktikannya.

Super Random #5

Kadang saya ingin sekali satu hari aja free ga keluar kosan. Duduk manis ngerjain LI, nonton film, apa, dan apa. Tapi, itu rasanya hanya akan menjadi khayalan. Karena nyatanya, selesai agenda yang satu, segera dapet jarkom agenda berikutnya. Selesai urusan satu, dapet urusan lain yang harus dikerjain. Dan parahnya, kalo belum dikerjain itu beban pikiran banget.

Tapi begitulah hidup. Bagi saya dan sebagian besar lainnya berpikir bahwa hidup ini bukanlah untuk kita sendiri. Ada hak orang lain di sana yang harus kita pikirkan. Ada puing-puing pahala yang harus kita ‘pungut’ melalui waktu yang kita sediakan untuk memikirkan umat. Sekecil apapun, yakinlah, selama itu kebaikan, Allah akan mencatatnya sebagai amal kebaikan.

Lalu, istirahatnya kapan? Di surga Insya Allah.. 🙂

Beda Rumus

Menikah dan belum menikah itu beda rumus. Rumus single adalah logika diikuti rasa. Setelah menikah, logikalah yang mengalah untuk mengikuti rasa. Karena logika tunduk pada rasa di bawah ikatan sah. #sikap #prinsip

-versi gue, dan mungkin hanya gue yang berpikir seperti ini-