Dilema Ekstrovert

Aku ingin bertepuk tangan untuk orang-orang introvert. Mereka begitu bangga dengan keintrovertan mereka. Sebangga orang-orang ekstrovert bangga terhadap keekstrovertan mereka. Seolah ekstrovert selalu bisa ceria dengan masalah-masalah yang sudah mereka bagi dengan orang lain dan introvert merasa bahagia di tengah gemuruh hati untuk menyimpan segala cerita mereka sendiri.

Aku adalah seorang ekstrovert yang tak bisa menyimpan sendiri. Aku pernah mencobanya. Mencoba bertahan untuk berdiri tegak di atas kakiku sendiri. Mencoba menyimpan rasa berbeda dari dua puluhan tahun lalu. Namun, ternyata aku tak mampu. Aku kembali datang pada ‘peraduan’ku. Mencoba sedikit mengeluarkan sesak. Ya, sesak. Sesesak itu aku merasa. Dan tak bisa kumungkiri, menceritakannya seperti mengeluarkan biji salak di kerongkangan. Ternyata aku memang seorang ekstrovert sejati.

Lalu, kini aku ingin sekali memberikan jutaan pujian bagi introvert. Karena aku ingin sekali menjadi seperti mereka. Yang bisa menelan bulat-bulat ‘biji salak di kerongkongan’. Yang dengan itu, mereka masih bisa tersenyum meski ada segurat luka di dalam. Luka menganga yang masih bisa membuat mereka terlihat ceria di hadapan orang lain.

Aku ingin sekali menjadi seorang introvert karena aku ingin berhenti menjadi beban bagi siapapun peraduanku saat ini. Aku ingin menyimpannya sendiri. Menyimpan rasa luar biasa itu di dalam hati terdalam hingga hanya aku dan Tuhan yang tahu. Aku ingin sekali. Namun, tak mampu. Aku iri padamu, introvert. Tak bisakah aku menjadimu barang satu dua dalam perkara hidupku?

Bandung, 13 Oktober 2014

Advertisements

Super Random #7

Sudah setengah tahun 2014 terlewati. Sudah berapa buku yang saya baca? Hemm.. tak ada 1 buku pun saya habiskan. Beda dengan tahun lalu. Tahun lalu, saya menargetkan menghabiskan 30 buku karena saya berada di lingkungan manusia-manusia gila baca.

Saat itu, kawan saya bilang targetnya berat apalagi jadi menteri dan ngerjain skripsi. Yang ada harus banyak-banyak baca jurnal. Tapi, meskipun tidak sesuai target, buku yang habis saya baca lumayan banyak. Tak ada angka pasti karena saya tidak menghitungnya. 20 buku ada mungkin, ya 15-20 buku lah saya baca selama setahun dengan berbagai jenis buku. Tak banyak, tapi puas.

Tahun ini, saya punya target lain sehingga waktu membaca buku saya alihkan dengan mencapai target itu. Insya Allah target kebaikan, untuk investasi masa depan. Saya hanya baca buku seperlunya. Seperlunya informasi dan materi yang saya butuhkan, saya baca. Ya, saya baca buku-buku tebal yang hanya bagian-bagian tertentu saya baca yang saya butuh.

Tapi, saya jadi merasa kosong. Di setiap diskusi di grup line dan whatsapp saya lebih banyak menyimak, bahkan isu tentang jaminan kesehatan nasional aja saya jadi planga plongo. Padahal, itu makanan saya dulu. Hemm, saya harus belajar banyak lagi tentang tawazun. Ga berat sebelah. Target kekejar, tapi tetep kasih asupan untuk wawasan umum. Lalu hati senang.. 🙂

The Melancholic

Ada dua kata yang tidak terlalu saya (apa sih?). Plegmatis dan melankolis. Kalo diurutin, ehm.. saya bingung mana yang paling ‘ga gw banget’. Tapi, tapi, tapi, entah kenapa akhir-akhir ini saya lagi super-duper melankolis. Tumben ngerasa, tumben ‘ngeh’ sama kode (kalo kata temen saya), bahkan sampai kebawa-bawa ke amanah (ini parah banget sih). Super sensi.

Lalu saya jadi merasa banyak mendzolimi orang gini dengan kemelankolisan saya. Rasanya selalu ingin pulang cepet untuk ‘merayakan melankolisme’ yang menyedihkan ini bagi seorang koleris kuat. Ya Allah, saya lagi sakit apa? sakit hati?

Bagi saya, menjadi melankolis itu menyiksa (sori ya bro and sist yang melankolis sempurna). Dan saya bersyukur Allah ciptakan saya sebagai koleris. Soal perasaan, jadi koleris aja bisa melankolis, apalagi kalo melankolis, jadi apa? Ga kebayang gimana rasanya. Kayak hidup tuh menyedihkan selalu (ini pemikiran superlebay). Tapi ya gini, kadang urusan perasaan meminta haknya lebih dari yang semestinya. Seolah selama ini ia termarginalkan. Menguras pikiran tiada henti, menuntut ruang lebih untuk diurus. Padahal saya tak bisa berbuat apa-apa. Dipikirkan pun akhirnya hanya jadi sampah terserak karena tak tau kemana harus menyalurkan pemikiran itu.

Hanya bisa beharap ada keajaiban. Klise lagi. Entahlah apakah lagunya Mas Duta SO7 akan segera bersenandung mengiringi langkah ini? “Berhenti Berharap”-nya kadang minta dimainkan dalam kehidupan. Oke, akan saya pertimbangkan.

Boneka Pindy

Bermula dari keisengan kakak perempuan saya yang ngechat via kakao talk. Agak norak gtu deh dia.. hahaha…
Di tengah percakapan, saya teringet seorang teman yang baru saja milad dan dikasih hadiah oleh mentee-menteenya berupa bantal lucu bergambar… saya lupa. Kemudian, tetiba saya minta dibeliin kado (pake emot) oleh kakak saya karena saya jarang dikasih kado *menyedihkan*. Dan dia kembali mengirimkan emot kado itu lagi.

Lantas, saya bilang padanya, “kado beneran..”
“Kado apa?”
“Bonekaaa..”, layaknya anak kecil yang merengek. Tapi, saya ga sampai merengek sih.
“Boneka apa? Boneka pindy?”
“Hahahaa.. jadi inget waktu bocil. Itu siapa yg ngasih nama pindy ya? Mau boneka beruang.”

Jadi, boneka pindy adalah sebuah boneka beruang kecil berwarna coklat yang saya miliki saat saya berusia 1-2 tahun. Saya tak ingat persis. Yang saya ingat pula, boneka itu merupakan pemberian dari tante saya. Nah, si boneka ini dikasih nama Pindy. Hemm, saya juga lupa siapa yang kasih nama.

Lama saya berteman dengan pindy. Saya sangat sayang pada Pindy. Itu satu-satunya boneka yang saya miliki saat itu. Hingga saya SD, baru kemudian saya punya boneka baru. Boneka kelinci berwarna biru yang ukurannya lebih besar dari Pindy yang saya beri nama Pinky. Padahal warnanya biru, tapi namanya Pinky *Nay..–“*. Karena saat itu, si Pinky ingin saya jadikan kakaknya Pindy. Makanya, saya kasih nama depannya sama walaupun agak maksa.

Saya jadi teringat masa kecil saat bermain bersama boneka beruang dan kelinci milik saya. Saya jadi teringat pada kakak saya, semasa saya kecil. Apa ya yang mereka (keluarga inti saya) pikirkan tentang bocah paling muda di rumah dengan bonekanya? Masa kecil yang tak banyak saya rekam jejaknya.

Jadilah, saya bermain bersama Pindy dan Pinky dimana mereka adalah kakak beradik dan dalam kisah itu, saya berperan sebagai ibunya mereka. Saya sangat menikmati bermain bersama mereka kala itu.

Akan tetapi, saya lupa tepatnya kapan, boneka-boneka itu menghilang seperti ditelan bumi. Mungkin saat saya masuk SMP. Benar-benar hilang tanpa jejak sehingga mulai saat itu, saya tak punya lagi sebuah benda bernama boneka.

Ya, hingga sekarang, semenjak kehilangan mereka saya tak pernah berusaha mencari pengganti mereka *eeaaa*. Saat merasa (sok) dewasa pun, saya merasa tak butuh barang bernama boneka karena dirasa memiliki mereka seperti anak kecil. Tapi, entah kenapa, akhir-akhir ini saya ingin sekali punya boneka yang saya ga mau beli sendiri. Berasa agak worthless kalo beli boneka sendiri karena merasa tingkat kebutuhannya rendah. Dan kini, layaknya anak kecil, saya menanti ada yang memberikan saya boneka beruang. *Ngarep, pake banget* Hahahhaaa.. 😀

Super Random #5

Kadang saya ingin sekali satu hari aja free ga keluar kosan. Duduk manis ngerjain LI, nonton film, apa, dan apa. Tapi, itu rasanya hanya akan menjadi khayalan. Karena nyatanya, selesai agenda yang satu, segera dapet jarkom agenda berikutnya. Selesai urusan satu, dapet urusan lain yang harus dikerjain. Dan parahnya, kalo belum dikerjain itu beban pikiran banget.

Tapi begitulah hidup. Bagi saya dan sebagian besar lainnya berpikir bahwa hidup ini bukanlah untuk kita sendiri. Ada hak orang lain di sana yang harus kita pikirkan. Ada puing-puing pahala yang harus kita ‘pungut’ melalui waktu yang kita sediakan untuk memikirkan umat. Sekecil apapun, yakinlah, selama itu kebaikan, Allah akan mencatatnya sebagai amal kebaikan.

Lalu, istirahatnya kapan? Di surga Insya Allah.. 🙂

Gue

Sering mbak masulah bilang saya orang yang simple. Tapi, tak jarang orang mengatakan saya rumit. Setelah mengelompokkan orang yang mengatakan simple ataukah rumitnya saya, dapat saya tarik garis kesimpulan. Bahwa, saya orang yang simple dalam tataran teknis dan logika. Sedangkan soal rasa, apapun yang melibatkan rasa, saya (terlampau) rumit.
Jika tak ada izin logika di dalam rasa, maka saya bisa berubah menjadi makhluk superrumit. Tetapi, jika tak ada rasa dalam logika, saya bisa go ahead sambil terus mencari rasa di sepanjang perjalanan. Nyatanya hampir yang saya jalankan adalah tanpa rasa suka, namun masuk logika saya, dan pencarian rasa itu, alhamdulillah, selalu berjumpa, meski kadang di akhir. bagi saya, rasa itu tak pernah cukup berdiri sendiri, sedangkan logika masih bisa, tapi untuk diawal saja. Di akhir, mesti banget logika dan rasa akhirnya menyatu. Rumit kan?? Karena kita bicara rasa, jadi akan keluar kerumitan saya. 😀

Ujian, Skripsi, Menteri

Plak! Plak! Sepertinya saya masih harus menampar wajah (halus aja tapi) untuk meyakinkan hal ini lagi. Ujian + Skripsi + Menteri. Ya, dalam waktu bersamaan, mereka menarik ulur saya. Meenn, apa kabar sooca gw?

Ya, saya juga harus tersadar bahwa tahun ini mungkin akan lebih ‘mengancam jiwa, meminta raga’. Entah  kehidupan semacem apa yang akan saya jalani setahun ke depan dengan bejibunnya amanah kehidupan ini. (sebenernya ga banyak, tapi lingkup dan tanggungjawabnya yang besar).

Awal tahun saja sudah bisa menjadi refleksi setahun ke depan. Di saat sedang mempersiapkan sooca, selalu ada jarkom “bla..bla..bla..  di sekre jam sekian-sekian..” sering sekali bahkan tak jarang sangat dadakan. Dinamikanya beberapa menit jawabannya kalau ditanya kenapa seringkali mendadak. Ya, akhirnya saya merasakan juga perbedaan jadwal antara fakultas saya dengan fakultas lain sehingga dari dulu tidak banyak mahasiswa FK yang berkecimpung di dunia tarik suara, eh, berkecimpung di dunia kegiatan universitas maksudnya, termasuk BEM. Tetapi, ini sudah menjadi bagian dari konsekuensi yang saya pilih. *tarik napas panjang*

Belum lagi ujian dan skripsi. Ujian akhir semester dan segera secepat kilat menyiapkan bab 1-3 dimana judul masih menggantung kayak baju di lemari. Dua yang seolah saya kerjakan untuk diri saya sendiri. Secara kasat mata iya. Akan tetapi, ini adalah bentuk lain pengabdian saya sebagai seorang dokter yang belum sempurna. Belum sempurna pengabdiannya karena belum sempurna menjadi dokternya. Dan akan saya sempurnakan melalui belajar, mematangkan pribadi, menyelesaikan semua persyaratan menjadi dokter.

Kalau dulu, saya masih memiliki ruang untuk berpikir “Terus waktu untuk diri gue sendiri mana?”. Mungkin, pertanyaan itu sudah harus saya buang di tempat antah-berantah yang tidak akan lagi saya temukan. Tapi harus saya ganti pola pikirnya merujuk pada kalimat Ust. Rahmat Abdullah tentang dakwah. Maka, pola pikir yang terbentuk menjadi “Ini hidup gue. Tapi, bukan sepenuhnya milik gue. Tapi, millik Allah. Maka, semua harus diberikan untuk Allah lewat dakwah. |Lalu untuk dirimu sendiri?| Tetap ada, hanya berapa persen ruangnya, biarkan jalannya kehidupan yang memberi ruang untuk dirimu sendiri..” begitu kira-kira bunyinya. Ekstrem menakutkan sih. Tapi, biarlah. Sukses itu butuh perjuangan kan??

Kadang, sisi manusia saya pun meragu. “apa saya sanggup?” Pernah suatu sore badan saya lemes -yang emang udah agak lemes karena baru pulang bimbingan di RSHS- seketika mendengar arahan Pak Presiden setahun ke depan tentang harapan, sedikit arah geraknya. Saya hanya bisa menelan ludah mendengar ucapan panjang lebarnya kali tinggi sama dengan volume. Ini tidak semudah yang saya bayangkan saat saya menerima amanah ini.

Seringkali lelah saya mengatakan “gue ga bisa ngikutin dinamikanya, apa mundur aja ya?”.  Tapi, selalu. Saya (entah dari sisi koleris atau originator) tak pernah punya pilihan untuk mundur.  Ini tantangan hidup Broo!! Mana seru hidup kalo ga ada tantangannya!

Huffh, kemudian menari-narilah kutipan seorang hebat dalam white-gray matter brain saya.

Memang seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta kan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tetang ummat yang kau cintai. –Allahumma Yarham Ustadz Rahmat Abdullah-

Hingga akhirnya saya kembali membentuk self motivation “saya hanya perlu berkorban yang akan mengejawantah menjadi kematangan pribadi di dunia dan surga di akhirat.”

Hanya perlu berkorban –> paradox sekali..

Semoga Allah memberkahi perjuangan ini

Super Random #3

Sesungguhnya saya sedang belajar. Menjadi seorang yang jauh lebih perhatian. Perhatian pada kamu, dia, dan semua. Tapi, memang ga mudah. Butuh proses yang entah sampai kapan hingga akhirnya saya dipandang cukup untuk masuk dalam kategori romantis.

Saya memulai keunyuan dengan membeli 13 batang coklat. Kemudian, saya print foto kecil dan space kosong yang akan saya tulis dengan tulisan tangan sendiri. Foto menggunakan aplikasi photoscape yang menggabungkan potongan-potongan foto masing-masing dari kami. Setelah saya tulis satu per satu di setiap kertas, saya tempel di belakang coklat itu. Coklat Semangat untuk mereka yang telah berlelah-lelah bekerja dengan saya.

Saat mulai dibagikan, berbagai kometar tak hentinya terlontar. Yang paling saya ingat..

“katanya ga bisa unyu, nyatanya romantis..”  atau sekalimat

“Eh, teteh gw udah bisa unyu lhoo..”

Saya jadi malu sendiri. Apa dulu saya sangat ganas sampai-sampai bersikap unyu aja pada heboh dan beberapa kali dapet komentar dari orang-orang sekitar yang tak saya duga tahu perihal coklat itu.? Berasa jadi trending topic. Hahahaaa…

Tapi, agaknya kata istiqomah belum siap menyambangi keunyuan saya. Sepertinya mereka masih belum yakin bersemayam dalam diri ini.

Seminggu lebih lalu, saya membelikan sebuah hadiah untuk teman saya. Tapi, sampai sekarang belum saya berikan juga. Males ngebungkusnya. Ga punya kertas kado. Males belinya. Alhasil, sampai sekarang barang itu masih setia dalam kamar saya. Padahal, sebenarnya saya ingin sekali segera memberikannya. Ingin menunjukkan kalo saya perhatian juga lho. Nah, karena kelamaan dan saya belum menentukan sikap untuk memberikannya tanpa bungkus kado atau membiarkannya bulukan dalam lemari saya, akhirnya saya memberanikan diri mengatakan padanya..

“Sebenernya aku punya hadiah lho buat kamu, tapi belom aku bungkus. ga punya kertas kado dan males belinya. Hehe..”

“Dasar anak ini… ga romantis banget sih..”

belum lagi saat syuro dan sempat menyebut-nyebut perihal taakhi. Seketika ada yang mencondongkan badannya ke arah saya dan berkata, “Yahh, taakhi gw kayak begitu..”

dengan wajah polos tanpa dosa saya bertanya, “emang taakhi lw siapa min?”

daaaann..  segera saja suara menggelegar yang lebih cocok dimiliki oleh laki-laki ketimbang perempuan itu sedikit berteriak di dekat telinga saya.. “elo tauuu….”

“Hah? Gw? Emang iya ya? hahahahaaaa..” rasanya tertawa saya saat itu bahagia sekali saking jahatnya karena lupa pada taakhi sendiri. Oohh. How pity I’m. atau She is? Entahlah. Tapi, ini contoh kalo saya pelupa atau emang dasarnya saya ga perhatian makanya saya lupa sama teman yang dipersaudarakan itu.

Dan sekarang. Saya sedang kebingungan di persimpangan jalan *cem lagu kebangsaan mahasiswa*. Mendapat tugas sejak berbulan-bulan lalu dari Bos Ketua untuk membelikan hadiah pada orang tua adalah tugas paling sulit yang pernah ada di dunia ini *lebay* *tapi beneran*. Mencoba berpikir keras mau ngasih apa saya ke mereka, terutama ke ibu. Saya sama sekali tidak tahu bahkan menerka pun sulit perihal apa yang diinginkan atau dibutuhkan ibu saya. Seleranya sangat sulit ditebak. Mau ngajak makan pun, bingung mau kemana. Ibu saya ga suka ke Mal. Dan saat pembicaraan di ujung telepon itu terjadi,
“mau aku beliin apa Ma?”

“ga usah beli apa-apa..”

Bertanya secara eksplisit saja masih belum menemukan jawabannya.

Ini saya yang keterlaluan parah ga perhatiannya atau emang ibu saya yang sangat misterius?

Entahlah, saya masih belajar untuk menjadi orang yang perhatian, romantis, dan unyu. Tapi, sedikit-sedikit saya udah bisa lhoo… 🙂

Super Random #2

Saya mau jadi ibu rumah tangga yang baik. Titik!

yang pandai ngurus rumah, manage keuangan keluarga.

Saya mau jadi ibu yang baik. Titik!

yang pinter mendidik anak. supaya anaknya ga bandel, hafidz/ah Qur’an, calon pemimpin masa depan. Semoga anak saya bisa jadi presiden. haha. 😀

Ga ada pekerjaan yang lebih mulia dari seorang ibu.

Tapi juga, yang ga kalah penting, saya mau jadi dokter yang baik. Walaupun, nanti dokter hanyalah pekerjaan sampingan buat saya. Pekerjaan utamanya tetep jadi IBU!

Terus sekarang saya pengen banget punya adik laki-laki. Yang usianya ga terpaut jauh. 2-3 tahun. Supaya bisa diajak main, nemenin jalan-jalan, dan diminta traktir (Lho? kebalik lah..). dan yang terpenting bisa diajak diskusi setiap masalah masing-masing dan membantu stiap ‘masalah’ saya. Padahal, dulu saya sangat menikmati jadi anak bontot. Entah kenapa. Padahal saya jadi korban ‘keganasan’ kakak-kakak saya.

Dengan semena-mena mereka nyuruh saya ke warung padahal mereka yang disuruh ibu saya. Terus, tanpa belas kasih, saya dibilang anak pungut. Nemu di tong sampah Taman Mini. dan itu berhasil membuat saya nangis di pojokan. Mungkin waktu itu kalo saya dicasting sinetron Ratapan Anak Tiri saya lolos casting. mungkin lebih tepatnya sinetron Ratapan Anak Pungut.

Tapi setelah saya udah gede, akhirnya kakak saya mengakui bahwa kalo dia lagi kesel sama saya dia ngibul dengan bilang saya anak pungut. Huh, jahat bangett kan??

dan sekarang, bukan karena saya ‘dianiaya’ sama kakak-kakak saya, saya pengen banget punya adik laki-laki. Tapi, itu udah ga mungkin. Yang mungkin, tapi belum pasti, adalah punya adik ipar laki-laki. Yahhh, jatohnya bukan mahrom. huhu. Naasib ga punya adik.

Berbahagialah kamu yang punya adik. Maka, jagalah adikmu baik-baik. Jangan kayak saya. Ga ada yang jagain. Hahaha… 😀

Tanpa Judul

Di tengah siang ini. Airmata belum mau berhenti menyambagi pipi saya. Sudah saya katakan padanya, berhentilah karena  sudah ada Allah di sini.

Saya tak sanggup. Tapi Allah ternyata beri saya kekuatan lebih sehingga separuh hati saya berkata bahwa Allah akan menyanggupi. Saya tak kuat. Lagi-lagi ia berkata bahwa Allah akan menguatkan.

Jika bukan karena Allah, sungguh mungkin saya udah berdarah-darah karena jatuh dari lantai 13. *lebay*. Tapi, memang begitu. Kalo saya lupa saya punya Allah, mungkin sekarang saya sudah bunuh diri. Hahahahaha…

Saya percaya betul bahwa Allah Maha Mengetahui lintasan hati dan bersitan pikiran hambaNya. Bahwa Dia tak akan menyia-nyiakan hambaNya yang berserah diri kepadaNya dan memilih meninggalkan ‘dunia’ karena Dia.

Allah selalu menjadi sejuta alasan untuk tetap berdiri tegak setegak Gunung Uhud, setegar batu karang, sekeras baja,tanpa meninggalkan keanggunannya. Padahal berkali-kali diri ini mengatakn bahwa “Aku tak sekuat itu Allah, Aku tak seperti itu..”

Tetapi, Allah dengan baiknya memberikan kekuatan lebih. Lebih dari yang saya bayangkan. Hampir saya berpikir bahwa kebahagiaan tak kan pernah sudi singgah dalam hidup saya. Jangankan singgah, lewat pun mungkin enggan. Karena buat saya rasa bahagia dunia ini sudah terasa hambar.

Tapi, sejurus kemudian saya teringat akan postingan sebelumnya bahwa kebahagiaan sejati adalah saat kita berada dalam keadaan terdekat dengan Allah. Dan mungkin saja, saat ini, saat di mana saya merasa ujian ini teramat sangat berat, justru adalah kebahagiaan yang jauh dari kefanaan dunia. Mungkin secara dunia, ini sakit. Ini berat. Tapi, jika kita melihat dari sudut pandang berbeda. Sudut pandang Allah, maka di saat inilah saya sedang berbahagia. Bahagia karena menjadikan Allah berjam-jam dan satu-satunya dalam tahta hidup saya.

Saya selalu percaya bahwa saat ini. Saat deretan alfabet ini keluar dari layarnya, Allah melihat bagaimana saya mencurahkan hidup ini semata-mata untukNya. Tanpa peduli manusia berkata apa tentang saya. Tanpa peduli sejuta manusia membenci saya. Toh, alasan begini adalah Allah dan tetap ada di jalanNya. Bukankah dulu Rasulullah juga begitu? Dilempari batu oleh penduduk Thaif. Diludahi. Diletakkan kotoran unta saat solat. Tapi, jika semua dilakukan karena Allah maka ringanlah urusan dunia ini.

Kadang, kita manusia suka sotoy pada kapasitas diri kita. Seperti sotoynya saya sekarang yang mengatakan bahwa saya tak sanggup. Nyatanya, Allah beri kekuatan lebih untuk akhirnya saya tetap mensyukuri kehidupan ini, mensyukuri pertemuan itu, yang Insya Allah nantinya akan mendewasakan dengan sejuta masalahnya. Kita sotoy karena kita belum tahu kapan akhirnya Allah menyingkap tabir hikmahnya.

Begitu pula sebaliknya. Saat kita merasa kapasitas kita melebihi orang lain. Percayalah, Allah akan segera mengambilnya. Cepat atau lambat. Karena ternyata bukan segitu kapasitas yang pantas didapat bagi orang yang merasa dirinya lebih dari orang lain.

Saat saya bilang saya tak punya sejuta kesabaran, di saat itulah Allah menurunkan kesabaran luar biasa. saya kira, saya yang sekeras batu ini akan mengeluarkan ‘kata-kata terbaiknya’ untuk menghindar dari kekalahan. Tapi, Allah sangat baik hari ini.

Ia memberikan saya kekuatan, kesabaran, kesanggupan untuk tetap berada dalam jalanNya. Ternyata bersabar itu ada nikmatnya tersendiri. Karena mengalah tak selalu berarti kalah. Hingga saya tak perlu bertanya-tanya lagi. Mengapa saya? Mengapa begini? Kenapa bukan dia? Karena sesungguhnya Allah-lah yang tahu kapasitas kita.

Istiqomahkanlah saya selalu dalam kesabaran menuju jalanMu ya Rabb…