Menunggu (yang terdefinisi)

Pagi di 2014, layaknya pagi-pagi sebelumnya. Tak ada beda. Saya pun sadar bahwa hari ini sudah memasuki tahun 2014. Waktu cepat sekali berputar. Kalau secepat itu berputar, lantas mengapa saya takut untuk menunggu hal yang hanya terkesan lama, padahal (sangat mungkin) begitu cepat jika benar-benar dijalani.

Ini bukan perkara mau menunggu atau tidak. Ini perkara tentang keyakinan pada takdir. Tentang sepenuhnya taat pada perintah Allah. Hanya tentang itu. karena tidak menunggu pun awalnya adalah penyiksaan duniawi, tapi kecintaan pada Allah mengobati kekhawatian itu.

Ini saya berbicara tentang apa sih? Tentang waktu. Menunggu juga berkaitan dengan waktu bukan? Menunggu yang menjadi pekerjaan paling mengesalkan bagi banyak orang adalah hal yang aman dilakukan jika kita melihat dalam konteks lain. Tetapi, efek sampingnya juga besar. tak akan terlihat sih efek sampingnya. Berbeda dengan efek samping pada obat yang terasa dan juga mungkin dapat terlihat secara kasat mata.

Maka, menunggu atau tidak pada akhirnya adalah bagian dari prinsip. Bukan karena ketergesa-gesaan tak sabar menunggu. Tapi, prinsip cinta, keyakinan, dan taat yang akan terkotori jika memilih untuk menunggu (yang terdefinisi).

Advertisements

Absurdnya Tulisan Ini..

Aku suka menulis. Menulis apapun. Menulis apa yang ingin kutulis. Menuliskan apa yang kurasa. Menulis apa yang kupirkan. Kurasa segala bersitan hati, lintasan pikiran akan mudah untuk ditulis.

Aku suka menulis. Kadang menulis yang eksplisit. Tak jarang kumenulisnya secara implisit. Pokoknya aku ingin menulis, apapun bentuknya. Tanpa keteraturan bahasa. Tanpa kaidah tanda baca. Yang penting menulis.

Aku suka menulis, tentang aku, tentang hatiku, tentang kamu, tentang kita, tentang sahabat-sahabatku. Tentang semuanya. Eh, siapa kamu? Berani-beraninya masuk dalam tulisanku.

Seringkah aku menulis tentangmu? Entahlah. Aku tak tahu pasti jumlahnya. Bahkan aku pun tak tahu pasti jumlah tulisanku. Ya aku menulis, menulis saja. Tanpa pernah berhitung. Tanpa pernah memikirkan ulang menulis dirimu yang sering ada dalam tulisanku. Kadang tanpa sadar, aku telah menulis tentangmu. Menceracau tak jelas. Yang penting aku menulis. Apa yang tak bisa terungkap yang sering airmata membantu menyiratkannya.

Kamu, yang entah sudah kukenal atau belum.

-Absurdnya tulisan ini-