Cerita di Bedah

Ada pertanyaan menggelitik saat perjalanan pulang dari RS Cibabat. “Apa sih yang ada dalam pikiran residen bedah cewek ngambil bedah?” Begitu pertanyaan kawan saya. Kawan saya lain menjawab, “Ya karena hobi. Suka. Kalo udah suka ya gitu..”

Hemm.. saya hanya tidak habis pikir pada mereka -residen bedah cewek- saat memutuskan ngambil studi spesialis bedah. Jadi koas bedah aja rasanya pengen lari dari kenyataan, apalagi jadi residennya. Kayaknya kehidupan cuma ada di rumah (kosan) dan Rumah Sakit. Kehidupan mungkin cuma operasi, meriksa pasien, gadget, dan.. sedikit kehidupan pribadi. Lebay sih mungkin. Karena saya juga tidak tahu2 banget tentang bedah.

Ada seorang dokter residen saat itu ikut belajar bersama koas saat di bagian bedah vaskuler. Dia bercerita “temen saya, 4 perempuan, ambil bedah saraf, bercerai..”

Ah, tidak. Sakit sekali mendengarnya. Padahal saya tidak tahu siapa. Dokter itu pun tak menyebut nama kawannya itu. Saya ngilu mendengar perceraian karena profesi dokter. Karena wanitanya lebih memilih mengambil studi spesialis ketimbang keluarga. Sungguh menyesakkan memang. Tapi, begitulah pilihan hidup. Bahkan, tak hanya menimpa dokter wanita, tapi juga dokter laki-laki. Kalo kamu pernah nonton serial Code Blue, sang dokter bercerai dengan istrinya karena profesi yang menuntutnya ada di rumah sakit terus-terusan. Bukan ingin menelantarkan keluarga, tapi memang tuntutan profesi.

Melanjutkan studi spesialis dengan studi S2 tentu sangat berbeda. S2 bahkan bisa diambil sambil bekerja. Kalo studi spesialis? Udah lama, 4-6 tahun, ga bisa kerja pula. Atau kalopun bisa kerja, kalau sudah jadi CR (Chief Residen). Itu masih lama, udah masa-masa nyusun thesis. Studi spesialis belajarnya kayak kerja. Kerja jadi dokter di poli, di IGD, di ruang rawat inap. Bekerja siang malem kalo ada jadwal jaga, TANPA DIBAYAR. Yang ada malah bayar studi tiap semester dengan angka yang besar. Belasan juta. Oh…

Beberapa kali saya juga sering mendengar cerita-cerita residen tentang kehidupan keluarganya. Tentang anak-anak yang harus ‘ditinggalkan’ dulu. Tentang suami yang membantu mencari jurnal buat besoknya karena ada jaga malem, dan cerita ajaib lainnya.

Kemudian, sang dokter residen melanjutkan lewat petuahnya kepada kami, sang koas bedah. “Kalian nanti kalo mau ambil spesialis nikah dulu. Terus cari orang yang mengerti profesi dokter. Ga gampang loh nemuin itu. Cari yaa yang mengerti kalian. Mengerti kehidupan dokter. Ga mesti dokter, yang penting ngerti.”

Ah, membersamai dokter itu mungkin sulit. Sangat sulit dengan tuntutan pasien yang masih banyak. Maka, jika kamu dokter, berilah pengertian pada (calon) pasanganmu. Lain cerita sih kalo pasanganmu dokter juga. Jika kamu bukan dokter dan ada minat atau kesempatan hidup sama dokter, mengertilah.. kehidupan mereka rumit tapi humanis sekali.. dan kamu jadi punya dokter pribadi tanpa dibayar. Syaratnya, harus ngerti, syukur-syukur kamu mau bantuin ngerjain tugasnya yang mau dikumpulin besok.. Haha..

Advertisements

per-Skripsi-an

Saya tidak pernah paham, mengapa skripsi seolah bagaikan monster menyeramkan atau sambaran petir yang ketika dilontarkan akan membuat sang mahasiswa tingkat akhir seperti ketakutan atau menghindari jenis pembicaraan atau pertanyaan ini. Tak jarang, pembicaraan tentang skripsi dianggap merupakan pembicaraan yang ‘jorok’. Skripsi adalah hal paling sensitif bagi mahasiswa tingkat akhir yang mungkin akan menurunkan mood orang yang diajak bicara atau ditanya tentang ‘bagaimana skripsinya?’.

Saya tidak paham itu karena bagi saya skripsi itu menyenangkan meski saya juga agak malas mengerjakannya. Alasannya sih (yang dibuat-buat oleh diri saya) tidak banyak referensi yang membahas tentang tema skripsi saya. Jadi, kadang saya suka bingung mau nulis apa. Selebihnya karena saya adalah seorang deadliner yang akan mengerjakannya di akhir waktu. Hahaha..

Saya sangat menikmati proses pengerjaan skripsi ini, menikmati waktu-waktu (menunggu) bimbingan, mengambil data di bagian rekam medis pusat atau rekam medis kemuning RSHS, dan aktivitas seputar skripsi lainnya. Saya pun tak segan jika ditanya tentang skripsi saya, maka saya akan menjawabnya dengan senang hati. Kalau perlu, saya akan bercerita tentang apa skripsi saya, bagaimana judul itu terlintas (sesuangguhnya itu judul dari residennya pembimbing saya), bagaimana progresnya, pada tahap apa skripsi saya saat ditanya itu.

Mengapa skripsi menjadi menyenangkan bagi saya? Mungkin karena saya memaknai skripsi tidak hanya sebagai syarat lulus. Yang saya pahami bahwa skripsi adalah masterpiece, sejarah hidup seseorang yang pernah mengenyam pendidikan strata satu. Ia adalah project yang menjadi saksi perjuangan 3,5 hingga sekian tahun seseorang yang menimba ilmu di perguruan tinggi. Lalu, kenapa harus bete jika ditanya tentang skripsi? Bukannya dengan ditanya itu menjadi motivasi untuk mengerjakannya? Hahahaaha.. it’s so bullshit. Karena motivasi mengerjakan skripsi sesungguhnya adalah diri kita. Melawan rasa malas mengerjakan skripsi itulah yang sulit, yang butuh motivasi besar dari diri kita sendiri. Atau mungkin juga dari orang tua yang menginginkan kita segera lulus. Ah, saya saja yang begitu bersemangat dengan skripsi malas mengerjakannya dan memilih mengerjakan di waktu-waktu dekat bimbingan, apalagi mereka yang memang hanya memaknai skripsi sebagai syarat lulus. 

Hingga skripsi itu dikumpulkan, rasa lega menyeruak. Menunggu-nunggu waktu sidang supaya bisa liburan, dan begitu malas mengerjakan revisi. 

Jadi, kerjakanlah skripsi. Segera kumpulkan. Setelah itu, timbang berat badan Anda. Kemungkinan ((sangat) kecil) berat anda akan turun karena beban hidup menurun hingga 50%. Hahahaa..