Kepompong

Persahabatan bagai kepompong.. mengubah ulat menjadi kupu-kupu.

-sebuah lagu yang dipopulerkan oleh (mungkin) sebuah band-

Memasuki beberapa bulan koas.. saya terpikir sesuatu. Ternyata saya ingin menjadi seorang spesialis sekaligus guru. Gimana caranya? Bekerja di Rumah Sakit Pendidikan. Dan yang paling memungkinkan adalah belajar dan menjadi guru di kampus almamater. Artinya, kalo mau merealisasikan mimpi saya itu, yang paling memungkinkan ya kerja di Bandung, di RSHS. Walaupun, kerja di RSUP lain juga bisa sih, bergantung pada dimana sekolah spesialis saya nanti.

Tapii… keindahan Bandung tetap tidak bisa membuat saya berpaling dari kota kelahiran saya. Bandung dengan segala keasriannya, tetap membuat saya merasa sendiri. Saya selalu rindu pulang. Saya selalu ingin pulang. Setelah lama mencari, akhirnya saya menemukan jawabannya. Bahwa Bekasii… adalah tempat saya menemukan persahabatan sejati.

Saya memiliki 2 sahabat. Umur persahabatan kami sudah memasuki usia 9 tahun. 9 tahun.. angka yg tidak muda untuk sebuah persahabatan. Bersama merekalah lembaran-lembaran kehidupan dewasa saya tercipta.
Yang namanya tertawa dan menangis bersama-sama nyata kami lakoni. Bahkan, secara virtual pun, kami tetap bercerita tentang perasaan kami masing-masing. Menangis tentang sebiah cerita sedih salah satu di antara kami dan kemudian saling beri semangat.

Kami punya cerita paling epik yang tiada pernah kami lupa dan akan selalu jadi bahan tertawaan kami setelahnya jika bertemu.

Jadi ceritanya, kami lagi makan di sebuah restoran. Mayang, mulai bercerita kisahnya. Saya ga nyangka, seorang sanguinis parah macem mayang punya rasa itu yang bikin air mata mau keluar. Saat itu, mayang sudah mulai mengeluarkan air matanya. Ahhh, saya mana sanggup mendengar cerita sedih macem ini.

Saya pun mulai berkaca-kaca. Tapi sebelum bulir-bulir itu turun… saya segera ambil tisu. Tapii.. kalo saya ambil tisu kemudian mengelap airmata, nanti keliatan cengeng banget. Akhirnya, tisu yang saya ambil saya pake buat ngelap meja yang basah karena es teh manis yang mulai mencair. Kebayang kan canggungnya ngambil tisu yang awalnya buat ngelap airmata tapi malah ngelap-ngelap meja padahal mata berkaca-kaca?

“Gw kira lo mau ngasih tisu buat mayang..”
“Tadinya gw mw ambil buat lap airmata gw sih dan, tapi gw malu ngelap airmata, jadi gw pake buat ngelap meja dehh…”
“Ahh, dasar ini orang, masih aja ga peka..”

Mungkin kalo diceritain ulang ga lucu banget. Tapi asli, kalo percakapan ini diulang dengan ekspresi yang sama, mungkin kalian akan ngakak. Betapa saya… amat sangat takut sebenernya saat itu terlihat mau ikutan nangis. Betapa saya, ingin nyembunyiin airmata itu dengan tidak mengelapnya. Apa daya airmata yang menggenang itu tidak bisa membohongi kalau saya merasakan apa yang diceritain mayang.

Saya, mayang, dan danis dengan karakter yang berbeda, dikit-dikit sama, dipersatukan oleh Allah mengukir cerita tentang persahabatan. Saya, selalu ingin bersama mereka. Merekalah yang menghapus kesedihan-kesedihan dalam hidup saya. Merekalah yang membuat saya tak bisa menyembunyikan cerita apapun tentang saya. Ternyata saya tak sanggup untuk menyimpan cerita sendiri dan menutupnya dari mereka.

Benar ternyata, persahabatan itu seperti kepompong. Cerita saya dan atau mereka yang bagai ulat berasa seperti kupu-kupu setelah kami berbagi..

image

                                     Danis, Farah, Mayang

Advertisements